Do You Remember?

Do You Remember?
terpeleset



dua hari kemudian Riana datang kerumah sakit, ia mendapat kabar atas kepulangan Febriyan. Riana membantu membersihkan tempat Febriyan dan juga membantu Febriyan untuk duduk dikursi roda. tiba tiba Riana teringat pada Daniel, karena semenjak hari itu ia tidak bertemu Daniel lagi. pikirnya apa Daniel tahu kalau ayahnya akan pulang, dan jika sudah tahu kenapa Daniel tidak datang.


"Naira kamu disini dulu ya, aku mau cari Daniel!" ucap Riana, Naira tersenyum dan mengangguk. Riana pergi dari sana, ia mencoba pergi untuk mendatangi Daniel.


"tapi kenapa aku mencarinya, karena leluconnya itu aku jadi kepikiran!" ucap Riana saat berjalan, tapi langkahnya hampir sampai diruangan Daniel. "sudahlah, sudah dekat!"


saat sampai diruangan Daniel, pandangan yang tidak menyenangkan hati terlihat Riana. terlihat Daniel sedang mengobrol dengan dengan seseorang, dan seseorang itu tidak lain adalah gadis yang waktu itu diliat Riana. rasa kesal dan tidak suka menyelimuti Riana, rasanya Riana ingin menghampiri mereka dan mencela obrolan mereka berdua.


"kita ketemu lagi!" mendengar suara itu, Riana membalikan badannya. terlihat Ridwan sedang berdiri dihadaoannya, dengan tersenyum Riana mengangguk.


"hai dokter Ridwan, kebetulan sekali!" saut Riana, Ridwan tersenyum dan mengangguk. pandangan Ridwan kearah Daniel dan juga Karin, lalu menatap Riana yang terdiam.


"pacarmu sedang dengan cewek tuh, apa tidak disamperin?" ucap Ridwan, Riana membalakkan mata dan menggelengkan kepala. "kalau begitu aku yang akan ... "


"bukan bukan ... Daniel bukan ... bukan pacarku, kami hanya te ... teman!" ucap Riana terbata, Ridwan tersenyum melihat itu. "lagi pula mereka selalu bertemu, pasti mereka memiliki hubungan. aku juga tidak enak mengganggu mereka, biarkan saja ... kalau gitu aku permisi ya, sampai ketemu lagi!" ucap Riana setelah itu pergi, Ridwan yang tidak bisa mengatakan apapun hanya bisa menggelengkan kepala dan menatap Daniel. dengan rasa kesal Ridwan menghampiri mereka yang masih bicara, Ridwan juga penasaran apa yang sedang mereka bicarakan begitu lama.


"Daniel!" panggil Ridwan, Daniel menoleh cepat dan terlihat wajahnya berkeringat.


"oh Ridwan operasi sekarang ya, ayo kita pergi sekarang. nona Karin maaf saya sedang sibuk, lain kali saya harap tidak ada hal yang merepotkan lagi!" ucap Daniel, belum dijawab Daniel menarik Ridwan pergi dari sana. Karin merasa sedih dan cemberut, karena Daniel terus menolak pemberiannya.


"eh lepasin, emangnya mau operasi kambing?" ucap Ridwan yang kesal didorong terus oleh Daniel, dengan cepat juga Daniel menghentikan dorongannya dan melihat kebelakang. Daniel memastikan Karin yang sudah pergi, dan ternyata memang sudah pergi.


"fiiuhh!!" ucap Daniel menghela nafas, Daniel tersenyum pada Ridwan.


"kenapa sih, disamperin pacarmu kok malah ditinggal?"


"eits... enak aja, aku tuh gak kenal sama dia. aku sampai capek melihat pemberiannya, rasanya kesal sekali setiap hari bertemu dengannya!" ucap Daniel, Ridwan menepuk pundak Daniel dengan sedikit keras.


"kan gampang, tinggal tolak aja gitu!"


"enak aja kalau ngomong, kasihan anak orang jadi sedih kalau ditolak!"


"oh sedih, lalu kamu buat sedih anak orang itu gimana?" ucap Ridwan yang menyindir Riana, Daniel yang tidak mengerti hanya menatap Ridwan. "tuh kan ****, tadi Riana lihat semuanya. kelihatan banget loh dia sedih, ..."


"eh mana dia, aku juga mau ketemu dia harusnya!"


"dia udah pergi lah, kamu juga!" tanpa bicara Daniel berjalan untuk mencari Riana, tidak ada pilihan untuk Ridwan untuk mengikuti Daniel. dugaan Daniel benar, Riana masih diruangan Febriyan yang sedang membereskan barang barang nya.


"halo om, gimana udah sehat?" ucap Daniel, Febriyan tersenyum dan mengangguk.


"iya Daniel, terima kasih ya!" ucap Febriyan, Daniel tersenyum lalu pandangannya menatap Naira dan Riana disana. Riana terdiam mengemasi barang Febriyan, Naira yang berdiri melihat kearah belakang Daniel.


"loh dokter Ridwan, kenapa kesini?" ucap Naira, Ridwan yang disebut langsung tersenyum menatap Naira.


"hai Naira apa kabar?" ucap Ridwan, Naira mengangguk dan tersenyum. "kebetulan ya, dokter Daniel ini teman saya waktu sekolah dan kuliah!" ucap Ridwan, Naira berjalan menghampiri Ridwan.


