Do You Remember?

Do You Remember?
Kesedihan Adrian.



Adrian duduk pada ruangannya yang gelap, Adrian menatap foto Naira. Adrian sangat membenci dirinya, karena lagi lagi menyakiti Naira. Adrian menyesal telah berkata kasar pada Naira, bahkan Adrian merasa terluka melihat wajah Naira yang terlihat sedih. merasa kesal Adrian melempar semua barang yang ada diatas mejanya, Adrian menangis menutup wajahnya.


"kenapa..., kenapa kau sangat lemah. Kau berjanji tidak akan menyakitinya... maafkan aku Naira, maafkan aku... aku benar benar bodoh, sangat bodoh!!!"


Flashback


semua orang terkejut saat lantai digedung atas itu mulai bergetar, mereka merasakan panik karena takut gedung itu akan runtuh. beberapa orang yang menunggu didepan lift pun segera berlari, mereka merasa lift itu dalam masalah. mereka segera menjauh dari lift itu, dan semua orang disana tertuju pada lift itu.


*DUUM!!!"


Sua orang terkejut ketika mendengar suara keras dari dalam lift itu,


"ada masalah dengan liftnya, ada seseorang juga didalamnya!" ucap seorang wanita, semua orang disana pun terkejut.


"tentu saja ada, pak Adrian dan sekretarisnya baru saja masuk kedalam lift. kami melihatnya sendiri, mereka bersama didalam." ucap seorang wanita, semuanya semakin panik mendengar nama Adrian.


"cepat perbaiki, aku akan mencoba menghubungi presdir!" ucap Andi, disana juga ada Johan. mereka semua sibuk meminta pertolongan, Johan terlihat khawatir dengan keadaan Naira dan Adrian. Andi mencoba menghubungi Adrian, tapi hp Adrian hanya diluar jangkauan. tapi setelah beberapa menit mereka mendengar suara keras itu lagi, Johan semakin panik dengan itu. Johan berteriak disana, agar bantuan segera datang.


didalam lift setelah beberapa menit, Naira membuka mata. karena benturan keras Naira merasa sangat pusing, Naira melihat sekelilingnya yang gelap. Naira teringat ia masih berada dalam lift, Naira juga melihat Adrian yang tergeletak tidak sadarkan diri. dengan hati hati Naira menghampiri Adrian, Naira merasakan sakit pada kepala dan juga pada tangannya.


"Adrian... buka matamu..." ucap Naira mengguncang tubuh Adrian, Adrian masih saja menutup mata.


"Adrian aku mohon buka matamu, uhuk... Adrian...." teriak Naira, Naira membawa Adrian dalam pangkuannya.


"kak Anan buka matamu, kita harus keluar dari sini!!" ucap Naira lagi, ia menangis dengan memegang tangan Adrian.


"uhuk... uhuk..." Naira terkejut saat melihat Adrian terbatuk, Naira sangat senang dengan itu. Adrian langsung mendudukan dirinya, karena melihat Naira yang menangis.


"apa ada yang sakit, kenapa kamu menangis. mana yang sakit?" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala.


" aku tidak apa, nanti pasti sembuh. apa ada yang sakit darimu, katakan padaku!" ucap Naira memegang lengan Adrian, Adrian tersenyum dengan itu. Adrian mengarahkan tangan Naira pada dadanya, Naira terdiam dengan itu.


"disini, sangat sakit. sakit ketika kau marah padaku, sakit ketika kau membenciku, sakit ketika kamu tidak mau bicara ataupun melihat ku!" ucap Adrian, Naira tersenyum menangis dengan itu.


"Nara jangan membenciku, aku tidak sanggup jika harus merasakan kebencianmu..." belum selesai Ardian berkata, Naira memeluk Adrian dengan tiba tiba.


