
Adrian mengejapkan matanya ketika tertidur pulas, karena merasa ada seseorang sedang memukul mukul tubuhnya. Adrian semakin merasa kesal ketika seseorang itu memukul pipinya berulang kali, Adrian memegang tangan orang itu dan merasakan ukuran yang kecil dari tangannya.
"Naira apa ini?" ucap Adrian masih menutup mata, tapi kemudian Adrian merasa pipinya merasa lembab dan basah. "Naira berhenti menciumi ku, aku sangat lelah tidak ingin bangun!"
"pap... papa... papa..." seketika Adrian membuka mata, Adrian terdiam melihat seorang bayi kecil duduk disampingnya. bayi kecil yang lucu itu tersenyum menggemaskan untuk Adrian, seketika Adrian mendudukan dirinya. ia masih menatap bayi kecil itu dengan heran, dengan lucunya bayi itu menggigit tangan Adrian dengan gusi yang lembut tanpa gigi.
"sayang bangunkan papamu ya, suruh dia jangan tidur terus!" suara Naira menggema ditelinga Adrian, anak kecil itu tertawa dan mengulurkan tangannya.
"pap.. pap..." ucap bayi kecil itu yang berusaha memanggil Adrian, dengan senyuman Adrian membawa bayi itu dalam gendongannya. "pap... pap pap..." Adrian membiarkan bayi kecil itu memukul pipinya dengan tangan kecil yang tidak terasa sakit, bayi itu tertawa seakan menyukai Adrian yang tersenyum padanya. Adrian melihat sekeliling kamarnya, terlihat kamar itu begitu imut dan pasti itu diperuntukan untuk sibayi. bahkan ujung kamar mereka terlihat ranjang bayi kecil milik bayi itu, kemudian Adrian menatap bayi kecil dalam gendongannya itu.
"Naira anak siapa ini?" ucap Adrian, terlihat Naira mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi.
"kamu keterlaluan, itu anak kita. kalau bukan anakmu, anak siapa lagi yang kulahirkan!" ucap Naira kemudian keluar dari kamar mandi, Adrian melihat bayi perempuan yang menggemaskan itu. "dia anak kita, lihatlah dia sangat mirip denganku!" ucap Naira tersenyum, seketika senyum Adrian terukir dibibirnya.
"dia anakku,.." suara Adrian bahagia, senyum Adrian membuat bayi perempuan mereka tertawa menggemaskan. Naira tertawa melihat itu, Adrian merangkul tubuh Naira dan mencium pipi Naira.
"terima kasih!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.
"pap... mam mam... pap pap... mam.. " suara imut itu membuat Adrian tersenyum, bayi perempuan itu menyentuh dagu Adrian.
"kau menyukainya?" ucap Adrian, bayinya itu tertawa saat menyentuh dagu Adrian yang memiliki bulu halus disana, dengan bahagia Adrian menciumi bayi itu agar membuat nya kegelian.
Kring Kring Kring~
suara alarm dikamarnya berbunyi, Adrian menoleh kearah alarm itu. saat Adrian berjalan menghampiri alarm itu, kakinya tersandung dan dirinya terjatuh dikasur. Adrian memeluk bayinya, karena tidak ingin melukai bayi itu.
Kring~
Kring~
Kring~
Adrian membuka matanya, dan dirinya masih dengan posisi tidurnya. Adrian mendudukan dirinya dan melihat sekelilingnya, dan semua itu hanya ada pada mimpinya. Adrian memijat tengah kepalanya yang terasa pusing, dan tersenyum sendiri dengan mengingat mimpinya.
"gara gara Naira sakit, aku jadi berpikir Naira sedang hamil!" gumam Adrian, ia melihat sekeliling kamarnya yang kosong. padahal dalam mimpinya begitu banyak hiasan bayi dan terhias hal yang menggemaskan dikamarnya.
setelah membersihkan diri Adrian keluar dari kamarnya, ia merasa rumah itu hampa tanpa Naira. karena Naira yang masih berada dirumah neneknya, dan Adrian harus kembali kerumahnya karena pekerjaan yang harus ia kerjakan. Adrian duduk dimeja makan untuk sarapan, beberapa pelayan sudah menyiapkan sarapan untuknya. rasanya Adrian tidak ingin memakan sarapannya, ia teringat mimpinya dan merasa rindu pada istrinya yang sudah jauh darinya selama seminggu terakhir. berat rasanya meninggalkan Naira yang sedang sakit, tapi pekerjaan pentingnya yang harus dengan terpaksa meninggalkan Naira.
