Do You Remember?

Do You Remember?
Episode Tiga : Jadi penguat



Bandung, 22 Juni 2014


"Jadi?" Gadis itu bertanya bingung.


Ia tidak mengerti alasan 'kabur' yang barusan Gala paparkan. Ia masih tidak mengerti kenapa Gala harus kabur jika hanya akan diperkenalkan?


"Ih, kamu mah gak ngerti!"


"Justru, karena aku gak ngerti makanya aku nanya, A'!!"


Mereka bersungut. Gala jadi yang pertama membuang mukanya.


"A'. Kenapa harus kabur kalau memang Aa' dipercaya untuk nerusin usaha keluarga Aa'?"


"...."


"Padahal nanti kalau Aa' udah punya uang banyak, Aa' bisa jalan-jalan tanpa mikirin gimana besok bisa makan. Terus nanti Aa' bisa jalan-jalan pake baju bagus-bagus, bisa pergi ke tempat-tempat bagus, terus makan makanan enak yang pasti harganya mahal. Kalau gak ada uang gimana bisa Aa' raih mimpi Aa' buat travel itu?"


"Tapi aku gak minat bisnis, Ra, kamu paham gak sih?"


"Ah! itu mah Aa' aja yang gak mau coba"


"Apa kamu bilang?"


Gala sudah siap marah saat mata teduh milik Ameera mengarah padanya.


"Emang Aa' udah pernah coba? Bisnis itu, Aa' pernah coba, emang?"


Gala diam, lalu menggeleng. "Tuh, kan!"


"Aa' aja belum pernah coba, gimana bisa Aa' bilang gak minat?"


Gala diam. Kata-kata sanggahan yang sudah ia siapkan, Gala telan kembali.


"Seenggaknya, Aa' coba sekali, atau dua kali, gak papa. Nanti kalau sudah berulang kali Aa' masih ngerasa gak cocok, baru tuh, bisa bilang gak minat"


Kemudian hening mengisi celah antara dua pemuda-mudi itu. Gala yang tak punya apapun untuk membalas perkataan yang lebih muda, memilih tetap diam.


Sedang Ameera, tangannya mengambil acak ranting kecil yang berada di dekatnya. Menggambar pola-pola abstrak untuk mengusir rasa sungkan.


Ia sungkan, ia tahu kalau Gala jauh lebih tua darinya, tapi dia dengan berani memberi nasihat kepada Gala.


Cih! Sok tua sekali gadis ini.


Ameera rasanya ingin meruntuki diri sekarang. Ameera berpikir, mungkin sekarang Gala mengatainya dalam hati. Memakinya karena terlalu ikut campur.


Tapi ya, inilah Ameera.


Sudah terlanjur nyebur, kan? jadi lanjut saja sudah.


"Lagian ya A', jadi photographer itu bisa jadi sampingan. Nanti, Aa' tetap bisa jekrek-jekrek photo kok, disela kesibukan. Sekarang Aa' punya tanggung jawab, rasanya gak etis aja gitu, kalau Aa' menghilangkan tanggung jawab demi hobi"


'Duh, Ameera mulutmu!! Nanti kalau Gala tersinggung bagaimana?' Batin Ameera memaki.


"Kamu benar juga"


"Eh?" Senyum Ameera terbit setelahnya.


"Iya bener, kamu bener. Mungkin aku emang egois karena lebih mentingin hobi aku. Aku egois, aku makin gak pantes buat nerusin usaha ayah"


Ameera melotot kaget. Senyumnya luntur sudah. Gala salah paham dengan apa yang ia sampaikan.


"IH BUKAN ITU MAKSUD AKU"


"TERUS APA??"


HUH! Ameera membuang napasnya kasar. Keras kepala sekali anak ini! pikir Ameera.


Kalau seperti ini sepertinya mereka benar-benar akan perang tanpa menemukan titik terang untuk masalah Gala.


Tidak bisa dibiarkan!


"Ke rumah aku aja, yuk!"


"heh?"


Tanpa menunggu persetujuan Gala, Ameera menarik tangan yang lebih tua untuk berdiri. Berjalan tidak sabar menuju rumah kecil di dekat villa tempat mereka berada.


"Aku tadi ada buat cookies. Aa' harus coba. Kata abah cookies buatan aku itu paling enak sedunia. Pokonya Aa' harus coba!"—"terus nanti aku suruh abah buat bujuk Aa' lagi!" lanjut Ameera dalam hati.


......................


Gala tersenyum. Benar, cookies buatan anak itu memang benar-benar enak.


Ditambah lagi, pemandangan hangat yang tersaji di depannya saat ini—Ameera yang sedang adu mulut dengan adiknya, Adeeva—membuat hatinya berdesir hangat.


Gala itu anak tunggal. Sulit buatnya untuk merasakan keramaian di rumah.


Belum lagi Ayah dan Bundanya yang sibuk. Mereka memang masih menyisakan waktu untuk Gala, tapi itu tidak sering.


Makanya Gala merasakan perasaan asing sekaligus menyenangkan saat ia berada di sini.


"Maaf ya, den. Ameera narik-narik aden ke sini"


Tiba-tiba Abah sudah berada di samping Gala. Mendudukkan dirinya sendiri di kursi sembari tangannya membawa teh manis untuk Gala


"Makasih, pak?" Sedikit ragu, karena baru kali ini Gala berbicara dengan penjaga villanya itu, biasanya ia hanya melihat sekilas atau bertegur sapa singkat.


