
maaf semuanya, author baru bisa up hehe. tetap jaga kesehatan ya kalian, semoga sehat selalu**.
jangan lupa setelah baca like, beri komentar dan vote kalian😍**.
SELAMAT MEMBACA...
pagi harinya Naira membuka matanya, ia melihat Adrian yang tertidur disampingnya. Adrian tertidur sangat pulas, Naira tersenyum sendiri melihat itu. Naira merasa pernah melihat kejadian hari ini, dan itu sudah pasti ia alami dulu setiap hari. Naira menaikkan selimut mereka sampai menutupi dada Adrian, dan sekilas Naira mencium bibir Adrian. Naira tertawa kecil dengan tindakannya, ia tidak tahu kenapa bisa melakukan hal seperti itu.
saat Naira akan bangun, sebuah tangan menarik pinggangnya hingga membuatnya terbaring lagi. tangan siapa lagi, kalau bukan tangan Adrian. Naira terkejut dan melihat Adrian yang tersenyum, perlahan Adrian membuka matanya dan menatap Naira.
"selamat pagi?" ucap Adrian khas suara orang bangun tidur, Naira tersenyum dengan itu.
"selamat pagi, kapan kau bangun?"
"aku bangun saat kau mencuri ciumanku dipagi hari!" saut Adrian memejamkan matanya lagi, Naira membuka mata Adrian yang tertutup itu.
"sudah pagi, bangunlah. kamu harus bekerja!" ucap Naira, Adrian menggelengkan kepalanya.
"tidak... aku masih ingin tidur, dengan memelukmu seperti ini!" ucap Adrian memeluk Naira dengan erat, Naira berusaha melepaskan pelukan itu tapi tidak bisa karena tenaga Adrian lebih kuat dari nya. "kamu mau mandi?"
"iya aku akan mandi, lepaskan sekarang!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mendudukan dirinya.
"baiklah, ayo kita mandi!"
"kita?" ucap Naira, Adrian mengangguk dengan senyuman. "tidak, aku akan mandi sendiri. kau juga mandi sendiri, lagi pula kamar mandinya terlalu kecil!" ucap Naira melempar bantal pada Adrian, Adrian mendekat dan tertawa kecil.
"siapa bilang kamar mandi dikamar kita kecil, untuk lima orang cukup kok!" ucap Adrian memeluk Naira yang merasa malu, Naira yang kesal melepas pelukan itu dan berlari kearah kamar mandi. Adrian hanya menatap Naira karena terkejut, setelah itu sadar saat mendengar suara pintu terkunci. "Naira buka pintunya, kenapa kau jahat sekali!"
"haha... aku akan mandi sekarang, kamu tidur lagi aja!" ucap Naira dari dalam kamar mandi, Adrian kesal dengan itu.
"yasudah aku mau tidur, awas kalau kau membangunkan aku!" ucap Adrian kesal dan kembali kekasurnya untuk tidur lagi. Adrian tersenyum sendiri mendengar suara air mandi Naira, dengan memejamkan mata perlahan Adrian terlelap pada tidurnya.
beberapa saat Adrian terbangun, saat hidungnya merasakan bau aneh. Adrian mendudukan dirinya dan melihat jam dimeja, jam menunjukan pukul sembilan pagi disana. ia berpikir telah tidur agak lama barusan, bahkan Naira sudah selesai mandi. jadi bau aneh itu adalah bau masakan, dan Naira sedang memasak sekarang.
setelah membersihkan diri, Adrian memakai kaos dan celana biasa untuk menemui Naira. ia melihat Naira yang berdiri sedang memasak, Adrian tersenyum dan berjalan cepat menghampiri Naira. dengan cepat Adrian memeluk Naira dari belakang, Adrian tersenyum ketika berhasil membuat Naira terkejut.
"aku tidak tahu berapa lama aku tidur, aku sangat lapar!" bisik Adrian tepat ditelinga Adrian, tapi Adrian merasa aneh saat memeluk tubuh itu. ia merasakan sesuatu berbeda, biasanya Naira akan berteriak jika terkejut. tapi sekarang, jangankan berteriak bicara saja tidak.
