
keesokan harinya Naira terbangun dipagi hari, ia merasa kepalanya sangat pusing. Naira melihat hari sudah pagi, Naira tidak ingat sejak kapan ia sudah ada dikamarnya. Naira hanya merasa pusing, matanya terasa berat saat dibuka. beberapa menit kemudian terlihat seseorang membuka pintu kamarnya, terlihat Nadia membawa nampan berisi sarapan. Nadia menghampiri Naira dan tersenyum, Naira mendudukan dirinya.
"kamu ini gimana bisa sampai pingsan dijalan!" ucap Nadia, Naira masih terdiam karena tidak mengerti maksud Nadia.
"hari ini kamu gak usah kerja, kamu demam tinggi sejak Daniel membawamu pulang. kamu kenapa sih, kemarin juga pergi gak bilang sama kami?" ucap Nadia lagi, Naira terdiam lalu teringat kejadian saat ribut dengan Adrian. karena merasa lelah menangis, Naira menghentikan mobilnya dipinggir jalan. setelah itu Naira tidak tahu Daniel menemukannya, dan membawanya pulang. yang Naira ingat, Adrian lah yang membawanya pulang bukan Daniel.
"iya ma, maaf. Naira pulang sama Daniel, kenapa bisa sama Daniel?" ucap Naira, Nadia duduk disampingnya dan memegang dahinya.
"mama gak tau, kamu juga ga bilang pada kami. tau tau, Daniel membawa kamu pulang. kamu kenapa, kayaknya habis nangis?" saut Nadia, Naira tersenyum kearah Nadia.
"Naira gak papa, hanya capek aja. iya kemarin, Naira ada urusan penting!" saut Naira, Nadia tersenyum. Nadia sebelumnya sudah tahu apa yang terjadi, dia pun terpaksa berbohong bahwa Daniel yang mengantar pulang.
"yasudah makan dulu!" ucap Nadia, Naira menggelengkan kepala lalu bangun dari tempat tidur.
"Naira akan makan nanti, sekarang Naira harus pergi ke kantor. ada urusan kantor, yang harus Naira kerjakan!" ucap Naira, dengan lemah Naira berjalan kearah kamar mandi. Nadia mencoba membantu, tapi Naira menolak.
"kau sama seperti papamu, keras kepala!" ucap Nadia, Nadia keluar dari kamar Naira.
***
Naira sampai dikantor, dalam keadaan yang tidak sehat Naira datang untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya. Naira memutuskan untuk berhenti menjadi sekretaris Adrian, entah apa yang dilakukannya itu benar atau tidak. Naira menaruh surat pengunduran dirinya dimeja Adrian, untuk menghindari Adrian ia menaruh itu sebelum Adrian datang.
"Naira apa yang terjadi?" tanya Siska, Siska merasa heran saat Naira mengemasi barangnya.
"aku mengundurkan diri Sis, bantu aku ya bersih bersih ini." ucap Naira, Siska terkejut dengan itu.
"apa, kenapa mengundurkan diri. apa yang terjadi, ada masalah apa?" tanya Siska tanpa henti, Naira tersenyum.
"tidak ada, aku hanya akan bekerja dikantor papaku. aku ingin berhenti, jadi tidak ada masalah." saut Naira, Siska masih tidak percaya dengan itu.
"Naira aku ini sahabatmu, ceritakan masalahmu padaku!" ucap Siska tersenyum, Naira menatap nya lalu meneteskan air mata. Siska terkejut dengan itu, dan menghapus air mata Naira.
"dia membohongiku!" ucap Naira, Siska bingung dengan itu.
"dia menyimpan kebohongan padaku, dia mempermainkan perasaanku. untung aku tahu sejak awal, jika tidak dia akan membohongiku terus menerus!" saut Naira lagi, Siska masih tidak mengerti.
"siapa yang membohongimu, siapa yang mempermainkan perasaanmu?" tanya Siska, Naira menoleh kearah Siska.
"Adrian dan juga Adnan, mereka adalah orang yang sama. Adrian sengaja berbohong padaku, dan mempermainkan perasaanku!" saut Naira, Siska terkejut dengan itu.
"Naira kenapa kamu marah, itu bagus. mereka orang yang sama, kamu mendapatkan mereka sekaligus. lalu apa masalahnya?" ucap Siska, Naira tersenyum.
"sekarang bagaimana perasaanmu, disaat kamu menunggu seseorang sampai 15 tahun. setelah itu perlahan kamu melupakannya dan mendapatkan cinta yang baru, lalu kamu tau kalau orang yang kamu lupakan dan kamu cintai adalah orang sama hanya berbeda nama. bagaimana perasaanmu, apakah kamu bisa menerima perasaan itu gitu aja?" jelas Naira, Siska terdiam dengan itu.
"aku tidak tau apa yang aku pikirkan sekarang, aku hanya berpikir saat ini aku masih sangat kecewa. kecewa dengan segala hal, bahkan aku sendiri tidak tahu apa!" ucap Naira lagi, Siska mencoba menenangkan Naira.
"kamu hanya butuh waktu untuk menerimanya, Naira jangan membuat keputusan yang akan merugikan kamu!" ucap siska, Naira menyeka air matanya dan berdiri.
"itu keputusan yang benar, aku ingin menjauh darinya. aku masih belum bisa menerima semuanya, Siska maaf ya aku harus mengundurkan diri!. terima kasih sudah membantuku dan membimbingku selama ini, kamu adalah sahabat terbaik yang aku punya." ucap Naira, Siska tersenyum.
"iya, apapun keputusan yang menurut kamu baik, aku pasti dukung kamu. tapi Naira pikirkan semuanya, aku tidak ingin kamu menyesali nya nanti!" ucap Siska, Naira tersenyum dan mengangguk.
