
Naira berada dirumah Vano dan Amelia, mulai dari siang hingga sore ia berada disana. Naira sangat senang saat mengobrol dengan Nanda, mereka berbincang dan menonton tv bersama. Naira terus mencoba menghubungi Adrian tapi tidak diangkat, Naira merasa Adrian sudah cukup lama pergi kerumah sakit dan belum kembali.
beberapa menit kemudian terdengar suara mobil datang, mereka yang disana senang karena Adrian sudah datang. Adrian turun dari mobilnya tanpa menutup pintu mobil itu, Adrian segera masuk kedalam rumah dengan wajah yang sulit diartikan. Naira menghampiri Adrian, tapi ia terkejut ketika Adrian tiba tiba saja memeluknya. bukan hanya Naira yang bingung, Vano dan Amelia pun merasa bingung dengan itu.
"kak Anan ada apa, kenapa memelukku?" ucap Naira, bukannya melepaskan Adrian semakin mengeratkan pelukan itu. Adrian tidak memperdulikan Vano dan Amelia disana, Adrian teringat saat dirumah sakit.
Flashback.
setelah mengantar Naira, Adrian sampai dirumah sakit setelah beberapa menit. Adrian langsung menemui dokter yang menghubunginya, dokter memberikan amplop coklat pada Adrian. Adrian membaca itu dan tidak mengerti maksud dokter,
"apa nona Naira pernah melupakan sesuatu?" tanya dokter, Adrian mengangguk dengan itu.
"setelah kejadian, dia akan melupakan itu dokter. padahal itu hanya beberapa jam, tapi waktu itu hanya berjangka beberapa hari." ucap Adrian, dokter mengangguk dengan itu.
"apa nona Naira pernah jatuh dan terjadi benturan dikepalanya?" perkataan dokter membuat Adrian teringat kejadian lift tempo hari, Adrian mengingat kepala Naira yang berdarah.
"pernah saat itu, mungkin dua minggu yang lalu!"
"terdapat gumpalan darah di kepalanya, mungkin akibat kecelakaan benturan itu!" Adrian terkejut dengan itu, ia masih tidak percaya.
"ini sudah terjadi sejak lama, aku pikir kau sudah mengetahuinya. gumpalan darah itu semakin menjadi, harus segera melakukan operasi dan mengeluarkan gumpalan darah itu."
"lakukan dokter, aku tidak ingin terjadi apapun padanya!" ucap Adrian, dokter itu tersenyum.
"aku bisa melakukannya, tapi ada masalah tuan Adrian. gumpalan darah itu dekat otak dan sarafnya, jika aku melakukan operasi itu akan beresiko!"
"beresiko apa dokter, katakan?"
"melakukan operasi itu akan berdampak pada ingatan Naira, dan ada dua kemungkinan yang akan terjadi. pertama jika operasi itu gagal, akan membuat kelumpuhan pada tubuh pasien. kedua jika operasi itu berhasil, kemungkinan besar ingatan Naira akan terhapus. kami tidak bisa memastikan, ingatan itu akan terhapus permanen ataupun sementara. dan jika diliat dari laporanmu, pasien sudah mulai melupakan hal yang sepele dalam waktu singkat." Adrian yang mendengar itu tidak bisa mengatakan apapun, tangan Adrian gemetar memegang hasil tes itu. Adrian terkejut ketika dokter menyentuh tangannya, Adrian menghela nafasnya.
"apa tidak ada cara lain?" ucap Adrian, dokter itu menggelengkan kepala.
"jalan satu satunya hanya operasi itu. dan kalau bisa jangan membuatnya stres, dan kau harus tetap menjaganya. terutama pada kepalanya, jangan sampai dia terjatuh dan mengenai kepalanya. bukan hanya itu, jangan sampai membuat sakit pada kepala yang bisa dirasakannya. karena itu masih bisa dijadikan pencegahan, dan akan membuat operasi kemungkinan berhasil." ucap dokter, Adrian mengangguk dengan itu. setelah itu Adrian keluar dari sana, tatapannya masih melihat pada kertas yang ia pegang. Adrian memikirkan perkataan dokter, Adrian berjalan cepat menuju mobilnya dan meninggalkan rumah sakit.
