Do You Remember?

Do You Remember?
teriak Naira.



Adrian terdiam dan serius saat mengerjakan kerjaannya, dan itu dalam keadaan tidak tenang. Adrian selalu memikirkan Naira yang ada dirumah, jika pekerjaan itu tidak penting Adrian tidak akan pergi dan meninggalkan Naira sendirian. bahkan seharian Adrian hanya dibuat marah oleh karyawannya, berbagai pekerjaan tidak seperti yang diinginkan Adrian.


*Tok tok tok~


Adrian melihat siapa yang mengetuk pintu ruangannya, terlihat Johan berjalan mendekatinya. Adrian menutup laptopnya dan menatap Johan, Johan dengan senyumnya mendekat kearah Adrian.


"hei jangan tatap aku seperti itu!" ucap Johan, Adrian mengebla nafas dan meringankan tubuhnya.


"ini sudah larut, pulanglah. pengantin baru meninggalkan istrinya selarut ini, istrimu akan membunuhmu nanti!" ucap Johan, Adrian hanya menggelengkan kepala dan melihat jam nya.


"aku tidak sadar, sampai larut begini!" ucap Adrian, Johan mengangguk.


"apa kau ada masalah dengan Naira?" tanya Johan, Adrian tidak menggubrisnya.


"kenapa waktu begitu cepat berlalu, aku sangat lelah!" ucap Adrian mengalihkan pembicaraan, Johan hanya menggelengkan kepalanya.


"hei aku sedang bertanya, ada masalah apa diantara kalian?" ucap Johan lagi, Adrian menatap foto Naira diatas mejanya.


"tidak apa, aku pulang dulu!" ucap Adrian mendirikan tubuhnya, Johan hanya mengangguk.


"aku kembali dulu, urus sisanya!" ucap Adrian berlalu pergi, Johan hanya mengangguk dan mengiyakan.


setelah beberapa menit Adrian sampai dirumahnya, ia kembali sedikit larut dari biasanya. saat masuk kedalam rumahnya, Adrian masih melihat rumah itu sama seperti sebelumnya. ia berpikir Naira masih didalam kamarnya, Adrian memilih untuk mengambil minum didapur. Adrian merasa heran melihat dapur itu gelap tidak seperti biasanya, Adrian mencari saklar lampu itu. Adrian terkejut ketika melihat meja makan penuh dengan makanan, Adrian menoleh kekanan dan kirinya tapi tidak melihat siapapun. Adrian mendekat kearah meja itu, ia melihat setiap makanan yang dihidang kan disana. semua makanan itu adalah makanan kesukaannya, dan yang tahu makanan kesukaannya adalah Naira.


"kenapa pulang sangat larut, lihatlah masakanku jadi dingin!" suara Naira membuat Adrian menoleh, terlihat Naira berdiri yang masih menggunakan celemek dan memegang spatula. Adrian masih terdiam dengan kejadian itu, ia tidak percaya Naira berdiri dihadapannya.


"kamu ingatkan kalau punya istri dirumah, dan apa yang kamu kerjakan sampai larut begini!" ucap Naira berjalan kearah dapur, Naira menatap Adrian yang terdiam dengan senyumnya.


"ada apa denganmu?" tanya Naira, perlahan Adrian menyentuh pipi Naira dengan jari telunjuknya.


"apa kamu Naira?" ucap Adrian menyentuh pipi Naira, Naira mencubit hidung Adrian dengan gemas.


"iya aku Naira Putri Pratama, istri dari Adrian Pratama!" ucap Naira dengan keras lalu berjalan melewati Adrian, seketika senyum Adrian terpancar. Adrian menoleh dan langsung memeluk Naira dari belakang, merasakan hal itu Naira tersenyum.


"Nara maafkan aku, jangan diamkan aku lagi!" ucap Adrian, Naira menoleh kearah Adrian.


"maafkan aku, aku yang salah. seharusnya aku tidak mendiamkanmu beberapa hari ini, masalah itu sudah terjadi tidak ada yang bisa dihindari lagi. jadi untuk apa aku bersedih, tidak ada gunanya juga aku bersedih. Kak Anan, maafkan aku. maaf aku tidak mengurusmu, aku sangat menyesal." ucap Naira menangis, Adrian tersenyum dan menghapus air mata itu.


