
ketika sampai dikota yang dituju, Adrian langsung melakukan pekerjaannya dengan cepat. dari bertemu klien hingga rapat bersama orang penting lainnya, ia melakukan semuanya dengan cepat agar bisa pulang dengan segera. sampai dimalam hari dirinya bisa berhenti sejenak, ia merasa belum menghubungi Naira ketika sampai dikota itu. Adrian merasa ada yang salah, hatinya begitu tidak tenang selama melakukan pekerjaan nya.
Adrian mencari hpnya, dan mencoba untuk menghubungi Naira untuk memastikan kecemasannya. seketika Adrian terkejut, beberapa panggilan tidak terjawab dari Bagas bahkan semua orang yang memiliki nomernya.
"ada apa ini, kenapa mereka menelfon banyak sekali!" gumam Adrian, ketika sudah menekan tombol panggil, seseorang memasuki kamar Adrian dengan tergesa gesa.
"Adrian, Naira ... Naira melahirkan, pak Vano bilang Naira ada dirumah sakit sekarang!" ucap Johan, seketika Adrian menjatuhkan hpnya dan membalakkan matanya.
"siapkan mobilku, kita pulang sekarang!" ucap Adrian, Johan mengangguk dan pergi dari sana. kecemasannya terjawab sudah, ia merasa tidak tenang karena Naira yang sedang membutuhkannya saat ini. "bodoh, sialan. aku tidak harus meninggalkan Naira, Naira tunggu aku!" ucap Adrian yang memakai pakaian seadanya, dengan cepat Adrian meninggalkan kota itu dengan disupiri oleh Johan.
dirumah sakit semua orang terdiam, karena tidak ada kabar dari Ridwan yang sedari tadi belum keluar untuk menemui mereka. kecemasan terus bertambah, dengan berjalannya menit. bahkan mereka sudah menunggu beberapa jam disana, sampai malam tahun baru sudah terlewat yang seharusnya mereka rayakan. tidak berapa lama kemudian Ridwan keluar dari ruang operasi itu, terlihat wajah cemas pada Ridwan.
"ada apa?" tanya Daniel, Ridwan menggelengkan kepala membuat semua orang merasa khawatir.
"jadwal kelahiran nya lebih cepat dari perkiraan, seharusnya sekitar satu minggu lagi dia melahirkan. dan dia merasa kesakitan didalam, kami akan melakukan operasi cecar jika kalian mengijinkan!" jelas Ridwan,
"iya lakukan saja, apalagi masalahnya?" ucap Kara disana, Ridwan mengangguk mengerti.
"iya saya tahu, masalahnya pada ..."
"dokter pasien sepertinya akan melahirkan!" ucap seorang perawat memotong perkataan Ridwan, ia pun segera menghampiri Naira dengan cepat. semua orang terus berdoa untuk Naira, dengan cemas dan juga khawatir yang sudah tidak terbentuk lagi. sampai beberapa saat suara tapak kaki terdengar, terdengar berlari dan semakin mendekat kearah mereka. Adrian berlari dengan cepat kearah semua orang, dengan rambut acak acakan dan pakai seadanya yang sedang ia kenakan.
"dimana Naira?" tanya Adrian, ia berjalan kearah pintu ruangan Naira.
"apa yang kau lakukan?" tanya Bagas menghentikan Adrian, dengan geram Adrian menoleh kearah Bagas.
"istriku membutuhkan aku, lepaskan aku!" ucap Adrian, Bagas pun mengingat wajah Naira yang kesakitan memanggil Adrian. dengan lemah Bagas melepas Adrian, Bagas menghela nafasnya.
"dia membutuhkanmu, dan kau sibuk dengan pekerjaanmu!" ucap Bagas, tanpa menjawab Adrian masuk kedalam ruangan Naira. Ridwan menoleh kearah Adrian, hampir saja Ridwan mengusir Adrian karena mengira orang lain yang datang. secara bersamaan Naira menoleh kearah Adrian, Naira mengulurkan tangannya pada Adrian.
"Ad ... Adrian ... sakit sekali ... " ucap Naira yang terdengar jelas oleh Adrian, dengan cepat Adrian menggenggam tangan Naira yang langsung mencengkram tangannya dengan kuat.
"Naira aku disini sayang, aku datang ... maaf aku .. terlambat sayang ... " ucap Adrian gemetar, Naira yang merasa kesakitan tersenyum.
"kamuh ... tidak terlambat ... ukh ... hah ..."
"sayang kamu harus kuat, kamu akan jadi ibu sebentar lagi. kamu harus bertahan, demi mereka sayang!" bisik Adrian untuk menyemangati Naira, dengan arahan dokter Naira terus berusaha untuk mengeluarkan bayinya.
"ikuti arahan saya ya, tarik nafas lalu coba dorong sekuat tenaga untuk mengeluarkannya ..."
