Do You Remember?

Do You Remember?
Tunangan.



ketika Adrian tertidur, ia merasakan sesak pada dadanya. pernafasan yang awalnya normal, menjadi sangat sesak dan terengah. dengan cepat Adrian membuka mata, ia melihat tangan seseorang berada tepat diatas tubuhnya. Adrian tahu benar tangan siapa itu, dengan hati hati Adrian memindahkan tangan itu kesampingnya. sejenak Adrian mengatur nafasnya, dan saat itu juga tangan itu kembali tepat pada dada Adrian. tangan itu tidak lain adalah tangan Naira, dengan tidur lelapnya Naira tanpa sadar seperti memeluk Adrian.


"kenapa tangan gadis ini berat sekali, atau aku yang terlalu lemah!" ucap Adrian, saat ingin memindahkannya ia melihat Naira yang masih setia dengan tidurnya. Adrian menyibakkan rambut Naira yang menutupi mukanya, Adrian ingin melihat wajah Naira yang sedang tertidur.


"jahat sekali!" gumam Naira, Adrian terkejut ketika Naira memukul dadanya berulang kali.


"apa dia mimpi buruk!" tanya Adrian pada dirinya, Adrian menahan tangan Naira yang terus memukul dadanya.


"kamu jahat sekali, sangat jahat!!" ucap Naira, Adrian terus menahan tangan Naira yang terus memukulnya.


"buka matamu, Nara buka matamu!!!" teriak Adrian, seketika Naira membuka mata dan menatap Adrian yang begitu dekat dengan wajahnya.


"apa yang kau lakukan disini!"


'jedug!!


karena terkejut, Naira berteriak dan menjauhkan dirinya. tapi sialnya tangannya terbentur pintu mobil, Naira merasa kesakitan dengan itu.


"akhh,, sakit sekali, kenapa anda disini pak?" tanya Naira sambil mengelus tangannya, Adrian menahan tawanya.


"apa tidurmu nyenyak?" tanya Adrian tersenyum datar, Naira melihat sekelilingnya dan sadar bahwa dirinya berada didalam mobil.


"dimana saya, apa yang anda lakukan!" tanya Naira seperti orang linglung, ia menutup dadanya dengan kedua tangannya.


"apa karena tidur lama, otakmu jadi konslet?" ucap Adrian, Naira mendengus kesal.


"enak aja, anda yang konslet!" kesal Naira, Naira membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. sebelum sampai turun Adrian menarik tangan Naira, hingga Naira duduk kembali dikursinya.


"kau melupakan sesuatu!" ucap Adrian, Naira bingung dan tampak berpikir.


"apa yang aku lupakan?" tanya Naira, Adrian menatap wajah polos Naira yang seperti tidak mengerti apapun.


"belanjaanmu, ini!!" ucap Adrian mengambil paperbag milik Naira, Naira terkejut dengan itu. karena Naira merasa tidak belanja apapun, tiba tiba saja dirinya diberikan paperbag sedikit banyak.


"ini bukan milik saya, terima kasih sudah mengantar saya!" Adrian terkejut dengan perkataan Naira, belum Adrian menjawab Naira sudah berlari masuk kedalam rumahnya. Adrian terdiam dan menatap Naira dari dalam mobilnya, akhirnya Adrian memutar mobilnya dan pergi dari sana.


setelah beberapa menit, Adrian sampai disebuah apartemen miliknya. Adrian memilih tinggal di apartemen dari pada tinggal satu rumah dengan neneknya, Adrian meletakkan paperbag milik Naira ke atas sofa disana. Adrian memilih untuk membersihkan tubuhnya sebelum tidur, ia melempar semua pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi.


setelah beberapa menit ia keluar dari kamar mandi, Adrian menggunakan piyama mandinya dan handuk dikepalanya. Adrian duduk ditepi kasurnya, ia menggosok rambutnya. setelah merasa kering, ia melempar handuk itu kesembarang arah. Adrian melihat jam didinding, menunjukan sudah pukul satu dini hari.


"harusnya aku pergi kerumah mama saja, aku belum mengunjunginya sama sekali. gara gara penyihir itu, aku belum bertemu dengan keluargaku!" ucapnya, Adrian merasakan kesepian di apartemen itu.


"tinggal disini benar benar menyebalkan!"


Adrian membaringkan tubuhnya, dengan menarik nafas agak panjang. saat ia melihat langit langit apartemen itu, Adrian masih merasakan tangan Naira yang menyentuh dadanya. Adrian menyentuh dadanya sendiri.


"aku mencintaimu!" ucapnya tersenyum, tidak butuh waktu lama Adrian pun terlelap tidur.


****


pagi pun tiba, Naira terbangun dari tidurnya. Naira tidak tahu kenapa ia tidur masih menggunakan pakaian kerjanya, Naira segera berdiri dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


setelah membersihkan diri, Naira sarapan dan berpamitan untuk pergi. Naira mengendarai mobilnya ke kantor, setelah beberapa menit Naira sampai dikantor. Naira memarkirkan mobilnya, saat bersama Naira bertemu dengan Adrian yang juga baru datang.