"aku tidak pernah membencimu, aku sangat mencintaimu. katakan padaku, jika aku mencintaimu bagaimana bisa aku membencimu!" ucap Naira, Adrian terkejut dengan itu. Naira mulai menangis dalam pelukan Adrian, Adrian memebalas pelukan itu dan melepas kerinduannya. dan lagi lagi lift itu mengalami guncangan, Naira memeluk Adrian karena terkejut dan ketakutan. Adrian sendiri menhan tubuh Naira, dan menahan kepala Naira yang hampir saja terbentur dinding lift menggunakan tangannya.


"Nara kamu gak papa kan?" tanya Adrian, Naira menutup matanya membuat Adrian terkejut.


"Naira bertahanlah, jangan tidur..." ucap Adrian, Naira terkulai lemas dalam pangkuan Adrian. dan perlahan juga ia membuka mata, Adrian tersenyum lega dengan itu.


"Nara jangan tidur, kamu bisa dengar aku kan?" ucap Adrian, Naira mengangguk.


"aku sangat sesak disini, aku.. tidak.. kuat... ini pengap sekali.. uhuk... uhuk... " ucap Naira, Adrian menjadi panik dibuatnya.


"hei.. tidak, kumohon bertahanlah!!" ucap Adrian, ia berusaha mencari hpnya. saat menemukan hpnya, Adrian mencoba menghubungi Johan.


"sial! tidak ada sinyal!!" ucap Adrian melempar hpnya, Adrian membawa Naira dalam pangkuannya.


"Naira kita pasti keluar, kita akan keluar bersama nanti!" ucap Adrian, Naira tersenyum lemah. Adrian memeluk tubuh Naira disampingnya, Naira membuka tutupkan matanya.


"maaf aku telah membohongimu, tapi cintaku tidak pernah bohong Nara. selama bertahun tahun, aku memikirkanmu, aku selalu membayangkan bertemu denganmu..." ucap Adrian tersenyum, Naira mengangguk.


"hm.. aku hanya.. sangat kesal.. kesal karena kamu membohongiku, bahkan kamu merahasiakannya terus..." ucap Naira, Adrian tersenyum dengan itu.


"maafkan aku, untuk melindungi mu dari nenekku aku merahasiakannya. Naira aku berbohong demi kebaikanmu, tapi percayalah aku menyesal membohongimu!" ucap Adrian, Naira mengangguk.


"iya, kak Anan... aku percaya padamu..., saat... aku tahu kamu adalah kak Anan... aku sangat bahagia... pria yang selalu aku tunggu, datang dihadapanku... tapi aku salah... aku tidak menyambutmu dengan bahagia, malah menyambutmu dengan kemarahan... bisakah aku mendapat... maaf darimu..." ucap Naira, Adrian tersenyum dan menatap wajah Naira.


"aku yang minta maaf, bisakah kamu memaafkan aku?" tanya Adrian, Naira tersenyum lemah dan mengangguk.


"tidak perlu minta maaf, aku hanya ingin kamu mencintaiku hanya mencintai aku!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan membawa Naira dalam pelukannya.


"iya hanya kamu yang aku cintai, dari dulu sekarang hingga nanti!" ucap Adrian memeluk Naira, Naira mengangguk dan tersenyum.


beberapa saat kemudian Adrian merasakan tubuh Naira yang lemah, dan benar Naira sudah tidak sadarkan diri. secara bersamaan pintu lift terbuka nampak Johan dan Andi disana, dengan segera Adrian menggendong tubuh Naira.


"siapkan mobil, cepat!!" teriak Adrian berlari membawa Naira dalam gendongannya, dengan cepat juga Johan berlari kearab mobil mereka. setelah Adrian membawa masuk Naira masuk, Johan menyuruh seorang sopir untuk cepat melaju kerumah sakit.


"ada apa dengan Naira?" tanya Johan, Adrian masih berusaha membangunkan Naira.


"aku tidak tahu, dia merasa lemas dan sesak tiba tiba saja tidak sadarkan diri." ucap Adrian, Johan memperhatikan Naira ia juga melihat darah ditangan dan lengan Adrian.


"Adrian apa Naira terluka?" tanya Johan, Adrian melihat tangannya yang terdapat noda darah.


"tidak ini darah dari tanganku, tanganku sedikit terluka!" saut Adrian, Johan pun mengangguk.


