Do You Remember?

Do You Remember?
Episode Lima Belas



"Kamu apakan Shaqueena?" Gala mengernyitkan dahinya. Apa-apaan Ayahnya ini. Baru juga dirinya masuk ke dalam rumah, tuduhan sang Ayah langsung dilempar kepadanya.


"Maksud ayah apa?" Tanpa memperdulikan Ayahnya, Gala berlalu. Bermaksud langsung masuk ke dalam kamar tanpa mendebat lebih lama.


"Shaqueena bilang kamu mempermalukannya"


Perkataan sang Ayah sukses membuatnya langkahnya terhenti. Kepalanya tertoleh, melempar pandangan tanya yang kentara.


"Mempermalukan bagaimana, Ayah? Gala nggak mengerti sama sekali"


"Kamu memperlakukan ia selayaknya orang asing di depan WO kalian. Tidakkah kamu berpikir image Shaqueena akan jelek di depan mereka? Seakan-akan hanya Shaqueena seorang yang menginginkan pernikahan ini"


Gala mencibir pelan "memang iya, kan"


"Apa kamu bilang?"


Gala membuang napas kesal seraya menggelengkan kepalanya. "Iya, Gala minta maaf" memilih mengalah dibanding harus memperpanjang debatnya.


"Perlakukan ia seperti biasanya, Gala"


"Iya, Ayah" Gala melanjutkan langkahnya. Menaiki anak tangga guna menuju ke kamarnya.


"Kamu tahu Ayah tidak pernah bercanda dengan apa yang Ayah ucapkan, kan Gala?"


Gala membeku di tempat, "Jangan coba bermain dengan wanita lain di saat pernikahan kamu sudah di depan mata, Gala! Kamu tahu Ayah tidak akan segan untuk melakukan semua cara agar wanita itu enyah dari hidup kamu, bahkan jika itu cara kotor sekalipun"


Gala mengepalkan tangannya. Emosinya mendidih di dalam kepalanya.


"Jangan coba-coba, Ayah. Gala nggak akan segan untuk melawan Ayah kalau Ayah macam-macam"


Gala hunuskan padangan tajam untuk sang Ayah. Namun, Ayahnya tampak tak perduli.


Gala membuang muka, kemudian mempercepat jalannya. Ia tahu ia akan meledak jika terus berada disana.


"Keputusan ada di kamu, Gala. Begitupun dengan nasib Ameera"


Gala membelalak tidak percaya. Ayahnya sudah mengetahui tentang Ameera.


"Ayah!" sentak Gala yang kemudian hanya dibalas senyum tipis dari pria yang lebih tua.


"Selamat malam, Gala!"


......................


Gala melajukan mobilnya pelan. Rautnya segelap malam. Ia cengkram stir mobilnya kencang. Menyalurkan amarah yang sedang bersemayam di hatinya.


Jam makan siang. Harusnya ia berada di kantor dan melahap makan siangnya dengan damai.


Otaknya sudah cukup mendidih karena rapat alot yang diadakan pagi tadi. Namun kini, ia harus kembali menggali sabarnya karena ia harus bertemu dengan Shaqueena.


Laju mobilnya menurun kala matanya sudah melihat rumah Shaqueena.


Tak ada niatan turun. Ia hanya duduk diam dibalik kemudinya. Memijat kening kemudian mencari keberadaan ponsel pintarnya. Ia ketik beberapa kata dan ia kirimkan itu kepada Shaqueena. Setidaknya dengan cara ini, ia tak perlu basa-basi kepada kedua orang tua Shaqueena kalau-kalau mereka ada di rumah. Gala muak, membayangkan ia harus tersenyum kala hatinya sedang keruh.


Ketukan pelan terdengar. Shaqueena pelakunya. Tanpa disuruh ia buka pintu mobil dan masuk kesana.


Semerbak harum parfum menguar, membuat pening di kepala Gala bertambah.


"Nunggu lama?" Tanya Shaqueena. Retoris, karena nyatanya Shaqueena butuh lima belas menit setelah pesan Gala sampai padanya.


"Hm" Jawab Gala sekenanya. Kepalanya kian pusing seiring dengan wangi parfum yang kian pekat memenuhi mobilnya.


Gala membuka sedikit jendela mobilnya. Membiarkan oksigen bercampur dengan asap kendaraan mengisi ruang disana. Setidaknya ini lebih baik ketimbang parfum menyengat milik Shaqueena.


