
"Jangan gila kamu! Pernikahan kita tidak bisa tiba-tiba dimajukan! aku masih punya banyak pekerjaan!" Gala menolak keras. Matanya kini nyalang menatap ke arah dara cantik yang wajahnya kian mengeras. Deru napas keduanya beradu. Shaqueena tak ingin kalah, pun Gala yang kini meradang dibuatnya.
"Banyak pekerjaan atau karena ada perempuan lain, Mas?" Salah, Shaqueena menyenggol titik ego pria itu.
Emosi membawa dirinya pergi menjauhi logika. Tanpa bisa berpikir jernih, kepalanya kini dipenuhi kabut merah, membuatnya kian tersesat.
"Apa maksud kamu?" Tanya Gala dingin.
Sebuah alarm tak kasat berdering kencang, Shaqueena baru menyadari kesalahan apa yang ia buat.
Tubuhnya dibuat merinding oleh dingin suara sang adam. Hunus tajam dari jelaga kelam Gala memperkeruh keadaan.
Shaqueena mundur selangkah. Wajahnya yang tadi tegak menatap sang lawan bicara, kini sedikit ia tundukkan. Ia gemetar.
"Kamu masih berharap sama Ameera, kan?" ujarnya pelan.
"Shaqueena jaga bicara kamu!" Peringatan tegas Gala berikan. Ia masih mencoba mengelola sabar dalam dirinya. Menekan egonya kuat-kuat agar tak makin lepas kepermukaan.
Sedikit saja. Sedikit saja Shaqueena menyenggol egonya lagi, Gala yakin iblis dalam dirinya akan keluar.
"Kamu masih ada rasa kan, sama Ameera?? kamu masih nunggu dia, kan?"
"Benar!"
Shaqueena melotot dibuatnya. Iya tak percaya Gala mengiyakan dugaannya. "MAS!"
"APA?"
Perlu diingat, Gala adalah seorang pria dengan ego yang luar biasa tinggi. Ia tak akan mengalah semudah ini.
"Kamu serius, mas?" lututnya melemas. Matanya yang sayu memandang kembali permata hitam milik Gala. Tak dapat ia temukan candaan disana. Hanya raut tegas yang menyiratkan keseriusan.
"Kenapa?" Gala berujar datar. Mood-nya turun kepermukaan.
"Kamu butuh validasi, kan?" Tanya Gala setajam pedang.
Shaqueena menggeram, Tak terima, "Jangan bercanda kamu, Mas!" Sentak Shaqueena kemudian.
Gala tampilkan seringai tipis. Pandangannya ia buang menuju menuju berkas yang tadi sempat ia abaikan.
"Apa aku kelihatan bercanda? Harusnya kamu sadar, saat aku bujuk kamu kemarin, artinya aku memberi hubungan ini kesempatan. Tak seharusnya kamu menyulut api seperti ini. Yang perlu kamu lakukan hanya mengikuti" Sambil membolak-balik berkasnya, Gala berujar. Nadanya sudah kembali tenang, tapi suasana yang tercipta justru makin menegang.
"Dan kalau kamu mau aku jujur, betul, aku masih menyimpan perasaan untuk Ameera"
"Mas..." Susah payah ia menahan tangisnya. Suaranya tertahan, Isaknya ia telan. Hatinya terluka, tapi harga dirinya lebih parah. Hancur sudah seperti tidak bersisa.
"Kamu boleh mundur kalau kamu tidak suka" Sebut saja Gala brengsek, karena memang begitu adanya. Bahkan tanpa hati ia berkata demikian pada hati yang tengah teriris di hadapannya.
Shaqueena menatap nyalang. Mudah sekali laki-laki ini membatalkan pertunangan, seperti membalik telapak tangan. Harga dirinya tak terima. Sekali lagi, ia tak akan kalah.
Shaqueena menyeringai tipis, "Haha, Kamu pikir aku mau mengalah? Haha, dalam mimpimu, Mas!"
Dengan itu, Shaqueena menghentakkan kakinya keluar, meninggalkan wira yang sama sekali tak menatap kepergiannya.
......................
Kepalanya pening.
Gala memijat kepalanya pelan. Belum selesai ia memikirkan permasalahan Shaqueena yang mengamuk di kantornya pagi tadi, kini ia kembali di buat pusing dengan rapat bulanan perusahaannya yang tidak berjalan lancar.
Banyak data yang berantakan, membuat rapat kali ini berjalan sengit.
Belum lagi presensi Ayahnya yang tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan.
Seakan tahu akan adanya kekurangan, Laki-laki tua itu hanya duduk sambil memandang rendah Gala yang kelimpungan memimpin rapat.
Benar-benar sebuah kebetulan yang menyebalkan bagi Gala.
Oh atau tidak?
Gala mulai mempercayai kalau ini bukan hanya kebetulan kala nama Shaqueena muncul dari mulut sang Ayah.