"Panggil Abah aja kalau aden gak keberatan"


Gala tersenyum sambil mengangguk.


Abah menjeda sebentar sebelum kembali berucap, "Ameera tadi cerita. Katanya aden kabur dari rumah?"


Gala mengangguk. "Tadi diceramahin sama Ameera ya? Maafin Ameera ya, anak itu terlalu ikut campur. Udah Abah omelin kok tadi"


Gala mendengus tawa kecil. "Iya, Bah"


Gala diam, berbeda dengan Ameera yang bisa ia debat, perkataan Abah kali ini terasa mutlak.


"Dicoba aja ya, Den. Percaya deh, orang tua selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya. Pun nanti, kalau Aden gak srek sama kerjaannya, Bapak sama Ibu juga gak akan paksa Aden, kok"


"Masa sih, Bah?"


Abah mengangguk. "Iya. Justru kalau Aden kabur-kaburan gini, yang ada nanti Bapak marah. Terus Aden malah dilarang ngelakuin hal yang Aden mau"


Gala membenarkan perkataan Abah. Benar juga, kenapa tidak terpikirkan oleh Gala sebelumnya.


"Gimana, Den? jadinya mau tetap kabur atau mau pulang? kasihan deh pasti ibu sama bapak lagi khawatir deh di rumah"


"...." Gala diam. Dia bingung. Disisi lain egonya melarangnya untuk pulang. Tapi hati nuraninya bilang kalau ia harus pulang.


"Abah bantu telponin Bapak, ya?"


Dan ajaibnya, Gala menurut. Ia mengangguk.


Membuat Abah tersenyum dan mengusap pelan kepala Gala.


......................


Di depan villa kini sudah terparkir mobil orang tua Gala.


Sedang Gala kini bersembunyi di balik pohon. Ia takut untuk keluar. Ia takut kalau nantinya ia akan dimarahi karena sudah berani kabur dari rumah.


"Ayo, A'! Kan tadi udah janji mau pulang?" itu Ameera. Gemas sendiri melihat Gala yang tak kunjung bergerak.


Gala hanya menggeleng. Membuat Ameera makin gemas.


Lagi dan lagi Ameera menarik wira muda itu.


"Ayo A'!! Keburu malem!!"


"Gak mau! Nanti aku dimarahi!"


"Ih enggak akan!"


"Nanti aku dimarahi, Ameera. Gak mau!"


Ameera berkacak pinggang. "Ayo taruhan!"


"Kalau kamu gak dimarahi, kamu harus beliin aku mainan waktu kamu balik kesini. Tapi kalau kamu dimarahi, aku bakal bikinin cookies sebanyak yang kamu mau"


"Bener?"


"Iyaa"


Akhirnya Gala setuju untuk keluar. Ia berjalan ragu menuju mobil kedua orang tuanya.


Saat dekat, mata Gala bertemu dengan Bundanya. Takut itu berganti perasaan bersalah kala ia melihat mata sembab Bundanya.


"Ya Allah, Gala. Kamu dari mana aja, nak?" Bunda Gala langsung memeluk anaknya. Wanita dewasa itu menangis sesegukan di pundak sang putra.


Kala terlepas, Gala menoleh ke arah Ameera yang masih ada disana. Berdiri sedikit memberi jarak dari Gala dan Bundanya.


Gala bisa lihat Ameera membisikkan kata 'Tuh kan, aku bilang juga apa. Aku menang, ya. Jangan lupa ya, mainannya"


Haha.. Gala tertawa kecil.


Gala akan mengingat untuk membelikan gadis itu mainan kala ia kembali kesini.


......................


Jakarta, 24 Juni 2022


Mereka berdua tertawa.


"Kalau diingat, aku dulu memalukan ya, pengecut sekali"


Ameera tertawa keras mendengarnya. "Bukan aku yang ngomong, lho, A'. Haha"


Dilihatnya dengan seksama wajah tertawa yang begitu ayu milik Ameera. Gala rasa ada yang salah dengan hatinya.


kring


Pintu itu terbuka. Menampilkan satu sosok wanita cantik dengan gaun pendek.


Sontak menghilangkan tawa yang tadi tercipta dari dua orang lain yang sedari tadi ada di sana.


"Masih lama, mas?" Wanita cantik itu bertanya. Ia masih berada di sela pintu.


Gala berdehem kecil kemudian membawa tubuhnya bangkit.


"Udah kok ini. Kamu nunggu lama ya?"


Ada denyutan sakit yang terasa di hati Ameera.


"Iya kamu lama banget, mas"


Ameera bisa melihat wanita itu merajuk. "Maaf ya, sayang"


sayang...


"Sebaiknya kamu pergi, A'!" ini Ameera. mengusir dengan halus sebelum dinding pertahanannya luluh.


Gala hanya mengangguk. "Lain kali aku boleh ya main lagi kesini?"


Ameera hanya mengangguk dan tersenyum. Lidahnya sudah kelu.


Sampai Gala keluar bersama wanita itu, sampai pintu itu tertutup rapat, sampai sana lah tangis Ameera berhasil di tahan.


Badannya luruh ke lantai. Ia menangis sejadinya. Lagi dan lagi.


...****************...