
selama seminggu Adrian memikirkan cara untuk memberikan hadiah pada Naira, karena menurutnya pemberian sikembarnya oleh Naira adalah hal yang harus diberikan imbalan. Adrian bingung harus memberikan hadiah apa kepada Naira, karena selama ini dirinya tidak pernah kurang kurang dengan memberikan hal baik untuk Naira.
sampai dimana otaknya berputar untuk memberikan Naira rumah mewah, karena hadiah apapun tidak akan bisa sebanding dengan pemberian Naira padanya termasuk rumah mewah pun. karena Adrian teringat dengan impian Naira saat kecil, yang mengatakan ingin memiliki rumah besar seperti istana.
"jadi kamu yakin membeli rumah itu?" tanya Amelia, Adrian yang fokus pada laptopnya mendongakkan kepalanya dan mengangguk yakin.
"iya aku yakin ma, apalagi yang bisa aku berikan. menurutku rumah mewah beserta isinya pun masih kurang!" ucap Adrian tanpa beban, Amelia yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya.
"rumah kalian sebelumnya kan cukup besar, untuk apa beli lagi. lagi pula apa Naira tidak akan marah, kamu membelinya tanpa bilang padanya?" ucap Amelia lagi, Adrian tersenyum pada Amelia.
"ini kan hadiah, tidak mungkin Naira marah. dan untuk rumah kami itu, aku akan memikirkannya nanti." saut Adrian yakin, Amelia pun mengangguk dan mengiyakan perkataan putranya itu.
Adrian terus membayangkan wajah bahagia Naira saat tahu dirinya diberikan hadiah sebesar itu, dan berharap Naira akan menyukainya dan bertambah mencintainya.
sampai seminggu kemudian rumah yang dipersiapkan telah selesai direnovasi, bahkan seisi rumah itu sudah tersusun rapi dan mereka hanya perlu masuk untuk tinggal disana. alhasil semuanya tidak seperti yang dibayangkan Adrian, yang Naira akan bahagia memeluk dan berterima kasih padanya, melainkan Naira marah dan tidak mengatakan apapun padanya setelah mengetahui rumah itu miliknya.
Adrian merasa bingung ketika Naira tidak mau bicara dengannya, bahkan sudah dua hari Naira mendiamkannya. konsentrasi Adrian saat bekerja terus terganggu karena memikirkan kemarahan Naira, ia tidak tahu sampai kapan Naira akan mendiamkannya.
*****
Naira yang merasa bosan dirumah, memilih untuk mendatangi Riana yang masih dirumah sakit. dengan wajah ditekuk Naira duduk disofa ruangan Riana, dengan memakan apel ditangannya. Riana sendiri merasa heran melihat Naira, dan sudah mengira kalau ada masalah antara Naira dan juga Adrian.
"sudah menemui dokter Ridwan?" ucap Riana yang akhirnya memecah keheningan, Naira menoleh dan mengangguk. "aku dengar Adrian membelikanmu rumah ya?" tanya Riana lagi, dan hanya anggukan kepala Naira yang didapat Riana. "lalu kenapa kamu ada disini, kamu harus menikmati rumah baru kalian!"
"aku tidak suka!" saut Naira cepat, Riana menaikkan satu alisnya.
"tidak suka?, kenapa?" tanya Riana, Naira pun menoleh kearah Riana dan memberikan hpnya pada Riana. dengan terkejut Riana membalakkan matanya melihat hp Naira, hp itu menunjukan sebuah foto rumah baru pemberian Adrian. "wahh ini sih bukan rumah, ini istana!" saut Riana, Naira menghela nafas panjang dengan itu.
"karena itu aku tidak suka Riana, untuk apa dia membeli rumah sebesar itu. bahkan kamu menyebutnya istana, dan kami hanya berempat nanti nya. bahkan dia tidak bilang padaku, dia tidak meminta pendapat padaku, karena itu lah aku tidak menyukainya. mungkin jika dia bilang padaku untuk membeli rumah, aku tidak akan memilih rumah itu!" kesal Naira, Riana tersenyum dengan tingkah kesal Naira.
"Adrian sangat mencintaimu, lihat saja bertambah jiwa dia membelikanmu rumah sebesar itu. Naira dia bermaksud memberimu hadiah, karena itu tanpa bilang padamu dia membeli rumah itu. kalau dia bilang padamu kamu tidak akan terkejut, karena dia ingin membuatmu terkejut dan merasa bahagia atas hadiah kejutannya. kenapa kamu harus marah, kamu harus senang dong!" saut Riana tersenyum, Naira hanya diam dan memakan apel yang ada ditangannya. "melihat tingkahmu begini, aku yakin kamu habis mengomeli Adrian habis habisan kan?" ucap Riana lagi, Naira terkejut dengan itu. karena perkataan Riana benar adanya, dan sekarang dirinya merasa bersalah pada Adrian.
