Do You Remember?

Do You Remember?
Riana Daniel Story 3.



setelah mendapat perawatan dokter, Karin harus menggunakan tingkat untuk berjalan. kakinya yang terkilir membuatnya susah untuk berjalan, dengan perlahan ia berjalan untuk pulang kerumahnya. Karin memikirkan Riana yang melihat nya bersama Daniel, Karin memiliki ketakutan dengan Riana yang akan membencinya.


"Riana tidak boleh salah paham padaku, aku harus menyatukan mereka!" gumam Karin yakin, ia tahu kalau keduanya saling mencintai tetapi tidak mengerti dengan perasaan mereka. saat sedang asik berpikir, tanpa sengaja seseorang menyenggolnya, membuat Karin terjatuh karena tidak bisa menyanggah tubuhnya sendiri.


"maaf kan aku, aku tidak sengaja!" ucap seseorang mengambil tongkat Karin yang terlempar, Karin mengangguk dan mengambil tongkat itu. "maafkan aku nona, aku tidak melihatmu tadi!" ucap seorang pria itu lagi, ia membantu Karin berdiri dan memberikan tas Karin bersamaan.


"tidak masalah, aku baik baik saja!" ucap Karin mendongak kan kepala, Karin menatap pria itu dengan seksama dan seakan mengenal pria itu. karena tidak lain pria itu adalah Ridwan, tanpa melihat jalan Ridwan menabrak Karin yang sedang sibuk menelfon.


"kau ..."


"kau teman Riana kan?" sela Karin, Ridwan mengangguk dan tersenyum.


"iya, dan kau teman Daniel?" Karin mengangguk dan tersenyum, Ridwan melihat keadaan kaki Karin dengan seksama. "apa kau yakin baik baik saja?" ucap Ridwan, Karin mengangguk dan tidak lupa dengan senyumnya.


"aku nggak papa kok, oh iya aku Karin!" ucap Karin mengulurkan tangan, dengan senyum Ridwan menerima uluran tangan itu.


"iya aku Ridwan, dan juga aku dokter spog disini!!" ucap Daniel, mereka saling tersenyum dan kemudian pergi masing masing. mereka berjalan kearah yang berlawanan, Ridwan berbalik untuk melihat kepergian Karin dibelakangnya. entah kenapa ia merasa Karin yang dilihatnya sekarang sangat manis, gadis yang terlihat polos dan juga sederhana. Ridwan tersenyum sendiri dengan pemikirannya, "ada apa denganmu Ridwan, sudah sejak lama terkahir aku jadi playboy!" gumam Ridwan dan pergi dari sana, ia masih tersenyum sendiri.


Daniel membawa Riana kerumah sakit, rayuan dan bujukannya membuat Riana menurutinya. sampainya diruangannya Daniel memeriksa kaki Riana, lalu berganti merawat telapak tangan Riana. Daniel menatap Riana yang sedari tadi diam, terlihat matanya berair dan masih bengkak karena menangis. Daniel masih tidak mengerti kenapa Riana menangis, dan mengatakan sangat sakit yang teramat. sakit apa itu !


"boleh aku bertanya?" ucap Daniel memecah keheningan ruangan itu, Riana menoleh dan menatap Daniel.


"katakan !" saut Riana singkat, Daniel berniat menanyakan satu hal kepada Riana tentang hal yang dibilangnya sangat sakit.


"kamu bilang tadi sangat sakit, bagian mana yang membuatmu sakit?" tannya Daniel, Riana terkejut dengan itu. tidak mungkin dirinya mengatakan pada Daniel, ia sakit hati melihat Daniel dan Karin. seketika membuat Riana teringat pada kejadian beberapa saat lalu, Riana memejamkan matanya dan menggelengkan kepala.


"tidak ada, kalau sudah selesai aku akan pulang!" ucap Riana berdiri, sebelum Riana pergi Daniel menarik tangan Riana.


"apa?" ucap Riana, Daniel menggelengkan kepala dan melepas tangan Riana dengan tersenyum.


"kamu tidak bisa pergi dari sini!" ucap Daniel menaikkan satu alisnya, Riana menyipitkan matanya menatap Daniel.


"kenapa, aku hanya tinggal pulang dengan mobilku. aku juga tahu rumahku, aku tahu juga jalan yang harus dilewati!"


"iya benar, tapi kamu bisa pergi jika kunci mobilmu ada padamu!" ucap Daniel lalu mengeluarkan sebuah kunci mobil, kunci itu adalah milik mobil Riana.


