
*Rumah Adrian~
Adrian kembali sudah larut, ia berpikir Naira telah tidur. karena membahas tentang penyakit Naira, Adrian bahkan sampai lupa makan seharian. Ia masuk kedalam kamarnya, terlihat kamar itu gelap tanpa ada cahaya. Adrian berjalan tanpa suara, ia berusaha untuk tidak membuat suara agar tidak mengganggu Naira.
Adrian berniat untuk mandi dan setelah itu tidur disamping Naira, bahkan matanya tidak melihat Naira karena gelap. belum sempat pergi ke kamar mandi, tiba tiba saja lampu kamar itu menyala terang. Adrian terkejut melihat Naira berdiri didekat saklar lampu, terlihat wajah Naira yang masih segar tidak terlihat seperti orang bangun tidur.
"kenapa kamu belum tidur?" tanya Adrian membuka jasnya dan melebarkan dasi yang ia pakai.
"kenapa kamu baru pulang?" saut Naira menjawab pertanyaan Adrian dengan sebuah pertanyaan.
"kenapa kamu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaanmu!"
"kenapa kamu bertanya jika kamu sudah tahu jawabannya!" Adrian terkejut dengan itu, ia menghela nafasnya. ia mendekat kearah Naira dan langsung memeluk Naira.
"aku merindukanmu!" ucap Adrian, Naira mendorong tubuh Adrian.
"kamu dari mana?" tanya Naira, Adrian kembali menarik tubuh Naira dan memeluknya dari belakang.
"aku dari kantor, mengurus sesuatu yang penting!" ucap Adrian, Naira kembali mendorong tubuh Adrian.
"bohong, Siska bilang kamu gak pergi kesana!" ucap Naira, Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Naira menyipitkan matanya, Adrian yang melihat itu kembali memeluk Naira. dalam pikir Adrian tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, ia tidak ingin membuat Naira cemas dan memikirkan hal itu.
"iya iya maafkan aku, aku bertemu kakakmu. aku membahas tentang pekerjaan penting, dan sebelum pulang aku membeli ini untukmu!" ucap Adrian memberikan kotak kecil pada Naira, Naira menerima kotak itu dan membukanya. terlihat kotak itu berisi sebuah jepit rambut, jepit rambut itu tidak biasa melainkan terbuat dari berlian.
"indah sekali, dimana kamu beli?" tanya Naira, Adrian tersenyum karena dia tidak membeli itu tadi. sebelumnya Adrian sudah memesan jepit itu sebelum menikah, dan berniat memberikannya pada Naira setelah menikah.
'untung saja itu ada di kantung ku, jika tidak habislah aku!' batin Adrian.
"iya aku beli ditoko, aku pulang malam karena memilih ini. jadi bisakah kamu memaafkan aku?" tanya Adrian, Naira menyipitkan matanya.
"tidak bohong?" tanya Naira, Adrian mengangguk.
"kita baru menikah kemarin, dan sekarang kamu sudah posesif seperti ini. kemarilah, biarkan aku memelukmu dengan erat!" ucap Adrian, belum Naira mengiyakan Adrian langsung mengeratkan pelukannya. Naira yang masih kesal memilih untuk diam, dan membalas pelukan dari suaminya itu.
"apa kau lelah?" tanya Naira, Adrian mengangguk. ia sangat lelah memikirkan operasi Naira, perasaan bimbang dan bingung menghantuinya setiap saat.
"Nara aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" ucap Adrian menangkup kedua pipi Naira, Naira memegang kedua tangan Adrian saat keningnya dicium oleh Adrian. "biarkan aku menciumu untuk menambah energi." Adrian mendekati wajah Naira untuk mencium bibir Naira. Naira tersenyum dengan tindakan Adrian, ia pun menutup mata dan mengalungkan tangannya pada leher Adrian.
Kruuyyuuuukk!
suara perut Adrian membuyarkan hal romantis itu, Naira yang mendengar pun tertawa renyah. "dengan menciumku kamu bisa menambah energi, tapi kamu tidak akan kenyang kak!" ucap Naira tertawa, Adrian mengerucutkan bibirnya dan memegangi perutnya. "kamu belum makan malam ya?".