"Adrian?" panggil seseorang membuat Adrian terkejut, suara familiar itu membuat Adrian menoleh dengan cepat. ya suara siapa lagi, kalau bukan suara istrinya Naira. Adrian terpaku melihat Naira berdiri disana, jika Naira disana siapa yang ia peluk tadi.
"Adrian..." ucap seseorang membuat Adrian menoleh, dan ternyata wanita yang dipeluknya adalah Riana. Adrian membalakkan matanya melihat Riana, ia tidak menyangka salah peluk orang lain. karena itu dirinya merasa aneh saat memeluk Naira, dan mungkin Riana terdiam karena terkejut dengan kejadian itu.
"Naira aku... aku.. tidak tahu... ka..kalau dia Riana, dan.. aku..." ucap Adrian terbata, Naira menatap Adrian dengan menyipitkan matanya. "Naira dengarkan aku.. aku..." suara Adrian terhenti ketika merasakan tubuh Naira bergetar, tubuhnya bergetar karena menahan tawa atas tingkah Adrian.
"kau!"
"hahaha... kenapa kau sangat gugup suamiku, dia Riana bukan orang lain. kau terlihat takut, dan wajahmu itu sampai berkeringat..." ucap Naira tertawa, Adrian yang awalnya sangat takut menjadi sangat kesal.
"diam, aku bilang diam!" ucap Adrian, bukannya diam Naira tetap tertawa.
"haha.. aku tidak bisa diam, ya ampun perutku sakit..." ucap Naira memegang perutnya, Adrian yang melihat itu tersenyum kemudian tangannya bergerak menggelitiki perut Naira. untuk menghindari itu Naira berlari dengan tawanya, Adrian terus mengejar Naira dan menariknya.
"Adrian hentikan, hahaha.... sangat geli. aku akan memukulmu ya..." ucap Naira saat Adrian berhasil menangkapnya, Adrian tersenyum dan menaikan satu alisnya.
"rasakan ini, dari pagi aku sudah sangat kesal. sekarang lihat pembalasanku, rasakan..." ucap Adrian menggelitiki perut Naira dari belakang, Naira terus berusaha melepaskan diri tapi Adrian terlalu kuat memeluknya.
kejadian itu membuat mereka lupa akan kehadiran Riana, dari arah dapur Riana menatap mereka yang terlihat bahagia. Riana senang melihat kebahagiaan itu, tapi entah didalam hatinya merasakan iri dengan hal itu. Riana meremas spatula yang sedang ia pegang, ia mencoba menahan rasa iri dihatinya. Riana merasakan pelukan Adrian yang tiba tiba, hal itu membuat hatinya merasa senang. tapi saat itu juga sadar, Adrian memeluknya karena mengira dirinya Naira.
"aku tidak bisa seperti ini, tidak bisa!" gumam Riana, ia terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya. Riana menoleh dan melihat Naira disana, Riana tersenyum membalas senyuman Naira.
"maaf ya, Adrian mengira kamu adalah aku!" ucap Naira, Riana mengangguk dan tersenyum. "iya begitulah, karena tubuh kita sama. tapi katanya dia merasa aneh, tapi belum sadar kalau yang dipeluk bukan aku!" ucap Naira tertawa, Riana tersenyum disana.
"untung saja bukan pelayan yang dipeluknya!" ucap Riana, Naira menoleh dan menatap Riana. sejenak mereka saling menatap, semenit kemudian mereka tertawa bersama.
"kalau pelayan, dia akan membuat pelayan itu jatuh cinta!" ucap Naira tertawa, Riana terdiam dengan itu.
"kalau aku jatuh cinta bagaimana?" ucap Riana, Naira menoleh kearah Riana dan tersenyum.
"tidak boleh, kamu tidak boleh jatuh cinta." ucap Naira tersenyum, Riana menatap Naira.
"kenapa, aku tidak boleh jatuh cinta?"
