Do You Remember?

Do You Remember?
Bertemu lagi.



waktu berjalan begitu cepat, seminggu telah berlalu ketika acara romantis Adrian melamar Naira. setiap hari Adrian selalu menemani kemanapun Naira pergi, diwaktu dirinya sibuk pun Adrian tidak pernah menolak keinginan Naira. kebahagiaan mereka bertambah, ketika mendapat kabar Rosa telah kembali ke London. Adrian dan Naira menjadi tenang, karena tidak akan ada yang mengusik keluarga mereka. kedua keluarga itu sudah setuju dengan hubungan Adrian dan Naira, bahkan mereka ingin mengadakan acara pertunangan dan pernikahan secepatnya.


hari ini Naira menunggu Adrian datang, ia mengetik pesan pada Adrian. karena keasikannya itu, Naira tidak sadar bahwa Adrian sudah berdiri dihadapannya.


"asik banget sih, lagi ngapain?" suara Adrian membuat Naira menoleh, Naira terkejut Adrian sudah berdiri dihadapannya dengan senyum paginya.


"sejak kapan berdiri disana?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan mendudukan dirinya disamping Naira.


"sejak kamu senyum senyum sendiri, emangnya ada yang lucu ya?" tanya Adrian sambil mengambil hp Naira, Naira terdiam karena dia takut Adrian melihat nama yang kontak miliknya. Si Menyebalkan. Adrian membuka hp Naira, ia mencari pesannya tapi tidak menemukan. sampai akhirnya Adrian menemukan nama Si Menyebalkan, Adrian terkejut karena itu adalah nama kontak miliknya. Adrian melihat kearah Naira, Naira tersenyum dengan imutnya.


"apa tidak ada kata yang romantis?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala.


"dulu saat kamu jadi bos, kamu sangat menyebalkan. jadi aku kasih nama itu, dan menurutku itu sangat lucu!" ucap Naira dengan menjulurkan lidahnya, Adrian gemas dengan itu.


"akan aku ganti!" ucap Adrian, ia mencoba mengubah nama kontaknya. Naira mengintip itu tapi Adrian melarangnya untuk melihat, Naira pun mencibir Adrian dengan bibir monyongnya.


"dasar, pelit!" ucap znaira, Adrian hanya tertawa kecil. setelah beberapa detik Adrian selesai dengan itu, ia memberikan hp Naira pada pemiliknya.


"haha apa ini?" ucap Naira tertawa karena melihat nama kontak itu, Calon Suamiku yang imut. Adrian hanya mengangkat bahunya dan tersenyum, Naira pun tidak hentinya tertawa.


"terlalu panjang kak Anan, seharusnya hanya Suamiku. begitu!" ucap Naira yang tidak melihat Adrian, Adrian menatap wajah Naira yang tersenyum. Naira yang sedang melihat hpnya itu, ia terkejut ketika tiba tiba Adrian mendekat kewajahnya.


"ada apa?" tanya Naira, Adrian hanya diam dan menatap Naira.


"bolehkah aku itu..."


"boleh apa?" tanya Naira yang tidak mengerti, Adrian semakin mendekat kearah wajah Naira.


"hm... boleh kah aku.. akhh!!!" teriak Adrian tiba tiba, Naira langsung berdiri dengan itu. terlihat Bagas berdiri membawa koran, dan ternyata Bagas memukul Adrian dengan koran karena ia merasa Adrian akan mencium adiknya itu.


"kakak apa yang kau lakukan?" ucap Naira, Bagas hanya berdiri dengan koran ditangannya.


"kau ingin apa, beraninya kau mau mencium adikku dihadapanku!" ucap Bagas mendudukan dirinya, Naira menahan tawa ketika melihat Adrian mengelus rambutnya.


"ada sesuatu diwajahnya, jangan salah paham jadi orang!" sangkal Adrian, Bagas hanya menyipitkan matanya.


"apa, ada apa emang?" tanya Bagas.


"dasar perusak suasana!" gumam Adrian pelan, tapi masih didengar Bagas.