"wah kebetulan banget ya, kalau begitu dokter jadi dokter spog pribadi saya aja. nanti saya juga akan bilang pada suami saya, gimana?" ucap Naira, dengan tersenyum Ridwan mengangguk.


"dengan senang hati, gimana kalau bicaranya kita formal aja ..." ucap Ridwan, Naira tersenyum dan mengangguk.


"haha iyaa, jadi kamu temanku juga. oh iya jangan lupa untuk kontrol lagi ya tiga hari kedepan, siapa tahu jenis kelaminnya bisa dilihat semua!"


"iya dokter, nanti aku bilang pada suamiku!"


saat pembicaraan Naira dan juga Ridwan yang terdengar seru, Daniel hanya menatap Riana yang tidak menyapanya sejak awal. bahkan saat mereka pergi pun, hanya Naira yang berpamitan dan Riana tidak bicara bahkan melewatinya.


"ada apa dengannya, kenapa dia diam seperti itu!" gumam Daniel, Ridwan yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala. karena Ridwan peka kenapa Riana terdiam dan tidak mau bicara dengan Daniel.


****


lengkap tujuh bulan kehamilan Naira, semua orang sibuk bekerja dirumah Kara untuk melakukan persiapan acara tujuh bulanan kehamilan Naira. semua pelayan yang dikerahkan oleh Kara, sibuk mendekor rumah besar itu. terlihat Naira duduk bersama semua orang disana, Riana, Risa, Nadia dan juga Febriyan. mereka sedang asik mengobrol bersama dan sesekali akan tertawa bersama.


"wah gak kerasa si kembar sudah tujuh bulan, berat gak nih?" ucap Risa, Naira yang duduk disofa tertawa kecil.


"berat tante, kadang sampai sakit pinggang juga!" saut Naira, para ibu ibu itu pun tertawa dengan perkataan Naira.


"Adrian kemana?"


"hm ... tadi dia bilang ada pekerjaan penting, jadi dia akan datang nanti malem." saut Naira, Nadia mengangguk dan tersenyum.


"kira kira kalau sekarang tujuh bulan, itu artinya sikembar akan lahir bulan desember dong?" ucap Amelia, Naira tampak menghitung dengan tangannya.


"oh iya, kayaknya waktu tahun baru deh atau lebih dan juga bisa kurang!" saut Naira, semua orang merasa senang disana.


"Naira sudah tahu jenis kelaminnya belum?" tanya Risa riang, dengan tersenyum Naira mengangguk.


"sudah, akan ada Naira junior!" saut Naira, dengan terkejut mereka semua senang dan tertawa secara bersamaan.


"akh... lucu, bakal ada ciwi ciwi!" ucap Risa, Naira tersenyum dan mengangguk.


"wah Adrian benar benar habis, akan ada tiga Naira!" ucap Febriyan, mereka semua tertawa disana. tawa Naira terhenti, ia mengelus perutnya sendiri dan mengeryitkan dahinya.


"ada apa, apa ada yang sakit?" tanya Nadia menyentuh perut Naira, dengan tersenyum Naira memegang tangan Nadia.


"Naira takut ma, ini lahiran pertama untuk Naira. setiap malam Naira selalu berpikir, bagaimana kalau Naira gagal melahirkan mereka. apalagi Naira ingin mereka lahir secara normal, tapi Naira pun ragu dengan itu!" ucap Naira perlahan, Nadia tersenyum dan mengusap rambut Naira. "Naira tidak mau kalau harus meninggalkan sikembar, apalagi Adrian. Naira takut ma!"


"ssttss ... jangan pikirkan itu nanti kamu sakit, dan itu akan menjadi buruk bagi sikembar. mama yakin dan percaya padamu sayang, kamu bisa melahirkan mereka dengan normal dan selamat. tidak akan terjadi masalah apapun, cinta kalian berdua yang membuat kalian kuat." saut Nadia, Naira tersenyum dan mengangguk. meskipun perkataan Nadia untuk menenangkannya, tapi hati Naira tetap cemas dan tidak tenang.


Riana yang tertidur tiba tiba saja terbangun, ia melirik jam didinding menunjukan pukul sembilan malam. suara berisik membangunkan Riana, ia memilih untuk keluar kamarnya dan melihat kebisingan apa yang terjadi. terlihat semua pelayan berlalu lalang disana, dan Riana pun teringat dengan acara tujuh bulanan untuk sikembar.


karena melihat semua orang mengobrol disana, Riana ingin menghampiri mereka. saat menuruni anak tangga tiba tiba Riana teringat pada Daniel, terbayang jelas dimatanya Daniel yang asik mengobrol dengan Karin. Riana memiliki perasaan yang aneh memikirkan semua itu, ia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.


"bodoh amat sih, mau mereka pacaran atau nggak itu hak mereka. lagi pula kenapa aku memikirkan Daniel, gak ada kerjaan banget sih!" gumam Riana, matanya terbelalak ketika kakinya menginjak suatu kain di pinggiran tangga. "huftt untung saja, kenapa pelayan ini ceroboh sekali!" ucap Riana, ia mencoba menegakkan kakinya. tapi sayang kakinya yang lemas itu tidak bisa menopang tubuhnya, Riana terpeleset untuk kedua kalinya.


Bugh Bugh Bugh Bugh