Do You Remember?

Do You Remember?
empat bulan 3.



kejadian sebelum empat bulan...


Adrian tidak menampakan dirinya selama perawatan Naira, Riana sendiri selalu mengirim informasi tentang Naira pada Adrian. menurut Adrian itu sudah cukup, mendengar kabar keadaan Naira yang semakin membaik. hari ini Adrian bertemu dengan Riana disebuah cafe, menggunakan kaos biasa Adrian duduk bersama Riana. setelah memesan kue dan minuman, mereka masih membahas kesehatan Naira. Riana menceritakan pada Adrian semuanya, bahkan Riana menceritakan keseharian Naira bersama dirinya.


"aku sudah mengajarinya, bahkan kakak mengajari setiap pelajaran yang dulu ia gemari. dia mudah mengingat dan mengerti pelajaran itu, tapi kenapa dia tidak bisa mengingat orang orang disekitarnya!" ucap Riana, Adrian mengangguk. "bagaimana keadaanmu, pasti berat tinggal sendirian dirumah besarmu!" ucap Riana lagi, Adrian tersenyum dan meminum kopi dalam cangkirnya.


"sangat berat, setiap bayangannya hadir dirumahku!" saut Adrian, Riana tersenyum dan merasa kasihan pada Adrian. "oh iya, dia akan pulang beneran kan?" ucap Adrian, Riana mengangguk.


"iya dia beneran pulang, kurang dua minggu lagi. bagaimana kamu ketemu dia nantinya?" tanya Riana, Adrian tersenyum. "senyumu penuh arti, dan senyum itu membuat orang terpesona!" ucap Riana , Adrian tertawa kecil.


"aku punya rencana, setelah sembuh kau harus membuatnya melamar pekerjaan. apapun caramu lakukan, dan pekerjaan itu hanya diperusahaanku!"


"kamu bodoh atau gimana, siapa yang tidak tau tentang Naira diperusahaanmu. bagaimana kalau mereka bertanya aneh aneh padanya, terus terjadi gangguan lagi pada otaknya. kamu tau kan, dia hampir gila sebelumnya!" saut Naira, Adrian mengiyakan itu.


"aku sudah merencanakan, aku akan mengganti seluruh karyawan disana. aku memindahkan karyawan lama dengan karyawan baru, jadi tenang saja tidak ada yang mengenalinya. mungkin hanya Siska disana, dan juga Johan!" ucap Adrian lagi, Riana berpikir rencana itu bagus. Riana menyetujui rencana Adrian.


"oke, aku akan usahakan." ucap Riana, Adrian mengangguk dengan itu.


bayangan setiap bayangan Naira berada dirumah itu, Adrian sering menatap foto besar pernikahan mereka dikamarnya. kadang Adrian merasa sedih, rumah besar itu terasa hampa disana. rasanya berbeda, tanpa Naira yang dulu dan tanpa Naira yang sekarang. meskipun Adrian menyibukkan dirinya, itu tidak berpengaruh. sesaat dia melupakan kesedihannya, tentang Naira saat sibuk dikantor. tapi disaat ia kembali kerumah, ia akan mengingat kesedihannya lagi.


hari ini setelah empat bulan Adrian merasa bahagia, karena Riana berhasil membuat Naira melamar pekerjaan seperti rencananya. Adrian berangkat ke kantor dengan senyuman, beberapa orang melihatnya terkejut. karena empat bulan terakhir Adrian murung dan suka sekali marah untuk hal kecil.


"Siska, Johan keruanganku sekarang!" ucap Adrian, Siska dan Johan saling melihat. mereka juga heran dengan perubahan Adrian, karena sudah penasaran mereka berjalan cepat menghampiri Adrian.


"ada apa ini?" ucap Johan yang merasa heran, Adrian duduk dan tersenyum menatap Johan dan Siska.


"Naira, dia pulang satu minggu yang lalu!" ucap Adrian, Siska tampak senang dengan itu. mereka berdua berjalan mendekat kearah Adrian. "Siska, pindahkan semua karyawan disini yang mengenal Naira!" ucap Adrian lagi, Siska tampak bingung dengan itu.


"kenapa pak, apakah ada masalah?" tanya Siska, Adrian menggelengkan kepala.


"Naira akan melakukan interview siang ini, dan aku tidak mau satu orang pun mengenalnya disini!"


"benarkah, apakah benar?" tanya Siska kegirangan, Adrian mengangguk.


"iya benar, siang ini dia akan datang!" ucap Adrian, Siska sangat gembira dengan itu.


"iya pak, saya akan lakukan sekarang!" ucap Siska dan berlalu pergi, Johan masih disana menatap Adrian. Johan tidak menyangka wajah murung Adrian, berubah seperti cuaca ketika mendengar Naira akan datang.


"hei pak Johan terhormat, kenapa kau melihatku?" ucap Adrian menaikkan satu alisnya, Johan menggelengkan kepala.


"akhirnya aku melihatmu bergurau, sekarang apa yang akan kau lakukan?" ucap Johan, Adrian mendirikan tubuhnya dan merapikan pakaiannya.


