Do You Remember?

Do You Remember?
aku ingat.



Naira melihat sekelilingnya yang gelap, ia ingat sedang bertengkar dengan Adrian tapi kenapa bisa menjadi ruangan gelap. karena takut gelap Naira meringkuk tubuhnya sendiri, sampai suara seorang anak kecil membuatnya mendongakkan kepala.


"Nara!"


suara itu membuat Naira tidak asing, seorang anak laki laki yang terlihat familiar dimatanya. berdiri dengan senyuman dan sangat tampan, tapi terlihat wajah sendu pada matanya.


"kak Anan!!"


Naira menoleh kearah kanannya, dan melihat seorang anak perempuan menggunakan pakaian seragam sekolah sd. anak perempuan itu berlari menuju anak laki laki tampan itu, bahkan mereka saking berpelukan.


"kak Anan disini, Naira belum pulang. nanti dirumah saja mainnya." ucap anak itu dengan lucu, tapi Naira terkejut saat anak itu menyebut namanya. Naira.


"aku ingin menemui Nara disini, karena mau kasih ini!"


Naira terkejut melihat pemberian anak kecil itu, kalung itu tampak familiar baginya. Naira terus memperhatikan mereka dengan seksama, karena mereka sepertinya tidak bisa melihat Naira.


"wahh cantik sekali, ini buat Naira?"


lagi lagi Naira mendengar namanya disebut, Naira tidak mengerti dengan semua drama ini.


"ini hadiah dari kakak, lihat disini ada nama Nara dan Anan. Naira ingat ya, jangan lepas kalung ini. kalau kamu melepasnya, kakak akan sedih!"


"iya Naira janji, kalungnya sangat cantik!"


tiba tiba mereka terpisah, Naira mencegah itu. tapi tidak bisa, kedua anak itu terpisah dengan sendirinya.


"hei tunggu, kalian tidak boleh terpisah!" teriak Naira, saat Naira berlari mengejar Adnan kecil sebuah klakson mobil terdengar kencang. Naira menoleh dan terkejut sebuah mobil akan menabraknya, Naira berteriak dan menutup mata.


"tidak!!!"


*


*


*


Naira membuka saat merasakan sakit dikepalanya, saat terbangun Naira berada disebuah mobil. Naira ingat dimobil itu ia sedang bersama Adrian, dan semua itu hanya mimpi yang terasa nyata dalam dirinya. Naira melihat sampingnya, ia melihat Adrian yang tertidur disampingnya. dengan damai Adrian tertidur, lalu teringat mimpinya beberapa saat lalu.


Naira teringat wajah anak laki laki yang ada dalam mimpinya, ia juga menatap wajah Adrian yang tertidur. semakin kama jika diperhatikan, wajah mereka sangat mirip Naira yakin dengan itu.


"Nara..." ucap Naira lirih, suara itu membuat Adrian terbangun. Adrian menatap Naira yang sedang menatapnya tanpa bicara.


"Naira ada apa, apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Adrian, Naira mengingat sebelumnya telah berdebat dengan Adrian. mereka berdebat dengan hubungan mereka bahkan menyebutkan suami istri.


"apa maksud dari kita suami dan istri?" tanya Naira, Adrian terkejut dengan itu. kenapa Naira ingat, bukankah David bilang Naira akan melupakan apa yang terjadi sebelumnya. Adrian tidak ingin mengatakan hal lebih, sebelum itu Adrian menormalkan wajahnya.


"kamu pasti mimpi, lihat kamu itu tidur sudah lama dan masih mengigau lagi!" ucap Adrian mengalihkan perhatian, Naira menarik tangan Adrian yang berusaha mengalihkan pandangannya dari Naira. Naira semakin yakin Adrian menyembunyikan sesuatu darinya, Naira menatap wajah Adrian yang penuh kepanikan.


"apa anda tidak menyembunyikan sesuatu dari saya?" ucap Naira lirih, Adrian perlahan mengangguk. Naira memilih untuk diam, ia melepas lengan Adrian dan melepas sabuk pengaman.


