Do You Remember?

Do You Remember?
Episode Enam : Kenangan Kedua



Masih di hari yang sama.


Gala memarkirkan mobilnya di depan toko milik Ameera.


Ia menimbang lagi keputusannya. Haruskah ia masuk dan bertemu Ameera, atau memutar dan pergi ke rumah Shaqueena untuk memeriksa keadaan tunangannya itu.


Jujur ada sedikit khawatir saat ia melihat raut pias dari wanita itu sore tadi. Tapi ia mengabaikan rasa khawatir itu dan tanpa sadar mengemudi sampai kesini, toko Ameera.


Dari luar, toko itu terlihat redup. Hanya beberapa lampu yang terlihat masih menyala. Sepertinya sudah mau tutup. Mengingat sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.


"Masuk aja kali ya? Sayang juga udah dibeli" Monolognya pada diri sendiri. Ia menatap bungkusan plastik itu dalam diam. Tak lama, karna setelahnya, tangannya dengan cepat mengambil bungkusan itu dan ia bawa dirinya keluar dari mobil.


Seperti ada desakan tak kasat mata, ia dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ke pintu masuk.


Saat berada disana, hatinya membuncah. Seolah ada letupan perasaan disana.


Tapi apa? batinnya bertanya.


Belum sempat tangannya menggapai gagang, pintu itu sudah lebih dulu terbuka.


Terlihat ada seorang gadis dengan perawakan mirip Ameera. Hanya badannya yang sedikit lebih tinggi.


"Adeeva?" Panggil Gala kala ia berhasil mengenali sosok gadis didepannya ini.


Gadis itu menautkan alis. Bingung dengan sosok pria dengan setelan jas mahal yang berada di depan tokonya saat toko itu sudah tutup. Rasanya ia sudah membalik tulisan buka di kaca pintu tadi. Apa pria ini tidak melihatnya? Batinnya.


"Siapa?" Tidak ada nada ramah, memang seperti itulah Adeeva.


Gala tanpa sadar tersenyum. "Kamu gak berubah ya, masih aja galak" Lalu Gala melarikan tangannya menuju ke pucuk kepala gadis itu. Hendak mengusap gemas rambut sang gadis. Tapi dengan cepat, sang gadis mengelak.


"Eh mau ngapain?" Heboh sekali. Adeeva memundurkan tubuhnya dan mengangkat tangannya di depan wajah. Membuat kantung sampah yang sedari ia pengang jatuh ke atas lantai. Untung saja sudah diikat, jadi tidak ada sampah yang berserakan.


Gala kaget dengan reaksi yang diberikan oleh gadis itu. Tidak ingatkah dia?


"Adeeva? ini aku A—" belum sempat Gala melanjutkan kata-katanya, dari belakang muncul sosok yang sedari tadi ingin Gala lihat. Ameera dengan setelan denim dan kemeja putih. Gala berani bersumpah, Ameera terlihat begitu cantik.


"Adeeva kenapa kok sampahnya dilempar gitu?" Ameera bertanya dengan nada galak.


"Teteh lihat, ada orang mesum!" Adu Deeva kepada Ameera, sambil menunjuk-nunjuk wajah Gala.


"Aku bukan orang mesum!" Barulah Ameera menyadari ada manusia lain selain ia dan adiknya.


"A' Gala? Ngapain kesini malem-malem?"


Adeeva membelalakkan matanya. "A' Gala? A' Gala yang itu? Anak yang punya villa, kan? Aa'nya yang jadi cinta pertamanya teteh, kan?" Ameera juga terbelalak setelahnya. Pun dengan Gala.


Duh Adeeva bisa-bisanya rahasia sebesar ini ia beberkan dengan lantang. Batin Ameera mengumpati adiknya.


Ameera lantas melarikan tubuhnya mendekat ke arah sang gadis. Ia tarik bahu Adeeva untuk menghadap ke dirinya, matanya melotot tajam guna membungkam kata yang mungkin akan keluar setelahnya.