"kenapa, kenapa ini bisa terjadi!!" ucap Adrian didalam mobil, Adrian membuang laporan itu didalam mobilnya.
"Naira akan baik baik saja, tidak boleh terjadi apapun padanya!" ucap Adrian, Adrian melajukan mobilnya dengan cepat.
"Naira aku mencintaimu, aku mencintaimu!!"
Flashback off.
Adrian tersadar saat Naira mendorong tubuhnya, Naira menatap wajah Adrian yang sedang berkeringat dan seperti orang khawatir.
"ada apa, katakan sesuatu?" ucap Naira, Adrian menggelengkan kepala. Adrian tersenyum saat Naira mengelap keringatnya, ia menatap Naira dengan wajah sendu.
"dimana hasil tes nya, apa sudah keluar?" tanya Naira, Adrian terkejut dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"dokternya sedang luar kota, dan hasilnya tidak diketahui. jadi aku tidak dapatkan, oh iya tadi aku hanya ingin memelukmu!" ucap Adrian, Naira mencubit perut Adrian. Adrian hanya tertawa melihat Vano dan Amelia menggelengkan kepala.
"kak Adrian!!" teriak Nanda, Adrian langsung tersenyum pada Nanda.
"bantu aku mengerjakan soal matematika, nanti aku akan memberikan dua ciuman dipipimu!" ucap Nanda, Adrian tertawa dengan itu.
"minta bantuan pada kak Naira, dan berikan dia ciuman itu. kakak masih ada kerjaan, Naira mau kan temani dia?" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan itu.
"iya, ayo Nanda kakak akan bantu kamu!" ucap Naira, Nanda menarik tangan Naira dengan senang.
"kenapa kakak cerewet tidak ikut denganmu?"
"dia sedang kuliah, kalau mau ketemu kamu kerumah ya!"
"iya, aku kangen sama papa Kara!"
"oke"
Adrian melihat mereka dengan tersenyum, lalu semenit kemudian wajah Adrian berubah. wajah muramnya muncul lagi, Amelia mencoba menyentuh tangan Adrian.
"ada apa deganmu, mama bisa lihat dari tadi!" ucap Amelia, Adrian melihat kearah Amelia dan Vano.
"apa hanya aku yang belum tahu?" tanya Adrian, Vano dan Mila saling melihat karena tidak mengerti dengan perkataan Adrian.
"belum tahu apa, ceritakan pada papa!" ucap Vano, Adrian menghela nafasnya.
"tentang gumpalan darah pada kepala Naira, apa afa yang belum tahu?" Vano dan Amelia terkejut dengan itu, Adrian merasa mereka sudah tahu dan hanya dirinya yang belum tahu.
"kenapa tidak ada yang memberitahuku, kapan kalian tahu tentang itu?" tanya Adrian, Amelia mencoba menenangkan putranya itu.
"tenanglah Adrian, kami pikir kamu tidak perlu tahu itu!"
"kenapa begitu ma, apa aku tidak berhak mengetahuinya. kami akan menikah, aku akan jadi suaminya dan dia akan menjadi istriku. jika aku tidak pergi kerumah sakit hari ini, aku tidak tahu tentang kesehatannya!" jelas Adrian, Amelia hanya diam dengan itu.
"Nadia masih mencari cara untuk menyembuhkannya Adrian, kamu tenang saja!" ucap Vano, Adrian menggelengkan kepala.
"aku ingin keselamatan Naira, apapun caranya!" ucap Adrian lalu berlari kekamarnya, Vano dan Amelia hanya melihat itu.
"hubungi Nadia, katakan kalau Adrian sudah mengetahuinya!" ucap Vano, Amelia mengangguk dengan itu.
***
"apa kamu mau hal lain?" tanya Adrian, Naira menoleh kearah Adrian yang sedang tersenyum kearahnya.