"belum sarapan!" saut Adrian, Naira terkejut dengan itu. ia berpikir jika Adrian belum sarapan, itu sama halnya sama dengan Adrian belum makan seharian penuh.
"kak Anan, kenapa kamu belum makan seharian?" ucap Naira menarik tangan Adrian, dengan pasrah Adrian mengikuti langkah Naira.
"aku melupakannya!"
"lambungmu akan sakit nanti, akan kubuatkan makanan. ayo!" Naira terus mengomel saat menarik tangan Adrian, ia membawa Adrian keruang makan. disana beberapa pelayan menyambut mereka, Naira menyuruh mereka semua pergi dari sana. Naira berkutik didapur sedangkan Adrian duduk dengan pasrah atas perintah istrinya itu. Adrian menatap Naira yang sedang memasak, ia pun berdiri dan berjalan mendekati Naira.
"apa yang kamu masak?" tanya Adrian memeluk Naira, mendengar itu Naira tersenyum dan melepas pelukan Adrian.
"diam disana, aku akan memasak nasi goreng dengan cepat!" ucap Naira menodongkan spatula yang ia pegang, Adrian hanya mendengus kesal dan duduk kembali ditempatnya.
setelah beberapa menit Naira selesai memasak untuk Adrian, ia menyiapkan sepiring nasi goreng dan memberikannya pada Adrian. tidak lupa dengan jus mangga kesukaan Adrian, Naira sendiri membuat susu coklat hangat untuk dirinya.
"kamu tidak makan?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala. Naira duduk disamping Adrian, ia menemani Adrian makan dengan secangkir susunya.
"aku tadi sudah makan beberapa cemilan berat, dan sekarang ini pasti mengenyangkan perutku!" ucap Naira mengangkat secangkir susu yang ia minum, Adrian hanya mengangguk dan memakan nasi goreng miliknya. Naira dengan secangkir susunya menemani Adrian makan, sesekali Adrian melirik Naira yang menatapnya.
"kenapa melihatku terus?" tanya Adrian, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala.
"aku tidak menyangka kita bisa bersama sekarang, aku selalu memimpikan menikah denganmu. sekarang mimpi itu menjadi kenyataan, kamu menjadi suamiku dan aku menjadi istrimu!" ucap Naira, Adrian tersenyum dengan itu.
"jadi, kamu mau kemana besok?" tanya Adrian, Naira tampak seperti berpikir.
"pagi hari, kita akan berolah raga pagi. siangnya, kamu akan menemaniku ke mall. dan malamnya aku ingin ke taman hiburan, sudah sangat lama aku ingin pergi kesana. pokoknya aku ingin bersamamu, kamu harus menemaniku seharian!" ucap Naira dengan semangat, Adrian tersenyum dan mengangguk dengan itu. Adrian selesai dengan makan malamnya, ia berdiri dan langsung menggendong Naira.
"hei turunkan aku, susuku belum habis!" ucap Naira, Adrian tidak peduli dengan itu. Adrian terus menggendong Naira menuju kamarnya, Naira hanya diam dan pasrah.
"sekarang ayo kita tidur, ini sudah larut!" ucap Adrian menidurkan Naira, Adrian mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya. saat Adrian membaringkan tubuhnya, Naira langsung memeluknya. mereka pun tidur dengan berpelukan, mereka terlelap dengan senyuman.
****
saat pagi tiba Adrian dan Naira bangun dipagi hari, mereka sudah memakai pakaian untuk berolah raga. Naira mengikuti Adrian melakukan lari pagi, sesekali Adrian menggoda Naira. kebahagiaan terpancar pada wajah mereka berdua, dengan perlahan mereka berlari kecil sampai di sebuah taman. mereka berdua menikmati lari pagi, dan berjalan jalan santai disana.
Naira kesal, ketika beberapa wanita menatap Adrian. karena pada saat itu tubuh Adrian yang menggunakan baju ketat, memperlihatkan otot ditubuhnya. Adrian yang memperhatikan bibir Naira, ia merasa heran kenapa Naira terlihat kesal.
