
setelah membawa pak Wijaya kerumah sakit, Riana menelfon Kara untuk memberitahu keadaan pak Wijaya. ibu Kumala terua menangis dengan keadaan suaminya, karena memang pak Wijaya mempunya riwayat penyakit jantung. Riana datang membawa segelas air untuk semuanya, Riana terduduk disamping Naira dan menyandar dipunggung Naira.
"kakek akan baik baik saja!" ucap Naira lirih, Riana mengangguk dengan lemah.
"kenapa mendadak serangan jantung, padahal kemarin kakek masih sehat!" ucap Riana, Bagas menoleh dan menatap ibu Kumala.
"kakekmu memang mempunyai riwayat jantung, tapi nenek tidak tahu kenapa sekarang seperti itu!" ucap ibu Kumala, Naira mengelus neneknya itu. setelah beberapa menit, dokter keluar dan menemui mereka.
"apa yang terjadi dokter?"
"benar perkataanmu, dia serangan jantung. tapi serangan jantung ini sedikit hebat, tolong jaga dirinya baik baik. karena pak Wijaya sudah mengalami serangan jantung 2 kali dan ini yang ketiga, saya tidak bisa mengatakan apapun!"
"apa maksudmu dokter?" ucap Bagas, dokter itu tersenyum.
"jaga kakek kalian dengan baik, sekarang pasien sedang istirahat. tolong jangan membuat keramaian, biarkan pasien istirahat dengan cukup!"
setelah kepergian dokter, mereka semua masuk kedalam ruangan pak Wijaya. terlihat pak Wijaya tidur dengan tenang, ke khawatiran mereka sudah menghilang. tidak berapa lama pak Wijaya membuka matanya, ia tersenyum melihat ibu Kumala yang tersenyum dengan menghapus air matanya.
"kamu kenapa menangis, aku baik baik saja!" ucap pak Wijaya dengan lembut, ibu Kumala mengangguk senang dengan itu. Bagas membantu mendudukan pak Wijaya, Bagas merasakan tubuh kakeknya yang lemah.
"apa yang terjadi padamu kakek, kenapa tiba tiba seperti ini?" tanya Bagas, pak Wijaya menoleh kearah Bagas dan melihat Riana bersama Naira.
"kakek sudah tua, hal seperti itu sering terjadi. Riana Naira, kemarilah kalian cucuku!" ucap pak Wijaya dengan lemah, Riana dan Naira pun mendekat dan mencium tangan pak Wijaya.
"kakek kami disini, jangan sakit lagi ya kami sangat mencintai kakek!" ucap Naira, pak Wijaya tersenyum dan mengusap rambut kedua cucunya sekaligus.
"kakek tidak ingin melihat kalian bertengkar, kakek juga tidak mau kalian meributkan sesuatu yang bukan hak kalian. kalian harus mengerti kalau kalian adalah saudari, seorang saudari harus ada yang mengalah!" ucap pak Wijaya, Riana terkejut mendengar itu. Riana bertanya tanya apa kakeknya tahu sesuatu, tahu tentang perasaannya pada Adrian.
"Naira janji, Naira dan Riana akan menjadi saudari yang rukun. kami tidak akan bertengkar ataupun berebut yang bukan hak kami, dan insyallah kami akan selalu mengalah satu sama lain!" tegas Naira, Riana tersenyum dan mengangguk.
"iya kakek, kami janji itu!" saut Riana, pak Wijaya tersenyum dan merentangkan tangan untuk memberikan pelukan. Riana dan Naira tersenyum kemudian langsung memeluk kakek mereka dengan erat, semuanya melihat itu merasa terharu dan juga senang.
tidak terasa pagi hari menjadi malam hari, ibu Kumala menyuapi suaminya dengan penuh cinta. disana masih dengan keberadaan Bagas dan juga yang lainnya, mereka masih menemani pak Wijaya sampai diperbolehkan pulang. Bagas memperhatikan wajah Naira yang pucat, ia memegang dahi Naira dengan tangannya.
"Adrian bawa dia pulang dulu, badannya sangat dingin!" ucap Bagas, dengan cepat Naira menggelengkan kepala.
"aku mau disini, mau menemani kakek!" ucap Naira, Bagas melotot kearah Naira.
"Naira kamu pulang saja, bukan kah kamu sedang tidak sehat?" ucap ibu Kumala, Naira menoleh kearah pak Wijaya yang mengangguk.