"akuh ... tidak kuat ..." ucap Naira membuat Adrian terkejut, diciumnya wajah Naira dengan bergantian.
"enggak sayang, kamu gak boleh bilang seperti itu. ikuti arahan dokter, kamu bisa sayang aku yakin ..." ucap Adrian gemetar, rasa bersalah dan juga tidak tega menyelimutinya. melihat wajah Naira yang kesakitan, membuat hatinya sakit dan juga takut.
"dorong terus ... sedikit lagi .... terus ..." ucap seorang dokter wanita yang dibantu Ridwan, Naira mendorong sesuai instruksi kedua dokter itu. "sudah kelihatan,
"oeek ... oeek ... oeek ... " suara bayi menangis menggema disuruh ruangan, diiringi suara nafas Naira yang terus terengah engah. bahkan suara bayi tersebut terdengar diluar, membuat ke khawatir an mereka yang amsedang menunggu menghilang. mereka merasa bahagia mendengar suara tangisan bayi itu.
Adrian terpenganga mendengar suara bayi itu, anak pertamanya yang membuatnya menjadi seorang ayah saat itu. "bayi pertama kalian laki laki!" ucap Ridwan dengan menggendong bayi laki laki yang kecil itu, Adrian terdiam dan terus menatap Naira.
"laki laki ... Adrian ... ukh ..." rintih Naira lagi, lahiran kedua terjadi lagi dan membuat Naira merasa kesakitan itu lagi. "huh ... ini lebih sakit .. ukh. ..." ucap Naira, ia terus berusaha melahirkan bayinya.
"sesuai instruksi tadi ya bu, tarik nafas dan dorong sekuat tenaga ibu ... " ucap seorang dokter, Naira hanya mengangguk dengan lemah. "bayinya tidak pada sisi yang benar, lebih baik dioperasi saja!"
"em ... enggak, sayah ... bisah ... dokter, tolong ... bantu sayah ... untuk mengeluarkan mereka secara ... normal ... huh ... em ... " mendengar semua itu Adrian tidak mengatakan apapun, ia terus menggenggam tangan dan menatap wajah Naira.
"sayang ... bertahanlah!" ucap Adrian lirih menempelkan wajahnya pada pipi Naira, dengan tersenyum Naira mengangguk lemah. Naira terus berusaha mendorong lahiran itu sesuai instruksi dokter, bahkan ia tidak memperdulikan kesehatan nya yang semakin melemah.
"oeek ... oeek ... oeek ... oeek ..." suara bayi menangis terdengar kembali, rasa lega terlihat diwajah Naira.
"selamat Naira dan pak Adrian, anak kedua kalian perempuan. selamat kalian sudah menjadi orang tua, dari anak kembar laki laki dan perempuan!" ucap Ridwan senang, Naira tersenyum lega dan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Adrian ... Selamat ... kamuh ... jadi papah ... " ucap Naira melemah, Adrian membalakkan matanya ketika Naira menutup matanya.
"Naira kenapa, ada apa ini. buka matamu sayang ..." seketika panik dan rasa takut menyelimutinya, dengan cepat Ridwan keluar dari ruangan itu untuk memanggil Daniel karena sedang membutuhkan dokter untuk pemeriksaan Naira.
"Daniel apa yang terjadi, katakan padaku!" tanya Adrian menggeram, Daniel memeriksa Naira dengan teliti kemudian menatap beberapa perawat.
"pindahkan pasien keruangan lain, jika tidak ditangani nanti akan fatal!" ucap Daniel, semua perawat mengangguk dengan itu. mereka membawa Naira keluar dari sana, Daniel mencoba menenangkan Adrian yang merasa kalut. "tenanglah, tidak akan terjadi apapun padanya!" ucap Daniel, Adrian menoleh dengan wajah sendu.
"aku percaya padamu Daniel!" ucap Adrian, Daniel mengangguk dan pergi dari sana menyusul Naira. Adrian terdiam diruangan itu, pikirannya kosong dan melayang entah kemana. semua orang masuk menyusul Adrian, mereka menangis ketika melihat Naira yang dibawa keluar. dan lagi mereka melihat Adrian terdiam dengan pikiran kosong, rasa bahagia juga terlihat diwajah mereka ketika melihat bayi kembar yang tidur dengan tenang.
"Adrian berikan adzan untuk mereka!" ucap Vano, Adrian masih terdiam tanpa mengatakan apapun.
"karena kelahiran bayi yang terlalu cepat, kami memasukkan mereka dalam inkubator. dan tolong kalian semua menunggu diluar, biarkan ruangan ini tenang untuk kedua bayi itu!" ucap Ridwan, semua orang pun mengiyakan itu. Amelia melihat Adrian yang terdiam, ia menatap wajah cemas dan sedih Adrian dengan menatap telapak tangannya yang merah.
