Do You Remember?

Do You Remember?
Episode Sebelas : Truth or Dare



Bandung, April 2015


"Ayo! Siapa yang mau mulai duluan?"


Ameera duduk bersila, tepat di depan Gala yang juga melakukan hal yang sama.


"Aku belum setuju buat main ini!"


Ameera mendecak "Ck! ikutin aja kenapa sih, A'!" Ujar Ameera.


Dasarnya tidak mau kalah. Ameera muda memang suka sekali memaksa. Matanya melotot marah dengan mulutnya yang mengerucut lucu. Membuat Gala terkekeh melihatnya.


"Yaudah... Yaudah" Akhirnya Gala mengalah, menimbulkan raut sumringah terbit dari wajah yang lebih muda.


Sedetik kemudian, Ameera mengedarkan pandangannya, memindai seisi ruangan, mencari sesuatu yang sekiranya bisa membantu permainan mereka. "Euung, pake apa, ya?" Tanya Ameera pada dirinya sendiri.


Gala yang bingung, hanya ikut mengedarkan pandang tanpa bisa membantu lebih. Ya mau bagaimana? Gala asing dengan permainan ini. Jadilah ia hanya menunggu Ameera untuk memulai.


Gadis itu kemudian beranjak, mengambil sebuah botol minum yang isinya ia buang sebagian.


"Nah! Pake ini aja!" Tukasnya kemudian kembali pada posisi awal.


Gala memperhatikan bagaimana Ameera menempatkan botol tadi diantara jarak mereka. Alisnya berkerut bingung, mengundang kekeh ringan keluar dari bibir yang lebih muda.


"Jadi gini cara mainnya, A'! Aku bakal muter botol ini, nah! orang yang kena mulut botolnya harus milih antara truth atau dare. Gitu!" Jelas Ameera pada Gala.


Gala mengangguk sekilas, lalu bertanya, "kalau aku milih truth?"


"Berarti kamu harus jawab pertanyaan dari aku sejujur-jujurnya A'! gak boleh bohong! kalau bohong nanti pantat kamu bisulan!"


"ih! Yang bener kamu?"


Ameera terkikik, lalu melanjutkan, "Nah, kalau kamu milih dare, berarti kamu harus jalanin semua tantangan dari aku, apapun itu"


Gala mengangguk kecil, tanda ia paham akan semua penjelasan Ameera. "Oke, kita mulai!"


Gala yang pertama memutar botol. Botol itu berputar pelan, lalu berhenti dan menunjuk ke arah Ameera.


"Nah, Ameera! Truth or dare?" Tembak Gala langsung.


Ameera berpikir sebentar sebelum menjawab, "Dare!"


Gala tersenyum licik. "Oke! Kalau gitu kamu harus cubit pipi Adeeva, Kenceeeengg banget terus bilang, Adeeva jeleeek, gitu!"


Ameera melotot, apa-apaan? "Ih gak mau! nanti aku diomelin Umi" Tolak Ameera keras.


"Eit! Gak boleh nolak!"


Gala menahan tawanya kala melihat raut panik Ameera. Lucu sekali, wajahnya memelas. Tapi ia tak akan kasihan. Ameera yang mulai, jadi dia tidak boleh mangkir begitu saja.


"A' yang lain dong!!" Ameera mencoba membujuk Gala, tapi tentu saja Gala keukeuh.


Maka, dengan berat hati Ameera bangkit. Berjalan menuju dapur, tempat dimana Adeeva berada bersama dengan sang Umi.


Tidak berselang lama, Gala dapat mendengar teriakan heboh dari Adeeva, disusul suara kesal Umi yang mengomeli Ameera.


"Bukan Ameera Umi. Disuruh A' Gala noh!" Ameera ikut berteriak, mencoba membela dirinya.


Gala yang mendengarnya, tidak tinggal diam. "Gala gak ngapa-ngapain kok, Umi. Ameera bohong nih!" Ujarnya jahil.


