
Jakarta, Juli 2022
Setelah malam itu, tak terasa minggu pun berlalu.
Tak ada yang berubah dari hidup Gala, Ia tetap menjalin hubungan dengan Shaqueena, ia tetap bekerja di perusahaan yang sekarang sudah menjadi miliknya, ia tetap menjalani harinya seperti biasa.
Tak ada yang berubah, kecuali satu hal.
Ameera yang tak pernah bisa keluar dari pikirannya.
Sejak pertemuannya dengan Ameera beberapa minggu lalu, sosok Ameera sukses mengisi otaknya, tak pernah hilang.
Terus menerus hingga kadang ia tersenyum sendiri tanpa sebab.
Hal ini dirasa aneh, terlebih bagi orang-orang disekitarnya.
Manggala, seorang CEO yang dikenal perfeksionis dan cenderung dingin, kini selalu menyematkan senyum di bilah bibirnya.
Aneh bukan?
Keanehan juga dirasakan oleh tunangan dari pria itu.
Shaqueena, beberapa kali ia harus menelan pahit kala Gala tak sengaja menyebut nama wanita lain saat sedang bersamanya.
Brengsek, memang.
Berulang kali juga Shaqueena harus melihat Gala tiba-tiba melamun dan menjadi tidak fokus saat bersamanya, seakan jiwanya sedang berada di tempat lain. Seakan jiwanya sedang bersama orang lain.
Dan Shaqueena tahu betul, siapa orang lain itu.
"Mas!" Panggil Shaqueena lagi.
Mereka sekarang berada di mobil Gala. Memutar-mutar mencari tempat makan untuk makan malam.
Sedari tadi Shaqueena berbicara soal harinya.
Soal ia yang tiba-tiba mendapat klien ribet yang minta ini itu. Tentang ia yang tadi tidak sengaja menumpahkan kopi ke atas kertas rancangannya. Juga tentang ia yang sekarang ingin makan seblak.
Namun sedari tadi, prianya tidak memberi satupun tanggapan. Membuat Shaqueena sadar kalau sekarang ia sedang diabaikan.
Saat menoleh, ia temukan prianya sedang menatap kosong jalanan yang ada di depan.
Lagi dan lagi.
"Kamu dengerin aku gak sih?"
Gala yang baru selesai dengan lamunannya, berubah menjadi gelagapan. Ia menoleh dan menemukan raut kesal yang tercetak jelas di wajah cantik Shaqueena.
Shaqueena menghempas tubuhnya kasar di kursi mobil itu. Tangannya bersidekap dan bibir yang menyebik keras.
"Maaf, aku kurang fokus tadi. Ada kerjaan yang belum selesai tadi"
Cih, kerjaan. Bilang saja lagi mikirin wanita itu!
Shaqueena diam. Ia harus mengalah. Perjuangannya mendapatkan Gala tidak bisa dikatakan mudah.
Butuh waktu yang lama, juga usaha yang keras.
Maka dari itu Shaqueena memutuskan untuk tidak kalah. Ia harus mempertahankan Gala untuk tetap berada di sisinya.
Shaqueena sudah tahu siapa Ameera. Bunda sudah menceritakan semuanya tempo hari.
Ia tidak tahu harus menganggap apa kepada Ameera, ia tidak tahu haruskah ia anggap wanita itu musuh, atau teman.
"aku pengen makan seblak!"
Shaqueena meminta dengan pelan.
"Oke, ayo kita cari! mau makan yang lain?"
Shaqueena menggeleng. Dalam hati ia bersyukur, setidaknya Gala masih sedikit memprioritaskan keinginannya.
......................
"Enak?" Gala bertanya. Mereka sekarang sedang berada di warung makan seblak yang terbilang cukup ramai.
Shaqueena mengangguk senang. Sedari tadi mulutnya tidak berhenti menggumamkan dengungan senang. Kepalanya bergoyang layaknya anak kecil.
Ia senang sekali. Permintaannya terpenuhi dan seblak ini rasanya enak sekali.
"Enak banget, Mas" Senyum lucu senantiasa ia sematkan.
"Yaudah, habisin!" Shaqueena mengangguk.
Kemudian hening menyelimuti mereka.
"Kapan-kapan harus kesini lagi ya, Mas!" Gala mengangguk mengiyakan.
"Iya, tapi jangan sering-sering ya.. Takut perut kamu sakit. Dulu Ameera sering sakit perut karena keseringan makan seblak. Seneng banget dia sama seblak"
Senyum yang sedari tersemat mendadak luntur kala Gala tanpa sengaja menyebut nama Ameera, Lagi.
Rasanya, Shaqueena kehilangan napsu makannya tiba-tiba. Seblak yang tadi rasanya sedap di lidah, mendadak terasa hambar.
"Kenapa?" Gala menyadari perubahan ekspresi Shaqueena. "Kamu sudah kenyang?" tapi ia tidak peka. Atau mungkin, pura-pura tidak peka.