"tidak, jangan menangis. jangan bersedih lagi, aku tidak bisa melihatmu sedih!" ucap Adrian, Naira memeluk Adrian dengan erat dan Adrian sendiri sangat bahagia dengan itu.


"kalau seandainya operasi itu terjadi, aku berjanji kak. aku tidak akan melupakanmu, aku akan terus mengingatmu disetiap waktu, detik, menit, jam dan hari hariku. aku akan melakukan itu, aku berjanji!" ucap Naira, Adrian merengkuh tubuh Naira dengan erat.


"iya, sekarang jangan sedih. bukankah kamu masak untukku?" ucap Adrian mengusap pipi Naira, Naira mengangguk dengan itu. "ayo hidangkan, aku sangat lapar!" ucap Adrian duduk ditempatnya, Naira tersenyum dan menyiapkan satu piring untuk Adrian. Naira memperhatikan Adrian yang begitu senang makan, Ia juga menatap wajah Adrian yang sedikit berbeda. lebih tepatnya pada mata, kantung mata Adrian terlihat hitam. seperti orang yang kurang tidur selama beberapa hari, Naira merasa sedih atas tindakannya yang mendiamkan Adrian.


"kamu tidak tidur ya beberapa hari ini?" tanya Naira, Adrian mengangguk dan memakan makan malamnya. Naira sangat senang melihat itu, Adrian makan dengan lahap masakan ya ia buat. beberapa menit kemudian Adrian telah selesai, Naira tersenyum dan memberikan air putih dalam gelas pada Adrian.


"apa mau yang lainnya, seperti jus atau susu?" tanya Naira, Adrian hanya menggelengkan kepala sambil meminum air dalam gelas. Naira membersihkan semua piring piring disana, Adrian yang melihat itu membantu Naira.


"letakkan saja, biar pelayan yang membersihkannya!" ucap Adrian, Naira tersenyum dengan itu.


"aku akan membersihkannya, kamu istirahat dulu sana. kamu pasti capek, nanti aku akan menyusul jika semuanya selesai!" ucap Naira tersenyum. Adrian tersenyum melihat Naira yang sangat cantik, meskipun terlihat sendu diwajah Naira. Adrian merindukan tidur bersama Naira, ia memutuskan untuk memaksa Naira dengan menggendongnya.


"kak turunkan aku, aku belum selesai!" teriak Naira, Adrian tersenyum dan terus membawa Naira dalam gendongannya.


"aku sangat merindukanmu, sekarang kamu harus menemani suamimu ini tidur!" ucap Adrian, Naira tersenyum dengan itu. ia pun mengalungkan tangannya pada leher Adrian, lalu Naira mencium pipi Adrian.


"aku juga merindukanmu, jadi..." ucap Naira, Adrian mengangguk dan terus berjalan cepat. Adrian membawa Naira kedalam kamarnya, ia menutup dan tidak lupa menguncinya. malam itu Adrian melampiaskan kerinduannya pada Naira, rindu yang tersimpan beberapa hari oleh Adrian. ia juga senang Naira tidak terlalu memikirkan sakitnya itu, Naira sendiri ingin menebus kesalahannya. ia ingin menyenangkan Adrian malam itu, Naira tidak ingin membuat suaminya itu tertekan dengan kondisinya.


****


Adrian membuka mata dipagi hari, ia berpikir semuanya adalah mimpi. Adrian melihat sekelilingnya itu adalah kamarnya, dan ia merasakan pelukan seseorang yaitu istrinya Naira. Adrian sangat bahagia karena semua itu bukan mimpi, ia mengusap rambut Naira yang sedang tidur pulas. beberapa kali Adrian mencium pipi Naira, karena ia sangat gemas dengan pipi gembulnya.


"Nara... ayo kita punya anak!" bisik Adrian, seketika Naira membuka matanya. ia menatap Adrian yang sedang tersenyum padanya, Naira menyentuh dahi Adrian.