Selepas rapat, Ayahnya tak kunjung keluar. Hanya diam ditempat semula, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Matanya menuntut, Memandang Gala, seakan menarik, membuat Gala mendekat.
Lelaki yang masih terlihat tampan di usia tuanya itu tersenyum sinis, "Kenapa? Malu ya ketahuan tidak becus begini?" Sindirnya tepat mengenai hati.
Gala meringis. Sebenci-bencinya ia pada sang Ayah, Ia masih tak berani mendebat ayahnya. Terlebih kini memang posisinya salah. Tak ada kekuatan sama sekali untuk mengelak. Hanya diam yang mampu ia lakukan.
"Kenapa diam?" Tanya yang lebih tua.
"Maaf ayah"
Nyali Gala ciut dihadapan sang Ayah. Ia diam tanpa bisa berkutik.
"Baru dua bulan dan kamu sudah ada masalah internal disini. Kemana Gala yang kemarin punya banyak Prestasi itu? Apa kamu menyuruh orang lain untuk mengerjakan semua pekerjaanmu dulu? Bagaimana bisa kamu menjadi berantakan sekarang?" Serang Ayahnya bertubi-tubi. Gala menjadi semakin merasa kecil di tempatnya.
Kepalanya Gala tundukkan semakin dalam. Ia takut akan pandangan menghakimi yang sudah pasti bersarang di wajah ayahnya sekarang.
"Ah, apa karna kamu sekarang ada main sama wanita lain, makanya kerja kamu menjadi tidak fokus begini?"
Gala tersentak di tempatnya. Kaget dengan apa yang baru diucapkan oleh ayahnya.
"Apa maksud ayah?"
"Shaqueena datang tadi. Dia bilang kamu berniat membatalkan pernikahan karena kamu jatuh pada wanita lain. Benar, Gala?"
Mati sudah, Gala tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak menyangka kalau Shaqueena akan mengadu kepada Ayahnya.
"Dari diamnya kamu, Ayah yakin kalau Shaqueena benar"
Ayah Gala berdiri. Bersiap beranjak dari kursi yang sedari tadi ia duduki. Pergi melangkah tanpa memperdulikan putranya yang kini membeku di tempat.
"Berhenti, Gala! Sebelum ayah yang ambil tindakan untuk menghentikan kamu" Seru sang Ayah sebelum tubuhnya benar-benar menghilang di balik pintu.
......................
Gala termenung di ruangannya. Pikirannya berkecamuk di dalam kepala. Tidak ada satupun yang berjalan lancar di harinya.
Ia butuh pengalihan. Rasanya kepalanya akan pecah jika ia terus memikirkan segalanya.
Mungkin pergi berdansa dengan alkohol menguasai pikiran akan sedikit membantunya
Entah bagaimana bisikan setan itu berhasil membuat Gala beranjak. Berjalan menuju parkiran, pergi meninggalkan gedung yang kini sedang mencekiknya.
Kakinya menginjak gas dalam. Tujuannya adalah bar milik teman satu universitasnya. Memang masih terbilang sore, tapi ia tak perduli, ia butuh distraksi.
Dalam perjalanan ia banyak melamun. Membuat kendaraannya sering oleng. Tak jarang ia menerima sumpah serapah dari pengemudi yang berada disekitarnya. Namun ia biarkan itu semua. Toh, Kepalanya jauh lebih berisik dibanding sumpah serapah mereka.
Kendaraannya berangsur memelan, menandakan kalau ia sudah sampai di tempat tujuan.
Tapi bukannya buru-buru turun, Gala malah keheranan. Ia menatap bangunan sederhana di depannya dengan pandangan heran.
Kenapa ia malah kesini?
Alih-alih bar, malah toko kue milik Ameera yang kini terpantul di retina matanya.
Apa ini? Hati dan tubuhnya mengkhianati akalnya? Gala jadi bingung sendiri dengan dirinya.
Selalunya, jika sedang suntuk begini, alkohol menjadi jalan keluar satu-satunya.
Selalunya, hanya hingar bingar dunia malam yang bisa mengalahkan bising di otaknya.
Tapi sekali lagi. Ia bingung.
Ia tak merasa kesal. Justru ia merasa tenang. Seperti pulang kerumah.
Kakinya berjalan buru-buru. Mendesak untuk cepat. Mencari tempat berteduh dari derasnya hujan masalah yang menghujam tubuhnya.
Maka saat eksistensi Ameera tertangkap kelereng kembarnya, Hatinya menghangat. Desah lega ia hembuskan, seakan baru saja kembali menemukan udara.
Tanpa kata ia menghambur, Jatuh ke pelukan tubuh yang lebih kecil, mengukung seperti melarang pergi. Mencari hangat juga rasa aman.
Menuju kerumah, seperti kebiasaan lamanya..
...****************...