"pagi ini, Naira dan Riana ada di mall. aku ingin melihatnya, aku sangat merindukannya. dan kau temani aku, temani aku kesana!" ucap Adrian berjalan, Johan melangkah mengikuti nya.


"hei apakah kau akan membiarkan Siska mengurus semua itu sendiri, kau memang jahat!" sewot Johan, Adrian tertawa kecil.


"baiklah, aku akan berangkat sendiri. kau temani kekasihmu itu saja, aku pergi dulu!" ucap Adrian berjalan menjauh, Johan tersenyum dan segera menuju ke tempat Siska.


****


Adrian melajukan mobilnya menuju mall, kebahagiaan Adrian terlalu lewat. ia tersenyum sendiri dengan menyetir mobilnya, setelah beberapa menit Adrian sampai di mall itu.


"kamu dimana?" ucap Adrian menelfon, ia menelfon Riana.


"Naira ada didekat cafe EX, aku sedang di toilet. kamu temui saja dulu, liat dia sepuasmu!"


"oke!" ucap Adrian lalu mematikan telfonnya, Adrian berjalan melihat sekelilingnya.


sampai matanya tertuju pada seseorang, siapa lagi kalau bukan Naira sang pujaan hati. Adrian tersenyum melihat Naira, setelah empat bulan terakhir perubahan Naira terlihat jelas. meskipun tubuhnya terlihat kurus, pipi gembulnya masih terlihat begitu menggemaskan. Adrian tertawa kecil, ketika melihat Naira bicara sendiri dengan tas belanjaannya. tanpa sadar jarak mereka semakin dekat, sampai akhirnya Naira menabrak tubuhnya. Adrian terkejut dengan itu, saat ingin bicara Adrian sangat ragu.


"apa kau baik baik saja?" ucap Adrian yang akhirnya terucap, Adrian tersenyum ketika Naira hanya mengangguk.


Adrian menatap Naira tanpa bicara, ia tersenyum melihat istri cantiknya itu. istri yang ia rindukan berbulan bulan, kini ada dihadapannya. tapi meskipun itu, Adrian bersedih karena pertemuan mereka seperti orang asing. saat Naira pergi, Adrian ingin sekali mencegah Naira.


"Nara aku ingin memelukmu, aku merindukanmu!" ucap Adrian lirih, ia melihat kepergian Naira setelah mendapat telfon dari Riana. Adrian pun puas melihat Naira, ia hanya perlu menunggu siang tiba.


saat diparkiran ia ditemukan lagi dengan Naira, ia hanya menatap Naira didalam mobilnya. sampai seseorang menelfon nya, telfon itu dari Riana.


"aku sudah bertemu dengannya, dia benar benar seperti orang asing!" ucap Adrian tanpa mengatakan halo.


"sudah, aku sudah mengganti seluruh karyawan disini. tidak akan ada siapapun yang mengenalnya, kamu tenang saja!" ucap Adrian, ia melihat Naira sudah tidak ada disana.


"sudah dulu, dia datang!"


"eh tung... (tut tut tut)" Adrian kesal dengan itu, Adrian pun pergi dari tempat parkir itu. ia segera menuju kantornya, dan tidak sabar untuk menunggu Naira datang.


****


apa yang sedang dia pikirkan, kenapa Naira menatapku seperti itu. tunggu, jangan sampai dia berpikir lebih jauh.


"kau melamun?" ucap Adrian, Naira tersentak dan menggelengkan kepala. Adrian merasa lega dengan itu, Adrian tersenyum kearahnya. "kamu tidak mau mendengar nama saya?" ucap Adrian, saat Naira mengangguk Adrian khawatir. ia khawatir kejadian waktu itu terulang, setelah mendengar namanya Naira merasa sakit. tapi Adrian tetap ingin mengatakannya, ia tersenyum pada Naira.


"nama saya, Adrian Pratama!" ucap Adrian dengan tegas, Naira terdiam dan menatap Adrian. Adrian tetap memasang senyum dimulutnya, sebenarnya ia khawatir.


"iya pak, saya Naira Putri!" ucap Naira tersenyum, Adrian bernafas lega karena semuanya normal.


"saya tidak menyangka, kita bisa bertemu lagi disini. kamu ingin bekerja sekarang atau mulai besok?". tanya Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk. Naira merasa tidak nyaman, saat Adrian tidak melepaskan tangannya.


"pak, bisakah lepaskan tangan saya dulu?" ucap Naira memberanikan diri, Adrian terkejut dengan itu. ia tidak sadar masih memegang tangan Naira, Adrian melepas tangan itu dan merasa canggung begitu juga dengan Naira.


"hm... jadi bagaimana?" ucap Adrian, Naira mengangguk perlahan.


"saya bisa bekerja kapanpun yang anda mau, jadi anda pilih saja!" saut Naira tersenyum, Adrian mengangguk dengan itu.


"bekerja lah sekarang, minta bantuan wanita yang mengantarmu kemari. dan besok tugas utamamu akan dilaksanakan, apa kamu bersedia?" saut Adrian, Naira mengangguk dengan sopan.