"kamu baik baik saja kan?" tanya Naira, Adrian mengangguk lalu memeluk Naira.


"aku baik baik saja, tidurlah lagi!" ucap Adrian, Naira melihat jam didinding. waktu sudah menunjukkan hampir siang, Naira mendorong tubuh Adrian.


"bangunlah, kamu harus kerja. sudah jam 8 pagi kak, kamu ini presdir gak boleh telat!" ucap Naira, Adrian hanya menutup matanya dan tersenyum.


"kak Anan!!"


"iya iya aku bangun sekarang, siapkan sarapan untukku!" ucap Adrian berjalan kearah kamar mandi, Naira hanya tersenyum melihat itu. ia merapikan tempat tidurnya, setelah itu terdengar suara dering telfon dihp Adrian. terlihat nama Mama disana, Naira pun tersenyum membacanya.


"haloo?" ucap Naira mengangkat telfon itu.


"haloo, Naira?"


"sayang, kamu baik baik aja kan?"


"iya ma, Naira baik baik aja kok." saut Naira tersenyum.


"mama denger dari Adnan, katanya kamu sudah tahu semuanya. Lalu kamu ngurung diri dikamar dan gak mau ketemu siapa pun!"


"iya kemarin Naira sempet kaget, karena sedih sampai gak peduli sama kak Anan. Naira ngaku salah kok ma, dan Naira juga sudah minta maaf sama kak Anan. Naira gak pengen sedih, lagi pula apa yang perlu disedihkan. semuanya sudah terjadi, gak bisa tolak!" saut Naira masih dengan senyumnya.


"iya sayang, jangan sedih ya. dari kemarin Adnan cerita sama mama kalau dia khawatir sama kamu, kamu harus makan teratur untuk kesehatan kamu!"


"iya ma, maaf ya Naira membuat kalian khawatir. Naira memang salah, maafin Naira!"


"Yasudah, pokoknya kamu harus istirahat!. oh iya, hari ini kamu sibuk nggak sayang?"


"hm.. Naira nggak sibuk kok, ada apa ma?" tanya Naira.


"mama ingin ngajak kamu jalan jalan, agar pikiran kamu fresh. gimana mau nggak?"


"boleh ma, Naira juga bosen dirumah kalau kak Anan gak ada!"


"kalau gitu nanti kamu minta Adnan antar kamu kemari ya, mama akan bawa kamu jalan jalan hari ini. biar kamu gak sedih lagi, dan tidak punya beban pikiran."


"iya ma, nanti Naira bilang. terima kasih ma!"


setelah mengatakan itu Naira mematikan telfonnya, dari jauh Adrian melihat Naira dan mendengar pembicaraan Naira ditelfon. Adrian tersenyum dan menghampiri Naira, ia memeluk Naira dari belakang.


"kak Anan kapan operasi itu dilakukan?" tanya Naira, Adrian melepas pelukannya dan menatap Naira.


"kenapa?" tanya Adrian, Naira menghela nafasnya.


"aku ingin semuanya cepat selesai, aku tidak ingin membuat kalian khawatir. sebenarnya aku takut, tapi semangat kalian pasti akan melancarkan semuanya. kak Anan percepat operasi ku,!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mencium kening Naira.


"jangan takut, aku akan selalu ada bersamamu. aku akan bicara pada papa dan mamamu nanti, saat itu kami akan memutuskannya!" ucap Adrian tersenyum, Naira mengangguk dan memeluk Adrian.


"hari ini kamu mau kemana?" ucap Adrian lagi, Naira melepas pelukannya dan memberikan kemeja untuk Adrian.


"mama Amelia mengajakku jalan jalan, bisakah kamu antar aku mampir kerumah?" saut Naira memasangkan kancing kemeja Adrian, Adrian mendengar itu tersenyum dan mengangguk.


"iya, sekarang kamu mandi. aku tunggu dibawah untuk sarapan!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan mengambil handuk. saat ingin pergi Adrian menarik tangan Naira, Naira menoleh dengan itu.


"ada apa?" tanya Naira, Adrian mencium pipi Naira dengan gemas. wajah Naira seketika bersemu merah, Adrian yang melihat itu tertawa kecil.


