Do You Remember?

Do You Remember?
Perubahan.



Adrian telah kembali dari London. setelah mengurus masalah Rosa selesai, Adrian memutuskan untuk terbang ke Indonesia secepatnya. apalagi mendengar kondisi Naira dari Bagas, Adrian mengetahui semuanya yang terjadi pada Naira. dari bandara Adrian langsung ingin bertemu Naira, saat Riana mengatakan mereka ada di supermarket. Adrian tahu Naira tidak akan mengenalinya, dan karena itu ia memiliki ide untuk mengulang kejadian pertama kali mereka bertemu.


Adrian bahkam sengaja menaruh kakinya dibawah troli yang dibawa Naira, agar mengulang pertama kali mereka bertemu dan pertama kali juga ia mendengar suara Naira. bahkan Adrian memberikan jepit rambut yang ia buat khusus untuk Naira sebelumnya, tapi sayang Naira menolaknya. Adrian pun tidak memaksakan, ia memilih untuk diam dan mengikuti alurnya.


setelah dari supermarket ia kembali kerumah Vano, Amelia dan Vano senang melihat Adrian pulang. Adrian memeluk mereka secara berganti,


"apa kabarmu sayang?" ucap Amelia, Adrian tersenyum dan mencium punggung tangan Amelia.


"baik ma, kalian apa kabar?" tanya Adrian, Vano tersenyum.


"kami baik, bagaimana dengannya?" ucap Vano, Adrian mengerti siapa yang dimaksud Vano.


"(menghela nafas) seharusnya dia mendapatkan apa yang harus ia dapat, tapi dia nenekku. dia dihukum atas kesalahannya, aku menjual semua sahamku disana. jadi sekarang aku tidak memiliki apapun di London, aku hanya memiliki sisa saham disini." ucap Adrian, Amelia tersenyum dengan itu.


"Adrian apa kamu yakin dengan itu?" tanya Amelia, Adrian tersenyum dan mengangguk.


"aku ingin hidup disini bersama kalian, aku ingin hidup damai dengan kalian semua. aku bisa kehilangan hartaku tapi aku tidak bisa kehilangan kalian, sekarang London bukanlah kotaku lagi. disini lah kota ku sekarang, kotaku bersama kalian!" saut Adrian lagi, Vano mendengar itu sangat senang. ia merentangkan tangan untuk memeluk Adrian, Adrian langsung berjalan kearah Vano dan beralih memeluknya.


"papa bangga padamu, semoga kau sukses selalu!" ucap Vano menepuk pundak Adrian, Amelia tersenyum melihat itu.


"sekarang istirahatlah, kami ada kejutan buat kamu nanti!" ucap Amelia, Adrian tampak heran dengan itu.


"kejutan? kejutan apa?" tanya Adrian, Amelia dan Vano saling melihat dan tersenyum.


"pergilah dulu, bersihkan dirimu dan tidur sejenak!" ucap Amelia mendorong Adrian, Adrian pun pasrah, dan masuk kedalam kamarnya untuk istirahat sejenak. beberapa saat kemudian ia merasa lapar, Adrian pun turun dari kamarnya menuju dapur.


"dimana mama!" gumamnya melihat sekeliling, ia pun membuka lemari es dan menemukan beberapa buah disana. Adrian mencuci buah itu tapi, ia mendengar suara yang dikenalinya.


"papa Vano, mama Amelia kemana?" Adrian terkejut mendengar suara Naira, ia tidak menyangka Naira berada dirumah itu. tapi setelah itu, Adrian tidak mendengar suara Naira lagi. "kamu bukan papa Vano ya, maaf!" mendengar itu Adrian berbalik dan menarik tangan Naira secara sepontan, Adrian tersenyum melihat Naira menatapnya.


"kamu!" ucap Naira, Adrian dengan lembut melepaskan tangannya. secara kebetulan Vano dan Amelia datang, Adrian hanya menatap Naira saat Amelia berbicara dengannya. Adrian hilang dalam tatapan Naira, sejenak Adrian berpikir Naira menatapnya seperti orang asing. tatapan yang Adrian suka sekarang menjadi asing, tidak seperti biasanya.


"ada hubungan apa antara kamu dan aku?" pertanyaan itu membuat yang lain diam, termasuk Adrian. Naira masih tetap menatap Adrian yang menatapnya.


"kita teman dari kecil apa kau ingat?" ucap Adrian, Naira mendelik dengan itu. Adrian khawatir saat Naira mengeryitkan dahinya, Adrian memegang tangan Naira dengan lembut. "jangan diingat, jika tidak ingat. jangan dipaksa untuk mengingat, mari kita berteman mulai dari awal!" ucap Adrian, Naira mendongakkan kepala dan menatap Adrian.