Adrian merasa sangat terpukul melihat Naira menutup mata, pikiran Adrian sangat kacau. tanpa sadar Adrian meneteskan air mata, dengan cepat ia mengelap air mata itu. sampainya dirumah sakit, Adrian menggendong Naira masuk kedalam rumah sakit itu. perawat membawa Naira memasuki tuang igd, Adrian masih terlihat khawatir.


"tenanglah, dia akan baik baik saja!" ucap Johan, Adrian tetap memandang pintu igd itu. sudah beberapa menit berlalu Adrian masih saja cemas, bahkan Adrian belum mendapat kabar dari dokter ataupun perawat.


"Adrian pak Nikil menelfonku, katanya hpmu tidak bisa dihubungi!" ucap Johan, Adrian menoleh kearah Johan dan menerima hp yang disodorkan Johan.


"halo om, ada apa?" tanya Adrian pada telfon itu, semenit kemudian Adrian hanya terdiam tidak menjawab telfon itu. Johan merasa heran setelah diam, Adrian memberikan hpnya dan langsung berdiri.


"aku akan pulang, aku ada urusan!" ucap Adrian, Johan menghentikan langkahnya.


"ada apa, urusan apa yang lebih penting dari kabar Naira!" ucap Johan, tanpa menjawab Adrian melangkah keluar rumah sakit itu. pada akhirnya, Johan mengikuti langkah Adrian yang terus berjalan.


"setidaknya obati lukamu disini!" ucap Johan, Adrian tidak menghiraukannya. ia terus berjalan kearah mobil dan meninggalkan rumah sakit bersama Johan.


setelah sampai dirumah Adrian langsung masuk, terlihat disana beberapa seorang pria berdiri dengan jas hitam. Adrian menghentikan langkahnya, ia melihat sekeliling rumah besarnya itu. Adrian mencari seseorang yang selalu membuatnya tidak tenang, Johan yang merasa bingung hanya diam tidak berani untuk bertanya.


"cucuku!!"


suara itu membuat Adrian dan Johan pun menoleh, terlihat berdiri seorang wanita yang cantik bisa dibilang seorang nenek yang terlihat awet muda dan cantik. ya, wanita itu adalah Rosa nenek dari Adrian. Adrian menatap Rosa dengan tatapan tidak bersahabat, wanita yang selalu membuatnya tidak tenang sekarang berdiri dihadapannya. Rosa berdiri dengan pakaian mewahnya, Johan terkejut melihat Rosa yang terlihat muda dan seperti tidak pernah tua. Johan pun berpamit untuk pulang, ia membiarkan kedua orang itu bicara dan tidak ingin mengganggu.


"terluka, tapi kenapa tidak diobati?" tanya Rosa membuat Johan dan Adrian terbuyarkan dari lamunan mereka, Adrian terkejut saat Rosa sudah berdiri dihadapannya.


"siapkan mobil, kita harus kerumah sakit!" teriak Rosa, beberapa pelayan mengiyakan itu.


"tidak perlu, berhenti disana!" ucap Adrian dengan angkuh, pelayan itu pun menghentikan langkahnya. Rosa menatap Adrian, Rosa kesal saat Adrian menjauhkan tangannya dari Adrian.


"untuk apa anda kemari, apakah anda masih belum puas mengirim beberapa orang. hingga anda datang langsung kemari, sangat merepotkan!" ucap Adrian, Rosa tersenyum dengan itu.


"tentu saja, aku harus menjaga cucuku tersayang dari hama!" ucap Rosa berjalan kearah sofa, Adrian tetap membelakangi Rosa.


"hama?, anda lah hama bagiku. jangan coba mengatakan hal buruk tentang mereka!" Rosa tersenyum dengan perkataan Adrian.


"iya.. bahkan saat datang kamu tidak menyambutku, dan aku juga langsung melihat hal yang tidak menyenangkan saat bertemu cucuku setelah sekian lama!" ucap Rosa, kali ini Adrian menoleh kearah Rosa dan menatap Rosa.