"saya pulang dulu, kepala saya pusing pak. maaf tidak bisa menemani anda, dan juga mungkin besok saya libur sehari!" ucap Naira, Adrian terdiam dengan itu. Naira pergi setelah mengatakan itu, Adrian menatap kepergian Naira yang tanpa menoleh kearah nya lagi.


"aku ingin sekali mengatakannya Naira, tapi aku tidak ingin membuat tubuhmu bereaksi." ucap Adrian sendiri, satu butir air mata menetes di pipi Adrian.


****


keesokan harinya Naira masih tidak masuk bekerja, sesuai perkataannya. Naira berjalan jalan disekitar rumah nya, bahkan Naira berjalan sampai disebuah taman. Naira membeli susu coklat disana, Naira menikmati susu coklat itu. meskipun ingatan Naira yang terhapus, tapi semuanya masih sama kesukaan Naira dan juga favorit Naira.


saat melihat susu coklat itu, Naira terbayang sesuatu yang berhubungan dengan minumannya. tapi remang remang dimata Naira menampilkan Adrian, semenit kemudian Naira menggelengkan kepala mencoba menghilangkan hal aneh itu. Naira teringat dengan mimpi kemarin, dan belum berniat untuk mencari tahu sendiri.


saat pandangannya ke arah jalan raya, terlihat seorang anak kecil sedang memungut kucing disana. anak itu tidak tahu kalau sebuah mobil berjalan kearahnya, Naira meletakkan minumannya dan berlari menghampiri anak itu.


"awas!!" teriak Naira, secara bersamaan suara klakson mobil berbunyi nyaring. seketika kejadian itu membuat perhatian semua orang, dengan cepat Naira menghentikan mobil itu dan memeluk anak kecil didepannya. semua orang terkejut karena hampir saja mereka tertabrak mobil, semua orang berkumpul disana.


"hei pak bagaimana kalau menyetir?" teriak seorang wanita paruh baya, seseorang berdebat dengan supir taksi disana. Naira sendiri merasa sakit pada lututnya, kemudian menatap anak kecil yang sedang meringkuk dihadaoannya.


"hei kamu gak papa kan, apa ada yang sakit?" tanya Naira, anak perempuan itu mendongakkan kepala dan menatap Naira. terlihat wajah sedih disana, Naira merasa bingung karena mungkin anak itu merasakan sakit. "mana yang sakit, aku akan membelikanmu minum!" ucap Naira, tiba tiba anak perempuan itu memeluk Naira dan membuat Naira terkejut tidak mengerti.


"kakak Naira!!" ucap gadis itu, Naira terkejut dan terdiam dengan suara anak itu. Naira merasa anak itu menangis ketakutan, bahkan tubuhnya gemetar. Naira membawa anak itu kepinggir jalan, Naira melihat seluruh tubuh anak itu tapi tidak terluka sama sekali.


"kamu tidak terluka, tenang saja!" ucap Naira, anak itu mengangguk pelan. Naira tersenyum dan mengelus rambut anak itu, Naira merasa tidak asing pada anak itu. tapi entah dimana Naira melihatnya, hati Naira sangat mengenal anak itu meskipun Naira tidak mengenal anak itu. ia merasa sangat dekat, apalagi saat menyentuh pipi Anak itu.


"Nanda!!" teriak suara yang dikenal Naira, Naira menolehkan kepala keasal suara itu. matanya langsung tebelalak ketika melihat pemilik suara, yang tidak lain adalah Adrian dan anak kecil itu adalah Nanda adik Adrian. Nanda berlari kearah Adrian dan langsung memeluk Adrian karena ketakutan, Naira melihat itu merasa tidak heran. karena merasa mengenal Nanda, karena memang wajahnya mirip dengan Adrian. Naira tersenyum sendiri melihat itu, Adrian sendiri menatap Naira yang berdiri agak jauh.


"hai pak!" ucap Naira menghampiri Adrian, dengan senyum Adrian mengangguk. ia tidak menyangka Naira ada disana, bahkan menyelamatkan adiknya dari mobil taksi itu. Adrian melihat lutut Naira yang tergores dan tatapannya menjadi tajam ke arah lutut itu, Nanda menoleh kearah Naira dan menunjuk Naira.