"pagi pak!" ucap Naira, bukannya menjawab Adrian malah menyerahkan paperbag pada Naira.


"ini lagi?" tanya Naira, Adrian menatap Naira.


"ini punyamu, tentu saja aku berikan!" saut Adrian, Naira menggelengkan kepala.


"pak saya itu tidak belanja sama sekali, seharian saya bekerja dikantor. bagaimana ada kesempatan buat belanja, lagi pula anda memberikan begitu banyak pekerjaan!".


Adrian terkejut dengan perkataan Naira, Adrian merasa ada yang salah dengan Naira. Adrian menyentuh dahi Naira, tapi Adrian tidak merasakan panas sama sekali.


"apa kamu baik baik saja?" tanya Adrian, Naira mengangguk.


"memangnya kenapa, saya baik baik saja!" saut Naira, Adrian masih tidak mengerti dengan itu. Adrian merasa ada yang tidak beres dengan Naira, bahkan Naira bersikap seperti tidak terjadi apapun.


"ceritakan apa yang terjadi padamu kemarin malam?" tanya Adrian, Naira tampak berpikir. pada saat sedang berpikir, tiba tiba sesuatu menyakitkan pada kepala Naira.


"aukh!!!" rengek Naira, Adrian terkejut dan langsung menyentuh pundak Naira.


"apa yang terjadi, apa kau baik baik saja?" tanya Adrian cemas, Naira menoleh dan menatap Adrian. Naira teringat pada saat Adrian berkata kasar padanya, bahkan berulang kali dalam satu hari.


"lepaskan saya, saya baik permisi!" ucap Naira menghempaskan tangan Adrian, Adrian terkejut dengan itu. tanpa bicara lagi, Naira berjalan meninggalkan Adrian. Adrian masih terdiam melihat kepergian Naira, perubahan Naira begitu cepat dari pada cuaca pikirnya.


Naira berjalan menyusuri lorong parkiran itu, saat menunggu lift terbuka Naira masih tidak mengerti dengan paperbag itu. Naira membolak balikan paperbag itu, sejenak Naira melamun.


"kapan aku belanja, lalu kenapa aku tidak ingat apapun ya?" gumam Naira, ia masuk kedalam lift setelah lift terbuka. setelah beberapa menit Naira sampai diruangannya, dan meletakkan paperbag itu dilain tempat. Disaat yang bersamaan, Siska datang tersenyum pada Naira.


"hai Nai, dari tadi?" sapa Siska, Naira tersenyum dengan itu.


"nggak kok, barusan juga duduk!" saut Naira, Siska mengangguk lalu mendudukan dirinya.


"eh lupa liat deh, ini baju yang kamu pilih. cocok loh!!" ucap Siska berdiri lagi dan memutar menunjukan pakaian yang ia gunakan, Naira hanya melihat dan tampak bingung.


"kamu kok ga pake yang aku pilih, kamu nyebelin ih!!"


"tunggu tunggu, emangnya kita belanja ya?" pertanyaan Naira membuat Siska tertawa, semenit kemudian Siska tertawa.


"haha... Naira kamu pikun ya, kita itu kemarin belanja seharian penuh tauk!" saut Siska tertawa, Naira pun mengambil paperbag miliknya.


"jadi beneran kita belanja?"


"gini kemarin itu aku gatau kenapa, saat aku bangun aku bersama si Adrian itu. terus dia nyerahin ini ke aku, dan katanya ini belanjaanku!" jelas Naira, Siska yang ikut bingung memegang dahi Naira.


"kamu gak sakit kan?" ucap Siska, Naira menggelengkan kepala.


"tunggu dulu, inget nggak saat pagi kamu ngapain?" tanya Siska, Naira mengangguk kuat.


"tentu, paginya si Adrian itu ingin memecatku dan aku menangis diruang rapat. setelah itu aku gatau," saut Naira, Siska merasa heran.


"beneran kamu nggak inget?" tanya Siska lagi, Naira menggelengkan kepala.


"wahh konslet tuh!" ucap Siska, Naira menatapnya.


"maksudnya konslet?"


"ya... otak kamu, masa iya nggak inget sih!" saut Siska, Naira tampak kesal dengan itu.


"enak aja, kamu konslet!" ucap Naira memukul Siska dengan paperbag yang ia pegang, Siska malah tertawa dan terus mengejeknya.


****


waktu berjalan begitu cepat, pagi hari berubah menjadi siang hari. Adrian sibuk sepanjang hari, jika dipikirkan kesibukannya membuatnya kesal. karena tidak ada yang menemaninya, sebelumnya Naira selalu menemaninya hingga larut sampai kesibukannya itu selesai. Adrian menghentikan pekerjaannya saat perutnya berontak meminta makan, Adrian pun memutuskan untuk memesan makanan.


'Tok tok tok


belum sempat ia menelfon, suara ketukan pintu membuatnya berhenti dari pekerjaannya. terlihat Johan membuka pintu dan menghampiri Adrian, Adrian meletakkan telfon mejanya.


"ada apa?" tanya Adrian, Johan duduk dikursi hadapan Adrian.