"apa maksud anda, apa yang anda lihat?" tanya Adrian menekan, Rosa tersenyum.


"wah.. aku senang, kamu langsung melihatku. aku melihat wajah cucuku yang tampan, sama persis dengan putraku. tapi tidak akan kubiarkan kau seperti putraku, yang melawan ibunya sendiri!"


"aku tidak ingin mengulang perkataanku, apa yang anda lihat?" tanya Adrian lagi, Rosa memberi tanda pada seorang pelayan yang siap mengobati Adrian.


"duduk dan obati lukamu, maka akan aku katakan apa yang aku lihat!" ucap Rosa, Adrian pun duduk disalah satu sofa dan seseorang mencoba membersihkan luka Adrian.


"ashh!!!" ucap Adrian saat merasa sakit pada tangannya, pelayan itu meminta maaf pada Adrian.


"pelayan bodoh, kau membuat cucuku merasa sakit!" teriak Rosa, pelayan itu pun menunduk.


"maaf nyonya, pergelangan tuan muda terkilir tidak ada luka sama sekali. kami akan memanggil dokter, dan juga saatnya sudah membersihkan noda darahnya!" ucap pelayan itu, Adrian terkejut dengan itu.


"apa maksudmu noda darah?" tanya Adrian.


"iya tuan muda, itu hanya noda darah. tidak ada luka pada tangan anda," ucap pelayan itu, Adrian berpikir darah yang ditangannya adalah sebuah luka. Adrian menyadari yang berdarah bukanlah dirinya, tapi Naira lah yang terluka. tanpa bicara Adrian berjalan cepat meninggalkan Rosa, pikiran Adrian ingin melihat Naira untuk memastikan darah pada tubuh nya adalah milik Naira.


"darah itu milik wanita itu!" ucap Rosa, Adrian menghentikan langkahnya. dengan cepat Adrian menoleh kearah Rosa, Rosa dengan santai meminum teh dalam cangkir.


"apa maksudmu wanita itu?" tanya Adrian, Rosa meletakan cangkinya.


"aku melihatnya, aku melihat kau membawa wanita itu kerumah sakit. aku tidak pernah melihat kau begitu peduli pada seorang wanita, apakah wanita itu kekasihmu?" ucap Rosa, Adrian kesal dengan basa basi yang dilakukan Rosa.


"jangan sebut dia dengan wanita itu, dia hanya seorang gadis yang tidak tahu apapun!" ucap Adrian, Rosa berdiri dan berjalan kearah Adrian.


"benarkah, jadi benar wanita itu adalah kekasih masa kecilmu?" ucap Rosa, Adrian mengepalkan tangannya


"jauhi dia atau..."


"atau apa?" ucap Adrian dengan cepat, Rosa tersenyum.


"mereka dari keluarga terhormat, bahkan mereka dari keluarga terpandang. mereka selalu berada di titik teratas, tapi aku juga bisa membuat mereka berada di titik terbawah. siapa yang tidak mengenal Kara Wijaya, dan aku bisa membuat mereka tidak mengenal siapa itu Kara Wijaya." ucap Rosa, Adrian mengepalkan tangannya. Adrian merasa jika yang berdiri dihadapannya adalah bukan orang tua, Adrian sudah akan menghajarnya sampai mati.


"aku tidak bisa berbuat apapun saat anda memisahkan aku dari ibuku, karena saat itu aku hanyalah seorang anak kecil. sekarang aku bukan anak kecil, aku tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. jangan mencoba coba untuk mengancamku, aku bisa melakukan apapun!" ucap Adrian,


"baiklah, lakukan apapun yang kamu mau. dan aku akan lakukan apapun yang aku mau!" ucap Rosa, belum sempat Adrian membalas tiba tiba saja ia merasakan lelah dan ambruk begitu saja.


keesokan harinya Adrian bangun dipagi hari, ia melihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi. Adrian bangkit dari kasur, dan melihat pergelangannya terbalut perban yang mencegah pergerakan pergelangan tangan itu. Adrian teringat belum mendapat kabar tentang Naira, ia pun keluar dari kamarnya.


