
setelah obrolan sore itu, Naira memutuskan untuk pulang. mereka berkumpul di lobby rumah sakit, mereka menunggu Adrian yang sedang mengurus kepulangan rumah sakit Naira. setelah mengurus semua itu, Adrian menghampiri mereka yang berkumpul.
"aku sudah mengurusnya, Naira boleh pulang. untuk hasil kesehatannya, akan datang dalam beberapa hari!" ucap Adrian, Kara mengangguk.
"Naira ayo pulang dengan kakak!" ucap Bagas, Naira pun mengangguk. Adrian yang mengharapkan Naira mengatakan tidak, sangat kesal Naira mengatakan iya. melihat itu Johan mendekati Adrian.
"apa kau akan membiarkan dia begitu saja?" tanya Johan, Adrian menatap Johan.
"tidak akan!" saut Adrian, Johan menggelengkan kepala.
"panggil dia Adrian, panggil cepat. cepat hentikan dia, cepat Adrian!" Johan terus memaksa Adrian, Adrian yang mendengar itu merasa kesal pada Johan.
"cepat hentikan dia, atau kau akan kehilangan Naira!"
"diam!!" suara Adrian membuat semua melihat kearah Adrian, Adrian tersenyum kaku melihat mereka. Naira hanya terdiam dan mengikuti Bagas, Adrian sangat kesal melihat Naira yang tidak peduli padanya.
"Adrian, tidak ada yang mengantarku pulang. ayo antar aku pulang dan mencari apartemen untukku!" ucap Sonia tiba tiba, Adrian terkejut dengan itu. pasalnya ia sangat lupa dengan satu temannya itu,
"oh iya, aku melupakanmu. ayo pergi ke apartemenku!" perkataan Adrian membuat semua orang melihatnya termasuk Naira, Naira menatap tajam Adrian. Adrian menjadi linglung saat merasa mengatakan kalimat yang salah.
"hm.. maksudku, sangat susah mencari apartemen. lebih baik tinggal di apartemen ku saja, aku akan pulang kerumah papa!" jelas Adrian membenarkan kalimatnya, Naira tetap menatap Adrian.
"oke, ayo!" ucap Sonia, Adrian mengangguk dengan itu.
"eh tungu tunggu!" ucap Siska, Sonia dan Adrian pun menghentikan langkah mereka.
"pak Adrian harusnya mengantar Naira, dan nona Sonia yang terhormat naik taksi saja!" ucap Siska, Johan terkejut dengan itu.
"hei apa yang kau katakan, tidak mungkin seorang wanita berjalan sendirian dimalam hari." saut Sonia, dan akhirnya mereka pun berdebat disana.
"cukup!!" ucap Bagas membuat mereka terdiam, Bagas menarik tangan Naira dan mendekat kearah Adrian.
"pulangnya bersama Naramu, jalan pelan pelan saja. dan jaga adikku kali ini, jika secuil hilang darinya. terima akibat dariku!" ucap Bagas, Adrian mengangguk dan tersenyum. dalam hati Adrian sangat ingin berteriak senang, ia mencoba menahan semua itu.
"oh iya kirimkan alamat apartemen mu, aku akan mengantar nona ini!" ucap Bagas, Adrian mengangguk kemudian menoleh kearah Sonia. terlihat Sonia dan Siska bermain mata, Adrian yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. sebenarnya Siska dan Sonia tahu, bahwa Adrian tidak berani mengajak Naira pulang. karena itu mereka membuat rencana, dan rencana mereka berhasil.
"kalau begitu papa akan tunggu kamu dirumah!" ucap Vano.
"iya pa, nanti Adrian pasti pulang!" saut Adrian, Vano pun tersenyum dan mengusap kepala Naira sebelum pergi. mereka pun pergi satu persatu, dan sekarang masih tertinggal Naira dan Adrian disana. Adrian menoleh kearah Naira yang terdiam, Adrian tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"apakah kita tidak pulang?" tanya Naira, Naira yang memilih diam akhirnya angkat bicara. Adrian yang mendengar itu jadi salah tingkah, Adrian mengangguk dan mengulurkan tangan pada Naira.
"ayo!" ucap Adrian dengan mengulurkan tangan, Naira yang merasa malu dengan perlahan menerima uluran itu. Adrian tidak menyangka Naira menerima itu, karena sebelumnya Naira sangat marah padanya. mereka pun keluar dari rumah sakit itu dengan bergandengan tangan, perasaan keduanya pun tidak dapat diartikan.
saat perjalanan pulang, hanya ada kesunyian didalam mobil Adrian. sesekali Adrian menatap Naira yang diam, wajah natural Naira membuat Adrian tidak bosan untuk memandanginya. Naira sendiri bingung untuk bicara, ia memilih untuk melihat kearah luar mobil.