"Kenapa dibuka jendelanya?" Tanya Shaqueena lagi.


"Kita makan siang, terus lanjut cari cincin, ya?" Tanya Shaqueena lagi.


"Hmm" Gala menjawab singkat tanpa menoleh. Fokusnya terpatri ke arah depan, lebih memilih melihat jalanan yang lenggang akan kendaraan di banding tunangan cantik yang yang berada di kursi penumpangnya.


"Kalau kamu terpaksa, mending kita nggak usah aja" Rajuk Shaqueena. Dirinya kini melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang pandangannya keluar jendela. Seketika moodnya turun drastis dengan silent treatment yang Gala berikan padanya.


Gala mendengus mendengarnya, "Dan membiarkan kamu mengadu macam-macam lagi pada Ayah? tidak, terima kasih" Sarkas Gala.


"Aku nggak ngadu. Ayah kamu nanya duluan. Jadi aku jawab sejujur-jujurnya." Bela Shaqueena.


Senyum miring tersinggung di wajah Gala. "Kamu pikir aku percaya?" Tanya Gala kemudian, membawa suasana tegang mengisi ruang sempit di mobil itu.


"Terserah kamu saja" Jawab Shaqueena kemudian membawa hening menghinggapi ruang mereka.


Satu-satunya bunyi yang dapat terdengar hanya deru lembut mesin kendaraan Gala yang melaju konstan. Kurang lebih sepuluh menit mereka melaju, Gala kini menghentikan mobilnya di depan toko perhiasan milik teman bundanya. Toko yang terlihat begitu mewah dari luar.


"Kita beli cincin setelah itu pulang." Titah Gala sebelum mematikan mesin mobilnya.


Shaqueena melotot tak percaya, "Yang bener aja kamu, Mas?" Protes Shaqueena tak terima.


"Kalau kamu lupa, sekarang hari kerja. Dan jam istirahat ku hanya tinggal sebentar." Ucap Gala datar sebelum melengos keluar. Meninggalkan Shaqueena yang mematung ditempat.


Shaqueena menggeram. Ia kepalkan tangannya dalam. Meredam emosi yang terbawa hingga ubun-ubun.


"Awas kamu, Ameera!" Ancamnya pada udara kosong sebelum beranjak keluar, menyusul Gala yang sudah menghilang dibalik pintu kaca bangunan megah itu.


......................


"Turunkan aku di sini saja, Mas!" Titah Shaqueena saat mobil Gala hampir mencapai perempatan dekat kantornya, hendak merambat lurus menuju jalan rumah Shaqueena.


Gala mengernyit bingung mendengarnya.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Aku ingin ke tempat teman" Jawab Shaqueena.


Gala membelokkan setirnya, menepikan mobilnya ke sisi kiri, kemudian berhenti. Membuka kunci otomatis, dan membiarkan Shaqueena turun.


"Ingat! Jangan mengadu macam-macam pada ayah!" Ancam Gala sekali lagi sebelum Shaqueena benar-benar keluar dari mobilnya.


"Oke!" Jawab Shaqueena pelan, kemudian menutup pinta dari luar.


Segera setelah mobil Gala menghilang dari pandangannya, Shaqueena menghentikan sebuah taxi.


sekitar lima belas menit Shaqueena sampai pada tempat tujuannya.


Setelah membayar, ia berjalan capet menuju bangunan sederhana yang menguarkan bau roti yang begitu manis.


Kring!


"Selamat dat—" Kalimat sapaan itu terhenti ketika si pemilik bangunan melihat siapa yang datang. Pun dengan tatapan tajam juga mengejek yang dilayangkan untuknya.


Entitas cantik itu lantas melangkah mendekat. Melewati pintu bening, membiarkannya tertutup pelan kala raganya tak lagi menjadi penahan.


Dalam beberapa langkah ia sampai, ke hadapan manusia lain yang tubuhnya sempat mematung diam. Senyumnya terukir, begitu cantik juga mematikan.


Ia akan menyalurkan emosinya disini. Di tempat ini, di hadapan orang yang ia anggap biang dari segala masalahnya dengan Gala. Akar dari segala kegundahannya.


Lalu, dengan dingin ia menyapa, "Hai, Ameera!"


...****************...