"sudah bangun, mau kemana dengan tangan seperti itu?" suara Rosa membuat Adrian menghentikan langkahnya, Adrian melihat kearah Rosa yang duduk disofa sedang duduk santai.


"sialnya aku, baru bangun sudah bertemu dengan anda!" ucap Adrian.


"terima kasih, selamat pagi juga!" ucap Rosa tersenyum, Adrian mengacuhkannya dan mulai melangkahkan kakinya lagi.


"hentikan dia!" teriak Rosa, seketika beberapa pria berbaju hitam menghadang Adrian. Adrian terkejut dengan itu, Adrian menatap para pria dihadapannya.


"minggir, berani sekali kalian menghadang jalanku!" ucap Adrian, Rosa tersenyum dengan itu.


"Adrian, aku tidak main main dengan apa yang kukatakan kemarin!"


"aku tidak perduli, minggir sekarang!" teriak Adrian tapi salah seorang pria mencengkram tangan Adrian, yang membuat Adrian merasa kesakitan dan lemah. karena tubuh Adrian yang lemah, Rosa memberikan perintah pada beberapa pria itu untuk membawa Adrian.


"anda memang iblis, suatu saat anda akan menyesal dan mengakui semua dosa yang anda buat!" ucap Adrian, Rosa hanya tersenyum tidak perduli.


dua hari kemudian Adrian berdiri dibalkon kamarnya, Adrian merasa khawatir dan rasa ingin tahu tentang keadaan Naira. Adrian terus menatap foto Naira ditangannya, beberapa menit kemudian terlihat Nikil memasuki kamar Adrian.


"tuan muda?" ucap Nikil, Adrian hanya menoleh sekilas lalu mengelap air matanya.


"katakan om, aku ingin tahu!" ucap Adrian, Nikil pun mengangguk.


"aku sudah menyuruh Andi atas perintahmu kemarin, Andi menghubungiku bahwa nona Naira telah bangun dan keadaannya sudah baik baik saja." ucap Nikil, Adrian merasa lega dengan itu.


"dan ini hp untuk anda tuan muda, aku sudah mengisi data seperti sebelumnya!" ucap Nikil memberikan hp, Adrian menerima hp itu.


"apa nomor telfonku tetap?" tanya Adrian, Nikil mengangguk.


"terima kasih om!" ucap Adrian, Nikil tersenyum.


"tuan muda, apa anda yakin tidak mau menemuinya?" tanya Nikil, Adrian mengalihkan pandangannya keluar balkon kamarnya.


"tidak untuk sekarang, aku akan menemuinya nanti." saut Adrian, Nikil pun tersenyum dan mengangguk.


"maafkan aku, aku tidak bisa menemuimu. sebelumnya aku berpisah dengan ibuku, tapi sekarang tidak akan. tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, aku berjanji padamu!" ucap Adrian memeluk foto itu, tanpa sadar air matanya menetes.


Flashback off.


***


Assalamualaikum semuanya, halo apa kabarnya😊 semoga semuanya sehat selalu, Amiinn****..


pertama tama author minta maaf, karena tidak ada kabar beberapa minggu. setelah masalah kesehatan author, dilanjut dengan masalah ujian kelulusan 😁 dan Alhamdulillah semua sudah lancar dan author sudah sehat🤗.


buat para reader terima kasih sudah setia selalu dengan novel author, insyallah mulai sekarang author akan up jika tidak ada halangan😊 udah gitu aja😁, sekali lagi author minta maaf ya pada kalian🙂.


oh iya buat temen2 semua, sekedar mengingatkan dijaga kesehatannya. tetap dirumah untuk mencegah COVID-19 , tetap hidup sehat karena lebih baik mencegah dari pada mengobati.🙂 author doakan semoga kita semua dijauhkan dari segala jenis penyakit, dan diberi kesehatan selalu oleh-Nya. Amiin...🤲🏻🙂


Waalaikumsalam...☺


*jangan lupa like dan komen kalian😍*