"apa kau bilang, katakan dengan keras!" ucap Bagas, Adrian hanya diam dan tidak menyahut. Bagas kembali melempar koran pada Adrian, saat Adrian ingin membalas ia teringat dengan Sonia.


"kak, mau tau kabar tentang Sonia nggak?" ucap Adrian, Bagas hanya meliriknya.


"tidak mau, memangnya dia siapaku!" saut Bagas, Adrian mengangguk dengan itu.


"sepertinya dia bosan disini, besok aku harus mengantarnya ke bandara!" ucap Adrian, Naira langsung duduk disampingnya.


"oh iya, disini kan enak. kenapa harus kembali ke London, lagi pula disini dia banyak teman!" ucap Naira, Adrian memcubit pipi cabi Naira dengan gemas. Bagas hanya melihat keduanya itu, ia merasa geli pada Adrian. karena Adrian yang ia kenal itu bersifat arogan, keras, sombong, dan juga angkuh. tapi bersifat kekanakan saat bersama Naira, bahkan melunak dihadapan Naira.


"kalian ini, melihat kan kemesraan didepanku. kalian tidak malu padaku, aku ini masih jomblo!" ucap Bagas, Naira dan Adrian saling memandang.


"oh iya kak, aku tidak boleh mencium Naira di depanmu. jadi, kalau kau tidak ada aku bisa mencium Naira!" perkataan Adrian membuat wajah Naira merah, lain dengan Bagas yang wajahnya merah. wajah Naira merah karena merasa malu, wajah Bagas merah karena merasa marah dengan perkataan Adrian.


"berani kau melakukannya, akan ku habisi kau!" ucap Bagas, Adrian masih saja mengejek Bagas. karena kesal Bagas pun berdiri, dan mencoba menghampiri Adrian. sebelum mendapat amukan dari Bagas, Adrian menarik tangan Naira untuk pergi dari sana. Naira hanya tertawa dengan itu, bahkan Adrian pun tertawa karena senang menggoda Bagas.


Naira masih tertawa ketika didalam mobil, sedangkan Adrian tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya.


"oh iya apa masih mau melihat hasil tes kesehatanmu?" tanya Adrian, Naira menoleh kearah Adrian.


"tentu aku ingin melihat, apakah sudah ada?" ucap Naira, Adrian mengangguk.


"hm.. kak Anan, Naira kangen sama papa Vano. Naira gak ikut ya, Naira kerumah papa Vano aja!" ucap Naira, Adrian tersenyum dengan itu.


"yasudah, nanti aku antar kamu ketemu papa. papa juga ada dirumah kok, kamu bisa main sepuasnya sambil nunggu aku!" saut Adrian, Naira mengangguk dan mengiyakan Adrian.


"oke, hari ini ada rapat?" tanya Naira, Adrian mengangguk.


"iya, setelah rapat nanti aku antar kamu!" Naira mengangguk, mereka pun membicarakan hal tentang mereka. sesekali Naira dan Adrian tertawa didalam mobil, setelah beberapa menit mereka sampai dikantor.


saat sampai, Adrian menggandeng tangan Naira untuk masuk ke gedung itu. mungkin itu biasa dilakukan oleh Adrian seminggu ini, bagi Naira ia masih belum terbiasa. Naora masih merasa malu, ketika beberapa orang menatapnya. sapaan demi sapaan menghampiri Naira, Naira hanya tersenyum dan menunduk membalas sapaan mereka.


"Naira!!" suara yang tidak asing membuat Naira menoleh, terlihat Sonia berdiri tidak jauh sedang tersenyum kearahnya. Sonia berjalan santai sampai didepan Naira, ia melihat Adrian dan Naira secara bergantian.


"hm.. mungkin ini yang terkahir aku menemuimu, nanti sore aku akan kembali!" ucap Sonia, Naira merasa sedih dengan itu.


"bukannya besok?" ucap Adrian, Sonia mengangguk.


"aku harus pergi sekarang, jadi yang besok sudah dibatalkan!" saut Sonia, Adrian mengangguk dengan itu.


