
Siang Hari di London, Inggris.
Rosa sedang mondar mandir dirumahnya, wajah Rosa memperlihatkan wajah gelisah. Rosa masih teringat tentang aoa yang ia lakukan, bahkan yabg ia lakukan tidak seperti keinginannya. keinginan yang harusnya menabrak Amelia sasarannya, malah ia salah sasaran dan Naira lah yang tertabrak olehnya. setelah kejadian itu, Rosa memutuskan untuk kembali ke London untuk melindungi dirinya.
"semoga Adrian tidak melihatku!" gumam Rosa khawatir, karena ia melihat Adrian yang berlari. Rosa takut Adrian melihat wajahnya, karena jika itu terjadi Rosa tidak akan selamat dari amukan Adrian.
"kenapa aku takut, Adrian tidak akan tahu kalau aku yang melakukannya."
"melakukan apa?"
suara seseorang membuat Rosa menoleh, Rosa terkejut melihat Adrian berdiri dihadapannya. Adrian berjalan dengan kemarahan ke arah Rosa, Adrian mengepalkan tangan. Adrian memutuskan untuk pergi ke London, ia ingin menemui Rosa secara langsung.
"kenapa anda takut, apakah anda membuat kesalahan?" tanya Adrian, Rosa gemetar dengan itu. melihat itu Adrian semakin marah, Rosa memaksakan senyumnya dan membuat seperti tidak terjadi apapun.
"Adrian kapan kamu disini nak, aku sangat merindukanmu!" ucap Rosa tersenyum, saat ingin memeluk Adrian mendorongnya.
"jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, kau benar benar menjijikan. aku sangat sedih, sedih karena ayahku dilahirkan olehmu!!" ucap Adrian geram, Rosa menatap Adrian dengan mata berkaca kaca.
"apa maksudmu Adrian, kenapa kau mengatakan itu?" ucap Rosa memegang tangan Adrian, Adrian menghempaskan tangan Rosa dengan kasar.
"aku sudah katakan padamu, jangan pernah mengusik ibuku atau pun Naira. sekarang Naira adalah istriku, istriku terbaring dirumah sakit karena ulahmu. kau pikir aku tidak tahu tentang itu!!!" ucap Bagas dengan penuh amarah dan kemarahan, Rosa terdiam mendengar itu. ia tidak menyangka Adrian telah mengetahuinya, Rosa berpikir Adrian akan semakin membencinya.
"kau bilang, kau adalah nenekku kan. kenapa kau melakukan hal seperti penjahat, jika kau nenekku, kau tidak akan melakukan hal yang membuat cucumu bersedih. kenapa kau ingin melenyapkan ibuku!"
"karena ibumu telah mengambil kebahagiaankymu, dia mengambil putraku dan juga dia mengambil dirimu dariku. aku sangat membencinya, aku ingin melenyapkannya saat melihat dia bahagia. aku tidak senang jika dia bahagia sedangkan aku, menderita sendirian kehilangan putra dan cucuku sendiri!" ucap Rosa menangis, Adrian mengusap wajahnya kasar.
"kebencianmu terhadap ibuku telah membutakanmu, kau tidak seharusnya melakukan ini. aku sudah katakan padamu, jika kau melakukan hal yang buruk pada keluargaku termasuk ibuku, aku tidak akan segan lagi padamu. kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, polisi Indonesia tidak bisa menangkapmu tapi polisi disini bisa menahanmu dengan semua bukti ini!" ucap Bagas melempar foto, foto itu adalah bukti rekaman cctv yang memperlihatkan wajah Rosa. Rosa membeku melihat foto itu, seketika air mata keluar dari matanya. secara bersamaan beberapa polisi datang, mereka berdiri dibelakang Adrian.
"tangkap dia, dia lah yang membuat istriku koma dirumah sakit. dengan sengaja dia ingin membunuh seseorang!" (bahasa inggris). polisi itu pun memborgol tangan Rosa, Rosa terkejut dan berlari ke arah Adrian.
"Adrian aku benar benar menyesal, maafkan aku. aku tidak ingin dipenjara, aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu. Adrian aku adalah nenekmu, aku tidak sengaja menabrak istrimu!" ucap Rosa menarik tangan Adrian, Adrian enngan untuk melihat Rosa.