"berikan kunci itu!" ucap Riana menadahkan tangannya, Daniel menggelengkan kepalanya.


"kemarilah maju dan ambil kuncinya!" ucap Daniel menggelantungkan kunci mobil itu ditangannya, hal itu membuat Riana kesal tapi tetap kakinya melangkah mendekat kearah Daniel.


"berikan Daniel, aku ingin pulang sekarang!" ucap Riana lagi, Daniel yang ingin Riana tetap disana terus mempermainkan Riana. Daniel menggelengkan kepala, dan mengisyaratkan Riana untuk lebih maju lagi. dan ajaibnya Riana yang kesal tetap maju, ia memasang wajah datar kearah Daniel. "Daniel aku masih sabar cepat berikan padaku, aku sangat lelah dan ingin pulang ! berikan kuncinya!"


"ambil sendiri, jika tanganmu sampai mencapai tanganku!" ucap Daniel meninggikan tangannya, habis sudah kesabaran Riana dengan itu. dengan cepat Riana berjalan dan menggapai tangan Daniel, tapi gagal karena tinggi badannya yang tidak setinggi Daniel. "berdirilah, maka kamu bisa mengambilnya!" ucap Daniel, Riana melotot kearah Daniel dan berusaha mengambil kuncinya.


"Daniel ja ... jangan ... mem ... permainkan aku ... be-ri-kan pa-da kuu ..." ucap Riana tersendat akibat usahanya mencapai kunci mobilnya, Daniel hanya tertawa meledek. tanpa disadarinya tubuh Riana sangat dekat dengan tubuhnya, Daniel menatap wajah Riana yang sangat dekat dengannya sekarang. mungkin jika Daniel maju sedikit saja, maka dirinya akan mencium pipi Riana atau juga dahinya. sampai kaki Riana yang kram berjinjit, membuatnya jatuh dan Daniel langsung menangkapnya. Daniel yang juga tidak seimbang akhirnya membuat mereka jatuh diatas meja, membuat Riana jatuh diatasnya.


"Riana, kamu kenapa?" ucap Daniel setelah melihat Riana terdiam, Riana sendiri memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya tepat didepan dada Daniel.


"sakit sekali ..." Daniel terkejut, sakit, bagaimana bisa. bukankah yang sakit seharusnya dirinya, kenapa malah Riana yang sakit. "kakiku Daniel, aduh ..." ucap Riana lagi, Daniel langsung menjauhkan Riana dari pelukannya. dan dengan gerakan cepat Riana mengbil kunci mobil nya, Riana menjauhkan dirinya dan tersenyum menang.


"yes, aku mendapatkan nya!" ucap Riana tersenyum menang, Daniel terlihat terkejut karena Riana sudah mengelabuhinya.


"kamu membohongiku!"


"salah sendiri kamu lengah, sudahlah aku mau pulang!" ucap Riana melambaikan tangannya, saat Riana akan pergi langkahnya terhenti dihadapan pintu yang tertutup. tubuhnya membeku seketika, karena mendapat pelukan dari Daniel yang tidak pernah ia duga. jatungnya terus berdebar dengan pelukan itu, wajahnya memerah dan tidak mengerti apa yang dilakukan Daniel. apa yang sedang terjadi, kenapa Daniel memeluknya seperti ini !


"Riana jangan pulang, temani aku disini!" bisik Daniel tepat ditelinganya, Riana masih terdiam saat merasakan pelukan Daniel semakin erat.


"lepaskan, apa yang kamu lakukan Daniel!" ucap Riana mencoba melepas tangan Daniel, tapi bukannya renggang malah semakin erat memeluknya. stop Daniel, jangan membuat perasaanku semakin rumit.


"apa kamu menyukai hal romantis?" bisik Daniel lagi, Riana menoleh kearah Daniel dan menatapnya.


"kenapa, apakah kamu akan menikahiku sekarang dengan hal romantis?" celetuk Riana yang membuat Daniel tersenyum kearahnya, Riana semakin merasa tidak nyaman dengan pelukan itu. "Daniel apakah aku boleh bertanya?" ucap Riana menahan kesal, Daniel sendiri hanya tersenyum tidak menyadari batas kesabaran Riana sudah habis. "bolehkan kalau aku memukul kepalamu, hanya satu pukulan dengan tongkat yang ada disana?" ucap Riana menunjuk kearah tongkat kayu, Daniel langsung melepas pelukan itu dan berdehem. entah apa yang dipikirkannya, memeluk Riana terasa nyaman baginya.