"kak, kak Naira nyelametin Nanda dari mobil itu!" ucap Nanda, lagi lagi Nanda memanggil Naira dengan lengkap namanya. Naira terdiam menatap dengan heran, Adrian sendiri tidak bisa mencegah Nanda yang tidak tahu apapun.


"Nanda kakak sudah bilang jangan berlari mengambil kucing itu, untuk saja ada gang nyelamatin kamu!" ucap Adrian, Nanda mengangguk. Naira masih terdiam dengan herannya, bahkan masih terdiam ketika Nanda mendatanginya.


"kakak, ayo ikut Nanda pulang. mama pasti senang melihatmu, papa juga sangat merindukanmu!" ucap Nanda, Naira tersenyum kemeskipun tidak mengerti maksud Nanda. "mama akan mengobati lutut kakak, ayo pulang kerumah sekarang!" ucap Nanda lagi, Adrian menarik Nanda saat melihat perubahan wajah Naira.


"Naira maafkan adik saya, dia memang selalu bersikap akrab pada orang asing!" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan itu. akhirnya Naira memaklumi Nanda, ia mengusap rambut Nanda dengan senang.


"orang asing, sejak kapan kakak Naira orang asing!" ucap Nanda, Naira semakin tertarik dengan perkataan Nanda. Adrian semakin panik karena pembicaraan ini semakin serius, Adrian juga tidak bisa mencegah Nanda yang terus bicara.


"jadi, apa kakak mengenalmu?" tanya Naira lembut, Nanda mengangguk dan menatap Adrian.


"biarkan dia bicara!" ucap Naira menekan, Adrian hanya tidak bicara dan tidak bisa mencegah itu. "katakan, apa hubunganku denganmu?" tanya Naira lagi, dengan cepat Adrian menggendong Nanda. sebelum semuanya terlambat Adrian membawa Nanda pergi dari sana, Naira terkejut dan hanya memperhatikan mereka dari jauh. keputusan Naira untuk mencari tahu semakin bulat, karena Naira sudah curiga dari awal. tidak mungkin Adrian menyukai nya hanya dalam waktu singkat, ada rahasia sedang disembunyikan darinya. seluruh pertanyaan menghantui otak Naira,


"aku akan cari tahu, aku ingin tahu semuanya!"


***


Adrian datang kekantor siang dihari yang sama, Adrian merasa pusing memikirkan masalah Naira. rasa mual menyelimutinya, lagi lagi mual itu terasa. hal lucu terbayang diotaknya, ia mengelus perutnya. jika wanita mual itu akan disebut gejala hamil, lalu jika dirinya mual disebut apa ya. Adrian tertawa sendiri dengan pemikirannya, sempat sempatnya dia memikirkan hal itu.


tapi rasa mualnya sudah tidak kuat, Adrian berjalan cepat keluar dari ruangannya. Adrian menuju toilet dan memuntahkan semua isi perutnya, dan semua yang muntahkan hanya air disana. asam lambung Adrian naik lagi, dan itu membuatnya kesal. setelah keluar dari toilet Adrian terduduk di sofa, dan perlahan menutup matanya untuk tidur sebentar.


"aku merindukanmu Naira, sangat merindukanmu!"


"kenapa kau merindukanku?"


Adrian membuka mata setelah suara itu terdengar, terlihat Naira berdiri disamping pintu disana. Naira berjalan kearah Adrian yang terduduk, Adrian perlahan berdiri untuk menanyai Naira yang datang.


"kenapa kamu datang, kamu kan cuti!"


"siapa Nara?" ucap Naira tiba tiba, Adrian terkejut dengan itu. ia tidak akan menyangka Naira menanyakan hal itu, bukannya menjawab Adrian hanya terdiam. "lalu siapa kak Anan?" ucap Naira lagi, Adrian semakin terkejut dengan itu. secara bersamaan kepalanya berdenyut kencang, ia tidak ingin membalas perkataan Naira.


"aku hanya bertanya siapa mereka, tapi anda tidak menjawab, aku ingin tahu pak, apa kita memiliki hubungan dimasa lalu. katakan, aku ingin tahu?" tanya Naira menuntut, Adrian semakin tidak terkontrol. rasanya denyutan kepala dan rasa mual yang bersamaan membuatnya lemah. saat Adrian ingin membalas perkataan itu, tiba tiba saja pandangannya kabur. Adrian merasa lemas pada kakinya, dan tidak lama kemudian Adrian terjatuh di sofa tidak sadarkan diri.