"saya bersedia, kalau begitu apa saya boleh pergi?" ucap Naira, Adrian mengangguk dan mempersilahkan Naira keluar. setelah kepergian Naira, Adrian bernafas lega. ia menetralkan kegugupannya, Adrian berusaha mengatur nafasnya.


"kenapa aku jadi panik, apa karena terlalu bahagia bisa bicara dengan Naira!" gumam Adrian, ia tersenyum sendiri menatap pintu ruangannya.


Naira keluar dari ruangan Adrian, ia berdiri didepan pintu disana. Naira menyentuh dadanya sendiri, ia merasa sangat gugup dan tidak karuan. ia melihat tangannya sendiri, tangan yang sebelumnya bersentuhan dengan tangan Adrian.


"apa ini, apa ini rasanya saat orang asing menyentuh tanganku?" ucap Naira, terlihat Siska menghampiri Naira dengan tersenyum.


"bagaimana, apa yang dikatakan pak presdir?" ucapnya tersenyum, Naira mengangguk.


"pak Adrian menerima saya, dan dia mengatakan kamu akan membantu saya mempelajari semuanya!" ucap Naira, Siska mengangguk dengan senyuman. Siska sangat bahagia melihat Naira, meskipun Naira tidak mengenalinya lagi.


"baiklah, namaku Siska. kamu bisa panggil namaku, karena jabatan kita sama sebagai seorang sekretaris!" ucap Siska mengulurkan tangan, Naira mengulurkan tangannya dengan ragu.


"Siska?" ucap Naira lirih, Siska mengangguk. Naira menatap Siska sejenak, membuat Siska terdiam dan menjadi canggung.


"jangan ragu untuk menanyakan apapun padaku, oke?" ucap Siska, Naira tersenyum dan mengangguk. Siska membawa Naira keruang tempat mereka bekerja, Siska menjelaskan pekerjaan yang akan dilakukan Naira. Siska teringat saat dulu pertama kali mengenal Naira, hal yang ia lakukan sekarang seperti yang ia lakukan dulu pada Naira.


begitu masuk ruangan itu, Naira melihat ruangan itu tertata rapi. sekali lagi dalam pikir Naira, tempat dan suasana tempat itu merasa tidak asing untuknya. Naira menyentuh setiap barang disana, setiap barang yang disentuh terasa tidak asing.


"kamu kenapa?" tanya Siska, Naira menoleh dan menggelengkan kepala.


"tidak, aku baik baik aja. cuman aku merasa, aku pernah melihat semua ini. maksudku terasa tidak asing, seperti aku sudah pernah kemari." ucap Naira, Siska tersenyum. dalam hati Siska ingin sekali mengatakan semuanya, tapi Siska tidak ingin terjadi apapun pada Naira.


"pasti perasaanmu aja, oh iya ini meja kerja kamu. ini telfon khusus untuk pak Adrian, maksudnya telfon ini hanya terhubung dengan pak Adrian. untuk terhubung dengan orang lain, gunakan telfon ini. kamu mengerti kan?" jelas Siska, Naira mengangguk mengerti. secara kebetulan telfon dimeja Siska berdering, Siska segera berjalan dan mengangkat telfon itu.


Naira mendudukan dirinya, Naira mengelus meja itu. ia bahkan membuka setiap lagi dimeja itu, semakin lama perasaan gelisah menyelimuti hati Naira. Siska bisa melihat kegelisahan Naira, ia menghampiri Naira setelah selesai dengan telfonnya.


"Naira ayo ikut aku, akan aku jelaskan apa yang akan kamu kerjakan besok!" ucap Siska, ia berencana untuk menyibukkan Naira. agar Naira tidak banyak berpikir dan mengganggu kesehatannya. Naira mengiyakan itu, Siska pun membawa Naira keluar dari ruangan itu. Siska menjelaskan setiap pekerjaan, Naira mendengar itu dengan baik dan dimengertinya.


tanpa disadari Naira, Adrian berdiri agak jauh bersama Johan. mereka menatap Naira dan Siska, Adrian menatap Naira tanpa berkedip dan tersenyum sendiri. Naira yang merasa ditatap, ia pun menoleh kearah samping kanannya. Naira terkejut saat melihat Adrian, sejenak pandangan mereka bertemu.


"Naira kamu dengar aku kan?" ucap Siska saat melihat Naira melamun, Naira tersadar dan mengangguk.


"iya Siska, lanjutkan!" ucap Naira, Siska mengangguk dan melanjutkan penjelasannya. Naira masih dengan perasaan gelisahnya, Naira menoleh kearah tempat Adrian berdiri. tapi Adrian sudah tidak ada disana, Naira menghela nafasnya.


sepertinya hari ini aku kurang sehat, banyak hal aneh yang aku rasakan sekarang. terutama pria itu, perasaanku selalu gelisah jika bertemu dengannya. dan Siska ini, dia orang yang baik. dengan orang baru dia mudah bergaul, dia sangat akrab denganku saat pertama kali bertemu. bukan hanya dia, aku juga merasa akrab dengannya.


****


jangan lupa like, komen dan vote kalian😍