"tidak, aku hanya ingin berdua sekarang!" ucap Naira, Adrian pun tersenyum lalu fokus menyetir lagi. Naira menyentuh tangan Adrian, Adrian yang merasakan itu menoleh kearah Naira.
"ada apa denganmu, kau suram dari tadi?" tanya Naira, Adrian mencium tangan Naira.
"pekerjaan sangat banyak, aku sangat lelah!" saut Adrian tersenyum, Naira merasa senyumnya itu dipaksakan. tanpa mengatakan hal lain, Adrian kembali fokus menyetir kedepan. Naira menatap wajah Adrian lagi, Naira mendekatkan dirinya pada Adrian. dengan berani dan cepat Naira mencium pipi Adrian, secara bersamaan Adrian menghentikan mobilnya. Adrian menoleh kearah Naira, Naira hanya memalingkan wajahnya keluar mobil. Adrian menoleh kearah belakang mobilnya, karena takut ada mobil lain dibelakang mobilnya. Adrian pun meminggrikan mobilnya, kemudian melihat kearah Naira.
"maafkan aku, aku tidak sengaja!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan menghela nafasnya.
"untung tidak ada mobil dibelakang, aku sangat terkejut!" ucap Adrian memegang pipinya, Naira masih menyembunyikan wajahnya karena merasa malu.
"dari tadi kamu berwajah suram dan juga menyimpan aku, aku pikir masalahmu sangat besar. karena aku beranikan diri untuk menciummu, maaf!" ucap Naira, Adrian merasa gemas dengan tingkah Naira. Adrian membuka sabuk pengamannya, kemudian menarik tubuh Naira untuk berpelukan. Naira terkejut dengan itu, Adrian mengeratkan pelukan itu.
"untuk apa minta maaf, kamu tidak membuat kesalahan!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan membalas pelukan itu.
"aku tidak suka melihat wajahmu suram, apa yang sedang kamu pikirkan?" ucap Naira, Adrian mencium bahu Naira dan menggelengkan kepala.
"aku baik baik saja, mungkin karena efek kamu menciumku!" saut Adrian, Naira melepas pelukan mereka. Naira masih memperlihatkan wajah malunya, Adrian tertawa kecil dengan itu.
"Nara ingat aku, ingatlah aku dan jangan lupakan aku. jangan lupakan tentang kita, jangan melupakan apapun yang sudah kita lalui!" Naira terdiam mendengar perkataan Adrian, Naira tidak tahu apa yang dikatakan Adrian. Naira melihat mata Adrian berkaca, Naira meskipun bingung dibuatnya.
"apa yang kamu katakan, aku tidak aka melupakanmu. aku juga tidak akan melupakan cinta kita, ataupun tentang kita!" saut Naira menangkup wajah Adria, Adrian tersenyum dan mencium tangan Naira.
"berjanjilah itu, awas jika kamu melupakan perkataanmu!" ucap Adrian, Naira mengangguk.
"jika aku lupa bagaimana?" tanya Naira berhasil membuat Adrian terdiam, Naira melihat Adrian yang seperti itu ia mengusap pipi Adrian.
"kamu harus mengingatkanku, kamu harus membuatku teringat jika aku melupakannya!" ucap Naira lagi, Adrian tersenyum lalu memeluk Naira.
"iya, aku akan selalu mengingatkanmu!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum. setelah beberapa saat Adrian menjalankan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu. Naira menyenderkan kepalanya pada pundak Adrian, Adrian sendiri tersenyum dan mencium kepala Naira.
mereka sampai dirumah Kara setelah beberapa menit, Adrian membuka sabuk pengaman milik Naira. Adrian menatap wajah Naira, Naira yang melihat itu hanya tersenyum.
"apa ada sesuatu diwajahku?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan menggelengkan kepala.
"tinggalkan jejak disini, sebelum turun!" ucap Adrian menunjuk pipinya, Naira mengerti apa maksud Adrian. ia merasa malu dan hanya diam tanpa menuruti Adrian.
"Adrian jangan sekarang, besok saja!" ucap Naira, Adrian malah mendekati wajah Naira.