"kenapa, apa ada masalah dengan apartemen Adrian?. kamu bisa kok tinggal dirumahku, atau tinggal dirumah tante Amelia!" ucap Naira, Adrian terkejut dengan itu. Sonia hanya tertawa kecil mendengarnya, ia memberikan hadiah untuk Naira.


"aku sangat senang disini, tapi aku harus kembali ke London. itu rumahku, keluargaku ada disana. oh iya itu hadiah untukmu, bukalah!" ucap Sonia, Naira membuka kotak hadiah yang diberikan Sonia. terlihat sebuah gelang cantik disana, Naira memakai gelang itu dan terlihat cocok ditangannya.


"bagus, aku suka. terima kasih ya, aku tidak bisa memberimu hadiah maafkan aku!" ucap Naira, Sonia tersenyum dan menggelengkan kepala.


"tidak apa, aku mengirim hadiah untuk kakakmu. bagaimana menurutmu?" bisik Sonia, Naira tersenyum dengan perkataan Sonia.


"dia pasti suka, tenang saja!" bisik Naira, mereka sibuk dengan pembicaraan mereka.


*secara bersamaan ditempat Bagas.


Bagas masih dengan diamnya, ia memikirkan perkataan Adrian yang mengatakan Sonia akan kembali. Bagas dibuat kesal dengan itu, tapi Bagas juga berpikir kenapa dia harus kesal. Bagas memukul setir mobilnya sendiri, ia juga melakukan mobilnya dengan cepat. sampainya dikantor Bagas berjalan dengan wajah suram, beberapa orang disana tidak pernah melihat wajah sesuram itu pada Bagas. ia terus berjalan menuju lift dan pergi kedalam ruangannya.


Tok Tok Tok~


belum lama Bagas masuk, seseorang mengetuk pintu ruangannya. terlihat seorang pria menghampiri Bagas, Bagas berdiri menatap luar jendela disana.


"pak ini berkas yang ada minta kemarin!" ucap nya, Bagas mengangguk.


"pak ada seseorang yang menitipkan ini, katanya ini hadiah untuk pak Bagas!" ucap pria itu lagi, Bagas pun menoleh dan fokus pada sebuah hadiah yang pria itu maksud.


"dari siapa?" singkat Bagas, pria itu menggelengkan kepala.


"hanya seorang wanita, tapi tidak memeberitahukan namanya!" saut pria itu, Bagas menerima hadiah itu.


"baiklah terima kasih, kamu boleh pergi!" pria itu pun pergi dari sana, Bagas membuka bungkusan hadiah itu. Bagas mengambil sebuah kotak dari dalamnya, Bagas yang penasaran pun membuka kotak itu. terlihat sebuah dasi berwarna biru navy dan sebuah penjepit dasi disana, dan juga terdapat sebuah kertas surat.


untuk Bagas :)


aku tidak tahu apa kau menyukainya atau tidak, aku membeli hadiah untuk Naira. lalu aku teringat padamu, jadi aku membelikan itu untukmu. kau sangat cocok memakai dasi berwarna gelap, atau pun pakaian gelap. tapi aku menyukai warna biru, dan aku memilihkan biru navy agar kau suka. waktu itu terima kasih sudah menraktirku makan dan mengantarku, itu pertemuan pertama dan terakhir kita hehe. hari ini aku akan kembali ke London, mungkin tidak akan datang lagi. aku senang bertemu denganmu, untuk pertama kalinya aku nyaman dengan orang asing.


jika kau sudah menerima hadiahku dan membaca suratku, tolong hubungi aku untuk berterima kasih. bye Bagas, selamat tinggal.


dari Sonia. (099xxxxxxx) ini nomor whatsapp ku :)


Bagas membaca surat itu dengan tersenyum, ia melipatnya lagi dan menyimpannya. Bagas melihat hadiah dari Sonia, perasaan Bagas menyukai hadiah itu. Bagas tidak pernah merasa seperti itu pada seorang wanita, untuk pertama kalinya Bagas merasakan sesuatu. apalagi perasaan itu muncul, pada Sonia yang baru ia temui seminggu yang lalu.


"tidak selamat tinggal, kita akan bertemu lagi Sonia.!" gumamnya, ia menggenggam erat dasi itu.


****