"aku ingun jalan jalan?" ucap Naira, Adrian yang mendengar itu menoleh kearah Naira. Adrian melihat Naira yang masih menatap luar mobil, Adrian tersenyum dan memegang tangan Naira.
"sekarang?" tanya Adrian, Naira menoleh dan melihat tangan Adrian yang menyentuh tangannya. Naira tersenyum lalu pun mengangguk.
"baiklah, ayo kita jalan jalan malam ini!" ucap Adrian, Naira pun tersenyum senang. Adrian pun senang melihat wajah bahagia Naira, ia segera memutar mobilnya ketempat yang Naira inginkan. setelah beberapa menit mereka sampai disebuah taman, Naira menghela nafasnya disana.
"aku merasa tenang hari ini!" ucap Naira, Adrian menatap Naira yang tersenyum dan merasakan udara. Adrian sangat bahagia saat melihat Naira tidak bersedih lagi karenanya, dan itu juga keinginan Adrian. membuat Naira terus bahagia saat bersamanya.
"kemarilah!!" ucap Naira menarik tangan Adrian, Adrian dengan senyum mengikuti langkah Naira. Naira membawa Adrian duduk disebuah bangku, Adrian mengikuti kemauan Naira.
"kamu ingin apa?" tanya Adrian, Naira tersenyum manis kearahnya.
"aku hanya ingin duduk bersamamu, apakah kamu keberatan?" tanya Naira, Adrian menatap wajah Naira yang tersenyum padanya. Adrian menyentuh pipi cabi Naira, Naira memegang tangan Adrian dan tersenyum.
"maafkan aku Nara, aku benar benar bodoh. aku tidak pernah berpikir akan melukaimu, bisakah aku mendapat maafmu?" ucap Adrian, Adrian terdiam menunggu jawaban Naira. Naira malah menyenderkan kepalanya pada pundak Adrian, ia juga mengalungkan tangannya pada lengan Adrian.
"aku pernah memintamu mencintaiku kan?" saut Naira, Adrian pun terdiam dengan itu.
"kak Anan, aku tidak ingat semua percakapan kita didalam lift. tapi aku teringat, pernah mengatakan itu padamu!" saut Naira lagi, Adrian membuat Naira terduduk dan menatap nya.
"apa yang kau ingat lagi?" tanya Adrian, Naira tersenyum lalu menyenderkan kepalanya lagi dipundak Adrian.
"aku ingat, saat itu aku mengatakan kalau aku sangat mencintaimu dan aku memintamu untuk mencintaiku!" ucap Naira, Adrian tersenyum dengan itu. Naira terkejut ketika Adrian bersimpuh dihadapannya.
"berjanjilah padaku, kamu akan mencintaiku selamanya. hanya aku wanita yang akan kau cintai, hanya aku yang akan bersamamu sampai tua. berjanjilah juga, kalau kamu akan menceritakan semua masalah mu padaku. berjanjilah itu kak Anan, berjanjilah!" ucap Naira, Adrian memeluk erat tubuh Naira dan mencium bahu Naira.
"iya aku berjanji, aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun. tapi Naira aku mohon, jangan melukai dirimu sendiri seperti tadi." ucap Adrian, Naira pun mengangguk.
"iya, aku tidak tahu kenapa aku pingsan!" ucap Naira, mereka pun saling mengeratkan pelukan mereka. Naira dan Adrian saling merindukan satu sama lain, bahkan sudah lama mereka tidak merasakan pelukan yang hangat itu. mereka berpelukan tanpa memperdulikan orang yang melihatnya, untuk malam itu adalah malam bagi mereka.
*disaat bersamaan.
Bagas mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Bagas menuju ke alamat yang sudah diberitahukan Adrian. didalam mobil Sonia dan Bagas hanya terdiam, mereka tidak bicara satu sama lain. Sonia yang ingin mengajak Bagas bicara, hanya terhenti pada tenggorokan nya. Sonia melihat Bagas yang acuh, membuatnya tidak berani untuk bicara ataupun bertanya.
"apa kau haus?" tanya Bagas setelah lama diam, Sonia pun menoleh kearah Bagas.