"tuan muda?" seorang pelayan datang pada nya, Adrian menoleh dan menatap pelayan itu.
"ada apa?"
"tuan muda saya ingin meminta cuti, saya tidak enak jika tidak meminta ijin langsung pada anda!"
"seharusnya bilang saja pada pak Nikil, dia akan memberikan mu ijin. kenapa kau meminta cuti, apa ada hal penting?" ucap Adrian datar, pelayan itu tersenyum.
"istri saya sedang mengandung tujuh bulan tuan, saya ingin menemaninya sampai hari lahiran!" ucap pelayan itu, Adrian terdiam dan teringat pada mimpinya lagi.
"pulanglah, jaga istrimu dengan baik. oh iya beritahu pak Nikil untuk memberikan gajimu penuh selama 5 bulan kedepan, bilang ini perintahku!" ucap Adrian dengan tegas, pelayan itu merasa senang dan bahagia.
"terima kasih tuan muda, saya akan mendoakan tuan merasakan kebahagian yang saya rasakan sekarang. terima kasih tuan muda!" ucap pelayan itu sebelum pergi, Adrian mengangguk dan tersenyum.
"iya semoga mimpi itu menjadi kenyataan, maka kebahagiaan kami akan lengkap!" ucap Adrian tersenyum, kemudian terlihat Naira mengirim pesan padanya. dengan senyuman Adrian membuka pesan itu, dan mulai membacanya.
Istriku Tercinta: "pagi suamiku sayang, hari ini bangun lah lebih awal untuk bekerja. dan jangan lupa sarapan harus dimakan, jangan sampai tidak sarapan ya."
Adrian: "iya, aku sedang sarapan sekarang. kamu jangan lupa juga sarapan, apa sudah sehat?"
Istriku Tercinta: "kamu tidak disini bagaimana aku sehat, aku sangat merindukanmu suamiku"
***
hari menjelang siang dan Naira sedang duduk disebuah rumah sakit, ia menunggu gilirannya untuk dipanggil. Naira menyentuh perutnya sendiri, ia semakin penasaran saat gejala gejala yang ia alami tidak seperti orang sakit masuk angin.
"perutku ini kenapa bergejolak terus, rasanya kembung dan tidak enak bikin mual. sampai terlihat buncit begini, tapi kenapa perutku terasa kencang ya?" ucap Naira memegang perutnya, dan terdengar bunyi aneh disana.
"nona Naira Putri?" Naira menoleh karena namanya dipanggil, Naira mengangguk dan seorang perawat membawanya masuk kedalam sebuah ruangan pemeriksaan.
"apa kabar mbak Naira?" ucap dokter wanita cantik, Naira tersenyum dan merasa gugup. "saya dokter kandungan loh, apa mbaknya sudah tau?"
"iya saya tahu dokter, karena itu saya datang kemari u tuk melakukan pemeriksaan " ucap Naira, dokter wanita itu tersenyum. Naira membaringkan tubuhnya atas perintah dokter wanita itu, dokter itu memegang perut Naira yang merasa kencang.
"apa kamu merasa kalau kamu ini sedang hamil?"
"iya dokter, saya hanya merasa begitu. karena saya merasa perut saya ini ada yang lain, karena setiap waktu seperti ada yang bergejolak. dan membuat saya muntah hebat sampai pusing kepala, dan juga saya merasa ada sesuatu dalam perut saya ini!" jelas Naira, dokter itu mengangguk dan tersenyum.
"ada keinginan seperti itu dokter, tapi saya tidak mau melakukan itu. karena jika hasilnya tidak seperti diinginkan, saya takut membuat suami saya sedih dan kecewa. jadi saya memilih untuk periksa saja langsung, jika memang saya hamil saya akan memberikan hasil yang memuaskan untuk suami dan keluarga saya." ucap Naira tersenyum, dokter itu tersenyum pada Naira.