Ameera yang mendengar itu jadi misuh-misuh sendiri. Ia hentakkan kakinya sepanjang perjalanan kembali dari dapur. Anak itu memberengut sambil sesekali mulutnya berkomat-kamit lucu. Matanya melotot galak ke arah Gala.


Gala jadi terbahak. Suara tawanya ringan mengudara.


"Aa' sih! Aku jadi diomelin Umi!" Omel Ameera begitu ia kembali duduk.


"Haha.. Maaf maaf!" Gala menyudahi tawanya, tangannya memegang perutnya yang terasa keram. Sedikit ia usap ujung matanya yang mengeluarkan cairan bening.


Ia rasa, ini tawa terbaik sepanjang hidupnya.


"Nah sekarang giliran aku!" Ucap Ameera. "Aku gak mau tau, aku mau balas dendam ke A' Gala!"


"Sok, atuh!"


Kemudian permainan berlanjut. Mereka berulang kali melempar pertanyaan maupun tantangan konyol untuk satu sama lain. Bahkan kini, wajah keduanya sudah penuh dengan tepung dan atribut aneh lain yang menempel di badan masing-masing.


"ini saatnya" Ameera berbisik pada batinnya. Ia melihat Gala yang sudah enjoy dengan permainan, kini akan memulai misinya; Tujuan utama ia mengajak Gala memainkan permainan ini: mengetahui apa masalah Gala sampai ia kabur dari rumah sekarang.


Ameera memutar botol, Nah pas! Ujung botol menunjuk Gala. Satu ujung bibir Ameera tertarik ke atas. Mari kita mulai!


"Truth or dare, A'?"


"Truth!" Nah pas lagi!


"Siapa orang yang lagi kamu keselin sekarang A'?" Tanya Ameera kemudian.


Gala terdiam, lalu menjawab dengan enteng. "Ayah!" Oh, masalah sama Ayahnya, toh.


Ameera mengangguk kecil lalu membiarkan Gala mengambil alih botolnya.


"Nah sekarang, aku yaa!"


Botol itu memutar pelan, dan entah ini hari keberuntungan Ameera atau bukan, Ujung botol itu kembali mengarah ke Gala. Membuat erangan protes lolos dari sang empunya.


"Kok aku lagi, sih???"


Ameera tergelak, "Loh ya gak tau, A'! Sekarang pilih, truth or dare?"


"Truth "


"kok itu lagi?"


"Loh ya suka suka aku!"


Ameera menggeleng heran. Otaknya kini berputar. Tanya apa ya?


"Heum, Hal apa yang lagi kamu galauin sekarang?"


"apa ya? Kuliah?" Masalah kuliah? Oh ya Aa' kan baru selesai SMA -nya.


"Sekarang aku ya!" Ameera mengambil botol itu lalu memutarnya.


Dan lagi-lagi, ujung botol mengarah ke Gala.


"IH BOTOLNYA RUSAK!! MASA AKU LAGI?? KAMU CURANG YA??" Gala menunjuk-nunjuk Ameera heboh.


"Ih enggak!" Sambil menampik jari Gala yang berada di depan wajahnya.


"Nah, karena tadi Aa' udah dua kali milih truth, jadi sekarang harus pilih dare!"


Gala mengerucutkan bibirnya. Membuat Ameera mematung di tempat.


Wow! bisa ngambek juga rupanya


"Yaudah iya!"


"Nah A'! sekarang aku tantang Aa' buat teriakin semua hal yang lagi Aa' keselin. Boleh disini atau diluar"


"Hah?" Gala terdiam. "ngapain?"


Tidak sabar, Ameera segera menarik Gala keluar rumah. Berjalan sedikit menjauhi bangunan segi empat itu.


"Ayo A', teriakin!" titah Ameera.


