Do You Remember?

Do You Remember?
Episode dua : Kenangan pertama



warning : mengandung flashback!


......................


Jakarta, 24 Juni 2022


Keduanya diam. Gala memandang paras cantik nan sayu yang sudah lama tak ia lihat.


Tak banyak yang berubah. Hanya perawakannya saja yang makin dewasa. Namun gadis ini tetap cantik, amat cantik.


Ameera pun, melakukan demikian. Matanya mencuri lirik kepada sang adam. Walau semalam sudah melihat sosoknya dari jauh, tapi rasanya berbeda kala ia berada sedekat ini dengan Gala.


"Kamu.. Apa kabar?" Gala memulai dengan ragu.


Siapa sangka kunjungannya ini—yang tujuan awalnya hanya mengucap terima kasih kepada pemilik toko kue yang kemarin tak sempat ia temui juga memesan kembali beberapa kue yang berhasil mengambil hati ibunya—, berujung dengan menemukan kembali cinta pertamanya.


Ah! cinta pertama ya?


"Aku.. baik A' "


Canggung dan hening. Dua kata yang sangat pas jika kalian bertanya bagaimana atmosfer yang tercipta diantara mereka saat ini.


Keduanya sama diam. Bingung harus mengatakan apa.


Keduanya sama sibuk. Menerka apa mau hati, menggali kata ingin.


Ameera merasakan rindu menyeruak keluar dengan besarnya. Ia ingin, sangat ingin masuk ke dalam rengkuhan pria itu.


Sedang Manggala, sibuk menerka apa arti dari sesak di dadanya. Rasa yang meluap-luap seakan pernah terpendam. Apa ini? Apa masih ada rasa yang terpendam kala ia yakin semuanya sudah terlupa?


Manggala sama, rasa ingin merengkuh wira kecil di hadapannya kini begitu besar.


"Aa' sendiri gimana kabarnya?" suara lembut itu mengalun pelan. Menyadarkan Manggala dari lamunannya.


"Aku juga, baik" Seperti ini.


Mereka seperti orang asing. Ameera tersenyum miris. Pertemuan ini jauh berbeda dari apa yang pernah ia bayangkan.


Angan akan saling peluk, lepas rindu sambil sesekali bercerita soal kabar masing-masing kala mereka terpisah. Nyatanya hanya bisa ia baca dalam cerita. Nyatanya tak akan pernah tertulis di lembar ceritanya.


Lagi-lagi Ameera tersenyum miris. "Aneh ya, rasanya?"


"Ya?"


"Aneh. Kita pernah dekat, tapi terjebak canggung seperti ini"


"...." Gala diam. Bingung harus bagaimana ia membalas kata-kata Ameera barusan.


"Rasanya, pertemuan kita pertama kali jauh lebih baik dari ini. Iya kan, A'?"


Apa Gala lupa?


"Benar" Oh! Ingat rupanya


"Kamu ingat?"


"Bagaimana aku bisa lupa?"


Syukurlah.


Setidaknya Ameera tahu, bahwa Gala masih menyimpan tempat kecil dihatinya untuk Ameera.


......................


...Flashback...


Bandung, 22 Juni 2014


Gala termenung. Ia kini berada di dekat danau di dekat villa keluarganya.


Ia kabur.


Menghela napas kasar. Gala hanya seorang pemuda berusia tujuh belas tahun kala itu.


Namun beban di pundaknya sudah terasa begitu berat.


Ia dihadapkan pilihan sulit; mimpinya dengan bidang photography atau tanggung jawabnya sebagai pewaris tunggal keluarga Jaelendra.


Ia tak ingin, sungguh. Bisnis bukan bidangnya. Ia tak mau jika harus masuk ke fakultas pilihan orang tuanya.


Ia ingin bebas. Berkeliling dunia dan mengabadikan semua sudut pandangnya.


Tapi sekali lagi, ia tidak bisa.


Tapi sekali lagi, kenapa harus dia?