" tapi kau sengaja ingin menabrak ibuku, dan itu sudah kau rencanakan. aku bahkan jijik melihatmu sekarang, penyesalan mu sudah terlambat. bersyukurlah aku yang datang kemari, dan bukan Kara Wijaya. jika Kara Wijaya yang datang, kau pasti akan lebih buruk dari ini. mengenal usiamu aku masih memberimu belas kasihan, tapi bagi Kara Wijaya tidak ada yang namanya belas kasihan!" ucap Adrian, Rosa terdiam dengan itu. Rosa memberontak saat polisi memborgolnya, Adrian tidak menoleh saat polisi membawa Rosa. Ia bahkan tidak memperdulikan teriakan Rosa, Adrian merasa sangat hancur. Adrian tidak pernah membenci neneknya itu, Adrian hanya tidak menyukai sifat neneknya yang begitu membenci ibunya.
"kenapa kau melakukan ini, kau sendiri yang membuatku harus membencimu. maafkan aku, maaf!" ucap Adrian mengusap foto dirinya bersama Rosa, Adrian meneteskan mata untuk itu.
"tuan muda, selamat datang!" Adrian mengusap air matanya, ia menoleh ke asal suara. terlihat Nikil berdiri tersenyum padanya, Adrian menatap Nikil dengan tersenyum.
"kau ingin tenangkan, kemarilah!" ucap Nikil merentangkan tangan, Adrian yang mengerti maksud Nikil pun berlari dan memeluk Nikil. hal yang sering terjadi, disaat Adrian bersedih Nikil selalu memeluk Adrian seperti seorang ayah.
"om Nikil, kenapa semua ini terjadi!" ucap Adrian menangis, Nikil mencoba menenangkannya. "kenapa semua terjadi padaku, nenek ku sendiri ingin membunuh ibuku. dan kejadian itu membuat istriku koma, dia koma dan belum sadarkan diri!" ucap Adrian lagi, Nikil merasakan kesedihan Adrian.
"tuan muda tenanglah, semua ini adalah cobaan dari Allah. Allah sedang menguji kesabaranmu, yang perlu kau lakukan hanya sabar dan menerima semuanya dengan ikhlas." jelas Nikil, Adrian mengangguk dengan masih menangis.
"kita harus ke kantor polisi, ayo!" ucap Nikil, Adrian mengangguk dengan itu.
"om Nikil jangan sampai kabar ini masuk dalam sosial media, om bisa mengurusnya kan?" ucap Adrian, Nikil mengangguk mengerti. Adrian pun berjalan keluar dari rumah besar itu, dengan diikuti Nikil mereka menuju kantor polisi untuk mengurus Rosa. dalam perjalanan itu, Adrian terus mengingat Naira. ia terus memanggil nama Naira beberapa kali, Adrian menatap foto Naira dalam hpnya.
"Nara, aku mencintaimu Nara!"
****
Malam Hari di Jakarta Indonesia.
ditempat Naira, Bagas duduk disamping Naira. Bagas tersenyum dan mengusap rambut Naira. disana juga terdapat Riana yang sedang duduk disofa, Bagas tersenyum melihat Riana tertidur. tiba tiba saja terpikir tentang Sonia dalam benak Bagas, Bagas tersenyum sendiri.
"Naira kamu tahu Sonia, aku sekarang dekat dengannya. tapi dia akan pergi, aku sedikit sedih!" ucap Bagas, Bagas kesal karena tidak mendapat jawaban dari Naira. "Naira katakan padaku, apa yang harus kulakukan. dia tidak menyukaiku, tapi aku mulai menyukainya!" ucap Bagas lagi, air mata menetes di pipi Bagas.
"terus saja mendiamkan aku, aku sangat tidak menyukainya. Naira bicaralah padaku, apa kau marah padaku?" ucap Bagas kesal, Riana terbangun saat Bagas berkata sedikit keras. Riana sedih melihat Naira yang tertidur, tapi matanya terbelalak ketika melihat mata Naira yang bergerak.
"kakak lihat!" ucap Riana, ia menunjuk mata Naira pada Bagas. "kakak Naira medengarmu, Naira menggerakkan matanya kak!!" ucap Riana lagi, Bagas senang dengan itu. Bagas memanggil dokter, beberapa saat Nadia dan David menghampiri Bagas.
"ada apa?" tanya Nadia, David mengecek kondisi Naira. mereka melihat mata Naira yang bergerak, dan melihat bola mata Naira bergerak kekanan dan kekiri.
