
empat bulan telah berlalu, Naira dinyatakan sembuh oleh David. setelah perjuangan selama empat bulan, keadaan Naira telah kembali seperti dulu. meskipun ingatannya telah hilang, Naira mengenal mereka tidak seperti sebelumnya. Naira memulai kehidupannya dari awal, tapi sifat sifat Naira tetap sama dan seperti dulu. meskipun Naira bersikap normal, tapi tetap ia merasa asing dikeluarganya. keluarga itu tidak memaksa Naira, mereka membiarkan apapun yang terjadi pada Naira.
"Naira selamat pagi!" ucap Nadia mengangguk dan tersenyum, Naira menuruni anak tangga dan tersenyum.
"selamat pagi mama!" saut Naira, ia berjalan menghampiri Nadia. Naira memeluk Nadia dengan gemas, Nadia heran dengan itu.
"sayang ada apa?" tanya Nadia, Naira menggelengkan kepala.
"tidak tahu, sepertinya aku biasa melakukan hal itu!" saut Naira, Nadia tersenyum dan mencium pipi Naira.
"itu benar, kamu juga menciumku dipagi hari!" ucap Nadia lagi, Naira tertawa kecil. semenit kemudian terlihat Kara datang bersama Febriyan, Risa dan Riana pun datang ke arah Naira.
"aku senang kamu kembali seperti dulu!" ucap Riana, Naira mengangguk. terlihat Bagas juga menghampiri mereka, Bagas tersenyum melihat Naira.
"tapi maafkan aku, aku melupakan hal yang pernah terjadi diantara kita semua!" saut Naira tersenyum, Naira selalu menyesal telah melupakan mereka semua. tidak ada satupun yang bisa diingat Naira, semuanya tampak baru dan asing untuknya.
"saat kamu kembali normal, kami sudah sangat bahagia sayang. jadi jangan menganggap dirimu orang asing, kita akan membuat ingatan yang baru untukmu!" ucap Nadia, Naira tersenyum dan memeluk Naira.
"terima kasih mama, aku merasa kau adalah orang yang terbaik dalam hidupku!" ucap Naira, Nadia tersenyum dan mengelus punggung Naira.
"jadi apa aku tidak?" ucap Kara, Naira menoleh dan tertawa kecil.
"hihi, cemburu?. papa itu adalah papa terbaik didunia, dan pasti aku adalah orang yang paling bahagia memiliki papa sepertimu!" ucap Naira tersenyum, Kara membuka tangannya untuk menerima pelukan. Naira yang melihat itu, langsung berlari dalam pelukan Kara. semua orang melihat itu sangat bahagia, tapi Bagas terdiam ketika menatap Naira. Bagas berpikir, adiknya itu belum mengetahui tentang statusnya sebagai seorang istri.
"Bagas, apa yang kau pikirkan?" tanya Febriyan, Bagas menoleh dan menggelengkan kepala.
"tidak pa, aku harus kekantor sekarang!" ucap Bagas berjalan kekamarnya, Febriyan hanya menggelengkan kepala.
****
setelah sarapan, Riana membawa Naira ke suatu pusat perbelanjaan. seperti biasa, hobi Riana yang suka berbelanja tertular pada Naira. mereka asik memilih sesuatu yang mereka sukai, bahkan beberapa tas belanjaan sudah mereka pegang satu persatu. setelah beberapa jam, Naira terpisah dari Riana. Riana yang berpamit ketoko lain, belum kembali ketempat Naira yang menunggunya.
"oh Riana, kamu kemana telfon gak diangkat!" ucap Naira melihat kanan dan kiri, Naira merasa pegal membawa tas belanjaannya. "aku harus berputar mencarinya sekarang, sudah tahu aku akan interview siang ini!" ucap Naira mulai melangkah, tidak tahu kemana ia ingin mencari Riana. Naira melihat kanan dan kirinya, sesekali ia melihat beberapa toko. "apa aku dulu suka berbelanja dengan Riana?" gumam Naira, Naira tersenyum dan mengangkat tas belanjaan yang ia pegang. "kurasa begitu, aku tertular kesukaan Riana!"