"hm.. sebenarnya bukan hanya haus, tapi juga lapar!" saut Sonia, Bagas pun tersenyum dengan itu.
"kenapa kau tidak bilang dari tadi, pasti kau sudah menahan laparmu!" ucap Bagas lagi, Sonia tersenyum melihat Bagas tersenyum.
"melihat wajahmu saja, aku takut. apalagi bilang kalau aku lapar!" saut Sonia, Bagas pun tertawa kecil.
"aku ada tempat yang enak untuk makan, apa kau ingin pergi?" tanya Bagas, Sonia pun mengangguk.
"tentu saja, aku sudah sangat lapar!" saut Sonia, Bagas segera melajukan mobilnya.
setelah beberapa menit mereka sampai ditempat yang Bagas mengatakan, mereka menunggu pesanan yang sudah mereka pesan. Bagas terus sibuk dengan hpnya, sesekali Sonia melirik kearah Bagas yang acuh padanya.
"hm.. jadi kau kakaknya Naira?" tanya Sonia, Bagas pun menoleh kearah Sonia.
"iya, dan kau siapanya si Adrian itu?" tanya Bagas, Sonia tersenyum.
"kami berteman sejak kecil, aku baru datang dari London tadi. ya kau pasti sudah tau kenapa aku datang, oh iya namaku Sonia!" ucap Sonia mengulurkan tangan dan tersenyum, Bagas pun tersenyum dan menerima uluran tangan itu.
"namaku Bagas, senang bertemu denganmu!" ucap Bagas, Sonia tersenyum dan mengangguk.
"iya, senang bertemu denganmu!" saut Sonia, tanpa sadar keduanya belum melepaskan tangan mereka. mereka masih saling tersenyum dan menatap satu sama lain, Sonia menatap Bagas tersenyum dan Bagas menatap Sonia dengan wajah datar tapi penuh arti.
"pesanan sudah siap!!"
suara seorang pelayan membuat mereka terkejut, mereka melepaskan tangan mereka dan menjadi salah tingkah.
"terima kasih!" ucap lembut Sonia pada pelayan itu, Bagas tersenyum dengan itu.
"apa kau akan melihatku terus, dan tidak makan?" tanya Sonia, Bagas pun berdehem karena merasa malu. Sonia tertawa kecil melihat Bagas salah tingkah, keduanya pun saling melihat dan tersenyum.
setelah menyantap makanan mereka, mereka keluar dari restoran itu. Bagas siap mengantarkan Sonia ke apartemen Adrian. setelah percakapan mereka direstoran, keduanya menjadi akrab didalam mobil. di mobil itu sudah tidak ada kecanggungan dan kesunyian lagi, melainkan obrolan mereka tntang terasa seru menurut mereka. setelah beberapa saat mereka sampai di apartemen yang dituju, Bagas memarkirkan mobil nya dan mengantar Sonia masuk.
"seharusnya kau tidak perlu repot mengantarku, Adrian sudah memberikan passwordnya!" ucap Sonia, Bagas tersenyum dengan itu.
"tidak masalah, aku hanya ingin memastikan saja!" saut Bagas, Sonia mengangguk dengan itu. mereka menunggu didalam lift, sampai lift terbuka dan tertuju pada tempat mereka. Sonia membuka apartemen Adrian, setelah terbuka Sonia menoleh kearah Bagas.
"sudah terbuka, terima kasih. apa kau mau mampir?" ucap Sonia, Bagas menggelengkan kepalanya.
"tidak perlu, kalau begitu aku pergi dulu. ini sudah larut, selamat istirahat!" saut Bagas, Sonia pun tersenyum dan mengangguk.
"iya, hati hati!" Bagas pun melangkah pergi dari sana, Sonia melihat kepergian Bagas dengan tersenyum.
"i will take my heart, my heart that you have stolen. Bagas!" gumam Sonia tersenyum, lalu ia masuk kedalam apartemen itu untuk istirahat.
Bagas menoleh kearah belakangnya, ia melihat Sonia yang sudah tidak ada. Bagas tersenyum singkat, lalu pergi dari sana.
"aku merasa ada yang hilang, apa ya?" gumam Bagas ketika menaiki lift, ia tersenyum sendiri.
****
halo temen temen, apa kabar. semoga baik semua, amiin.
maaf ya kalau cerita author tambah membosankan, tapi author udah berusaha agar kalian bacanya tidak bosen. jadi jangan bosen ya, biar author seneng hehe...
jangan lupa like, komen dan kasih vote kalian😍