"iya aku bahkan mendiamkannya selama dua hari, aku hanya menyiapkan makanannya dan pakaiannya tanpa bicara sedikit pun. dan sekarang aku menyesal, tidak seharusnya aku marah. tapi aku masih kesal dengan rumah besar itu, bagaimana aku akan mengurus rumah besar itu?"
"bukan kamu aja yang mengurusnya nanti, kalian bahkan sikembar akan mengurus rumah itu bersama sama. kadang aku iri dengan mu, aku juga ingin menikah dan hidup seperti kalian!" ucap Riana tersenyum, Naira membalas senyuman itu dan memegang tangan Riana.
"aku akan pergi sekarang, aku ingin minta maaf pada Adrian!" ucap Naira, Riana mengangguk senang dan memberikan dua jempolnya. "oh iya?"
"apa?" tanya Riana saat melihat Naira membalikan badannya, Naira tersenyum dan menaikkan alisnya.
"menikahlah dengan Daniel secepatnya, maka kamu tidak akan iri denganku!" ucap Naira tertawa, hal itu membuat Riana terkejut dan juga merasa kesal. Riana menutup dirinya dengan selimut, rasa kesal menyelimutinya ketika masih mendengar suara tawa Naira.
"akhirnya dia tertawa, wanita hamil memang bahaya kalau tidak tertawa. tapi sekali tertawa, membuat orang merasa kesal!" gumam Riana dengan tersenyum.
setelah beberapa menit Naira sampai dikantor Adrian, dengan wajah ramah Naira menyapa semua orang yang mengenalinya. perasaan ragu masih ada pada Naira, sebenarnya dirinya belum siap untuk bertemu Adrian. tapi hatinya merasa kasihan pada Adrian, tidak tahu seperti apa perasaanmu suaminya itu ketika dirinya mendiamkannya selama dua hari. bahkan saat ini Naira hanya bisa berdiri didepan pintu ruangan Adrian, ragu untuk mengetuk pintu itu. dengan ragu Naira mengetuk pintu secara cepat, kemudian terdiam menunggu suara Adrian terdengar.
"masuk!" suara Adrian terdengar dingin, Naira pun membuka pintu entah apa yang akan dilakukan Adrian padanya nanti.
setelah beberapa jam sibuk, Adrian baru saja bisa berhenti dan menutup matanya untuk istirahat sejenak. tapi ketenangan itu lenyap ketika suara ketukan pintu, membuatnya terpaksa harus membuka mata dan menegakkan tubuhnya lagi. matanya yang gelap seketika terang melihat kehadiran Naira, dengan cepat Adrian berdiri dari duduknya dan menghampiri Naira.
"kamu ada disini?, apa ada masalah?" ucap Adrian cepat menghampiri Naira, dengan nada khawatir Adrian memegang perut besar Naira. "katakan sesuatu, apa perutmu sakit?" tanya Adrian lagi ketika tidak ada jawaban, Naira sendiri tertegun Adrian mengkhawatir kannya. padahal Adrian tahu benar, kalau mereka belum berbaikan.
"perut ku baik baik saja, tidak ada masalah kok!" jawab Naira, Adrian memdekatkan wajahnya pada wajah Naira.
"lalu kenapa kamu datang kemari, kenapa tidak menelfonku saja aku pasti akan datang!" ucap Adrian, wajah Naira memerah seketika. untuk menutupi wajahnya yang merah, Naira langsung memeluk Adrian yang membuat Adrian terkejut.
"aku ... aku merindukanmu, ja... jadi aku datang!" ucap Naira terbata, Adrian tersenyum dan memeluk Naira karena merasa senang. "maaf ..." Adrian melepas pelukannya dan menatap Naira, Adrian menyembunyikan wajah senangnya.
"kenapa kamu minta maaf?" tanya Adrian, Naira menyipitkan matanya. Ia tahu benar Adrian sedang menggoda nya, Naira melepas tangan Adrian dengan cepat.
"huh ... tidak jadi!" ucap Naira kesal membalikkan badannya, melihat itu Adrian tertawa senang. Adrian menarik tubuh Naira dengan perlahan, ia memeluk Naira dari belakang dengan erat.