"pergilah kak, kamu sangat mengganggu!" ucap Naira memegang pipinya dan berlari ke kamar mandi, Adrian tertawa kecil melihat itu. perasaan Adrian yang kalut kini sudah menghilang, rasa khawatirnya pada Naira sudah tidak ia rasakan. tapi rasa takut dalam dirinya tidak bisa dihilangkan, rasa takut terus menghantuinya jika menjauh dari Adrian.


****


siang harinya Naira dan Amelia sedang duduk disebuah restoran, mereka telah berkeliling mall selama pagi sampai siang. mereka berbincang dan mengobrol direstoran itu, banyak yang mengira Naira dan Amelia adalah ibu dan anak. saat seseorang bertanya, mereka tidak percaya kalau Naira dan Amelia adalah seorang mertua dan juga menantu.


setelah dari restoran mereka keluar dari sana, mereka berkeliling sebentar sambil menunggu kedatangan Adrian.


"ma, kak Anan akan datang lima belas menit lagi!" ucap Naira, Amelia mengangguk dan mereka berjalan keluar mall itu. disaat bersamaan Adrian sampai dan melihat mereka, Adrian memperhatikan mereka dari jauh. Ia memilih untuk berdiam dipinggir jalan karena Adrian ingin melihat apa yang akan mereka lakukan.


"kamu dimana?" tanya Adrian ditelfon, ia melihat Naira sedang mengangkat telfon dari nya.


"aku sudah diluar, aku akan menunggumu diluar mall"


"aku disini sayang, lihat kekananmu!" ucap Adrian berdiri disamping mobilnya, Naira pun menoleh dan tersenyum ketika melihat Adrian.


"kamu bilang lima belas menit, mama lihat itu kak Anan!" ucap Naira kepada Adrian dan juga Amelia secara bersamaan,


"kamu diam disana, aku akan menjemput kalian untuk membawa barang kalian!" Adrian pun menutup telfonnya, dan melambaikan tangan pada mereka. Naira dan Amelia tersenyum melihat itu, melihat Adrian yang tampan datang kearah mereka. arah mereka berlawanan, tatapan Adrian terus melihat kearah Naira.


"putraku sangat tampan!" ucap Amelia, Naira tersenyum dan mengangguk.


"iya, suamiku yang tampan!" saut Naira, Amelia menoleh kearah Naira dan tertawa kecil.


"aku lupa dia sudah menikah, dan putriku ini sangat cantik dari siapapun!" ucap Amelia mencubit pipi Naira dengan gemas, Adrian yang melihat itu dari jauh hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Amelia dan Naira memilih untuk ikut berjalan, agar Adrian tidak terlalu jauh untuk berjalan pikir Amelia.


saat sedang berjalan ditrotoar tas Naira terputus, dan semua benda didalamnya berserakan. melihat detik hijau untuk bejalan masih lama, Naira memungut semua itu. Naira membiarkan Amelia untuk berjalan sendiri, sampai Amelia tersadar tidak melihat Naira, ia pun menghentikan langkahnya. Amelia melihat Naira yang sedang berjongkok ditengah jalan, Amelia memutuskan untuk membantu Naira.


"mama gak usah kemari, ini sudah selesai!" ucap Naira, saat Naira berdiri terdengar suara mobil melaju. Naira menoleh kearah kanannya, dan benar sebuah mobil sedang berjalan sangat cepat. Naira melihat detik hijau belum berakhir, dan lampu masih merah untuk kendaraan. Naira terkejut dengan itu, Naira semakin terkejut ketika mobil itu mengarah kearah Amelia. Naira berlari untuk mencapai Amelia, Amelia tidak mendengar Naira hanya berjalan dan merasa bingung Naira sedang berlari.


"mama awas ada mobil!!" teriak Naira, Amelia pun terkejut dengan itu. Adrian melihat kejadian itu juga berlari dengan cepat, jalan yang sepi membuat mobil itu ugal ugalan. Adrian mendelik ketika mobil itu semakin cepat melaju, melaju kearah Amelia berada.


"MAMA!!!"