"Kamu mau buang sampah, kan? Gih sana keburu malam" Usiran halus. Adeeva merasa ada yang tidak beres. Matanya memicing jahil, "Oh! Butuh waktu berdua ya?" bisik pelan Adeeva tepat disamping telinganya.


Ameera menggeram. Mengancam dengan tatapan dan membuat Adeeva terbahak setelahnya.


Gadis itu kembali mengambil kantung sampah yang tadi jatuh, kemudian mengerlingkan mata ke arah dua pasang insan itu.


"Aku keluar dulu, ya. Lama kok! kalian santai aja" Godanya sebelum melangkah keluar toko. melewati tubuh Gala yang membeku setelah mendengar pengakuan Adeeva barusan.


Gala melongo, tentu saja. Ia kira Ameera tidak memiliki perasaan untuknya, saat gadis itu menolaknya beberapa tahun silam.


"A'? jadi ngapain kesini?"


Gala tersentak. Ia lihat wajah gadis itu lekat. Cantik walau ada kerut lelah disana.


Gala tersenyum, entah sudah yang keberapa kali.


Ia mengangkat bungkusan yang ia bawa tadi. Memamerkannya selagi berkata "Aku bawa seblak. Kamu masih suka seblak, kan?"


......................


Bandung, Desember 2014


Ameera muda sedang bersenandung senang. Ia memiliki janji dengan Adeeva. Mereka akan menghampiri warung seblak yang sedang marak dibicarakan sekarang.


Ia penggemar seblak, tentu saja. Ia tak sabar untuk menyicip seblak yang digadang-gadang menjadi yang terenak di Bandung itu.


Sudah siap dengan setelan kasualnya, tiba-tiba Ameera melihat ada yang datang.


"Eh, siapa?" Tanya Ameera pelan. Berbisik pada dirinya sendiri.


Setelah semakin dekat, barulah ia mengenali sosok itu.


Itu Gala, anak pemilik villa yang sempat kabur beberapa bulan lalu. Mau apa dia kemari? Batin Ameera.


"Hai?" Sapa laki-laki itu kala jaraknya hanya terpaut beberapa meter.


"Iya? siapa ya?" Ini Ameera jahil. Ia ingat, hanya ingin menggoda laki-laki itu saja.


Sontak saja raut remaja laki-laki itu berubah, dari riang menjadi keruh.


Menyadari itu, Ameera terkekeh. "Hehe bercanda atuh, A'. hehe apa kabar?"


Senyum kembali terbit di wajah Gala. "Ih kamu mah. Ngagetin aja!" Gala berjalan mendekat.


Ya Tuhan, Ameera baru sadar kalau laki-laki ini tampan. Kemarin kemana saja dia.


"Aku juga baik kok A'. ngapain kesini? Nggak kabur lagi, kan?" Benar-benar. Gala memutar bola matanya. "Nggak lah! Ngaco kamu"


Ameera kembali terbahak. Wajah kesal Gala terlihat begitu menggemaskan di matanya. Rasanya Ameera akan ketagihan membuat Gala kesal.


"Terus?"


"Ini!" Gala menyerahkan paperbag yang ia bawa.


"Ini apa?" Tangan Ameera bergerak maju, mengambil alih paperbag dari tangan Gala.


"Hadiah taruhan"


"Taruhan ap—OH!" Ameera ingat hari dimana Gala berhasil di bujuk untuk pulang. Ia membuat sebuah taruhan.


Bibir Ameera mengembang sebuah senyum lebar. Ia tak menyangka bahwa Gala akan mengingat janjinya.


"Kamu bener. Bunda nangis seharian karena panik. Aku juga gak kena omel. Cuma dapet nasihat dikit dari Ayah"


Ameera memberikan anggukan paham "Tuh kan! hehe batu sih dibilanginnya. Ini makasih ya!"


Gala mengangguk, "Iya. Terima kasih kembali"


Mereka hening sesaat, sebelum Gala kembali buka suara. "Kamu mau kemana?"


