
Adrian berkutik pada laptop dihadapannya, bahkan Adrian tidak memperhatikan waktu. beberapa detik kemudian, Adrian teringat dengan Naira yang meminta ijin pulang lebih awal. Naira bahkan tidak mengatakan alasannya, hanya pergi begitu saja setelah mendapat ijin darinya. pada saat Adrian berpikir, pintu ruangannya diketuk. terlihat Johan membuka pintu, dan tersenyum masuk membuka pintu menghampiri Adrian.
"ini, aku sudah membacanya hanya kurang tanda tanganmu!" ucap Johan memberikan sebuah berkas, Adrian menerima itu.
"kenapaa kau yang mengantar ini, biasanya sekretaris mu!" ucap Adrian, Johan mengerti apa yang dimaksud Adrian. Adrian sendiri sangat ingin tahu tentang Naira, karena dia yakin Naira dan Siska pergi bersama.
"jadi kau ingin tahu, dimana kekasihmu itu berada?" tanya Johan, Adrian menatap Johan yang tersenyum padanya.
"Adrian aku tahu maksudmu, Naira dan Siska sedang bersenang senang. kau tahu, hari ini harusnya aku kencan dengannya. karena kau membuat teman nya sedih, dia memilih untuk menemani temannya itu." kesal Johan, Adrian hanya diam menahan tawanya.
"kemana mereka pergi?" tanya singkat Adrian.
"jika aku katakan, apakah kau akan mendatangi mereka?" jawab Johan dengan sebuah pertanyaan, Adrian menatap Johan.
"Johan jawab saja pertanyaanku, kenapa kau harus menjawab dengan pertanyaan!" kesal Adrian memijat kepalanya, Johan pun tertawa.
"haha.. sudahlah, tampaknya kau lelah. kau harus istirahat, atau kau akan mati duduk disini!" ucap Johan, Adrian terdiam memikirkan perkataan Johan.
"kau benar, lebih baik aku mati. dari pada hidup tapi hanya bisa menyakiti, benarkan?" ucap Adrian, Johan terkejut dengan itu.
"diam lah, aku pergi dulu. ingat jangan berbuat yang macam macam, tapi jika kamu mau ikut aku tidak apa!" ucap Johan mendirikan tubuhnya, Adrian masih fokus pada laptopnya.
"tidak pergilah, aku sedang sibuk!" saut Adrian, Johan pun melambaikan tangan dan pergi. Adrian melihat kepergian Johan, ia menatap pintu yang sudah tertutup. Adrian kembali memikirkan Naira, ia melihat bingkai foto Naira yang ada dilacinya.
****
setelah dari kantor, Naira dan Siska menghabiskan waktu berdua. mereka bersenang senang dengan cara mereka sendiri, mulai dari belanja hingga nonton bioskop bersama. terlihat Naira sangat senang bersama Siska, ia menghilangkan kesedihan yang baru ia rasakan. Naira duduk disebuah cafe, Naira menikmati es krim yang membuatnya tenang.
"bagaimana sudah tenang?" tanya Siska, Naira menoleh pada Siska yang berdiri membawa beberapa makanan.
"hm... terima kasih, aku sudah lebih baik!" saut Naira, Siska mengangguk dan mendudukan dirinya.
"tentu saja, aku bahkan lebih baik dengan belanja dan nonton film!" ucap Siska, Naira mengangguk.
"iya, itu sangat menyenangkan!" saut Naira, Siska tersenyum dan memakan eskrim nya.
"huft syukurlah, usahaku tidak sia sia untuk menyenangkan mu!" ucap Siska, Naira berpikir tidak mengerti dengan perkataan Siska.
"maksudnya, apakah butuh usaha?" tanya Naira, Siska mengangguk kuat.
"tentu saja, sebenarnya tiket nonton itu milik Johan. Johan memesannya untuk kami berdua, tapi aku menolaknya." ucap Siska, Naira terkejut dengan itu.
"kenapa kau melakukan itu, kita bisa keluar lagi lain kali. seharusnya kamu tidak perlu menolak, dia pasti sudah merencanakan sesuatu!" saut Naira, Siska mengangguk
"Johan bisa mengerti kok, tenang saja. sudah lah eskrim nya nanti mencair, ayo cepat makan!" ucap Siska, Naira sangat bahagia melihat Siska yang terus bicara dan tertawa. Siska yang baik padanya, tidak pernah mengharapkan apapun dari pertemanan itu.