"aku tidak keberatan kamu melupakan aku, jadi tidak perlu berusaha mengingatku." ucap Adrian tersenyum, Naira merasakan tangan Adrian terasa berbeda dalam hatinya. Amelia yang melihat itu khawatir pada Naira, mereka takut kejadian dipagi hari terulang.


"mama sudah masak, ayo kita semua makan!" ucap Amelia mengalihkan perhatian, Amelia memapah Naira untuk duduk dimeja makan. Adrian tersenyum pada Vano, saat Vano merangkul tubuh besar Adrian.


"ini kejutannya?" tanya Adrian, Vano mengangguk.


"berjuanglah, kami semua mendukungmu!" ucap Vano, Adrian mengangguk dan tersenyum.


"iya pa, terima kasih!" saut Adrian tersenyum, Adrian memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Naira menatap kepergian Adrian, melihat Naira kebingungan Amelia menyentuh tangannya.


"ada apa?" tanya Amelia, Naira tersentak dan menggelengkan kepala. "ayo makan dulu bersama Riana, setelah itu kalian istirahat!" ucap Amelia memberikan sepiring untuk Naira dan Riana, Naira masih merasa aneh.


'teman, apakah kami berteman. sepertinya ada yang tidak pas dengan kata itu, tapi apa!'


setelah selesai makan, Riana membawa Naira kekamar. mereka melewati kamar yang dimasuki Adrian, Naira menoleh ke kamar itu. secara bersamaan Adrian keluar dari kamar dan menubruk tubuh Naira, dengan cepat Adrian menarik tangan Naira hingga terjatuh di atasnya.


Brugh!!


Riana yang melihat itu terkejut, tapi meninggalkan mereka karena merasa dirinya sangat lelah. Naira menutup mata karena terkejut, Adrian menikmati wajah Naira dari dekat. wajah yang dirindukannnya, sekarang ada dihadapannya dan sangat dekat. Naira membuka mata secara perlahan, Naira terkejut dengan wajah Adrian yang dekat dengannya. Naira menatap mata abu abu Adrian, mata mereka saling bertemu.


"apakah sakit?" ucap Adrian, Naira terkejut dan langsung mendirikan tubuhnya. Adrian pun tersenyum dan ikut berdiri, ia menatap Naira yang merapikan pakaiannya.


"maafkan aku, aku tidak tahu!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum. "jadi, mau berteman denganku?" tanya Adrian, Naira terdiam dengan itu. "kamu tidak mengingatku kan, jadi aku ingin kita berteman sampai kamu mengingatku. bagaimana, setuju?" ucap Adrian lagi, Naira tersenyum dan setuju dengan rencana Adrian. Naira mengangguk pelan, Adrian tersenyum senang dengan itu.


"oke, hai namaku Adrian Pratama!" ucap Adrian mengulurkan tangan, Naira menerima uluran tangan itu.


"hm.. hai namaku Naira, entah siapa namaku semua orang memanggil itu. maaf, aku tidak ingat!" ucap Naira pelan tapi masih didengar oleh Adrian, Adrian tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari kantungnya.


"ini untukmu, sebelumnya kamu menolak dan aku sangat sedih!" ucap Adrian memberikan jepit rambut yang sebelumnya, Naira melihat jepit rambut yang indah itu. Naira merasa pernah melihat itu sebelumnya. tapi ia tidak tahu jepit rambut itu miliknya, yang diberikan Adrian sebelum kecelakaan menimpanya. "diterima?" ucap Adrian lagi, Naira mengangguk dan mengambil jepit itu.


"terima kasih!" ucap Naira tersenyum, Adrian senang melihat Naira yang tersenyum lagi.


****


Seharian penuh Bagas tidak dapat kabar Sonia, Bagas takut jika Sonia meninggalkannya tanpa pamit. setelah dari kantor Bagas melajukan mobilnya, dan berniat ke apartemen nya untuk melihat Sonia. abahkan hp Sonia tidak bisa dihubungi, membuat Bagas kalut.


"jika kamu tidak ada, aku tidak akan memaafkanmu Sonia. tidak akan pernah!" gumamnya kesal.


setelah sampai digedung apartemennya, Bagas berlari cepat menuju lift. saat sudah didepan kamar apartemen nya, Bagas ragu untuk memencet bel. Bagas langsung membuka password kamar itu, setelah pintu terbuka Bagas menghela nafas perlahan. Bagas melihat semuanya gelap, dan terkejut tidak ada siapapun disana. semua tertata rapi, Bagas melempar bantal sofa disana.


"kau meninggalkan aku lagi!!" teriak Bagas, Bagas membaringkan tubuhnya dikasur. ia mencium bau Sonia didalam kamar itu, Bagas merasakan kekesalan yang terdalam.


