Do You Remember?

Do You Remember?
mengingatmu.



semua orang berkumpul dirumah sakit, mereka khawatir pada Naira dan Adrian yang terbaring secara bersamaan. Amelia menceritakan semuanya bahwa dirinya mengatakan apa yang sebenarnya, dan yang lain pun tidak menyalahkan tindakan Amelia. terutama Nadia, ia bisa merasakan jiwa seorang ibu yang sangat sedih saat melihat anaknya menderita.


"David bagaimana?" tanya Kara, David tersenyum dan mengangguk.


"Adrian mengalami stres berat dan juga kelelahan, karena itu aku sudah memberinya suntikan untuk membuatnya istirahat. setelah dia bangun, dia akan lebih baik dan rasa mual akan menghilang dalam dirinya!" jelas David, mereka merasa lega dengan itu. "untuk Naira dia pingsan karena tekanan, Amelia merangsang ingatan Naira sebelumnya. membuat Naira tidak mampu menahan tekanan itu, dan berakhir tidak sadarkan diri!"


"apa ingatan Naira kembali?" tanya Amelia, David terdiam dengan itu. "saat dia pingsan, dia mengatakan aku ingat. jadi apa maksudnya dia akan mengingat kami seperti semula?" tanya Amelia lagi.


"aku tidak bisa memastikan, kita hanya perlu berdoa dan menunggu Naira siuman. hanya dengan Naira bangun bisa menentukan semuanya, karena itu aku menempatkan mereka diruangan sama. agar jika salah satu dari mereka terbangun, bisa melihat satu sama lain!" jelas David, mereka disana mengangguk dengan itu.


"aku sudah katakan sebelumnya, semakin dia mengingat maka semakin dia melupakan. karena itu kalian harus berdoa, agar itu tidak terjadi pada Naira!" ucap David lagi, membuat hati Amelia terenyuh. karena mungkin itu kesalahannya lagi, jika terjadi sesuatu yang parah dengan Naira.


"maafkan aku Nadia, seharusnya aku tidak menceritakan tentang semuanya." ucap Amelia terisak, Nadia menggelengkan kepalanya. sejatinya Nadia tidak pernah menyalahkan siapapun, Nadia sudah menerima takdir putri yang seperti itu. Nadia menenangkan hatinya dan juga hati Amelia secara bersamaan, ke khawatiran masih melanda hati semua orang disana.


****


Naira membuka matanya, ia melihat sekelilingnya dan berada dirumah sakit. Naira mendudukan tubuhnya, dan merasakan sakit pada kepalanya. bayangan setiap bayangan muncul kembali disana, Naira mengingat semua yang terjadi padanya. tapi ingatannya berhenti saat kecelakaan, Naira tidak mengingat kebersamaan bersama dengan Adrian. dan bahkan hanya bayangan pernikahan saja, tidak ada bayangan kebersamaan mereka.


"kenapa, kenapa aku tidak mengingat dirinya!!!" ucap Naira berusaha mengingat Adrian, tapi nihil tidak ada apapun dalam kepalanya. hanya ada pernikahan dan pernikahan saja, tidak lebih dan selebihnya hilang entah kemana. ia teringat pada Adrian, Adrian yang terbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Naira berniat membuka jarum infus yang ada ditangannya, tapi matanya melihat sosok orang yang ingin ia temui terbaring sedikit jauh dari sampingnya.


Naira segera melepas jarum infus itu, dan turun dan berjalan perlahan menuju Adrian. wajah sendu dan sedih terlihat jelas pada Naira, Naira menyentuh tangan Adrian dengan lembut. Naira semakin yakin dengan hubungannya bersama Adrian, karena merasakan sentuhan itu yang familiar ia rasakan.


Adrian sakit empat bulan terkahir, itu artinya Adrian stres memikirkannya, Adrian lelah menunggunya sampai membuatnya tidak enak makan dan juga mengganggu pencernaan Adrian. Naira mulai terisak jika memikirkan semua itu, tidak tahu hal berat apa yang sudah dialami oleh Adrian.


"kamu menderita karena aku hiks... bahkan aku tidak bisa mengingatmu sama sekali... aku sangat jahat, sangat jahat... buka matamu kumohon, aku ingin mendengarmu memanggil namaku saat kita bersama dulu Adrian..." ucap Naira terisak menangis, Naira mengutuk dirinya yang menurutnya jahat telah melukai Adrian begitu dalam.


"aku menyakitimu Adrian, aku sangat menyakitimu... hiks.. bangunlah... ceritakan semuanya tentang kita, ceritakan padaku..." ucap Naira yang masih menangis, rasanya matanya sudah kering saat menangis. dengan bergumam Naira memeluk Adrian, Naira terus terisak disana. rasa penyesalan dan kesedihan menghantui dirinya, kekesalan Naira sekarang adalah berusaha mengingat Adrian yang tidak bisa ia ingat.