Brugh!!!
karena asik bicara, Naira menabrak seseorang. tabrakan itu membuatnya jatuh, bahkan tas yang ia bawa berserakan. Naira berjongkok untuk membereskan tas tas itu, tanpa peduli siapa yang menabraknya.
"apakah kau baik baik saja?" ucap seseorang, Naira mengangguk tanpa melihat suara itu.
"maafkan aku, aku tidak sengaja menabrakmu!" ucap Naira memungut semua tas nya, saat sedang sibuk itu sebuah tangan terulur untuknya. Naira mendongakkan kepala, seorang pria tersenyum padanya.
"maaf, aku juga tidak melihatmu!" ucap pria itu terdengar lembut, Naira berdiri tanpa menerima uluran tangan itu.
"tidak masalah tuan, aku juga tidak melihatmu!" ucap Naira tersenyum, setelah itu mendengar suara dering pada hpnya. terlihat Riana menelfonnya, Naira segera mengangkat telfon itu.
"Riana kamu dimana?" ucap Naira sedikit keras.
"kamu dimana, aku ditempatmu tadi!"
"oh oke, tunggu aku akan kesana!" ucap Naira setelah itu mematikan telfonnya, saat ingin pergi Naira merasa ada orang yang menatapnya. Naira menoleh, dan benar pria yang menabraknya belum pergi. "maaf, apa ada lagi?" ucap Naira, pria itu tersenyum dan menggelengkan kepala. Naira menatap pria itu, sejenak mereka saling memandang. Naira merasakan pernah melihat pria itu, ia menatap dengan rasa penasaran. sampai suara dering terdengar lagi, membuyarkan pandangan mereka.
"halo?"
"Naira cepat, kamu dimana. apa kamu sedang di bulan, aku ada kelas siang ini!!!"
suara Riana yang keras, membuat Naira harus menjauhkan hpnya dari telinganya. "iya iya aku kesana!" ucap Naira mematikan hpnya, ia berjalan meninggalkan pria itu disana. Naira terus melangkah, tapi setiap langkahnya itu berat. Naira merasa ada sesuatu yang menahanya, Naira menoleh kebelakang untuk melihat. tidak ada siapapun, bahkan pria yang menabraknya sudah tidak ada. "apa ini, kenapa ada yang aneh!" gumam Naira, ia pun berjalan cepat menuju Riana. terlihat Riana menunggu dengan kesal, Naira pun menghampiri Riana.
"kamu kemana saja, bukankah aku bilang tunggu disini!" omel Riana dengan berjalan, Naira terdiam mengikuti langkah Riana. "ada apa denganmu, kenapa diam?" ucap Riana lagi, Naira menggelengkan kepala.
"hari ini interview ku, bisakah kau membantu ku menyiapkan pakaian?" ucap Naira, Riana yang menatapnya kesal hanya diam. "boleh kan?" ucap Naira memelas, Riana gemas dengan itu dan mencubit pipi Naira.
"Oke oke, jangan memasang wajah menjijikan!" ucap Riana, Naira tersenyum dan mengangguk. "apa yang kau butuhkan?" ucap Riana lagi, Naira tampak berpikir.
"aku tidak ingat apa yang sudah aku pelajari dulu, tapi kau adalah bu guruku saat dirumah sakit. kau dan kak Bagas mengajariku tentang pekerjaan, jadi sekali lagi bantu aku seperti apa interview itu!" ucap Naira, Riana mengangguk mengerti.
"kamu akan membawa surat surat yang aku siapkan kemarin, setelah itu kamu datang ke perusahaannya dan menyerahkannya pada presdir atau perwakilan yang mengurusnya. aku juga sudah membelikan pakaian yang cocok untukmu, jadi sekarang ambillah mobil aku tunggu disini!" jelas Riana, Naira pun mengangguk dan berjalan menjauh. setelah Naira menjauh, Riana menghubungi seseorang dihpnya.