'terima kasih Siska, kau memang sahabatku. tidak ada teman yang bisa sepertimu, aku sangat bersyukur memiliki teman sepertimu.'
saat sedang asik mengobrol, tiba tiba saja Johan duduk disamping Siska. Naira dan Siska terkejut dengan itu, Johan dengan santainya tersenyum pada Naira dan Siska secara bergantian. Siska sendiri merasa terkejut ketika melihat Johan, karena pasalnya ia tidak memberitahukan tentang kemana dia akan pergi.
"apa yang kamu lakukan disini?" tanya Siska yang masih terkejut, Johan tersenyum.
"aku sedang duduk, kau pasti bisa melihatnya!" saut Johan tersenyum, Siska kesal karena Johan yang terus menerus tersenyum.
"jangan tersenyum terus, maksudku kenapa kau bisa ada disini?" tanya Siska lagi, Naira yang melihat itu hanya bisa diam dan tersenyum melihat tingkah keduanya. Naira berpikir jika Johan ada disana, pasti Adrian juga berada disana. Naira mencari cari keberadaan Adrian, tapi ia tidak menemukannya.
'tidak ada, lagi pula untuk apa jika dia di disini'
Johan sadar dengan Naira yang sedang mencari sesuatu, Johan menoleh kearah Siska dan tersenyum.
"Naira hari ini, saya akan bawa teman kamu ini ya?" ucap Johan, Naira menoleh kearah Johan yang tersenyum.
"hei enak saja, aku bersama Naira hari ini. bagaimana bisa aku pulang denganmu, bagaimana dengan Naira. kami hanya bawa satu mobil saja!" ketus Siska, Johan sangat kesal saat Siska tidak mengerti dengan maksudnya.
"nanti ada mobil yang datang, sekarang saya ingin berdua dengannya!" ucap Johan, Naira tersenyum dan mengangguk.
"hm.. iya pak Johan gpp kok, nanti saya pulang sendiri. anda bawa saja Siska, terima kasih ya!" ucap Naira, Johan tersenyum.
"saya yang terima kasih, Siska ayo kita pergi sebelum larut!" ucap Johan berdiri dan membawa barang milik Siska, Siska menoleh kearah Naira.
"kamu beneran gak papa kan Nai?" tanya Siska, Naira tersenyum dan mengangguk. Johan tersenyum pada Naira lalu menarik tangan Siska, Siska masih saja melihat kearah Naira yang melambaikan tangan padanya.
"dasar Siska, masih saja memikirkan aku!" ucap Naira lalu melanjutkan makan eskrim nya.
setelah beberapa jam meninggalkan Naira, Siska pergi berdua bersama Johan. didalam mobil Siska hanya diam, Johan sendiri bingung dengan sikap Siska yang tidak seperti biasanya.
"ada apa denganmu?" tanya Johan lembut sambil mengusap kepala Siska, Siska menoleh kearahnya dan tersenyum.
"hm.. tidak apa, aku hanya memikirkan keadaan Naira!" jawab Siska, Johan tersenyum dan memegang tangan Siska.
"percayalah, awal yang begitu rumit akan menjadi akhir yang bahagia!" ucap Johan, Siska hanya mengangguk. Johan melihat terdapat kesedihan dimata Siska, ia berpikir untuk membuat rencana agar Siska menghilangkan kesedihannya itu.
"aku kehilangan sesuatu!" ucap Johan, ia menghentikan mobilnya ditepi jalan. Siska yang tidak mengerti hanya melihat Johan, Johan tampak panik. Johan mencari sesuatu dikantong jasnya, Siska masih menatap apa yang dilakukan Johan.
"Johan apa yang kamu lakukan?" tanya Siska karena merasa heran, heran karena Johan terus merogoh setiap kantong pada pakaiannya.
"aku kehilangan sesuatu!" singkatnya, Siska menyentuh pundak Johan.
"kehilangan apa, coba kucarikan!" ucap Siska, Johan menatap Siska yang terlihat cemas juga.
"aku sedang mencari senyummu, aku kehilangan senyum itu!" ucap Johan membuat Siska terkejut, tapi seketika Siska tersenyum hingga tertawa. Johan senang melihat itu, Siska terus tertawa karena merasa jarang sekali Johan menggodanya seperti itu.