"Adrian?" ucap Bagas, Adrian mengerti dengan panggilan itu.
"iya kak, ayo Nara kita pulang!" ucap Adrian, Naira mengembungkan kedua pipinya. dan akhirnya Naira setuju dengan itu, sebelum keluar dari sana pintu terbuka dan penampilkan Kara disana.
"papa, papa apa yang terjadi?" ucap Kara, Kara tidak sendiri melainkan diikuti keberadaan Nadia, Risa dan juga Febriyan.
"Kara, mama merindukanmu!" ucap ibu Kumala, Kara memeluk sang ibu dengan erat karena juga merasakan rindu.
"papa tidak apa apa, siapa yang memberitahu kalian?" ucap pak Wijaya, Kara melihat sekelilingnya dan melihat Riana berdiri disamping Bagas. "Riana kenapa kamu menghubungi mereka, jadi ramaikan sekarang!" ucap pak Wijaya, Kara kesal dan duduk disamping pak Wijaya.
"kenapa, apa aku bukan lagi putramu. katakan padaku, bagaimana ini bisa terjadi lagi?" ucap Kara, pak Wijaya tersenyum melihat putranya itu.
"kau berkeringat, pulanglah kau dan yang lain pasti lelah!"
"papa kau mengalihkan pembicaraan, aku sedang bertanya bagaimana ini bisa terjadi?" saut Kara dengan tegas, bukannya menjawab pak Wijaya malah tersenyum saja.
"hm... aku senang melihat kalian semua, aku ingin pulang sekarang!" ucap pak Wijaya, Kara masih dengan kekesalannya. Nadia mengelus punggung Kara untuk meredakan amarahnya, Kara berdiri dan duduk disofa yang diduduki Bagas.
"papa, papa harus banyak istirahat. jangan memikirkan apapun, kami semua sangat menyayangimu!" ucap Nadia, pak Wijaya mengangguk lalu melihat Risa yang sedang memeluk Riana.
"Risa..." Risa menoleh saat dipanggil, Risa menghampiri pak Wijaya dengan senyuman.
"iya om, ada apa?" ucap Risa, pak Wijaya mengelus kepala Nadia dan Risa secara bersamaan.
****
keesokan hari nya pak Wijaya diperbolehkan pulang, karena kondisi pak Wijaya yang lemah ia harus duduk dikursi roda. Nadia mendorong ayah mertuanya itu, dengan rasa sayang dan cinta. pak Wijaya sangat senang karena rumahnya ramai, semuanya duduk satu meja bersama pak Wijaya.
"baiklah sekarang kita semua berkumpul, Kita akan sarapan bersama sama hari ini. kakek pasti sangat senang, karena anak dan cucunya berkumpul disini. oh iya bagi Daniel anggap kita semua adalah keluarga, jadi jangan merasa orang asing ya..." ucap Naira, semua orang tersenyum dengan itu. "jadi sebelum, Riana ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua. kalian harus mendengarkannya, ayo Riana silahkan!"
" Riana ingin minta maaf pada kalian semua, papa, mama, om, tante, Riana pergi tanpa bilang pada kalian. Riana menyesal melakukan itu, Riana janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. dan untuk mama, Riana minta maaf karena sudah membuat mama bersedih hingga sakit."
"mama maafkan sayang, mama juga minta maaf ya!" ucap Risa, mereka saling berpeluk disana. Riana juga memeluk dan minta maaf pada Febriyan.
"dan sekarang mari kita sarapan!" ucap Naira, semuanya tersenyum dan mulai makan sarapan mereka masing masing.
setelah sarapan mereka semua berkumpul dihalaman rumah itu, mereka mengobrol dan bercanda disana. pak Wijaya meminta pada Riana untuk membawanya kedalam rumah, dengan beralasan pak Wijaya ingin meminum air.
"kakek tunggu sini ya, Riana akan ambil air untuk kakek!" ucap Riana, ia mulai mengambil gelas yang berisi air. Riana memberikan air pada kakeknya, dan tersenyum melihat itu.
"kakek tahu satu hal tentang kamu sayang!" ucap pak Wijaya, Riana terkejut dengan itu. "kemarilah!" ucap pak Wijaya, Riana duduk disamping kakeknya.
"ka..kek.. apa yang kakek tahu?" ucap Riana bergetar, pak Wijaya mengelus rambut Riana dengan sayang.