Naira terkejut dan merasa panik, Naira berlari keluar untuk meminta pertolongan. Naira mengangkat tubuh Adrian dalam pangkuannya, sampai Johan dan yang lain datang. dengan cepat Johan mengangkat tubuh Adrian dan berniat membawanya kerumah sakit. Naira panik setengah mati, ia mondar mandir didepan ruang icu. sampai Johan dan Siska datang, Naira menatap ruang icu tempat Adrian dirawat.


"dia sakit lagi, aku tidak tahu!" ucap Naira terduduk, Johan mencoba menenangkan Naira yang sedih.


"ada apa, apa kalian berdebat?" tanya Johan, Naira mulai terisak. Naira berpikir Johan adalah sahabat Adrian, mereka pasti tahu tentang kehidupan Adrian. belum Naira bertanya, seorang dokter datang menghampiri mereka.


"keluarga pasien?"


"iya dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Naira dengan cepat, dokter itu menciba menenangkan Naira.


"ini karena stres dan kelelahan yang secara bersamaan, hingga membuatnya lemah dan tidak bertenaga. aku sudah memberinya vitamin penambah cairan, sekarang pasien sedang tidur. kalian bisa mengunjuginya tali jangan membuat kebisingan!" ucap dokter setelah itu pergi dari sana, Naira terkejut dan khawatir secara bersamaan. kenapa Adrian bisa stres, apa yang sedang ia pikirkan sampai menjadi stres.


"kenapa pak Johan, kenapa dia bisa stres?" tanya Naira, Johan mengangguk.


"itu terjadi sejak empat bulan yang lalu, perubahan sikapnya berubah drastis. seorang pria yang doyan makan menjadi tidak doyan karena suatu hal, jangankan memakannya melihatnya saja Adrian akan membuang makanan itu." jelas Johan.


"kenapa, ada apa dengan empat bulan lalu?" tanya Naira, Johan menoleh kearah Naira yang menuntutnya untuk menjawab.


"kamu ingin tahu?" ucap Johan, Naira mengangguk kuat dengan itu. Johan menatap Adrian yang masih tidur, dan memberanikan dirinya. "ini tentang kalian!" ucap Johan, Naira terkejut dengan itu.


"katakan, apa hubungan aku dan pak Adrian dimasa lalu. kenapa dia begitu dekat denganku, bahkan aku merasakan hal yang familiar dengannya. setiap sentuhannya, setiap perilakunya. katakan padaku, kenapa?"


"kamu akan tahu Naira, Adrian belum mengatakannya kan. itu artinya dia memiliki rencana sendiri, hal yang harus kamu lakukan sekarang adalah tetap bersamanya. dia membutuhkan dirimu, bukan hanya sekarang mungkin dulu juga!" ucap Johan setelah itu meninggalkan Naira, Naira tidak mengerti dengan perkataan Johan. ia mendekati Adrian yang tertidur, Naira mengusap wajah Adrian yang terlihat pucat.


"apakah kamu kekasihku, apakah kita mempunyai hubungan sedekat itu dimasa lalu. siapa yang akan menjawab pertanyaan ini, aku ingin sebuah jawab darimu!"


"aku akan menjawabnya!"


suara seseorang membuat Naira menoleh, Naira melihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri diambang pintu. Naira mengusap air matanya yang sempat menetes, Naira tidak tahu siapa wanita itu.


"maaf anda siapa?" tanya Naira lirih, wanita itu menghampiri Adrian dan mengusap kepala Adrian yang tertidur.


"karena aku, karena aku putraku tersiksa seperti ini!" ucapnya menangis, putraku itu artinya ia adalah ibu Adrian yang tidak lain adalah Amelia. Naira mengelus pundak Amelia dengan lembut, Amelia menoleh kearah Naira. Amelia segera datang ketika Johan menelfonnya, disepanjang jalan Amelia hanya bisa menangis.