"kenapa kamu melakukan itu, itu sangat tidak cocok untukmu!" ucap Siska yang masih tertawa ringan, Johan tersenyum lalu menjalankan mobilnya. Johan terkejut, ketika Siska bersandar dipundaknya dan menggenggam tangannya.
"terima kasih, aku tahu kamu ingin menghiburku. aku sangat terhibur, terima kasih!" ucap Siska, Johan mencium tangan Siska dan tersenyum.
"iya, jangan bersedih lagi. Naira pasti akan baik baik saja, tenanglah!" saut Johan, Siska lalu teringat nasib Naira yang ia tinggalkan dicafe itu.
"bagaimana dengan Naira, siapa yang jemput dia?" tanya Siska, Johan tersenyum penuh arti.
"tenang saja, pangerannya akan datang!" saut Johan tersenyum, Siska hanya terdiam dengan itu. Siska tidak mengerti apa yang direncanakan Johan, Johan bahkan tidak mengatakan apapun.
***
setelah beberapa jam, Adrian menghentikan mobilnya disebuah cafe. Adrian turun dari mobil dan berusaha mencari sesuatu, Adrian terus melihat kekanan dan kekiri. Adrian tampak kesal, saat yang dicarinya tidak ketemu.
'dimana Johan, dia mengatakan untuk menjemputnya. aku sangat lelah dan ingin cepat pulang, dia malah memintaku untuk datang. masih baik aku mau datang, liat saja kalau ketemu'
Adrian terus mengumpat kekesalannya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana. Adrian berjalan menuju mobilnya, pada saat itu juga Adrian menabrak tubuh seorang wanita.
****Brugh****
tabrakan itu membuat seluruh barang wanita itu terjatuh, Adrian yang terkejut langsung berjongkok untuk membantu. Adrian memungut satu persatu barang wanita itu, bahkan Adrian mengucapkan permintaan maaf.
"maaf, aku tidak melihatmu!" ucap Adrian yang sibuk membantu, Adrian terdiam ketika melihat siapa wanita yang berada dihadapannya.
"Naira!"
iya wanita yang ditabrak Adrian adalah Naira sendiri, secara kebetulan mereka berada ditempat yang sama. Adrian membawa paperbag milik Naira, Naira mendirikan tubuhnya. pada saat Naira sendiri merasa heran, untuk apa Adrian berada disana.
'kenapa kebetulan dia disini, untuk apa dia disini'
'kenapa selarut ini dia masih disini, apa dia tidak tahu ini jam berapa!'
"terima kasih pak, saya permisi!" ucap Naira, belum Adrian menjawab Naira sudah berlalu pergi. saat Adrian ingin memanggilnya, Johan menelfon pada hp Adrian.
"halo!" ucap Adrian langsung mengangkat telfon itu.
"aku mengatakan pada Naira kalau ada mobil yang akan menjemputnya, dan sekarang mobilnya itu kamu. kamu harus cari Naira, untuk mengantarnya pulang**!"
perkataan Johan membuat Adrian kesal, tanpa bicara Adrian mematikan telfon itu dan berlari cepat kearah mobilnya. Adrian terus mengumpat kekesalannya pada Johan, Adrian melajukan mobilnya untuk menghampiri Naira.
'Johan kurang ajar, awas saja besok!'
Naira sendiri, sedang menunggu mobil yang dimaksud Johan. Naira melihat sekeliling tapi tidak ada mobil yang lewatataupun berhenti untuknya, Naira berniat untuk memesan taksi online saja. saat Naira mencari hpnya, cahaya lampu membuat matanya silau. Cahaya itu berasal dari cahaya lampu mobil, Naira melihat mobil itu dan tampak mengenal nya. Mobil itu berhenti dihadapan Naira, sampai akhirnya cahaya lampu itu padam dan Naira melihat jelas mobil hitam itu. Naira terkejut ketika melihat siapa yang turun dari mobil itu, yang tidak lain adalah Adrian.
"kamu akan pulang kan?" tanya Adrian, Naira mengangguk pelan.
"masuk mobilku, aku akan mengantar kamu pulang!" ucap Adrian, Naira terkejut dengan itu.
"tapi..."
"Johan menelfonmu kan, untuk menunggu sebuah mobil menjemputmu, mobil itu adalah aku. jadi cepat masuk, ini sudah malam!" jelas Adrian, Naira memejamkan matanya dan menghela nafas.