"maafkan aku ..." bisik Adrian tepat ditelinga Naira, tidak lupa Adrian mencium pundak Naira. "maaf aku tidak bilang padamu, sampai membuatmu kesal!" ucap Adrian lagi, Naira menggelengkan kepalanya.
"tidak Adrian, aku yang harusnya minta maaf. bukannya senang karena kamu memberi hadiah, aku malah berbuat hal konyol dengan memarahimu!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan menangkup kedua pipi cubby Naira.
"tidak perlu minta maaf, aku juga salah padamu!" ucap Adrian lembut, Naira tersenyum dan mengangguk pelan. Adrian mencium pipi Naira dengan gemas, membuat Naira harus tertawa karena merasa geli. "oke katakan padaku, kamu ingin kemana sekarang?" ucap Adrian berjalan mengambil jas miliknya, Naira hanya terdiam sampai Adrian kembali ke hadapannya. "Naira aku bertanya, sekarang waktuku hanya untukmu!" ucap Adrian dibalas senyuman oleh Naira.
"aku ... aku ingin melihat rumah itu ..." ucap Naira, Adrian tersenyum dan mengangguk. Dengan perlahan Adrian menggandeng tangan Naira untuk memenuhi keinginan istrinya, Naira masih merasa bersalah karena mendiamkan Adrian dan sekarang seperti tidak terjadi apapun.
Adrian membawa Naira pergi dari perusahaannya, sesuai keinginan Naira Adrian membawanya kerumah baru mereka. Adrian terus mencium tangan Naira saat perjalan, membuat keduanya harus tersenyum sepanjang jalan. sampai beberapa menit kemudian, mereka sampai dirumah baru mereka.
"kalau kemarin kamu tidak marah, kita sudah tinggal disini!" bisik Adrian, Naira tersenyum dengan menutup mulutnya.
"maafkan aku!" ucap Naira sedikit menoleh, Adrian tersenyum dan mencium pipi Naira sekilas. kemudian melepas pelukannya dan berjalan mendahului Naira, tidak lupa dirinya mengulurkan tangan pada Naira.
"selamat datang dirumah baru kita, nyonya Adrian!" ucap Adrian tersenyum, Naira tersenyum dan menggapai tangan Adrian. mereka memasuki rumah itu dengan tersenyum, seketika Naira membalakkan mata melihat isi rumah baru itu.
luas, bersih, dan juga setiap barang tertata rapi dan ditempat yang seharusnya, yang paling utama seisi rumah itu berkilauan seperti berlian. bahkan desain rumah itu seperti hang diinginkan Naira, dengan nuansa warna biru dengan putih yang berkilau. Naira berjalan dengan melihat lantai yang seperti cermin, menampilkan dirinya dengan menggenggam tangan Adrian.
"ku desain sesuai keinginanmu saat kecil, kamu sangat suka warna putih dengan campuran nuansa biru." ucap Adrian, karena Naira yang terdiam tidak mengatakan apapun ia menoleh kearah Naira. "Naira kamu kenapa, apa ada yang sakit sayang katakan padaku!" ucap Adrian cepat dengan panik, ketika melihat Naira yang menangis dengan menutup mulutnya. Adrian tidak mengerti dengan perasaan Naira, kemarin Naira marah karena rumah itu dan sekarang menangis karena isi rumah itu. apakah itu efek karena Naira sedang hamil, yang memiliki emosi dan mood yang berubah ubah.
"tidak ada, aku menangis karena tidak menyangka saja. tidak disangka kamu akan mengingat hal sekecil itu, bahkan aku tidak bisa mengingat hal bahagia kita saat kecil karena kecelakaan itu ... " ucap Naira mengusap air matanya, tapi air mata itu tetap saja menetes. dengan tersenyum Adrian mengangkat kepala Naira untuk menatapnya, ia menghapus air mata yang ada di pipi Naira dengan lembut.
"bagaimana aku bisa melupakannya, aku tidak akan pernah melupakannya!" ucap Adrian lembut, Naira menarik ingusnya sedikit berbunyi kasar. hal itu membuat Adrian tertawa karena merasa geli, dengan cepat diikuti tawa Naira yang malu dan menyembunyikannya di pelukan Adrian.
"terima kasih Adrian, terima kasih!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan memeluk Naira.
"iya sayang, oh iya aku juga mempersiapkan kamar untuk sikembar. mau lihat?" ucap Adrian, dengan senang Naira mengangguk cepat.
****
****
di rumah sakit, Riana sedang melakukan terapi pada kakinya. dengan bantuan Daniel, Riana perlahan berjalan dengan kedua tangan Daniel menjadi penyanggah. lorong rumah sakit menjadi tempat yang pas untuknya berjalan, karena tidak banyak orang lewat disana.