"tidak ada yang melarangmu jatuh cinta!" ucap Adrian tiba tiba, Naira dan Riana menoleh kearah Adrian. "kamu boleh jatuh cinta pada siapapun, tapi tidak jatuh cinta padaku. karena aku suami saudarimu, tidak mungkin kan kamu jatuh cinta pada suami adikmu!" ucap Adrian merangkul Naira, Naira menatap Adrian dan tersenyum. Riana yang mendengar itu merasa sakit hati, tapi dirinya tidak berhak untuk itu. karena semua perkataan Adrian ada benarnya, tidak mungkin dirinya menjadi penghancur kebahagiaan saudarinya sendiri.
"yah.. tentu saja tidak, mana mungkin aku jatuh cinta padamu." ucap Riana tertawa, Naira ikut tertawa disana.
"sudah selesai, ayo kalian lanjut memasak. aku sudah lapar sekarang!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.
"sebentar lagi selesai, kita akan sarapan pagi bersama!" ucap Naira, Adrian pun mengangguk dan duduk dimeja makan. Adrian menatap mereka berdua yang sedang memasak, Adrian memperhatikan Riana yang terlihat aneh setelah percakapan mereka. Adrian berusaha tidak memikirkan hal itu, ia memilih untuk tetap berfikir normal.
"tuan?" suara pelayan membuat Adrian menoleh, terlihat seorang pelayan wanita mendekati disamping Adrian.
"ada apa?" ucap Adrian singkat.
"didepan ada seseorang yang ingin bertemu dengan nyonya, karena nyonya sedang memasak bisakah tuan yang menemuinya?" ucap pelayan itu, Adrian berpikir siapa yang datang dan kenapa mencari Naira. tanpa bicara Adrian menghampiri seseorang yang dimaksud pelayannya, dari jauh terlihat seorang pria sedang duduk disofa ruang tamu.
"namaku Daniel tuan Adrian, jika ingin mengganti namaku kau harus mengadakan syukuran untukku!" ucap Daniel, Adrianemutar bola matanya dan duduk diikuti Daniel.
"lama tidak bertemu, ada apa kau kesini?" ucap Adrian ketus, Daniel menggelengkan kepala.
"aku bukan mencarimu, aku mencari sahabatku. dimana dia?"
"ini rumahku... jadi bicaralah padaku, katakan ada apa?" ucap Adrian kesal, Daniel yang melihat itu merasa Adrian tidak suka melihatnya disini. Daniel jadi berpikir untuk menggodanya, ia tersenyum pada Adrian.
"aku mencari cinta pertamaku, aku sangat merindukannya. siapa lagi, kalau bukan Nairaku..." ucap Daniel menaikkan satu alisnya, dan berhasil membuat Adrian kesal.
"kau!!"
"Adrian makanan... eh ada tamu ya?" ucap Naira mendekat kearah mereka, Daniel menoleh kearah Naira yang berdiri membawa spatula dan memakai celemek pada tubuhnya. Daniel tersenyum melihat Naira, rasa rindu pada cintanya itu benar benar besar. tapi sekarang bukan lagi cintanya, karena orang disebut cintanya kini sudah menjadi cinta orang lain. Daniel sudah menghilangkan rasa cinta itu, dan ingin mengganti cinta yang lainnya. tiba tiba saja wajah Naira dimata Daniel berubah menjadi wajah Adrian, Daniel terkejut melihat Adrian menutupi Naira dibelakangnya. Adrian seakan kesal karena milikknya dilihat orang lain, Daniel tersenyum dengan itu.
"aku tidak akan mengambilnya, dia milikmu tenang saja!" ucap Daniel tersenyum, Adrian tetap menatap Daniel dengan posesif. "oh astaga, ayo lah..."
"Daniel?" ucap Riana dari belakang Naira, Daniel melihat Riana dengan tersenyum. Riana melihat Adrian yang menutupi Naira terlihat bingung, "ada apa ini?" ucap Riana, Adrian dan Naira menoleh, Naira mendorong tubuh Adrian kesamping kanannya.