"jangan tegang ya mbak Naira, saya akan memulai memeriksa perut anda!" ucap dokter itu, Naira yang merasa dag dig dug hanya mengangguk tanpa bicara. dokter itu tersenyum saat memeriksa perut Naira, Naira sendiri menutup mata karena merasa tegang.
"kenapa dokter, katakan saja apa hasilnya. meskipun saya berharap, kecewa sekali tidak masalah. jika itu sebuah penyakit juga katakan saja, saya akan berobat segera!" ucap Naira membuat dokter itu tertawa, Naira membuka mata dan melihat dokter itu yang tertawa.
"mbak Naira tenang saja, ini bukan penyakit kok." ucap dokter itu, Naira merasa lega dengan itu. "melihat keterangan yang mbak tulis, siklus haid mbak itu sudah terlambat hampir dua bulan. dan juga mendengar gejala gejala yang mbak Naira sebutkan tadi, memang benar dugaan mbak Naira. mbak Naira selamat ya, anda sedang hamil berusia 4 minggu!" penjelasan dokter membuat Naira terdiam, air mata Naira sudah menggenang dimata Naira.
"ini... a...apa maksud dok..dokter, gak bohong kan?" ucap Naira tergagap, dokter itu tersenyum dan mengangguk.
"kalau tidak percaya saya akan membuat hasil test nya, dan membuat usg nya juga untuk meyakinkan suamimu!" ucap dokter itu, Naira tersenyum dan menangis karena merasa terharu. Naira mengelus perutnya yang merasa bahagia, yang ditunggu nya telah tiba hari itu.
"Adrian aku sedang hamil, aku hamil suamiku!" ucap Naira tersenyum, haru, ia melihat foto Adrian di hpnya.
****
setelah dari rumah sakit Naira yang begitu bahagia, tersenyum denga mengelus perutnya didalam mobil. Naira tidak sabar memberitahu Adrian tentang laporannya itu, ia menggenggam kertas laporan dan hasil usg nya. sampainya dirumah Naira berjalan dengan senyuman, ia melihat semua orang sedang duduk diruang keluarga. Naira duduk disamping Nadia yang sedang memijat ibu Kumala, Naira tersenyum pada Nadia.
"kamu kenapa senyum senyum?" ucap Nadia, Naira menggelengkan kepala dan masih tersenyum. "kamu darimana aja?"
"jalan jalan kok, oh iya ma boleh Naira bertanya?" ucap Naira, Nadia mengangguk dengan itu. "apa keluarga kita memiliki keturunan anak kembar?" tanya Naira, Nadia mengangguk tanpa melihat Naira. "benarkah, kenapa aku tidak tahu?"
"iya kamu lupa karena belum bertemu mereka setelah kecelakaan itu, kedua kakak mama itu kembar. Aidan dan Diana, mereka om dan tante mu yang sekarang tinggal diluar negeri. ya karena mereka kembar yang tidak seiras, orang tidak pernah tau kalau mereka itu kembar." jelas Nadia, Naira mengangguk dan tersenyum memegang perutnya. "kenapa kamu tanya itu?" tanya Nadia, Naira tersenyum dan berniat untuk memberitahu mereka yang disana tentang kehamilannya.
"sebenarnya, aku sedang hamil ma!" ucap Naira, seketika membuat keheningan disana. mereka semua menatap Naira yang tersenyum canggung, mereka menatap Naira seakan tidak percaya.
"Naira jangan becanda ya!" ucap Nadia, Naira mengangguk pelan dan memberikan hasil laporannya kepada Nadia. dengan membaca surat itu, Nadia menutup mulutnya dan tidak percaya hasilnya benar Naira sedang hamil.
"Kara kita akan mendapatkan cucu!" teriak Nadia, membuat suasana disana riuh karena bahagia. Nadia menunjukkan kertas itu pada Kara, semuanya merasa senang.
"kalau kakekmu masih ada, dia pasti sangat senang!" ucap ibu Kumala, Naira memeluk neneknya dan tersenyum.
"nenek jangan sedih, ini mungkin pengganti kebahagiaan kita setelah kepergian kakek!" ucap Riana disamping ibu Kumala, Naira mengangguk dan tersenyum. semua orang senang disana mereka masih membaca hasil laporan miliki Naira, Naira sendiri merasa tidak senang karena tidak ada kehadiran Adrian.