"aku pakai tongkat saja kalau bisa jalan, kalau pakai kursi roda capek!" ucap Riana yang terus mencoba berjalan, Daniel menaikkan satu alisnya.
"kalau pakai kursi roda sangat enak, kau hanya tinggal duduk dan menjalankan nya dengan tombol!" ucap Daniel, Riana menggelengkan kepala.
"sebentar lagi tahun baru, aku tidak ingin duduk dikursi roda terus!" saut Riana, Daniel mengangguk dengan itu.
"oh iya, tahun baru kamu punya rencana kemana?" tanya Daniel, dengan perlahan Daniel mendudukan Riana disebuah bangku disana.
"mungkin kami akan kerumah Naira, soalnya rumahnya baru tuh katanya!" saut Riana, Daniel hanya mengangguk dan ikut duduk disamping Riana. "kamu ikut aja kalau gak lagi tugas, semakin banyak orang semakin ramai!" ucap Riana tersenyum, Daniel pun tersenyum melihat itu. entah sejak kapan Daniel merasa sangat bahagia melihat senyum Riana yang terus terukir, seakan semua kesedihan hilang dalam diri Riana.
"iya aku ikut, aku tidak bertugas kok!" saut Daniel, Riana mengangguk dan tersenyum. suasana menjadi hening ketika mereka tidak mengatakan apapun, Daniel sendiri merasa canggung begitu juga dengan Riana. "Rin ..."
"hm?" saut Riana menoleh, Daniel langsung terpana ketika melihat tatapan Riana. Daniel berpikir sekarang adalah waktu yang tepat, untuk menyatakan perasaannya terhadap Riana.
"aku mau bilang sesuatu!" ucap Daniel, Riana mengangguk dan menatap Daniel tanpa bicara. Daniel sendiri bingung, bingung ingin memulainya dari apa. " aku ... aku ..."
"dokter Daniel ..."
panggilan seseorang membuat Daniel menoleh, bahkan Riana pun menoleh ke asal suara itu. dengan tersenyum Karin berjalan menghampiri Daniel, melihat itu Riana merasa tidak enak dan melihat jam sudah waktunya makan siang.
"hm ... maaf ya, gara gara bantu aku pacarmu nungguin!" ucap Riana, Daniel menoleh dan terkejut.
"pacar?, siapa?"
"dokter Daniel aku mencarimu kemana mana, aku bawa makan siang untukmu!" ucap Karin menyodorkan rantang yang berisi makanan, Daniel tidak memperdulikan itu dan hanya menatap Riana. "hm ... Riana makan bareng aja, aku buat banyak kok cukup untuk kita!" ucap Karin lagi, Riana mengangguk dan tersenyum.
"terima kasih, aku gak bisa ganggu kalian, hm ... Karin bisa bantu aku untuk duduk dikursi ku?" ucap Riana, Karin pun mengangguk dan membantu Riana berdiri kemudian duduk dikursi rodanya. "terima kasih, selamat makan siang!" ucap Riana melambaikan tangan, setelah itu pergi dari sana dan memasuki kamarnya.
Daniel sendiri menatap Riana pergi keruangannya, Daniel masih memikirkan perkataan Riana tentang pacar. tidak mungkin Riana menganggap dirinya menjalin hubungan dengan Karin, sedangkan dirinya ingin sekali menjalin hubungan dengan Riana. Daniel menatap Karin yang tersenyum, Daniel melihat senyum tulus itu yang tidak berhak ia dapatkan.
"Karin saya mau bicara hal penting dengan kamu, saya harus menyelesaikan nya sekarang juga!" ucap Daniel, Karin masih tersenyum dan mengangguk.
"oke, ayo!" saut Karin, Daniel mengangguk. ia berniat ingin meluruskan semuanya, agar Karin tidak berharap banyak padanya dan Riana tidak salah paham dengan dirinya yang berhubungan dengan Karin.
***
Assalamualaikum semuanya...
sebelumnya author minta maaf ya baru up, soalnya satu minggu yg lalu entah berapa hari, hp author jatuh dan harus diservis pada akhirnya beli baru karena gak bisa lagi :(. dan sedihnya episode yang harus di up ada dihp itu :(, jadi author baru sekarang bisa up karena masih mengingat ingat gimana kelanjutan nya. kalau ada cerita yang sedikit tidak enak, maafkan author ya ๐ฃ udah itu aja yang bisa author katakan, selamat membaca dan tunggu kelanjutannya ๐๐ผ
Wassalamualaikum ...
jangan lupa like, komen, vote kalian๐