'pak Johan, memang keterlaluan. kalau tahu dia, aku sudah memesan taxi online saja tadi.'
"kenapa bengong, ayo!" perkataan Adrian membuat Naira sadar dari lamunannya, Naira mengangguk dan mengikuti langkah panjang Adrian.
saat Naira berjalan beberapa paperbag miliknya jatuh, Adrian yang mendengar itu segera menoleh. Adrian melihat Naira yang berjongkok untuk memungut barangnya, karena merasa kesal Adrian mengambil barang itu dengan kasar.
"kenapa harus berbelanja sebanyak ini, lihatlah ini sangat berat!" ucap Adrian membawa paperbag itu, ia memasukkannya dengan cepat ke dalam mobil. Naira mengikuti langkah Adrian, Naira sendiri terdiam tidak mengatakan apapun.
"kamu gak tau ya, ini itu sudah larut. masih saja diluar, harusnya kamu sudah pulang kerumah!" sewot Adrian lagi, Naira masih terdiam karena bingung harus berkata apa.
"ayo masuk, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Adrian lagi, dia tersadar sudah membentak Naira. Naira yang malas bicara hanya mengangguk dan membuka pintu mobil belakang, Adrian terkejut dengan itu.
"siapa yang menyuruhmu untuk disana, duduk seperti biasanya saat kamu duduk dimobilku..."
"kenapa anda terlalu banyak bicara pak, saya sampai pusing mendengarnya!" saut Naira ketika sudah sangat geram dengan suara Adrian, Adrian terkejut dengan itu.
"kamu juga kenapa terlalu diam, seharusnya kamu jawab pas aku ngomong!" saut Adrian, Naira tidak terima dengan itu.
"bagaimana saya menjawab, anda bahkan tidak memberikan saya kesempatan bicara!" saut Naira tidak kalah, Adrian yang sudah membuka pintu mobil menutupnya kembali. Mereka malah saling menatap dengan sini, keduanya sama sama kesal.
"dengar ya, seharusnya kau itu berterima kasih. aku capek ingin pulang, malah disuruh menjemputmu. apa kau tahu, waktuku itu adalah uang!" ucap Adrian, Naira yang mendengar itu terdiam dan merasa tersinggung.
"untuk apa anda datang kalau anda tidak ikhlas, lagi pula saya bisa pulang sendiri!!" kesal Naira, ia membuka pintu belakang mobil. Naira mengambil semua barang miliknya, dengan kesana Naira meninggalkan Adrian tanpa pamit. Adrian melihat itu, dan ia pun mengejar Naira.
"mau kemana kau, masuk lah!" ucap Adrian menarik tangan Naira, Naira menghempaskan tangan Adrian.
"lepaskan! saya bisa pulang sendiri, saya juga tidak butuh bantuan anda. terima kasih! minggir!" saut Naira, ia menyenggol tubuh Adrian hingga terpental kesamping.
"heii!! berhenti, Naira aku bilang berhenti!!!"
Naira yang kesal, terus berjalan dengan paperbag nya. Naira tidak memperdulikan teriakan Adrian, Naira sendiri sangat kesal dengan Adrian. saat sedang berjalan, tiba tiba saja pandangan Naira menjadi kabur. ia merasakan yang dihadapannya semua berputar, Naira juga merasakan sakit pada kepalanya.
'ada apa ini, kenapa pusing sekali. apa aku terlalu lelah, ataukah aku lelah menangis tadi. mmmm... aku bahkan sampai tidak bisa menopang tubuhku sendiri!'
Adrian melihat Naira dari jauh, Adrian merasa terjadi masalah pada Naira. Adrian berjalan pelan dibelakang Naira, dan dugaan Adrian benar ketika melihat paperbag milik Naira terjatuh. Adrian mempercepat langkahnya, ketika melihat Naira memegangi kepalanya dan sempoyongan.
"Naira!!" teriak Adrian, dengan cepat Adrian menarik tangan Naira.
"Naira ada apa denganmu?" tanya Adrian ketika menopang tubuh Naira, Naira yang merasa pandangan nya kabur hanya menggelengkan kepala.
"kepala ku pusing, mungkin hanya terlalu lelah!" ucap Naira, Adrian kesal dengan itu.
"tentu saja lelah, kau terus saja bersenang senang..."