"kalau begitu aku yang akan menciummu, bagaimana?" ucap Adrian, perkataan Adrian membuat wajah Naira memerah.
"aku.. aku..." ucap Naira, Adrian tersenyum dan menangkup kedua pipi Naira.
"boleh?" tanya Adrian tersenyum, melihat itu Naira perlahan menganggukkan kepala. Adrian tersenyum lalu semakin mendekatkan wajahnya, Naira pun tersenyum dan tangannya menyentuh leher Adrian. Adrian senang ketika mendapat ijin dari Naira, Adrian mengusap pipi Naira.
"aku mencintaimu!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.
"aku juga mencintaimu!" saut Naira menutup matanya, ia mengalungkan tangannya pada leher Adrian.
'Tok tok tok~
belum sampai Adrian mencium Naira, tiba tiba saja kaca mobil diketuk. Adrian dan Naira membuka mata secara bersamaan, sesaat mereka saling melihat. tapi mereka mendengar suara ketukan itu lagi, Naira dengan cepat menjauhkan dirinya dari Adrian.
"apa yang kalian lakukan didalam, cepat keluar!" suara itu dapat dikenali Naira dan juga Adrian, dengan cepat Naira membuka pintu mobil itu.
"kakak, apa yang kau lakukan disini?" ucap Naira, dan benar Bagas lah yang datang merusak suasana romantis itu. dengan kesal Adrian keluar dari mobil, ia tersenyum pada Bagas.
"kalian sedang apa?" tanya Bagas menatap Adrian, Adrian masih tersenyum dengan perasaan kesal.
"apalagi jika dua orang kekasih sedang berduaan, dan kau mengganggu kami!" ucap Adrian, Bagas menyipitkan matanya menatap Adrian.
"jika kalian sedang pacaran kenapa harus didalam mobil, masuk lah kerumah dan duduk didalam lalu meminum susu hangat!" kesal Bagas,
"kenapa kau selalu menjadi perusak suasana, kenapa kau tidak masuk saja dan istirahat!" kesal Adrian yang tidak kalah, Naira hanya melihat keduanya itu berdebat.
"bagaimana aku bisa masuk, lihat mobilmu saja ada ditengah gerbang seperti ini!" ucap Bagas, Adrian pun menoleh dan benar perkataan Bagas. Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Naira sendiri menahan tawanya.
"ayo minggirkan mobilmu, aku mau masuk!" ucap Bagas, Adrian mengangguk dan memindahkan mobilnya. Bagas pun melewati mereka, sebelum itu Bagas berhenti dihadapan mereka.
"Naira jika sudah selesai masuklah, tidak ada yang tahu apa yang serigala ini lakukan!" ucap Bagas, Naira hanya tertawa dan mengangguk.
"iya pergilah, aku akan memakan adikmu!" teriak Adrian, Bagas hanya melambaikan tangannya. Naira menoleh ke arah Adrian, Adrian masih mencibir Bagas. Naira pun menghampiri Adrian,
"dia memang suka merusak suasana!" kesal Adrian, seketika Adrian terdiam saat mendapat kecupan dipipinya oleh Naira.
"pergilah jangan terus kesal, nanti kamu cepat tua!" ucap Naira yang memegang mulutnya, Adrian yang masih terkejut hanya menatap Naira.
"kak Anan... pergilah, sudah malam!" ucap Naira menggoyangkan tangan Adrian, Adrian pun tersadar lalu tersenyum.
"baiklah, kamu beristirahat lah!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk. Adrian menjalankan mobilnya, Naira pun melambaikan tangannya dengan senyuman. Naira menyentuh bibirnya yang telah berani mengecup pipi Adrian, bahkan terjadi dua kali. Naira pun berlari masuk kedalam rumahnya, tanpa disadari Bagas masih berdiri disamping mobilnya. Bagas melihat semua apa yang terjadi pada mereka, Bagas memijat tengah kepala dan menggelengkan kepalanya.
"dasar, adikku benar benar sudah dewasa. aku tidak rela, awas saja jika sikampret itu menyakiti adikku!" ucap Bagas lalu masuk kedalam rumah.
***
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