
Sonia masih ada diruangan Adrian, ditambah Johan ada disana juga. mereka bertiga melepas kerinduan yang mereka rasakan, Sonia dan Johan terus bicara dan tertawa. berbeda dengan Adrian yang terdiam, Adrian terdiam memikirkan Naira. karena sejak pergi, Naira belum terlihat. setiap kali ada yang masuk ruangannya, Adrian berharap itu adalah Naira. Sonia merasakan kecemasan Adrian, bahkan Johan pun melihat wajah Adrian suram.
"Adrian jangan takut dengan penyihir itu!" ucap Sonia, Adrian pun menoleh kearah Sonia.
"benar, untuk apa kau takut pada nenekmu!" saut Johan, Adrian menatap Johan tanpa mengatakan apapun.
"oh oke, dia bukan nenekmu dia adalah penyihir!" saut Johan lagi, karena ia tahu benar Adrian tidak suka dengan panggilan neneknya itu. Sonia yang melihat itu tertawa kecil, Johan pun hanya tersenyum pada Sonia.
"dia sengaja mengirim Sonia agar bisa membuat kalian jauh, dan kau membiarkan itu terjadi?. sebelumnya dia mengancammu untuk menjauhi keluarga mereka, tapi apa kau tidak tahu siapa Bagas Febriansyah?. Bagas adalah kakak dari Naira, dan kau pasti tahu siapa Kara Wijaya..."
"tunggu tunggu, apa maksud dengan itu?" tanya Sonia saat Johan sedang bicara, Johan pun melihat kearah Sonia.
"sebenarnya keluarga Naira tidak lemah, dia berasal dari keluarga yang kuat dan sangat terpengaruh dibidang bisnis. Naira bekerja disini hanya karena sifatnya yang mandiri, dan secara kebetulan bos nya adalah Adrian teman yang ia tunggu sejak lama. Kara Wijaya adalah pengusaha ternama dan kejam dibidang bisnisnya dulu, bisa dibilang siapa yang mengusiknya akan merasakan akibatnya!" jelas Johan, Sonia mengangguk dengan itu.
"lalu siapa Bagas itu?" tanya Sonia lagi.
"Bagas adalah putra tunggal dikeluarga Naira, tapi mereka hanya saudara sepupu. Bagas memiliki sifat seperti ayah Naira, ambisius untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan!" Sonia hanya mengangguk mengerti, Adrian masih terdiam melihat mereka berdua berbicara.
"Adrian sekarang kau takut dengan penyihir itu akan melukai Naira kan, sekarang katakan padaku apa kau meremehkan kekuatan Kara dan Bagas?" ucap Johan, Adrian masih terdiam dengan itu.
"Adrian jangan lupa satu hal, kau masih memiliki ayahmu. bukankah ayahmu adalah ayah Naira, Naira memiliki pelindung banyak termasuk kau juga adalah pelindungnya!" ucap Johan, Adrian yang terdiam akhirnya menatap Johan dan berdiri.
"kau benar, untuk apa aku takut.aku sangat bodoh, aku memiliki keluarga yang sangat kuat, aku bahkan tidak bisa meremehkan kekuatan mereka. aku tidak akan kalah dengan penyihir itu, aku adalah pelindung Naira yang utama!" ucap Adrian, Johan dan Sonia tersenyum satu sama lain.
"jangan lupa, ada kami juga. karena aku menyukai Naira, akan berdiri di pihakmu!" ucap Sonia, Adrian tersenyum pada Sonia begitu juga dengan Johan.
"akan kukatakan semua pada Naira sekarang, kalian ikut aku!" ucap Adrian, Johan dan Sonia pun mengangguk.
belum mereka sempat keluar, Siska membuka pintu Adrian dengan kasar. Siska terlihat ter engah engah dengan nafasnya, Johan yang melihat itu dengan cepat menghampiri Siska.
"ada apa?" tanya Johan, Siska memegang tangan Johan.
"hei tenanglah, ada apa?" tanya Johan ketika merasakan tangan Siska gemetar.