"maafkan aku, maafkan aku Naira!" ucapnya memohon, Naira menggelengkan kepala kuat.


"tidak. kenapa anda minta maaf?" ucap Naira, Amelia sedih Naira tidak mengingatnya sama sekali. Amelia tersenyum dan mengusal pipi Naira, semenit kemudian air mata menetes dipipi Amelia.


"karena aku kalian menderita, kau harus kehilangan ingatanmu tentang kami semua!" ucapnya, Naira terdiam karena tidak mengerti maksud Amelia. "bahkan kamu melupakan Adrian, dia adalah suamimu Naira. suamimu sebelum kecelakaan mu terjadi!" rasa badai sedang bergemuruh dihati Naira, rasa tidak percaya menyelimutinya. suami bagaimana mungkin Adrian adakah suaminya, itu tidak mungkin terjadi.


"kalian menikah empat bulan yang lalu, setelah seminggu pernikahan kalian kecelakaan itu terjadi. demi menyelamatkan aku dari kecelakaan itu, kamu harus dirawat dirumah sakit dan koma beberapa hari. bahkan saat kamu membuka mata, kamu melupakan kami semua!" ucap Amelia terisak, Naira masih terdiam dengan perkataan Amelia. "demi melindungimu Adrian rela menjauh dari mu selama empat bulan, karena setiap kali kamu mengingat Adrian tubuhmu akan bereaksi tidak terkontrol. bahkan saat proses penyembuhanmu, Adrian rela jauh dari kamu dan itu adalah hal berat baginya. disaat seorang suami harus menemani istrinya, Adrian tidak bisa melakukan itu karena tubuh istrinya tidak mendukung dirinya.!" jelas Amelia lagi, Naira tidak percaya dengan itu.


"tidak mungkin, pak Adrian tidak mungkin suamiku. kamu pasti berbohong." ucap Naira masih tidak percaya, kenapa ia tidak ingat tentang Adrian. bahkan seperti tidak pernah terjadi apapun, kenapa ia tidak mengingat satu hal pun tentang mereka.


"orang tua berbohong untuk kebaikan anaknya, tapi untuk apa aku berbohong tentang hubungan kalian. kalian adalah kekasih dimasa kecil, tidak ingatkah kau pada kak Anan mu?" ucap Amelia lagi, Naira teringat pada mimpinya kemarin jadi anak laki laki itu adalah Adrian dan anak perempuan itu adalah dirinya. pertanyaan setiap pertanyaan terjawab dalam otaknya, bayangan Adrian terus muncul disana. bahkan bayangan dirunya memakai gaun pernikahan terlihat jelas, saat Adrian mengulurkan tangannya untuk menaiki aula pernikahan. semua terlihat jelas dimata Naira, dan sebuah lamaran yang begitu indah terlihat jelas membuat Naira membalakkan matanya. tapi seiringin ingatan itu terlihat, seketika juga membuat Naira berteriak kesakitan karena kepalanya berdenyut keras.


"akhh... sakit, sakit sekali." teriak Naira, Amelia menjadi panik dengan itu. Amelia memencet tombol perawat, tapi perawat sangat lambat datang.


"Naira kamu tidak papa kan, dokter!!" teriak Amelia menopang tubuh Naira yang teruhuyung, Naira terus melihat bayangan setiap bayangan dikepalanya dan membuat merasa sakit yang luar biasa.


"mama!!" teriak Naira memegang kepalanya, Amelia masih memencet tombol darurat perawat. "papa..." ucap Naira lagi, Amelia semakin panik karena dokter atau pun perawat tidak kunjung datang. "papa Vano!!!" teriak Naira, Amelia terkejut dengan itu. karena Naira tidak pernah bertemu Vano sebelumnya, kenapa sekarang Naira menyebutnya.


"Naira bertahan lah!" ucap Amelia, Naira merasa lemas dan mulai tidak sadarkan diri dalam dekapan Amelia. sebelum Naira tidak sadarkan diri sepenuhnya, mulutnya bergumam dengan sendirinya


"aku ingat!"


***


Maaf jika ada typo, author sibuk tapi menyempatkan untuk up loh. hehe makasih ya...


jangan lupa like, komen dan vote kalian😍