"kenapa tidak olahraga dirumah saja, rumahmu sangat besar dan banyak halaman kosong!" saut Naira kemudian,
"kamu yang minta untuk jalan jalan keluar, kenapa sekarang kamu kesal?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala dan memakan rotinya lagi. "aku akan belikan air, tunggu disini!" ucap Adrian tersenyum dan mengacak rambut Naira, Naira kesal dengan itu.
"lihat itu, pria tampan disana!" ucap seorang wanita, Naira terkejut dan hanya terdiam.
"iya aku lihat, kenapa?" ucap yang lainnya.
"jika kau merasa cantik dapatkan pria itu, jika pria itu memberikan no Wa nya. aku akan traktir kau belanja sepuasnya, bagaimana?" Naira tetap diam, ia hanya memperhatikan beberapa wanita itu bicara.
"oke, bukan hanya no wa, aku bisa mendapatkan hatinya. kalian lihat saja!" ucap salah satu wanita itu, Naira yang mendengar itu hanya mendelik dan melihat apa yang akan dilakukan mereka. dan dugaan Naira benar, pria yang mereka maksud adalah Adrian.
Naira melihat dari jauh, wanita itu berjalan kearah Adrian yang sedang berjalan membawa air mineral. Naira terkejut ketika wanita itu pura pura jatuh, terjatuh tepat dihadapan Adrian.
"maafkan aku, aku tidak sengaja!" ucap wanita itu, Adrian mendirikan wanita itu dengan wajah datar.
"iya, lain kali hati hati!" ucap Adrian, wanita itu tersenyum dan mengkibaskan rambutnya. Adrian merasa aneh ketika wanita itu tersenyum, Adrian mengambil air mineral itu dan berharap segera pergi. saat akan pergi wanita itu menarik tangan Adrian, Naira yang melihat itu meremas roti yang ia pegang.
"namaku Lala, bolehkah aku tahu namamu?" ucap wanita bernama Lala, Adrian hanya menyipitkan matanya. wanita itu melihat Adrian dengan tatapan kagum, Adrian hanya menggelengkan kepala.
"aku tidak tertarik denganmu, maaf permisi!" ucap Adrian melepas tangan wanita itu, wanita itu kembali menarik tangan Adrian.
"berikan no wa mu, menambah teman itu sangat baik!" ucap wanita itu, saat bersamaan seseorang memegang tangan wanita itu. Adrian dan wanita bernama Lala melihat keasal tangan itu, dan ternyata itu adalah tangan Naira. Naira melepaskan tangan itu dengan kesal, wanita bernama Lala itu terlihat kesal.
"hei kau ini siapa, beraninya menyentuh tanganku!" ucap Lala, Naira menyipitkan matanya. Adrian yang melihat itu hanya menahan senyum dan melihat apa yang akan dilakukan Naira.
"aku siapa, lalu kau siapa berani menyentuh tangannya?" ucap Naira yang masih terdengar kesal, ia semakin kesal saat si Lala itu melingkarkan tangannya pada lengan Adrian.
"dia kekasihku, lalu kenapa? apa aku tidak boleh menyentuh tangannya?" ucap wanita bernama Lala dengan bangga, Naira menatap Adrian yang sedang menahan tawa.
"dia kekasihmu?" ucap Naira pada Adrian, Adrian menganggukan kepala membuat si Lala itu semakin bangga. Naira menyipitkan matanya dan Adrian menahan tawanya.
"oh, jadi kau harus berkenalan denganku!" ucap Naira mengulurkan tangan, si Lala itu pun meraih tangan Naira.
"iya siapa kau?" tanya si Lala, Naira tersenyum dan menatap Adrian.
"namaku Naira Putri Pratama, aku istri dari Adrian Pratama. dan siapa Adrian Pratama, dia adalah orang yang kau bilang kekasihmu!" ucap Naira dengan bangga, Adrian sangat puas mendengar itu. si Lala itu terkejut, ia hanya bisa mendelik dan membuka mulutnya.