"itu Naira, Naira mengunci pintu toilet. sudah dari tadi dia tidak keluar, aku memanggilnya tapi tidak ada sahutan!" perkataan Siska membuat semua disana terkejut, tanpa bicara Adrian langsung berlari untuk menemui Naira. Adrian berlari dengan cepat menuju Naira, pikirannya saat ini sangat cemas. setelah sampai ditoilet Adrian membuka pintu toilet itu, tapi benar perkataan Siska pintunya tidak bisa terbuka.
"Naira apa kau didalam?" teriak Adrian membuat semua orang menatapnya, Adrian tidak peduli dengan itu.
"Naira!!!"
"Adrian dobrak saja, takut terjadi sesuatu didalam!" ucap Sonia yang sudah dibelakang Adrian, Adrian pun terus menendang pintu toilet itu.
"Naira!!!" teriak Adrian ketika melihat Naira yang tidak sadarkan diri, dengan segera Adrian menggendong Naira.
"siapkan mobil cepat, Naira ada apa denganmu!!!" ucap Adrian berjalan cepat dengan menggendong Naira, semua orang terkejut disana. Johan, Siska dan Sonia mengikuti langkah Adrian.
dengan cepat Adrian membawa Naira kedalam lift, saat keluar lift itu secara bersamaan terdapat Rosa yang menatapnya. mereka berhenti sejenak melihat itu, Rosa menatap Adrian yang menggendong Naira. Johan dan Siska menyentuh pundak Adrian, Adrian menoleh kearah Johan dan Sonia secara bergantian. mereka mengisyaratkan pada Adrian, agar tidak takut pada orang yang mereka sebut penyihir itu. Adrian mengangguk dengan itu, ia terus berjalan melewati Rosa begitu juga dengan Johan dan Sonia yang melewati Rosa. Rosa menatap kepergian mereka hanya diam, dan mereka juga tidak memperdulikannya.
setelah perjalanan akhirnya mereka sampai dirumah sakit, dengan cepat Adrian menggendong Naira dan dibawanya masuk kedalam rumah sakit. Adrian berteriak memanggil nama dokter dan juga perawat disana, dan sampai akhirnya keadaan tenang saat Naira sudah ditangani dokter.
Sonia yang ada disana ikut merasa cemas, karena mengatakan hal salah pada Naira. Sonia merasa bersalah pada dirinya sendiri, Siska melihat kearah Sonia. Siska menatap Sonia dengan tatapan benci, karena Siska tahu siapa Sonia.
"bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Johan, Siska menoleh kearah Sonia.
"ini semua gara gara dia, gara gara nona Sonia yang terhormat!" teriak Siska, Adrian dan Sonia menoleh kearah Siska. Adrian terkejut dengan itu, begitu juga dengan Sonia dan Johan.
"Naira menangis padaku, dia bilang Adriannya telah memiliki tunangan. dan dia dengan bangga memperkenalkan diri pada Naira sebagai tunangan pak Adrian, aku sudah katakan pada Naira tidak perlu menangisi pria seperti anda!"
"saat itu juga Naira pergi ketoilet, lalu ini terjadi!" ucap Siska menangis, Johan mencoba menenangkan Siska.
"bawa dia pergi Johan, tenangkan dia!" ucap Adrian, Johan pun mengangguk. Johan mengajak Siska untuk ketempat lain, meskipun Siska menolak. Adrian memijat tengah kepalanya yang terasa pusing, Sonia yang ada disana mendekati Adrian.
"maafkan aku Adrian, harusnya aku tidak katakan itu padanya!" ucap Sonia, Adrian menoleh dan tersenyum kearah Sonia.
"bukan salahmu, kau pergilah bersama Johan. istirahat lah kau pasti lelah, aku ingin sendiri sekarang!" ucap Adrian, Sonia pun mengangguk lalu melangkah mengikuti jejak Johan. dari jauh Sonia masih melihat Adrian, tangannya menghancurkan earphone yang ia pakai sebelumnya. Adrian menangis dalam diamnya, ia menyesali semuanya yang ia lakukan pada Naira. beberapa saat kemudian dokter keluar menghampiri Adrian, Adrian berdiri mendekat kearah dokter itu.