"diamlah aku mohon, mendengar suara mu kepala ku semakin pusing!" saut Naira ketika Adrian belum selesai bicara, Adrian mendirikan Naira dan ia mengambil barang milik Naira.
"ayo kita pulang, pegang tanganku!" ucap Adrian memberikan tangannya, Naira tidak menerima tangan itu. Naira hanya terdiam dan berdiri, ia melangkah perlahan mendahului Adrian.
"apa yang anda lakukan!" teriak Naira ketika Adrian tiba tiba menggendongnya, Adrian tidak mendengarkan teriakan Naira. ia melangkah maju menuju mobilnya, dan memasukkan Naira dan mendudukannya.
"jika aku tidak menggendongmu, kau tidak akan sampai sekarang!" ucap Adrian lalu menutup pintu dan memasukkan barang milik Naira, Naira hanya terdiam menatap Adrian.
'tadi dia membuatku menangis, sekarang membuatku kesal. lihat saja jika sudah waktunya, akan aku balas dua kali lipat nanti.'
setelah masuk kedalam mobil, Naira terkejut ketika Adrian menatapnya. Naira memandang kearah lain, tapi Adrian tetap menatap Naira. Adrian menatap Naira lalu perlahan mendekatinya, Naira sangat gugup dengan itu.
"aa...apa yang kau lakukan?" tanya Naira, Adrian terus mendekat hingga Naira menutup mata.
'ceklik!
Naira membuka mata setelah mendengar suara itu, terlihat Adrian sudah menjauh. dilihatnya sabuk pengaman telah terpasang, dan Adrian lah yang memasang itu.
"kenapa kau menutup mata, aku tidak akan melakukan apapun!" ucap Adrian lalu menyalakan mobilnya, Naira sendiri hanya mencibirnya.
"sangat modus, kan bisa bilang untuk pasang!" gumam Naira, Adrian mendengar itu meskipun tidak terlalu jelas. Adrian hanya tersenyum tipis, Naira melihat itu diam diam tersenyum. Adrian pun melajukan mobilnya untuk mengantar Naira pulang, Naira merasa sangat senang berdua dengan Adrian. meskipun Adrian menyebalkan beberapa saat lalu, tapi Naira sangat menyukai itu.
setelah beberapa jam, Adrian telah sampai didepan rumah Kara. Adrian membuka sabuk pengamannya, dan melihat kearah Naira. Adrian tertegun ketika melihat Naira tertidur, terlihat Naira tidur sangat pulas disampingnya. Adrian tidak menyianyiakan kesempatan itu, Adrian menyalakan lampu mobilnya. Adrian menatap wajah Naira yang damai, Adrian tersenyum saat meniup rambut Naira dan Naira seperti merasa terganggu.
"aku akan melindungimu, dengan cara apapun. dan maafkan aku, maaf karena membuatmu sedih hari ini." ucap Adrian, Adrian memajukan tubuhnya untuk mencium kening Naira. setelah itu Adrian menyenderkan tubuhnya, ia menutup mata sejenak menunggu sampai Naira terbangun nanti.
****
*kejadian yang bersamaan, pada Siska dan Johan.
"halo, kirimkan aku mobil. lalu bawa bahan bakar juga untuk mobil, ada mobil yang kehabisan bahan bakar. alamatku dijalan lebar indah, tepat di samping jembatan. iiya benar, terima kasih!" setelah mengatakan itu ditelfon, Johan menoleh ke arah Siska yang tersenyum kearahnya.
"kenapa kau tidak bilang saat kita melewati SPBU, lihatlah sekarang mobilmu ini haus!" ucap Johan kesal, Siska hanya terdiam dan meringis.
"maafkan aku Sayaaaang, tadi aku lupa memberitahumu!" saut Siska bergayut pada lengan Johan, Johan kesal tidak memperdulikan Siska.
Johan kesal ketika ingin mengajak Siska kencan, mobil Siska berhenti dijalan karena kehabisan bahan bakar. sipemilik mobil hanya cengengasan ketika Johan terlihat kesal, Siska sendiri lupa untuk mengisi bahan bakar. Siska ingat telah berkeliling seharian bersama Naira sebelumnya, mereka berdua saat itu hanya menunggu mobil Johan datang.
'menyebalkan, hariku sangat tidak beruntung sekarang!'
***
jangan lupa like, komen, dan berikan vote kalian😍