"entah lah dia, tiba tiba didepanku. oh iya dia temanmu, aku baru melihatnya?" ucap Naira yang tidak mengenali Daniel, Riana teringat dirinya belum pernah menceritakan tentang Daniel padanya. Daniel sendiri terkejut Naira mengatakan itu , se akan akan telah melupakannya.
"aku..."
"Naira dia itu Daniel, anaknya om dokter. ingatkan dokter yang ngerawat kamu, dan dia itu temen kita saat kecil!" ucap Riana, Naira terkejut dengan itu. Naira menghampiri Daniel yang terdiam, ia tersenyum pada Daniel.
"hai, Daniel maafkan aku. aku tidak ingat, aku..."
"apa yang terjadi?" ucap Daniel, Naira tersenyum dengan itu. "apa kamu tidak mengingatku?"
"dia kecelakaan empat bulan yang lalu, seluruh ingatannya hilang. baginya sekarang, semuanya adalah hal baru. bukan hanya kau, bahkan suaminya adalah hal baru!" ucap Adrian, Daniel menatap Naira yang tersenyum dan mengangguk.
"iya Daniel, maaf!" ucap Naira, Daniel tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"namaku Daniel, namamu?" ucap Daniel, ia melakukan perkenalan itu karena agar Naira mau berteman dengannya. dengan senyuman Naira menerima uluran tangan itu, Daniel membalas senyuman Naira.
"namaku Naira, mari berteman!" ucap Naira, Daniel tersenyum dan mengangguk. mereka tidak tahu hal suram terjadi pada mereka, rasa kesal dan cemburu Adrian terabaikan oleh Naira. Riana yang melihat itu menahan tawa, ia tidak menyangka melihat Adrian bisa cemburu.
"aku lapar, aku akan makan sekarang!" ucap Adrian pergi dari sana, Naira menoleh dan melihat kepergian Adrian.
"Oh iya kamu kesini pagi sekali, ayo kita sarapan bersama. aku dan Riana sudah masak, mau kan?" ucap Naira, Daniel menatap Riana yang tersenyum kearahnya. akhirnya Daniel setuju, meskipun ia sudah tahu Adrian pasti tidak menyukainya dan kesal melihatnya.
****
setelah sarapan, Daniel, Naira dan Riana mengobrol bertiga di ruang keluarga pada siang harinya. mereka membicarakan masa kecil mereka, Daniel berniat untuk memberitahu Naira tentang kedekatan mereka. Adrian sendiri duduk sedikit jauh dari mereka, ia fokus mengerjakan pekerjaannya dengan secangkir kopi kesukaannya. Adrian yang harus kekantor memilih tetap dirumah, karena tidak ingin meninggalkan Naira bersama Daniel meskipun dengan kehadiran Riana.
melihat keasikan mereka mengobrol, Adrian merasa kesal dan rasa cemburu berputar dikepalanya. hatinya mengatakan untuk ikut duduk bersama mereka, tapi pikirannya mengatakan tidak perlu kesana agar tidak memperlihatkan kekesalannya dihadapan mereka terutama Daniel. karena tidak ingin terus terusan kesal, Adrian memilih untuk pindah ke ruang kerjanya. bahkan sampai hari sudah sore pun, Naira belum menghampiri dirinya yang bekerja seharian. Adrian memilih tetap duduk dengan kekesalannya,
"apa dia tidak ingat aku, lagi pula sejak kapan Naira suka menggosip!" gumam Adrian dengan membolak balikan lembar kerjanya, tiba tiba saja terdengar suara pintu terbuka. Adrian mencoba melirik kearah pintu, dan melihat Naira disana sedang berjalan pelan.
"kopi?" ucap Naira, Adrian hanya mengangguk. Naira meletakkan kopi itu, ia menatap Adrian dengan senyuman. Adrian yang sadar itu menatap Naira,
"kamu kenapa?"
"gak papa, aku hanya ingin melihatmu!" saut Naira cepat, Adrian mengangguk dengan itu. Naira duduk dihadapan Adrian, ia tersenyum cantik didepan Adrian.
"kenapa disini, mereka pasti sendirian!" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala.