"aku sudah bertemu dengannya, dia benar benar seperti orang asing!"
"sabar lah, dia akan datang padamu nanti!" ucap Riana dengan yakin. "oh iya dia akan interview, kamu sudah menyiapkan semuanya kan?"
"sudah, aku sudah mengganti seluruh karyawan disini. tidak akan siapapun yang mengenalnya, kamu tenang saja!"
"siapa yang sedang telfon?" ucap Naira, Riana memasukkan semua belanjaan mereka dibagasi mobil. Riana mengambil kunci mobil dari Naira, dan mengambil alih untuk menyetir mobil itu.
"nanti aku akan mengantarmu, setelah itu aku akan pergi ke kampus!" ucap Riana, Naira mengangguk dengan itu. "jangan khawatir, mereka pasti menyukaimu!"
"maksudmu menyukaiku?"
"maksudku mereka akan menerimamu, tenang saja!" ralat Riana, Naira mengangguk. Riana pun menjalankan mobilnya dan meninggalkan mall itu. Naira terdiam melihat jalan raya yang ramai, tiba tiba bayangan seorang pria terbayang dimatanya. Naira merasa pernah melihatnya, tapi ia berpikir entah dimana melihatnya.
"Riana!" panggil Naira dengan lirih.
"iya?" ucap Riana yang sedang fokus menyetir.
"apa ada yang belum ku ingat, maksudku seseorang yang belum muncul selain kalian?" tanya Naira, Riana terkejut dengan itu. Riana memaksakan senyumnya, Riana menggelengkan kepala. Riana ingin sekali mengatakan tentang Adrian, tapi selama empat bulan tidak ada yang berani menyebut nama Adrian didepan Naira. bahkan Vano dan Amelia tidak mengatakan tentang Adrian, mereka semua memilih untuk diam.
"tidak ada, mungkin hanya beberapa temanmu yang tidak tahu kondisi mu!" ucap Riana berbohong, Naira pun mengangguk dan memilih untuk diam tidak membahasnya lagi.
'maafkan aku Naira, kamu akan mengenalnya nanti.'
***
siang hari nya Naira siap untuk pergi, pakaian yang pernah ia pakai dulu sekarang ia memakainya. Naira menatap dirinya dicermin, Naira tersenyum sendiri melihat pantulan bayangannya dicermin. meskipun Naira pernah melakukan itu, ia tetap tidak memperdulikan itu. Naira tidak ingin mengingat hal yang lalu, karena jika itu terjadi hanya membuatmu sakit kepala.
Naira berangkat bersama Riana, setelah beberapa menit Naira sampai diperusahaan yang ia maksud. Naira langsung masuk dan menuju resepsionis, Naira tersenyum dengan ramah.
"permisi, saya Naira putri. saya kemari untuk melakukan interview!" ucap Naira, resepsionis itu mengangguk.
"iya nona anda tunggu dilobby sebentar, saya akan memeriksa berkas anda dulu!" ucap resepsionis itu, Naira mengangguk dan memberikan amplop yang ia bawa. saat ingin pergi menuju lobby, suara seseorang menghentikannya.
"nona Naira Putri?" panggilnya, Naira menoleh ke asal suara itu. terlihat seorang wanita cantik yang menghampirinya, Naira tersenyum.
"iya saya!" ucap Naira, wanita itu mengambil surat Naira pada resepsionis itu. Naira hanya diam dan memperhatikan wanita itu.
"kamu mau interview kan, ikuti saya!" ucap wanita itu, Naira mengangguk pelan dan tersenyum. Naira mengikuti langkah wanita itu, setiap melangkah disana Naira selalu merasakan keanehan. keanehan itu semakin menjadi dihatinya, karena setiap langkahnya tampak tidak asing.
"tau dari siapa perusahaan kami membutuhkan orang?" tanya wanita itu saat didalam lift, Naira menoleh dan memberikan senyuman.