"kenapa semuanya bahagia?" Naira menoleh dan melihat Adrian berdiri depan pintu, dengan bahagia Naira berlari kearah Adrian. " jangan berlari!" ucap Adrian, tanpa mendengarkan Naira berlari dan memeluk Adrian.
"kamu datang, aku sangat merindukanmu!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan memeluk istrinya dengan erat. setelah menerima pesan Naira pagi itu, Adrian memutuskan untuk mendatangi Naira dan melepas rindunya.
"karena kau merindukanku, jadi aku datang!" saut Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum. Adrian masih melihat semuanya yang tersenyum bahagia, Naira melepas pelukannya dan menatap Adrian. "ada apa ini?" ucap Adrian, Naira tersenyum dan memegang perutnya.
"aku hamil!" ucap Naira, Adrian terdiam dan menatap Naira tanpa ekspresi. "a..anak.. kita..."
"katakan lagi?"
"aku hamil Adrian, aku hamil anakmu anak kita sayang!" ucap Naira senang, karena tidak bisa menahan rasa bahagianya Adrian memeluk Naira dan meneteskan air matanya.
"aku tidak percaya ini, katakan sekali lagi!" ucap Adrian memeluk Naira, dengan tawa Naira membalas pelukan Adrian.
"aku hamil, aku hamil, sudah 4 minggu aku hamil, ini anak kita!" ucap Naira berulang kali, Adrian merasa sangat bahagia mendengar itu. suara Naira hamil menggema ditelinganya, mimpi dan keinginannya sejak dulu sekrang menjadi kenyataan.
perjuangan yang selama ini dilalui Adrian dan Naira, adalah perjuangan yang sangat besar. sejak terpisah dimasa kecil sampai akhirnya mereka dipertemukan kembali, dan impian pernikahan mereka pun menjadi kenyataan. bahkan Adrian dengan setia mencintai Naira, walaupun keadaan yang harus menjauhkan mereka. cinta yang diperuntukkan Naira tetap besar dan tidak pernah hilang, meskipun cinta itu harus menyakiti dirinya sendiri.
"Adrian lepaskan aku, ada satu hal yang penting!" ucap Naira, dengan perlahan Adrian melepas pelukannya. Naira tersenyum melihat Adrian menangis karena bahagia, Naira menghapus air mata itu dengan senyuman.
"aku menangis bukan karena lemah, ini adalah air mata kebahagiaan." ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk.
"kau harus tahu satu hal lagi, ini sangat penting!" ucap Naira, Adrian merasa heran dan tidak mengerti dengan perkataan Naira.
"katakan, apa kau akan menambah kebahagiaanku hari ini?" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengeluarkan sebuah foto kecil disana.
"iya, mungkin ini akan membuat kebahagiaanmu menjadi berlipat lipat!" ucap Naira, Adrian mengambil foto kecil itu. Adrian terkejut melihat itu, karena foto kecil itu adalah hasil usg kehamilan Naira. "sayang, aku hamil anak kembar. dua sekaligus!" bisik Naira yang sengaja keras agar dapat didengar semuanya, Adrian tercengang tanpa ekspresi.
"Alhamdulillah!!" ucap semua orang bersamaan, semuanya mengambil foto hasil usg itu dan membenarkan perkataan Naira. Adrian merasa kakinya lemas, ia terhuyung kebelakang dan Naira memegangi tubuh Adrian.
"Adrian kamu kenapa?"
"aku tidak kuat dengan kebahagiaan ini, peluk aku Naira!!" ucap Adrian, Naira tertawa dan memeluk Adrian dengan erat. Naira merasakan kebahagiaan Adrian yang meledak, karena Naira juga merasa hal yang sama seperti Adrian.
"terima kasih Naira, terima kasih aku sangat bahagia!" ucap Adrian memeluk Naira, Adrian terkejut dengan kehamilan kembar itu. ia tidak menyangka, Tuhan akan memberikan nya dua sekaligus dalam satu waktu. kebahagiaan Adrian ini tidak bisa ditukar dengan apapun. "aku mencintaimu Naira, semoga kamu dan sikembar sehat selalu!"
"aku juga mencintaimu Adrian, bantu aku untuk menjaga mereka."