"Oh! Aku mau makan seblak. Mau ikut A'?"


Gala diam sebentar menimbang jawaban.


"Boleh?"


"Boleh!"


......................


"Enak A'?" Tanya Ameera pada Gala. Penasaran. Sedari tadi laki-laki itu hanya makan dalam diam. Peluh yang mengucur deras di dahinya sebenarnya memberi jawaban, kalau Gala sedang kepedasan. Namun, Ameera ingin dengar sendiri jawaban yang Gala berikan.


"Aku padahal disini, tapi yang ditanyain Aa'nya doang" Adeeva menggerutu. Sedari ia merasa dirinya seperti tak terlihat. Dua orang ini hanya mengobrol berdua.


Ameera memutar matanya pelan, "eleuh-eleuh.. adik teteh yang satu ini bisa cemburu juga ya ternyata" Ameera mencubit—menarik pipi adiknya sampai menimbulkan pekik keras dari sang korban. "SAKIT TETEH!!!" Adeeva mengusap pipinya yang memerah, sedang Ameera sibuk terbahak di tempatnya.


Lagi. Gala merasa hangat melihat interaksi keduanya. Seperti ini kah rasanya punya saudara? Rasanya Gala menyesal tidak pernah minta adik pada orang tuanya dulu.


"Gak usah senyum-senyum gitu A', jawab dulu noh, teteh tadi ada nanya." Adeeva mendelik merasa Gala tengah menertawakannya. Sedang Gala terkejut karna tanpa sadar ia tersenyum tadi.


Ia alihkan pandangannya ke arah Ameera. Mata gadis itu berbinar penuh harap, dan rasa penasaran.


"Pedas" Hanya satu kata. Karena kalau boleh jujur, mulutnya sekarang seperti terbakar habis. Panas dan kebas.


"Hah?" Gala tidak menjawab. Ia lalu melanjutkan suapannya, dan di detik berikutnya rona merah menyebar keseluruh wajah.


"Eh!! pedes banget ya, A'? Aduh! Udah atuh jangan diabisin" Ameera panik. Segera ia berlari menuju lemari pendingin. Mengambil satu mineral, membuka tutupnya dan menyodorkannya pada Gala.


Gala teguk dengan terburu air dalam kemasan itu. Rasanya seperti benar terbakar. Perutnya terasa panas.


Adeeva terkikik melihatnya. "Idih gitu aja kepedesan, cemen!" Ejeknya kemudian.


Gala mendelik, "Aku cuma gak biasa makan pedes. Gak usah ngejek kamu!!" Gala merasa harga dirinya dihina. Ia tak suka.


"Oh, ya?" Adeeva tengil menantang.


"Iya. sini kalau gak percaya. Aku udah biasa sama pedes. Pesenin aku satu porsi lagi. Aku bisa habisin bahkan tanpa minum" Gala dengan segala egonya berhasil termakan jebakan jahil Adeeva.


"Oke!" Dengan segera Adeeva hendak beranjak. Namun tangan Ameera lebih dulu menahannya.


"Udah, A', besok lagi. Kamu ngerasa kuat, belum tentu perut kamu juga kuat. Udah! Dan Deeva, duduk kamu!"


Ameera menengahi. Ia tarik tubuh adiknya agar kembali duduk, lalu memberi pengertian tanpa menyenggol ego Gala.


Tidak ada jawaban dari Gala. Membuat Ameera gelisah. "Kamu seminggu kan A', disini? besok kita bisa coba lagi" Sekali lagi Ameera meyakinkan.


Dan saat Gala mengangguk, barulah Ameera bisa bernapas lega. Akhirnya,


"Oke kalau gitu besok A' Gala pesan yang level lima belas!"


"Heh!!"


Gala melotot, pun dengan Ameera.


"Kenapa? Kan katanya udah biasa? Harusnya bisa dong!"


"Deev—,"


"Oke!"


Ya Tuhan, Ameera pusing. Semoga Gala baik-baik saja besok.


...****************...