"mereka sudah pulang, lagi pula kami sudah lelah!" saut Naira, Adrian hanya terdiam dan melirik Naira. "kau tahu Adrian, ternyata kisah masa kecil kami itu sangat menyenangkan. Daniel menceritakan semuanya, meskipun aku tidak ingat aku yakin kami berteman baik dulu." ucap Naira sendu, sebenarnya hati Naira sedih ketika mengingat memorinya yang hilang. Adrian sendiri ikut merasa kesedihan itu, Naira harus melupakan orang orang yang menyayanginya. "kau tau Daniel menceritakan kalau kau dulu itu orangnya sangat posesif, kamu marah ketika melihat aku dan Daniel jalan bersama." ucap Naira, Adrian melelahkan berkas yang ia pegang dan berdiri dari duduknya.
"benarkah, bahkan kau tidak tahu sekarang aku sedang kesal karena posesif itu!" ucap Adrian mendekat kearah Naira, Adrian memutar kursi Naira untuk menghadap nya. Naira hanya terdiam, bahkan saat Adrian berjongkok dihadapannya.
"kamu kenapa?" tanya Naira, Adrian mencium pipi Naira sedikit lama membuat Naira merasa geli. "Adrian lepaskan, ada apa?"
"aku sedang kesal, dan kalau boleh aku marah sekarang. aku tidak suka dengan Daniel, aku tidak ingin kau dekat dengannya!" ucap Adrian menyembunyikan wajah malunya pada pangkuan Naira, Naira baru sadar bahwa suaminya itu sedang cemburu pada Daniel. Naira tersenyum dan mengusap rambut Adrian, Naira membawa Adrian untuk melihatnya.
"aku milikmu, tidak perlu cemburu pada siapapun!" ucap Naira mencolek hidung Adrian, seketika senyum Adrian terukir dibibirnya. "suami ku ini sangat posesif, jadi bagaimana bisa pria lain mendekatiku!" ucap Naira lagi, Adrian semakin tersenyum dengan itu.
"aku butuh energi!" ucap Adrian, Naira paham arti dari ucapan Adrian. Naira mendirikan tubuhnya dan menjauh dari Adrian.
"sudah mau malam, aku akan masak makan malam. kamu mandi sana!" saat ingin pergi, Adrian menarik tangan Naira dan menariknya dalam pelukannya.
"mandi bersama?" bisik Adrian, membuat Naira merasa panas pada telinganya. jantungnya berdegup kencang, dan menutupi wajahnya yang sudah merah. "bagaimana?" tanya Adrian lagi, dengan malu Naira menganggukan kepala. Naira ingin cepat menyetujuinya, ia tidak ingin Adrian terus mendesaknya. persetujuan Naira membuatnya senang, dengan cepat Adrian menggendong Naira.
"eh, turunkan aku!" ucap Naira, Adrian tidak memperdulikan itu.
"nanti setelah dikamar mandi, setelah itu kita..."
"diam, jangan diteruskan!" ucap Naira menutup mulut Adrian, Naira tidak ingin mendengar perkataan Adrian yang membuatnya tidak nyaman. Adrian tertawa dengan itu, ia membawa Naira kedalam kamarnya untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan.
ditempat lain Riana sedang bersama Daniel, Riana duduk di kursi depan mobil Daniel. Riana memilih pulang bersama Daniel dari pada harus naik taksi, karena pagi itu Riana berangkat dengan naik taksi. sebelum pulang Daniel membawa Riana untuk makan, Daniel duduk disalah satu meh untuk memesan makanan. sedangkan Riana sendiri sedang berada ditoilet, Riana mencuci tangannya dan menatap cermin besar dihadapannya.
Riana menatap bayangannya dan teringat dengan percakapan Adrian, ia menjadi sangat bingung dan stres memikirkan perasaannya. bahkan melihat Adrian yang cemburu dengan kedekatan Naira dan Daniel, membuatnya sedikit merasa tidak senang. Riana membasuh wajahnya dengan kasar, Riana menundukkan kepala dan mencoba mengatur moodnya.
"kau salah Riana, itu bukan cinta!"