"apakah kedua anak kecil itu kita, apakah itu kita Adrian. siapa yang akan menjawabnya, apakah aku harus terus bertanya pada diriku sendiri..." gumam Naira saat tidur di dada Adrian, dengan isak tangis Naira berusaha membangunkan Adrian. "kak Anan..." bibir Naira menyebutkan nama itu, ia teringat pada mimpinya yang menyebut kak Anan.


"kak Anan... itu kah namamu dariku, kak Anan..." ucap Naira menangis kembali, ia bahkan menempatkan kepalanya di sela pundak Adrian. "kak Anan.. benarkah itu, bangun kumohon...."


"Nara..."


Naira terkejut dengan suara itu, Naira mendudukan dirinya untuk menatap Adrian. wajahnya berbinar ketika melihat Adrian membuka mata dengan lemah, apalagi saat Adrian tersenyum lemah padanya. tangan Adrian terulur untuk menyentuh pipi Naira yang menangis, Naira menggenggam tangan itu dan menciumnya.


"maafkan aku, aku membuatmu menderita. hiks... hiks..." tangis Naira pecah lagi, Adrian terkejut dan langsung mendudukan dirinya. diusapnya kedua pipi Naira yang basah dengan airmatanya, Adrian tersenyum.


"bukan salahmu..."


"tentu saja salahku, aku membuatmu menderita sampai seperti ini. saat kamu sudah menderita seperti ini, aku dengan jahatnya tidak mengingat satu hal pun tentangmu. lalu kenapa kamu tidak mengatakan padaku, kenapa hiks..." saut Naira dengan cepat, masih dengan tangisnya Naira bicara. "kehidupanmu dalam hidupku pasti sangatlah penting, tapi ini terjadi padaku. aku tidak mengingat saat saat bersama suamiku, yang ku ingat hanya sebuah pernikahan dan kecelakaan!" ucap Naira lagi, dan itu membuat Adrian terkejut. suami, itu artinya Naira sudah tahu kalau dirinya adalah suami Naira.


"apa maksudmu Naira, apa kamu mengingatku?" tanya Adrian lemah, Naira tersenyum disela tangisnya.


"meskipun aku tidak mengingatmu, tapi aku istrimu kan, dan kamu suamiku. bukankah kita suami istri yang bahagia, apa benar itu?" ucap Naira yakin, Adrian tidak menyangka Naira akan mengatakan hal seperti itu. terlintas kebahagiaan dihati Adrian, "aku ingin mengingatmu tapi tidak bisa, maafkan aku hiks... maafkan aku..." ucap Naira, tanpa bicara Adrian memeluk tubuh Naira dan menangis bahagia. hari yabg ditunggu Adrian selama ini telah terjadi, meskipun tidak mengingat tentang mereka Adrian sudah sangat senang dengan Naira yang mengingat bahwa dirinya adalah istri Adrian.


"aku selalu merasa aneh saat denganmu, selalu merasa ada hal yang yang sangat familiar denganmu. dan aku tidak tahu apapun, aku bisa merasakan semuanya tapi aku bodoh. bodoh terus menyakitimu Adrian, aku terus melukaimu disaat tidak menyadari apa yang aku rasakan..." suara Naira yang serak menang tangisnya, Adrian mengelus pinggang Naira dan tidak mengatakan apapun. "kenapa kamu tidak mengatakan apapun, apa kamu sudah bisu hiks..." ucap Naira membuat Adrian tertawa, Adrian mengelap air mata itu dan tersenyum.


"aku tidak ingin mengatakan apapun sebelumnya, karena aku tidak ingin menyakitimu dan juga membuatmu terluka Nara..."


"jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis. aku tidak pernah khawatir kamu jauh dariku, karena sudah sejak kecil kita bersama. cinta kita terukir saat kita masih anak anak, dan bukan masalah untukku saat kamu melupakan aku. karena aku sudah berjanji akan membuatmu teringat padaku tanpa menyakitimu, dan jika harus menyakiti diriku sendiri aku tidak peduli. jika kamu melupakanku pun, kamu masih mencintaiku meskipun kamu tidak menyadari itu!" jelas Adrian, Naira terdiam dan menatap wajah Adrian. Naira merasa sakit hati dengan perkataan Adrian, tersimpan luka yang dalam kata katanya. "kamu bukan orang jahat, kamu istriku Nara!" ucap Adrian lagi tersenyum, seketika Naira meneteskan air matanya lagi dan mulai terisak.