"tante, Naira bisa mendengar kita!" ucap Riana, Nadia senang dengan itu.
"Naira semakin membaik, dengan bicara padanya kalian merangsang pendengarannya." ucap David, Riana dan Bagas bahagia mendengar itu.
"jadi kapan..." belum selesai Bagas berucap, terlihat jari jemari Naira bergerak. Bagas menyentuh tangan itu, jari Naira menggenggam tangan Bagas dengan erat. "Naira aku disini, katakan sesuatu!" ucap Bagas, mereka semua senang dengan itu. terlihat mata Naira yang mengerjap seperti ingin terbuka, semua terkejut disana.
"katakan sesuatu yang membuatnya bangun!" ucap David, Bagas mengangguk dan mendekat kearah Naira.
"Naira buka matamu, ini kakak. disini ada bunda Nadia, aku, dan juga Riana. Naira bangunlah, papamu juga ingin bertemu denganmu!" ucap Bagas ditelinga Naira, Naira terus mengerjapkan matanya.
"Naira sayang buka matamu, ini mama. coba lihat mama sayang, Naira buka matamu. disini juga ada om dokter, om dokter kesayangan mu!" ucap Nadia menambahi Bagas, Naira semakin meremas tangan Bagas dengan kuat.
"akhh!!!!" teriakan Naira seketika membuat mereka terkejut, Naira menjerit dengan memegang kepalanya. Bagas dan Riana mundur dengan itu, David segera melakukan tindakan.
"akhh!! sakit!, sangat sakit!!!" teriak Naira, Nadia memegang tangan Naira dan mengusap kepala Naira. "akhh!!" David memberikan suntikan pada Naira, suntikan itu adalah obat penenang untuk menenangkan Naira. setelah beberapa menit Naira mulai tenang dan kembali dengan tidurnya. Bagas dan Riana tidak mengerti dengan itu, mereka mendekat lagi.
"tante kenapa dengan Naira, ada apa dengannya?" tanya Riana, David tersenyum pada mereka.
"masa koma Naira telah berakhir, keadaan Naira telah normal. kalian telah merangsang pendengarannya, kerja bagus!" ucap David, Riana senang dan langsung memeluk Bagas. Bagas tersenyum dan membalas pelukan Riana, Nadia sendiri menangis dan mencium kening Naira.
"kita tunggu dia siuman kembali, dan kalian segera hubungi Adrian. dia pasti akan senang, aku akan menghubungi Kara dulu!" ucap David, Bagas mengangguk dengan itu.
setelah beberapa saat Vano dan juga Kara datang, begitu dengan Amelia yang bersama Vano. tidak lupa Risa dan Febriyan yang berada dibelakang, mereka masuk keruangan Naira setelah mendapat kabar keadaan Naira. hati Kara sangat bahagia, saat kondisi putrinya itu telah melewati masa koma. Kara bahagia ketika melihat selang dan jarum infus pada tubuh Naira sebelumnya, telah dilepas dan hanya menyisakan perban pada tubuh Naira.
"kapan Naira akan bangun?" ucap Amelia, Nadia tersenyum.
"bisa kapan saja, David menyuntiknya agar bisa istrahat sebentar!" ucap Nadia dengan senyum, Kara merangkul tubuh Nadia yang terlihat bahagia.
"kau sudah berusaha keras, semua nya tidak akan sia sia!" ucap Kara, Nadia tersenyum dan mengangguk.
"kau juga berusaha keras dengan doamu, terima kasih sudah mendukungku Kara!" saut Nadia, Kara tersenyum dan mencium kening Nadia.
"om bagaimana dengan orang itu?" ucap Bagas, Vano dan Kara menoleh kearahnya. mereka mengerti siapa yang dimaksud Bagas, orang itu adalah Rosa.
"tidak perlu melakukan apapun!" ucap Kara, Bagas terkejut dengan itu. pasalnya Kara ingin membalas perbuatan Rosa, tapi malah mengatakan hal yang sebaliknya.
"kenapa om?"
"Adrian sudah mengatasinya, aku percaya apapun yang dilakukan Adrian adalah yang menurutnya benar. kita tidak perlu khawatir, dia akan mendapat balasannya. jadi biarkan semua itu dibalas oleh Adrian!" saut Kara, Bagas pun mengangguk dengan itu. Vano hanya tidak menyangka, Kara bisa mengampuni Rosa begitu saja. meskipun Kara marah dan geram pada Rosa, Kara masih memiliki hati karena Rosa seperti krang tua baginya.