"Adrian tenang lah, Naira akan baik baik saja!" ucap Amelia, Adrian mengangguk pelan tanpa melihat Amelia.
setelah semua orang keluar, Adrian mendirikan tubuhnya dan mendekat kearah sikembarnya. tanpa disadari air mata menetes dipipi Adrian ketika mengangkat salah satu bayi itu, Adrian membacakan Adzan untuk kedua bayi itu secara bergantian.
"selamat datang sayang ... mama kalian akan baik baik saja, kalian harus cepat sehat jangan kecewakan mama ..." ucap Adrian pada kedua bayi itu,
"kedua bayi ini akan pulih dalam beberapa hari, jangan khawatir!" ucap Ridwan, Adrian menghela air matanya dan keluar dari sana tanpa menjawab Ridwan.
****
mereka menunggu Naira yang sedang dalam perawatan, keadaan kritis membuat semua orang merasa khawatir. hari sudah pagi, tapi belum ada kabar dari Daniel dengan keadaan Naira. semua orang terlihat lelah menunggu, hampir mereka tidak tidur dan juga tidak memakan makanan apapun. Adrian sendiri menatap ruangan yang terdapat Naira didalamnya, dengan cemas Adrian menunggu Daniel keluar.
"kalian pulang saja, aku yang akan menunggu Naira!" ucap Bagas, Kara menoleh kearah Bagas kemudian kearah Adrian. "kalian akan sakit jika terus disini, biarkan aku dan Adrian disini untuk Naira!" ucap Bagas lagi, semua orang mengangguk dan mengiyakan itu.
"Riana juga disini ya!"
"tidak kamu pulanglah, renggangkan kakimu dikasur!" ucap Bagas dengan tegas tanpa bisa dibantah, Sonia pun membawa Riana pergi dari sana. Bagas melihat kearah Adrian yang terus terdiam, ia mendekati Adrian dan duduk disamping Adrian.
"sudah melakukan tugasmu pada sikembar?" tanya Bagas, Adrian mengangguk pelan. "jangan khawatir, Naira akan baik baik saja!" ucap Bagas lagi, Adrian hanya terdiam. "rasa cinta kalian akan menguatkan Naira, apapun yang terjadi pada Naira, dia akan baik baik saja!"
rasa bersalah pada Naira membuat Adrian sedih, hatinya masih merasa sakit. tidak pernah ia bayangkan kelahiran anak pertamanya akan seperti ini, bahkan harapan nya untuk memiliki bayi kembar laki laki dan perempuan pun tercapai. tapi kesehatan Naira membuatnya merasa bersalah, karena melahirkan sikembar untuknya nyawa Naira terancam.
tidak lama kemudian terlihat Daniel keluar dari ruangan, Daniel menghampiri Adrian dan juga Bagas disana. "Naira tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak tenaga dan juga cairan dalam tubuhnya, tapi aku tidak bisa memastikan kapan Naira akan siuman. aku sudah memberikan infus lebih padanya, keadaannya sudah normal tapi tubuhnya masih sangat lemah!" jelas Daniel, tanpa menjawab Adrian berjalan cepat untuk menemui Naira. saat Daniel ingin mencegah, Bagas menahan Daniel dan memberikan isyarat pada Daniel untuk tidak melarang Adrian.
dengan wajah pucat Naira terbaring lemah ditempat tidurnya, dengan berbagai selang dan jarum pada tubuhnya yang dipasang. Adrian mendekat kearah Naira dan menggenggam tangan Naira, ia mencium tangan itu dengan sayang.
"sayang buka matamu, kamu harus melihat sikembar ..." ucap Adrian lirih, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Naira. "kamu harus menyusui mereka ... bukankah kamu ingin bayi laki laki, salah satu dari mereka adalah laki laki .. kamu pasti senang ... bangunlah sayang ... lihat mereka dan gendong mereka ..." ucap Adrian tanpa sadar meneteskan air mata, ia memeluk Naira dengan tubuh gemetar. "kamu janji padaku akan kuat, kamu janji ... akan melahirkan mereka ... tapi kenapa ... kenapa kamu malah begini ... ini sudah pagi, kamu sudah lama tidur ... " Bagas menarik tubuh Adrian yang terus merancau, Bagas mencoba menenangkan Adrian yang sedang kacau.
"Adrian dia akan bangun, kamu harus tenang ..." ucap Bagas, Adrian menangis lemah saat Bagas mencoba memeluknya.
"aku tidak bisa kehilangan dia ... tidak lagi ... sudah cukup ..." ucap Adrian merosot dihadapan Bagas, Daniel dan Bagas merasakan kesedihan Adrian saat itu. mereka juga merasa sedih ketika melihat Naira, tapi mungkin kesedihan Adrian lebih dalam dan sangat dalam.