"ayo ke kantin, aku ingin mengajak Siska makan siang tapi dia sudah pergi dengan Naira!" ucap Johan, ketika mendengar nama Naira ia mengingat betapa menyebalkannya Naira dipagi hari.


"tidak, jika aku pergi akan bertemu Naira!" saut Adrian, Johan terkejut dengan itu.


"bukankah kau senang!" perkataan Johan membuat Adrian teringat suatu kejadian, dimana Johan membuatnya menjemput Naira.


"sepertinya aku belum memberimu pelajaran!" ucap Adrian mendirikan tubuhnya, ia membuka jas nya.


"eh apa salahku?" tanya Johan, sebenarnya Johan sudah mengerti dengan maksud Adrian. Adrian melempar jasnya, ia terus maju ketika Johan berusaha mundur.


"hei Adrian ini tidak baik, jangan melecehkan aku!" ucap Johan, karena melihat Johan panik Adrian menggodanya dengan membuka kancing bajunya. Johan terkejut dengan itu, bahkan ia melihat Adrian tersenyum penuh arti.


"hei apa yang kau lakukan, aku ini masih perjaka. apa yang akan kukatakan pada Siska, jika perjakaku kau ambil." teriak Johan menutupi dadanya, Adrian merasa geli dengan itu.


"siapa suruh kau mengerjaiku tadi malam hah, aku sampai tidak bisa istirahat. sekarang rasakan apa yang akan aku lakukan padamu, rasakan saja!" Adrian terus menggoda Johan dengan hal menjijikan itu, Johan yang ketakutan hanya bisa diam ketika Adrian terus mendekat kearahnya.


"Adrian aku masih perjaka, lepaskan aku. aku hanya membantumu, nasibku benar benar sial kemarin!" rengek Johan, Adrian yang mendengar itu benar benar merasa geli. Adrian menyentuh pipi Johan, membuat Johan terkejut dan merinding.


"pak Adrian apa akkhhhh!!!!!!"


teriakan Siska membuat Adrian dan Johan terkejut, Siska berteriak dan menutup matanya. Adrian yang terkejut pun segera mengambil jasnya, mereka merapikan pakaian mereka.


"ehem!" dehem Adrian, Siska pun mengintip disela tangannya. setelah ia melihat semua normal, Siska membuka matanya.


"maaf pak saya tidak mengetuk pintu, saya tidak tahu kalau kalian sedang bersama!" ucap Siska menekan dan menatap Johan, Johan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"hm.. iya, ada apa kau kemari?" tanya Adrian, Siska pun menatap Adrian.


"awalnya saya mencari Naira, tapi karena saya melihat hal seperti itu saya mencari pak Johan!" ucap Siska tersenyum, Adrian menahan tawanya.


"oh iya silahkan, saya sudah selesai dengannya!" ucap Adrian dengan santai, Siska langsung keluar tanpa pamit.


"semoga harimu beruntung kawan!" ucap Adrian, Johan hanya berdecak kesal ia berjalan cepat menyusul Siska. Adrian merasa puas dengan itu, ia tertawa ringan diruangannya itu.


'BRAKKK!!!


Adrian terkejut ketika mendengar suara pintu, ia menoleh kearah pintu ruangannya. terlihat Naira berdiri dengan wajah merah, Adrian merasa Naira sedang marah. Naira berjalan kearah Naira, begitu juga dengan Adrian yang berjalan.


"apa sebab kau berubah padaku?" ucap Naira, Adrian terdiam dengan itu.


"katakan padaku Adrian, aku ingin tahu!" ucap Naira lagi, Adrian menatap Naira.


"dimana kesopanan mu!"


"aku tidak peduli, kau ingin memecatku kan. maka pecat aku, aku akan pergi dari sini!" saut Naira kesal, Adrian terkejut dan masih tidak mengerti dengan sifat Naira.


"kenapa kau melakukan ini padaku, kenapa... karena dia kau bersikap seperti itu padaku, kenapa kak Anan!!!" ucap Naira menangis dengan memukul dada Adrian, Adrian hanya diam dan menahan tangan Naira. Adrian tidak mengerti apa yang terjadi pada Naira, Adrian berpikir Naira sudah tahu tentang Rosa dan entah apa yang dikatakan Rosa pada nya.


"Naira maafkan aku, tidak ada yang bisa aku lakukan!" ucap Adrian, Naira menatap Adrian dengan perasaan marah dan kesal.


"benarkah, apa papa Vano dan tante Amelia tau?" ucap Naira, Adrian menggelengkan kepalanya.


"bagaimana kau tidak memberitahu mereka, mereka orang tuamu. kau memiliki tunangan dan kau merahasiakan pada mereka!" teriak Naira, Adrian lagi lagi terkejut.


"apa maksudmu tunangan?".


"ternyata ini ruanganmu, aku sudah mencarinya kemana mana!"


mendengar suara itu, Adrian menoleh kearah belakang Naira. terlihat seorang wanita cantik berdiri didepan pintu, wanita dengan kulit putih dan berambut merah. Adrian menatap wanita itu seakan tidak percaya, karena Adrian tahu benar siapa wanita itu.


"Sonia?"