"iya aku istrimu, aku yakin sangat bahagia menjadi istrimu!" ucap Naira lalu memeluk Adrian, Adrian membalas pelukan itu dengan penuh kerinduan. Naira melepas pelukan itu dan menatap Adrian, Adrian sibuk mengelap air mata Naira.


"ada apa?"


"apakah aku pernah berkata, kalau namaku Naira Putri Pratama?" ucap Naira, Adrian sempat terkejut tapi kemudian senyum terukir disana.


"iya, itu adalah nama lengkap istri Adrian Pratama!" saut Adrian tersenyum, Naira pun ikut tersenyum dengan itu. "hiduplah denganku mulai hari ini, aku lelah hidup tanpamu Nara. rumah terasa sepi, bahkan hatiku rasanya hampa tanpa dirimu!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk. Naira mengusap pipi Adrian yang meneteskan air mata, Naira menempelkan dahinya pada dahi Adrian.


"hidupku adalah kehidupanmu, dan hidupmu adalah kehidupanku Adrian... aku tidak peduli tentang hal yang aku lupakan, sekarang aku ingin mencintaimu lagi dan hanya mencintaimu!" ucap Naira, Adrian tersenyum dengan itu.


"iya, aku ingin kamu lebih mencintaiku dari sebelumnya. bisakah?" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk. mereka kembali berpelukan disana, Adrian mendekap tubuh Naira dengan erat.


kejadian mereka dilihat oleh yang lain diluar, mereka menangis bahagia melihat Naira yang menerima Adrian meskipun sebelumnya memiliki tekanan. mereka merasakan kebahagiaan yang sama dengan Adrian dan juga Naira, mereka memilih tidak menganggu Adrian dan juga Naira yang sedang meluapkan cinta mereka.


****


malam hari nya David memeriksa Adrian secara bergantian, dan tidak hentinya Adrian dan Naira saling menatap satu sama lain. David berpikir entah apa yang dipikirin mereka berdua saat ini.


dia suaminya, suami yang begitu baik, setia dan juga sabar dengan istrinya. bagaimana bisa suami seperti itu bisa dilupakan oleh Naira, bukan hanya itu menurut Naira Adrian adalah suami yang sangat sempurna untuknya.


Adrian sendiri berpikir tentang istrinya, istri yang selama ini ia rindukan kini sudah menjadi dirinya sendiri. Adrian bersyukur Naira menerima hubungan mereka, meskipun Naira tidak ingat dengan semua yang terjadi diantara mereka. bagi Adrian dengan mengingat mereka suami istri saja, sudah membuat Adrian sangat bahagia.


"Naira kamu harus tetap menjalani perawatan ini!" ucap David, Naira tersadar dari lamunannya dan menatap David.


"loh kenapa om dokter, aku sudah tidak apa apa!" ucap Naira secara selontan memanggil David dengan sebutan sebelumnya, David menoleh kearah Adrian yang tersenyum mengerti akan maksud David. Naira sadar sudah memanggil David sembarangan, Naira menatap David dan Adrian secara bergantian. "maaf dokter, entah kenapa aku memanggilmu seperti itu!" ucap Naira, David mengusap rambut Naira.


"itu adalah panggilan sayangmu untukku, sejak kecil kau memanggilku seperti itu!" ucap David, Naira terkejut dengan itu. Naira tidak menyangka bisa mengenal David sebelumnya, Naira tersenyum dan mengangguk. "aku senang, perlahan ingatanmu pulih. tapi jika bisa jangan berusaha mengingat, agar tidak terjadi sebaliknya!" ucap David, Naira mengangguk dan tersenyum.


"Adrian apa kau senang sekarang?"


"tentu saja, istriku kembali bagaimana mungkin aku tidak senang!" ucap Adrian, Naira memalingkan wajahnya karena merasa malu. David yang melihat itu tertawa, karena merasa lucu dengan tingkah Naira.


"iya sudah, keadaan kalian sudah baik. sekarang istirahatlah, besok akan kupastikan kalian kembali kerumah kalian!" ucap David dan berlalu pergi, Naira menghela nafas dan menatap langit langit ruangan itu.


"rumah, apakah rumah kita?" tanya Naira menoleh kearah Adrian, Naira memiringkan posisi tidurnya. Adrian pun mengikuti gerakan Naira, ia tersenyum dan mengangguk.


"iya, rumah kita. masa laku dan masa depan terukir dirumah kita, kamu mau pulang denganku kan Nara?" tanya Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.


"aku akan ikut suamiku pulang, karena suamiku lah tempat ku berpulang!" ucap Naira dengan tersenyum, mereka saling melempar senyum satu sama lain.


aku memang tidak mengingatmu, tapi aku berjanji akan berusaha untuk menjadi yang kamu inginkan.


****


Jangan lupa like, komen dan vote kalian😍