"sebaiknya kalian pulang, biarkan aku yang menjaga Naira malam ini!" ucap Bagas, semuanya mengangguk disana.
"iya, aku juga ikut kak Bagas!" ucap Riana, Bagas menyipitkan matanya.
"pulanglah bersama papa, kau ada ujian besok!" saut Bagas, Riana kesal dengan itu. dengan cemberut Riana menggandeng tangan Febriyan, Bagas hanya tersenyum melihat kepergian mereka.
***
pagi hari nya, Bagas membuka matanya. Bagas tertidur disamping Naira, kejadian itu membuat leher dan punggungnya sakit. Bagas merenggangkan ototnya, seketika ia terkejut melihat Naira membuka mata dan terdiam menatapnya dengan tatapan kosong. hati Bagas sangat senang dengan itu, ia mengusap pipi Naira.
"selamat pagi Naira, apa tidurmu nyenyak?" ucap Bagas lembut, tidak ada jawaban dari Naira. Naira hanya menatap Bagas dengan tatapan kosong, Bagas pun memutuskan untuk memanggil David ataupun Nadia. dengan cepat David berjalan menuju ruangan Naira, David tidak percaya dengan perkataan Bagas.
saat sampai benar saja, Naira terbangun dan menyandarkan tubuhnya ditempat tidur itu. David berjalan kearah Naira dengan senyuman, David mengecek semua perkembangan Naira. tapi David heran, heran saat Naira hanya menatap tanpa ekspresi.
"halo Naira, apa yang kamu rasakan?" tanya David, Naira masih terdiam dan menatap David. Bagas yang ada disana hanya merasa bingung, David terus mengecek denyut nadi Naira.
"sejak kapan dia bangun?" tanya David, Bagas menggelengkan kepala.
"aku tidak tahu, saat aku bangun tidur dia sudah melihatku. dia terdiam melihatku seperti orang bingung, karena itu aku langsung memanggilmu. David mengangguk dan mengerti perkataan Bagas.
"panggil Kara, mungkin dia akan bicara saat melihat Kara!" ucap David, Bagas mengangguk dan segera menghubungi Kara.
"Naira apa ada yang sakit, katakan padaku?" ucap David yang berusaha membuat Naira bicara, Naira masih terdiam dan menatap David dengan tatapan kosong. "apa kau mengenaliku?" ucap David lagi, Naira masih tetap diam seperti sebelumnya. David pun menghela nafas dan menoleh kearah Bagas.
"Bagas telfon Adrian, jangan telfon Kara. mungkin dia akan bicara saat Adrian disini..."
"dokter?"
suara Naira membuat Bagas dan David menoleh, Bagas berjalan mendekat kearah Naira begitu juga dengan David. Bagas tersenyum dan mengusap rambut Naira.
"Naira katakan sesuatu, apa ada yang sakit?" ucap Bagas, Naira menggelengkan kepala. Bagas dan David tersenyum dengan itu, Naira melihat kearah Bagas dan David secara bergantian. tatapan itu seperti orang yang bingung, David merasa bingung juga dibuatnya.
"apa kau ingin mengatakan sesuatu, maka katakanlah!" ucap David, Naira melihat tangannya yang terpasang jarum infus. Naira juga menyentuh kepalanya, ia merasakan kepalanya terbungkus oleh perban.
"apa yang terjadi padaku?" ucap Naira, Bagas tersenyum senang dengan itu. Bagas menggenggam tangan Naira, Naira menatap Bagas seperti tatapan sebelumnya.
"kamu kecelakaan, dan kamu tidur selama seminggu lebih Naira!" ucap Bagas, Naira melepas genggaman Bagas dan menutup tangannya sendiri. Naira menoleh kearah David, dengan bersamaan kepala Naira terasa sakit.
"Naira kenapa?" tanya Bagas, Naira menggelengkan kepalanya. David terdiam dan menduga sesuatu tentang Naira, ia terus memperhatikan gerak gerik Naira.
"namaku Naira?" ucap Naira, Bagas mengangguk. Bagas sangat bingung dengan apa yang terjadi pada adiknya itu, bahkan bertanya seperti orang linglung.
"lalu kalian siapa?"