"kakek mendengar pembicaraanmu dengan Bagas kemarin malam, kakek mendengar semuanya!" ucap pak Wijaya, Riana terkejut untuk berulang kali. dugaan Riana benar, pak Wijaya mendengar pembicaraannya dengam Bagas malam itu. Riana tidak kuasa menahan air matanya, karena nya mungkin penyakit kakeknya kambuh.
"kakek maafin Riana, karena itu kakek menjadi seperti ini. hiks... hiks..."
"kakek tidak berniat menguping, saat itu kakek ingin memanggil kalian. kakek juga melihatmu menangis bersama David, kakek sangat sedih Riana." ucap pak Wijaya, Riana semakin menangis dengan itu. "turuti saran kakek hari ini!"
"kakek berikan saran sebanyak yang kakek mau, Riana akan menuruti kakek Riana berjanji!" ucap Riana berjongkok dihadapan pak Wijaya, dengan senyum pak Wijaya mengangguk.
" simpan rasamu pada Adrian, jangan beritahu pada Naira ataupun yang belum mengetahui ini. kakek ingin kamu bahagia seperti yang lainnya, jangan membuat kebahagiaan yang akan merugikan orang lain!" ucap pak Wijaya lembut, Riana mengangguk dan tersenyum
"Riana janji kakek, Riana akan melakukan itu!" ucap Riana menidurkan kepalanya, pak Wijaya mengelus kepala Riana.
"sayangi Naira, sayangi adikmu yang polos itu. kalian harus saling menyayangi!"
"iya kakek, Naira adalah adikku. tidak akan aku biarkan Naira menangis, kebahagiaan Naira adalah kebahagiaan Riana juga kakek. dan...." ucapan Riana terhenti, karena Riana merasakan tangan pak Wijaya berhenti mengelus kepalanya. Riana mendongakkan kepala, Riana terdiam melihat pak Wijaya tertidur lelap.
"kakek kenapa kakek tidur tidak bilang, ayo akan Riana antar ..." Riana menyentuh pipi pak Wijaya dan merasa dingin disana, "Riana... ti... tidak akan... menjadi... seperti mama... Riana... jan... janji... hiks... haaahh... kakekk!!" isak tangis Riana meledak, karena tidak merasakan nafas pak Wijaya. semua yang ada diluar mendengar isak tangis Riana, mereka berlari secara bersamaan.
"ma...ma..., papa..."
"Riana ada apa?" ucap Bagas, mereka terkejut melihat Riana menangis dihadapan pak Wijaya.
"papa ..." ucap Kara, ia mendekat kearah pak Wijaya dan seketika terkejut.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" suara Kara membuat semua orang terkejut, karena orang yang mereka cintai telah meninggal dunia. semuanya melemas disana, Kara menangis disamping pak Wijaya.
"kakek, kakek bangun. ini Naira kek, katanya makek sayang Naira. kakek bangun.. Adrian ayo bangunin kakek, ayo!!!" ucap Naira menarik Adrian, dengan lemah Adrian memeluk Naira yang menangis.
"kakek sudah pergi, dia sudah pergi Naira!" ucap Adrian, tangis Naira meledak disana.
"suamiku, kenapa kau meninggalkan aku. ingat janji kita untuk selalu bersama, suamiku ..." ucap ibu Kumala setelah itu tidak sadarkan diri, Bagas menggendong tubuh ibu Kumala kedalam kamar. Nadia dan Risa mengikuti ibu Kumala, mereka merawat ibu Kumala yang tidak sadarkan diri.
Riana masih menangis disamping kakeknya, Riana mengutuk dirinya sendiri dan menyalahkan dirinya atas meninggalnya pak Wijaya. Adrian dan Kara mengangkat pak Wijaya dengan perlahan, dan mereka tidak kuasa menahan isak tangis melihat pak Wijaya. Naira mendekati Riana yang masih menangis dilantai, Naira memeluk tubuh Riana.
"jangan menangis, kakek akan sedih!" ucap Naira, Riana tersentak dan semakin menangis dalam pelukan Naira.
"salahku, semuanya salahku Naira. hiks.. hiks... aku salah Naira... salahku... haaahh... hah..." Naira mengelus punggung Riana, Ia merasakan Riana yang merasa terpukul.
"sudah ini bukan salahmu, bukan!"
****