"iya, terima kasih!" ucap Naira, mereka saling tersenyum.
"Nai kamu sakit ya?" tanya Siska, Naira mengaca pada layar hpnya. terlihat pucat, Naira menggelengkan kepala.
"nanti jangan pergi dulu, akan kubuat kan sarapan. sekrang ayo kubantu, kamu istirahat aja!" ucap Siska, Naira tersenyum.
"terima kasih!" saut Naira, mereka saling tersenyum.
tanpa mereka sadari, diluar pintu Adrian sedang berdiri mendengarkan mereka. Adrian membawa surat pengunduran diri Naira, Adrian meremas surat itu. Ia kesal dengan sifat Naira, bahkan Adrian marah ketika Naira memilih mengundurkan diri.
"Naira apapun yang ingin kamu lakukan, maka lakukan. tapi, aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku. apapun caranya, akan kubuat kamu tidak akan pernah pergi dariku!" ucap Adrian, ia pergi dari sana dan masuk keruangannya.
****
Naira berdiri dihadapan Adrian, Adrian menatap Naira yang tidak mau menatapnya. Adrian berdiri dari duduknya dengan membawa surat pengunduran Naira, ia melangkah berjalan kearah Naira.
"apa maksudnya?" tanya Adrian, Naira menatap nya.
"saya ingin mengundurkan diri, karena papa saya juga tidak kekurangan perusahaan untuk saya bekerja!" saut Naira, Adrian menatap Naira yang terlihat lemah.
"jadi prinsipmu telah ganti?" ucap Adrian, Naira terdiam
"apakah kamu sudah baca kontrak kerja, kontrak yang sudah kamu tanda tangani atas persetujuanmu bekerja disini. dengan menerima semua kebijakan dan ketentuannya,!" ucap Adrian terdengar angkuh, Naira merasa tidak tahu apa yang dikatakan Adrian.
"sepertinya kamu kurang jelas, baiklah akan kujelaskan dan aku tunjukkan!" ucap Adrian, Adrian menekan telfon dimejanya.
"Johan bawakan berkas yang aku suruh tadi, cepat!" ucap Adrian pada telfon lalu menutup telfonya, Adrian menatap Naira dengan perasaan sedih. tapi Adrian melihatkan wajahnya yang tegas, ia berusaha untuk menahan Naira untuk tidak pergi darinya.
terlihat Johan datang membawa berkas, sesekali Johan melihat Naira dan tersenyum. Johan memberika berkas yang diminta Adrian, Adrian menaikkan alisnya.
"terima kasih, pergilah!" ucap Adrian, Johan mengangguk dan menyapa Naira lalu pergi dari ruangan Adrian. Adrianenaruh berkas itu dimeja, Naira hanya diam melihat apa yang dilakukan Adrian.
"ini adalah surat kontrak kerjamu, baca dan pahami!" ucap Adrian. tanpa bicara Naira mengambil kertas itu.
tertulis disana kontrak kerja Naira selama 1 tahun, jelas Naira setuju dengan ketentuan dan kebijakan perusahaan. disana menyatakan jika dalam waktu 1 tahun bekerja dengan baik, akan mendapatkan kompensasi yang menguntungkan. tapi jika kurang dalam waktu 1 tahun mengundurkan diri, Naira harus membayar denda sebesar 500 juta. setelah membaca itu Naira melihat kearah Adrian, Adrian terdiam.
"apa apaan ini, jelas tertulis waktu itu tidak ada denda apapun." ucap Naira kesal, Adrian tersenyum.
"aku tidak tahu, sudah jelas tertulis disana. jika kamu mengundurkan diri, maka bayar dulu denda setelah itu saya akan menanda tangani ini." ucap Adrian menunjukan surat pengunduran diri Naira, Naira kesal ia meremas berkas yang ia pegang. Naira membuang berkas itu, dan berbalik untuk keluar. saat mendekati pintu, langkahnya kalah cepat dengan Adrian. Adrian menarik pinggang Naira dan memeluknya dari belakang, Naira terkejut dengan itu.
"kamu boleh marah padaku, tapi jangan membenciku Naira. jangan benci aku, dan jangan menyiksa dirimu. kamu terlihat lemah, kamu harus menjaga kesehatan!" ucap Adrian lemah, Naira meneteskan air mata karena tersentuh dengan perkataan Adrian.
"lepaskan, saya tidak ingin berkata kasar pada anda." ucap Naira, perlahan Adrian melepas pelukannya. Adrian menatap Naira yang sedang membelakanginya, Naira sendiri tidak ingin berbalik melihat Adrian.
"aku akan bayar denda itu, setelah itu tanda tangani surat pengunduran diriku!" ucap Naira lalu keluar dari ruangan Adrian, Adrian hanya bisa diam saat Naira pergi tanpa melihatnya.
"Naira bagaimana aku harus meminta maaf." ucap Adrian, ia menyeka air matanya sendiri.
Naira berjalan cepat kearah ruangannya, Naira duduk ditempatnya dan menangis. Naira menangis yang sudah ia tahan dari tadi, Siska mengelus rambut Naira yang menangis.
"hiks... aku sangat marah padanya... tapi aku tidak tahu apa yang harus... aku lakukan... hiks... hiks..." ucap Naira menangis, Siska memeluk tubuh Naira. Naira menangis dalam pelukan Siska, ia melepas semua tangisnya.
***
halo temen2 itu dulu ya episode kali ini, terima kasih sebelumnya karena sudah sabar menunggu up. untuk beberapa hari Author sibuk untuk mengurus ujian, mungkin akan lama waktu up dan cuman satu.
jangan lupa like, komen dan berikan vote sebanyak kalian mau😍