Gala sadar ia baru saja menyebut nama Ameera, dan itu jelas salah. Tapi Gala enggan untuk mengakuinya, terlebih di depan Shaqueena.
Ia lebih memilih berkilah dibanding harus minta maaf.
Tanpa kata Shaqueena mengangguk pelan. "Aku mau pulang"
Gala mengiyakan dengan cepat. Ia kemudian berdiri dari kursinya, "Yaudah aku bayar dulu, kamu mau nunggu disini atau balik ke mobil duluan?"
"Aku ke mobil aja"
"Oke"
......................
Ia sibuk mengenyahkan sakit dihatinya pasca
kejadian tadi.
Rasanya sudah cukup. Ia lelah.
Tapi Kembali lagi, ia tak ingin menyerah.
Dapat ia lihat kini Gala berjalan menuju ke mobilnya. Tangannya menenteng bungkusan plastik hitam yang Shaqueena yakin isinya seblak.
Tumben sekali mas Gala membungkus makan malam mereka?
Gala masuk ke dalam mobil. Tanpa berkata apa-apa lagi ia menyalakan mesin kereta besi itu dan keluar dari pelataran parkir.
"Kamu ngebungkus, Mas?"
"Hm"
"Buat siapa? Bunda emang suka seblak?"
Gala menggeleng, "Bunda suka, tapi lambungnya gak kuat"
"Terus buat siapa?"
"Ameera"
"...."
"Mas, kamu sadar gak sih sama yang kamu lakuin?"
Gala mengernyit, "Aku ngapain?"
Sudah cukup! "Kamu tuh terus-terusan nyebut nama wanita itu depan aku, Mas! Sadar gak sih kamu?"
"Ameera, Namanya Ameera. Jangan sekali-kali kamu nyebut Ameera dengan sebutan wanita itu!"
Shaqueena kehilangan kata-katanya. Bahkan di situasi seperti ini, Gala masih sempat-sempatnya membela Ameera.
"MAS!"
"APA!?"
keduanya tanpa sadar menaikkan suaranya.
Napas keduanya memburu. Mata mereka memandang tajam ke arah masing-masing.
"Mas, aku cemburu" Lagi, Shaqueena harus mengalah. Gala tidak akan menurunkan egonya, dan Shaqueena sangat tahu akan hal itu.
Dua tahun berada disekitar pria itu membuatnya sudah sedikit paham akan tabiat Gala.
Dan mengalah, tak pernah sama sekali Shaqueena temukan sepanjang masa ia bersama pria itu.
"Kenapa harus cemburu, sih?"
Shaqueena melotot. Setidak peka inikah prianya? Atau pria ini hanya sedang berpura-pura?
"Mas? sadar gak sih kamu? waktu kita lagi bareng kamu selalu nyebut wanita it—"
"SHAQUEENA! NAMANYA AMEERA!"
"AKU GAK PEDULI!!" Hilang sudah kesabaran Shaqueena.
"AKU GAK PEDULI SIAPA NAMA WANITA ITU! YANG AKU TAHU WANITA ITU NYURI SEMUA PERHATIAN KAMU BUAT AKU!"
Gala mematung. Rasanya baru kali ini ia melihat Shaqueena jadi sekeras ini.
Pun dengan Shaqueena. Perasaannya sekarang campur aduk. Sedih, lega juga takut.
Ia tanpa sadar membentak tunangannya berulang kali.
Tapi Shaqueena tak tahan. Rasanya ia akan gila kalau ia tak menaikkan nada suaranya tadi.
Ia pendam sendiri sesaknya. Jujur, air matanya sudah mendesak untuk keluar, pun dengan isak tangisnya.
Tapi ia enggan. Ia enggan terlihat menyedihkan di depan pria itu.
"Aku turun disini!" Shaqueena memecah hening. Perkataannya barusan sukses membuat raut tak suka muncul di wajah Gala.
"Gak!" jelas permintaannya ditolak mentah-mentah. Gala adalah pria dengan harga diri tinggi.
"TURUNIN AKU DISINI, MAS!" lagi dan lagi Shaqueena menaikkan suaranya.
Ia hanya ingin bernapas bebas, dan itu akan sulit dilakukan kalau pria itu masih ada di sekelilingnya.
"AKU BILANG GAK YA NGGAK!!"
"BERHENTI ATAU AKU LONCAT DISINI?"
"Kamu gak akan berani"
"Oh ya?"
Tangan Shaqueena sudah siap membuka pintu mobil itu. Dan ketika bunyi 'klik' terdengar, seketika itu juga panik menghinggapi diri Gala.
"OKE! OKE! aku berhenti! Jangan lompat!"
Mobil itu menepi. Dan ketika mobil benar-benar berhenti, Shaqueena membuka pintu dan melangkah keluar.
"Kamu mau nganterin seblak, kan? Aku turun disini aja. Seblaknya bakal gak enak kalau kamu muter nganterin aku pulang dulu" ucap Shaqueena sebelum tubuhnya benar-benar keluar.
...****************...