"dan kau tidak berhak menyentuh tangan suamiku, permisi!" ucap Naira lagi dengan menarik tangan Adrian, Adrian tersenyum dan mengikuti langkah Naira. si Lala hanya terlihat kecewa dan diam ditempatnya berdiri, dan beberapa temannya tadi menghampirinya.
setelah dari taman itu, Naira pulang masih dalam keadaan kesal. Adrian bahkan harus merayu wanitanya itu, tapi tetap Naira masih cemberut. tidak banyak bicara Adrian menggendong Naira, Naira hanya diam dan menatap Adrian.
"kenapa kamu diam saja dipegang olehnya?" ucap Naira yang akhirnya membuka mulut, Adrian tersenyum dan mencium pipi Naira.
"aku ingin melawan, tapi kamu datang. jadi aku diam saja!" ucap Adrian, Naira menyipitkan matanya.
"aku ini sangat tampan, wajar kalau dia ingin mengenalku!" ucap Adrian, Naira menggigit pipi Adrian. bukannya kesakitan, Adrian malah tertawa.
"sangat narsis, turunkan aku!" ucap Naira, Adrian pun menurunkan Naira dan masih dengan tawanya. Adrian memeluk Naira dari belakang, ia mencium rambut Naira yang harum menurutnya.
"bersiaplah, kita akan ke mall yang seperti kamu minta!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk. Adrian mengacak rambut Naira dengan gemas, ia mengambil sebuah handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Naira membuka jaketnya, dan sepatunya. saat meletakkan jaketnya pada gantungan baju, jas milik Adrian terjatuh. Naira mengambil jas itu, dan tanpa sengaja sebuah kertas keluar dari kantung itu. Naira segera mengambilnya, Naira penasaran dengan isi kertas itu. Naira pun membukanya, dan segera membacanya.
HASIL TES LABORATORIUM ATAS NAMA NAIRA PUTRI.
Naira terkejut membaca itu, Naira segera membacanya sampai habis. Naira terdiam membaca itu, perasaan bingung dan tidak mengerti muncul dalam otaknya.
"pembekuan darah pada saraf otak, apa artinya ini!" gumam Naira. saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dengan segera Naira melipat kertas itu kembali. Naira memasukkannya pada kantong jaketnya, dan meletakkan jas Adrian pada tempat sebelumnya. Adrian keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, saat melewati Naira ia mencium pipi Naira dengan sekilas. Naira hanya tersenyum dan menatap Adrian.
'apa maksud hasil tes itu, apa kak Anan menyembunyikan sesuatu.'
"Naira Putri Pratama!!" Naira terkejut ketika Adrian memanggil nama lengkapnya sama seperti yang ia ucapkan, dan ia terkejut saat Adrian sudah berdiri dihadapannya.
"apa yang kamu pikirkan, cepat bersiap dan pergi sekarang!" ucap Adrian menangkup kedua pipi Naira, Naira hanya menggelengkan kepala.
"tidak kak, aku sangat lelah. tidak perlu pergi kemana pun, kita dirumah saja." ucap Naira, Adrian memegang bahu Naira.
"kamu baik baik saja kan, apakah ada yang sakit?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala. "Nara jika ada yang sakit, katakan padaku.!" ucap Adrian, Naira menatap Adrian dengan perasaan heran.
"kenapa, apakah terjadi sesuatu padaku?" tanya Naira, Adrian terkejut dengan itu. semenit kemudian ia tersenyum kearah Naira,
"tidak ada, aku akan bawakan susu coklat hangat kesukaan. tunggu ya," ucap Adrian berjalan keluar, Naira mengambil kertas itu kembali. Naira berpikir kenapa Adrian tidak memberitahunya, dan akhirnya menyadari ada yang tidak biasa. bahkan Naira mengingat perkataan Adrian, perkataan Adrian yang selalu mengatakan untuk terus mengingatnya.
"aku harus cari tahu, apa yang terjadi padaku!" ucap Naira, ia melipat kertas itu lagi dan memasukkan nya pada tas miliknya. Naira berniat untuk bertanya pada David, karena hanya David yang bisa memberitahunya.