"dari saudariku, katanya kalian membutuhkan seorang pekerja. dia mengurus semuanya untukku, dan saat mengirim lamaran kerja kalian memberikan kesempatan untukku!" jelas Naira, Naira merasa tatapan wanita itu sangat aneh. wanita itu menatap Naira dengan rasa familiar, Naira hanya tersenyum tulus padanya.
setelah keluar dari lift, wanita itu membawa Naira pada suatu ruangan. beberapa karyawan memperhatikan Naira, Naira hanya diam dan mengikuti langkah wanita yang ada didepannya. Naira merasa aneh, karena tidak ada siapapun yang melakukan interview sepertinya.
"ini cv mu, kamu masuklah keruangan itu. presdir sendiri yang akan bertemu denganmu, semoga kau berhasil!" ucap wanita itu, Naira mengangguk dan mengambil amplop yang diberikan padanya. Naira mengetuk pintu setelah mendapat ijin masuk, Naira pun masuk kemudian menutup pintu itu kembali.
Naira masuk ruangan itu, disana terang dimana mana. karena cahaya yang terang, memperlihatkan ruangan yang bersih dan tertata rapi. diujung agak jauh nampak sebuah meja besar, dengan seseorang duduk membelakangi Naira. suara sepatu Naira menggema disana, Naira berjalan mendekat pada meja yang memiliki papan nama Presdir AP.
"halo pak, saya diminta kemari untuk melakukan interview. bisakah dimulai?" ucap Naira, Naira menunggu presdir itu berkata.
"iya, lanjutkan!" ucapnya, Naira tersenyum.
"nama saya Naira Putri, usia 24 tahun. orang tua saya pernah bilang saya berpengalaman bekerja, tapi saya tidak ingat itu. karena saya mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu, dan kejadian itu membuat saya melupakan semua itu. saya dibimbing oleh kakak dan saudari saya, hingga saya memberanikan diri melamar pekerjaan dipeursahaan anda pak." jelas Naira, tidak ada sahutan presdir itu. semuanya hanya terdiam dan sunyi, Naira dengan sabar menunggu jawaban presdir itu.
sampai akhirnya presdir itu berdiri, ia membalikan dirinya untuk melihat Naira. Naira sendiri terkejut siapa yang berdiri dihadapannya, Naira terdiam ketika presdir itu menghampirinya.
"kamu?" ucap Naira, pria itu tersenyum.
"iya, hai nona kita bertemu lagi!" ucap pria itu, dan ya pria itu adalah pria yang sebelumnya Naira temui pagi itu di mall. Naira tersenyum dan mengangguk.
"dengan caramu bicara, kamu sangat berpengalaman. kamu saya terima bekerja disini, dan jabatanmu adalah sebagai sekretaris saya." ucap pria itu, Naira masih terdiam dengan keterkejutannya. "apakah ada yang salah, apa kamu ingin jabatan lain?" ucaonya lagi, Naira menggelengkan kepala.
"tidak tidak, saya senang telah diterima. terima kasih pak, terima kasih sudah memberikan saya kesempatan!" ucap Naira tersenyum, pria itu mengangguk dan mengulurkan tangan.
"iya sama sama, selamat bergabung. semoga kamu bisa menjadi rekan kerja saya, semoga berhasil!" ucap pria itu mengulurkan tangan, Naira dengan ragu menerima uluran tangan itu. Naira terkejut dengan tangan yang menggenggam tangannya, tangan yang hangat membuat hati Naira merasa keanehan lagi.
perasaan ini muncul lagi, ada apa denganku. aku baru bertemu dengannya beberapa jam lalu, tapi kenapa aku merasa pernah bertemu dengannya disuatu tempat. apa ada sesuatu yang belum aku mengerti.
"kau melamun?" ucap presdir itu, Naira tersentak dan langsung menggelengkan kepala. "kamu tidak mau mendengar nama saya?" ucap presdir itu lagi, Naira mengangguk pelan.
"iya pak!" ucap Naira, presdir itu tersenyum dengan tetap menggenggam tangan Naira.
"nama saya, Adrian Pratama!"