Gala menaikkan satu alisnya. Iya tersadar akan sesuatu: Dari tadi pertanyaan Ameera mengarah ke satu hal. Dan itu adalah masalah Gala.


"Kamu sengaja ya, ngajak aku main ini?" Curiga Gala.


Ameera terkekeh. "Iya" Kemudian menepuk pundak Gala. "Tapi aku juga mau bantu kamu buat ngalihin pikiran A', seru kan tadi, mainnya?" Gala mengangguk.


"Nah, Sekarang ayo teriak. Keluarin semuanya!"


"Gak mau!"


"Kan gak boleh nolak A'!"


Gala kalah.


Dengan sekuat tenaga ia berteriak "AYAH!!! KENAPA SIH HIDUP GALA AYAH ATUR TERUS? GALA GAK MAU MASUK UI AYAH!! GALA GAK MAU LANJUTIN BISNIS!!! KENAPA AYAH GAK MAU NGERTI GALA???? GALA CAPEK AYAH!!!"


Napas Gala terengah sesudahnya. Ia pejamkan mata, lega ia rasa, seperti satu tali terlepas dari sesak di hatinya.


Gala menoleh, melihat Ameera yang tersenyum manis ke arahnya. "Gimana? Lega?" Tanya Ameera kemudian.


Gala ikut tersenyum dan mengangguk, "Iya, makasih Ameera"


......................


Jakarta, Agustus 2022


Back to present time


Mereka tertawa bersama karena tantangan terakhir yang dilakukan Ameera.


"Udah, gak mau lagi aku makan biji kopi. Pahit!"


"Haha maaf! maaf! Nah, sekarang giliran kamu"


Ameera memutar botolnya. Ujungnya sampai ke Gala.


"Pilih apa A'?"


"Truth"


Ameera angkat kedua ujung bibirnya. "Siapa orang yang lagi kamu keselin sekarang, A'?"


Seperti kilasan film, otak Gala tanpa diperintah mulai memutar adegan yang ia rasa familiar. Deja vu


"Kayaknya aku tau nih arahnya kemana" Ujar Gala membuat tubuh Ameera menegang. Duh sepertinya ia ketahuan.


Gala terkekeh melihat wajah tegang Ameera. Gadis ini tak berubah. Bahkan caranya menjadi detektif untuk masalah Gala pun, sama.


"Aku gak papa, Ameera" Yakin Gala sekali lagi.


Sangat tidak mungkin Gala menceritakan masalahnya kali ini, kalau sumbernya berasal dari Ameera. Ia tidak setega itu.


Permasalahan kali ini tidak sesimpel memilih universitas, dan Gala tidak ingin Ameera terlibat lebih banyak sekarang.


Terlebih ayahnya sudah mulai turun tangan.


Tiba-tiba Gala melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Sudah jam sembilan"


Ameera melebarkan bola matanya. Rasanya baru sebentar, tapi ternyata sudah berlalu dua jam sejak laki-laki itu datang ke tempatnya.


"Eh iyaa" Ameera lalu buru-buru membereskan tasnya. Mengambil gelas kotor milik Gala, lalu meletakkannya di dapur toko.


Gala pun sama. Ia berdiri lalu membereskan barang-barangnya.


"Mau aku antar pulang?" Tanya Gala tiba-tiba saat Ameera sudah akan mencapai pintu—hendak keluar.


"Eh?"


"Mau aku antar pulang tidak, Ameera?" tanya Gala lagi.


"Boleh?"


Gala mengangguk lalu jalan keluar toko lebih dahulu, kemudian berlalu menuju mobilnya. Ameera mengikuti sampai akhirnya mereka sampai di rumah Ameera setelah beberapa menit berlalu.


Sebelum keluar, Ameera sempatkan mengucapkan terimakasih juga melempar senyum untuk yang lebih tua. Membuat perasaan hangat kembali menyapa hati keduanya.


"Terima kasih, A'!"


"Sama-sama, Ameera"


...****************...