"bagaimana keadaannya?" tanya Adrian cemas, dokter itu tersenyum.
"pasien hanya kelelahan, mungkin terlalu lama menangis membuatnya tidak sadarkan diri!" jawab dokter itu, Adrian merasa lega dengan itu.
"saya sudah mengambil darahnya untuk hasil tes kesehatannya, sekarang anda tidak perlu khawatir!" ucap dokter itu, Adrian hanya mengangguk pelan.
"apa saya boleh melihatnya?" tanya Adrian, dokter itu mengangguk.
"tentu saja, dia terus memanggil nama seseorang tadi!" ucap dokter lalu pergi dari sana, perlahan Adrian memasuki ruangan Naira. terlihat Naira tidak sadarkan diri, Adrian menyentuh tangan Naira gang terasa dingin.
"buka matamu Nara, aku disini!" ucap Adrian, ia mengusap rambut Naira. hatinya terasa sakit ketika melihat Naira tidak sadarkan diri, bahkan terlihat bekas air mata pada pipi Naira. Adrian mencium bekas air mata itu, ia menempelkan dahinya pada dahi Naira. sejenak Adrian menutup mata untuk mengatur nafasnya yang akan menangis, tapi tidak air mata itu menetes pada pipi Naira.
"ternyata kau disini!!!"
suara seseorang membuat Adrian membuka mata, Adrian sangat mengenal suara siapa itu. Adrian pun mengelap air matanya dan menoleh keasal suara itu, terlihat Rosa berdiri disana dengan melipat kedua tangannya.
"aku tidak lupa!" saut Adrian, ia melihat kearah Naira yang masih terlelap. Rosa bertambah maju, ia melihat Naira. Rosa yang ingin menyentuh Naira, dengan cepat Adrian menyentuh tangan itu.
"bisa kita bicara diluar!" ucap Adrian, Rosa pun berjalan mendahului Adrian. terlihat raut wajah Adrian marah ketika melihat Rosa.
"siapa wanita itu?" tanya Rosa, Adrian menatap Rosa.
"apa urusan nya dengan anda!"
"apa dia wanita dari keluarga itu?"
"namanya Naira, bukan wanita itu. sebaiknya anda mengingatnya baik baik!" saut Adrian, Rosa mengepalkan tangannya.
"kau meremehkan perkataanku Adrian, seharusnya kau tidak lakukan itu." ucap Rosa, Adrian tersenyum.
"aku tidak berani melakukan itu, aku menuruti semua keinginanmu. aku menjauhinya, aku menjauhi keluargaku. aku melakukan semua itu untuk melindungi mereka, agar anda tidak melukai mereka. tapi sekarang, rencana mu itu tidak akan kubiarkan terjadi!"
"Adrian!!"
"sebelumnya aku sangat takut, takut jika anda melukai keluargaku, jika anda melukai orang yang cintai, karena itu aku menuruti anda. tapi sekarang aku Adrian Pratama tidak akan takut dengan ancaman ancaman apapun, ini hidupku, ini diriku. tidak ada siapapun yang bisa mengatur hidupku dan diriku, termasuk anda!" tegas Adrian, Rosa hanya tidak menyangka Adrian bisa berkata seperti itu.
"sebelumnya aku lemah, aku sangat bodoh. dan hari ini jika aku masih bodoh, maka aku akan kehilangan seseorang yang penting dalam hidupku." tegas Adrian lagi, tingkat kemarahan Rosa sudah sangat dalam.
"Adrian aku nenekmu, aku yang merawatmu saat kau kecil hingga kau menjadi dewasa seperti ini dan menjadi orang besar!!" ucap Rosa terdengar marah, Adrian hanya tersenyum.
"nenek, nenek yaa..."
"jika anda neneknya, seorang nenek tidak akan melakukan itu pada cucu dan menantunya!!!"
****