"aku mau p-u-l-a-n-g, jangan pernah memelukku lagi! kalau tidak kupukul kamu pakai batu sekalian!" ucap Riana menekan kata pulang, dan memberi ancaman pada Daniel. setelah mengatakan itu Riana keluar dari ruangan, Daniel hanya mengikuti dan mengintip dari dalam ruangan.


"Riana ... tersenyum lah!" teriak Daniel, Riana berhenti dan menoleh kearah Daniel yang hanya terlihat kepalanya dari pintu.


"akan terlihat bodoh, dan seperti orang gila jika aku terus tersenyum!" saut Riana lalu berbalik pergi, Daniel hanya tertawa. ia merasa senang sudah melihat Riana kesal, marah, dan juga tersenyum secara bersamaan. Riana sendiri tersenyum saat pergi dari sana, ia berpikir tidak perlu ada percintaan diantara mereka. karena dengan kata persahabatan saja, semuanya sangat menyenangkan.


"aduh maaf maaf!" ucap Riana ketika tidak sengaja menabrak seseorang, Riana terdiam ketika melihat siapa yang ia tabrak. Karin .


"eh Riana, haii !" ucap Karin, Riana tersenyum dan mengangguk. Riana menatap Karin yang memakai tongkat, dan kaki nya yang diperban agak tebal.


"ada apa dengan kakimu?" tanya Riana, Karin tersenyum dan membenarkan dirinya berdiri.


"oh ini, jadi tadi aku keseleo. dan kata dokter agar terkilirnya tidak parah, dokternya pasang penyanggah dan memberikan aku tongkat!" jelas Karin, Riana mengangguk dengan itu. Riana merasa canggung melihat Karin, karena teringat sudah menganggu waktunya saat bersama Daniel beberapa saat yang lalu.


"aku pergi dulu, dan maaf beberapa jam yang lalu aku mengganggu kalian!" ucap Riana tersenyum, Karin menggelengkan kepala dengan cepat.


"eh itu, kamu salah paham!"


"aku pergi ya, dadah !" ucap Riana kemudian berjalan menjauh, ia tidak ingin mendengar apapun dari Karin. karena mungkin akan menyakiti hatinya, lebih baik ia tidak tahu apapun. Karin sendiri merasa bingung dengan kepergian Riana, ia merasa Riana tidak menyukainya dan sengaja menjauhinya.


****


sampainya dirumah Riana berjalan kearah dapur, ia mengambil minum untuk diteguknya. rasa haus dan tenggorokan keringnya hilang sudah, setelah segelas air putih lewat dalam kerongkongannya. saat sedang asik menikmati air putih, hp nya berbunyi notif dari wechat nya.


*Daniel Message


"Riana, pilih coklat atau bunga?"


Riana bingung karena Daniel bertanya seperti itu, tapi tetap ia balas meskipun merasa bingung.


"boleh nggak yang lain?" (Riana) tanpa menunggu lama, Daniel langsung membalas pesan Riana.


"kamu mau apa, katakan saja!"


mendapat pesan itu, Riana sedikit tersedak. hah, maksudnya keinginanku?


"oke aku akan memilih, aku pilih coklat!"


"apa kamu tidak suka bunga?"


"tidak, bunga tidak bisa dimakan!"


"kembang api atau kue?"


Riana sedikit merasa aneh, pilihan lagi.


"aku pilih kue!"


"kenapa tidak kembang api, bukan kah kamu suka kembang api?"


"tidak, kembang api tidak bisa dimakan!" Riana malas saat membalas pesan itu, tapi tidak enak juga kalau tidak balas. Riana membalas setiap pesan itu yang menurut logika nya, tidak menurut hal yang disukainya.


"oke pertanyaan terakhir, makanan ringan atau es krim?"


"aku pilih semuanya!"


"kenapa semuanya, harusnya pilih satu!"


"karena semuanya bisa dimakan, jadi aku pilih semuanya!"


Riana tersenyum sendiri dengan itu, hampir semuanya ia memilih yang bisa dimakan. bukan hampir tapi semuanya, masih tersisa pertanyaan yang membuatnya penasaran. kenapa Daniel membuat pertanyaan itu, apa yang sedang dia lakukan.