Gala mengacak rambutnya. Ia frustasi. Kadang ia menyesali takdir. Kenapa ia harus lahir dengan sendok emas di mulutnya? Kenapa ia harus menjadi bagian dari keluarga Jaelendra?


"Kamu kenapa?" Gala berjengit kaget. Suara yang tiba-tiba terdengar dari balik badannya.


Sontak Gala berbalik, ia menemukan gadis muda dengan rambut berkuncir satu sedang membawa sebungkus keripik dan berjalan ke arahnya.


"Kamu siapa?" Gala bertanya.


Gadis itu mendengus, "Tidak sopan! aku bertanya kenapa kamu malah balik bertanya?"


Gadis itu lucu. Secara tidak sadar tawa kecil keluar dari bibir Gala karna suara dan tingkah laku gadis cantik itu.


"Kamu juga gak sopan!"


"Hah?"


"Kamu gak kenal tapi tiba-tiba nanya aku kenapa."


"Lho? iya juga?"


Tawa Gala meledak. Duh gadis ini lucu sekali.


"Dih kok ketawa?" Gala menggeleng. Ia pegang perutnya yang terasa keram.


Setidaknya, beban yang ia rasa tadi berkurang sedikit karna tawa yang barusan terjadi.


Ia mungkin harus berterima kasih pada gadis ini, nanti.


"Beneran, ih! Aa' siapa? bukan orang jahat, kan? Ini kan villa nya orang kaya, kata abah, jadi harus dijaga. Nah, abah yang jaga villa ini. Jadi aku juga harus jaga villa ini. Jadi kalau Aa' nya orang jahat, aku mau ngusir Aa'. hush hush pergi sana!"


ih lucunyaaa. Gala gemas rasanya.


"Terus, kenapa Aa' ngacak-ngacak rambut kayak tadi? Aa' gak gila kan?" pandangan penuh selidik gadis itu berikan. "HAH? APA AA' KESURUPAN? AAAAAK!!! BENTAR AKU PANGGILIN ABAH"


Gadis itu sudah bersiap untuk lari ke arah rumah kecil di sebelah villa keluarganya. Buru-buru Gala menahan tangannya.


Pandangan mereka bersirobok untuk sesaat. Sebelum bunyi tabokan terdengar disertai sakit di kulit punggung tangan Gala.


Plak!


"Jangan pegang-pegang!! Gak boleh, kata abah!"


Gala mendengus. Ia memutar bola matanya.


"Berisik! aku bukan orang jahat, kok!"


"Masa?"


"Iyaaa"


Gala kembali ke tempatnya semula. Ia dudukkan dirinya diatas rumput. Gadis itu mengikuti.


"Terus Aa' kenapa?"


Gala diam, "kita gak saling kenal. Tadi kan aku bilang, kamu gak boleh tanya-tanya. Gak sopan"


Kemudian tanpa aba-aba gadis itu mengulurkan tangannya ke depan dada Gala, "Aku Ameera, kamu siapa?"


Gala mematung. Mengagumi keberanian gadis kecil ini.


"Ayo A', dijabat. Tadi katanya gak kenal? jadi ayo kita kenalan!"


Gala mendengus, "Segitu pengennya kamu tahu aku lagi kenapa?" tanya Gala dan dibalas cengiran lebar oleh Ameera.


Tangan Ameera masih menggantung di udara. Gala memandang tangan kecil itu. Menimbang apakah harus ia sambut, atau malah ia tepis.


"A'? hello??" Ameera mengayunkan tangannya yang menganggur di depan wajah Gala. Menarik Gala dari diamnya.


"Aku Gala, Manggala" Gala jabat tangan itu dengan senyum bertengger lebar diwajahnya.


Ada sedikit rasa menggelitik kala kedua tangan itu bertemu, juga perasaan hangat yang merambat pelan di hati yang lebih tua.


Dan yaa... Itulah kali pertama mereka berjumpa.


Mereka, Manggala dan Ameera.


...****************...