Tak Tak Tak


suara sepatu mendekat, Bagas membuka matanya dan mendudukan dirinya. Bagas terkejut, melihat seorang wanita berambut hitam panjang. Bagas berdiri dan mencengkram lengan wanita itu.


"siapa kau!!" teriak Bagas, wanita itu tampak berontak.


"aukhh, kau menyakitiku. lepaskan aku!" Bagas terkejut mendengar suara itu, Bagas segera menyalakan lampu saklar disampingnya. dan benar suara itu adalah suara Sonia, Adrian melepas tangan Sonia dan menatapnya.


"Ba.. Bagas kamu... nga..pain di..sini!" ucap Sonia terbata, Bagas masih menatap perubahan Sonia. penampilan Sonia sedikit berubah, rambut yang sebelumnya berwarna merah menjadi hitam. mata biru milik Sonia menjadi hitam, Bagas melihat itu sedikit tercengang karena menjrutnya sangat cocok dilihat.


"Bagas!!" panggil Sonia, Bagas tersadar dari lamunannya. ia berdehem dan mengalihkan perhatiannya.


"kamu dari mana, kenapa telfonku tidak diangkat!" ucap Bagas, Sonia berjalan kearah laci samping kasurnya. ia mengambil hpnya dan menunjukkan pada Bagas.


"hpku disini, dan sedang tidak aktif. maafkan aku!" ucap Sonia lirih, Bagas menatap Sonia dengan lega. perasaan takutnya lenyap begitu saja, apalagi melihat senyum dari Sonia.


"itu rambutmu berubah?" tanya Adrian, Sonia mengusap rambutnya sendiri.


"sebenarnya warna asli rambutku ini, karena suka warna merah aku mewarnai rambutku jadi merah. dan kebetulan warnanya hampir pudar, karena itu aku kesalon!" ucap Sonia,


"kenapa tidak diwarnai lagi, apa salonnya kurang baik?" saut Bagas, Sonia menggelengkan kepala.


"tidak, aku tidak ingin mewarnainya lagi. jadi aku meminta mereka menghilangkan warnanya, apa kamu tidak suka?" ucap Sonia, Bagas mendelik mendengar itu. Sonia tidak tahu wajah Bagas sudah merah dibuatnya, Bagas sengaja menoleh kearah lain untuk menutupi wajahnya.


"kenapa aku, itu kan terserah kamu!" ucap Bagas, Sonia kesal dengan itu. Sonia melempar tasnya dan mendekat kearah Bagas.


"kenapa kamu tidak mengerti diriku, kenapa kamu tidak memahami aku!" ucap Sonia sedikit berteriak, Bagas terkejut dan berbalik menatap Sonia.


"apa lagi Bagas, apa lagi yang harus diubah?" ucap Sonia lirih, Bagas menatap tanpa berkedip sekali pun.


"apa maksudmu?"


"apa lagi yang aku ubah, agar kamu menyukaiku!" ucap Sonia menatap sendu Bagas, Bagas terkejut dengan perkataan itu. "aku ingin kau menyukaiku Bagas, aku menginginkan itu. dulu aku tidak pernah merubah rambutku, karena aku tidak suka menunjukkan diriku pada orang lain. tapi karenamu, hari ini aku menjadi diriku sendiri. agar kamu melihat siapa aku, dan mungkin menempatkan hatimu untukku!" ucap Sonia lirih, Bagas terdiam tapi dalam hatinya tersenyum bahagia.


"aku ingin kamu menyukaiku, aku ingin kamu mencintaiku. aku juga ingin kamu menjadikan aku, orang yang penting dalam hidupmu. aku ingin semua itu Bagas, aku sangat ingin darimu!" ucap Sonia lagi, Bagas masih berdiri dengan wajah tanpa ekspresi.


"apa jika aku melarangmu pergi, kau tidak akan pergi?"


"iya aku tidak akan pergi, aku akan tetap tinggal disini." saut Sonia, Bagas tersenyum dan mendekat kearah Sonia.


"kenapa, kenapa kau ingin semua itu dan melakukannya untukku?" tanya Bagas, Sonia menatap wajah Bagas yang masih tanpa ekspresi.


"tentu saja aku menyukaimu, aku mencintaimu dan aku ingin bersamamu!" ucap Sonia dengan lantang, Bagas terkejut dengan pernyataan cinta Sonia tanpa ragu. Sonia yang tebalut kesal tanpa sadar mengatakan semua itu, Sonia berjalan kearah jendela mengutuk dirinya sendiri yang bodoh.


"bodoh bodoh, kamu harus sabar Sonia. bagaimana ini, aku sudah terlanjur mengatakannya!!" gumam Sonia, ia tidak sadar Bagas berdiri dihadapannya. Sonia terkejut ketika Bagas memeluknya dari belakang. "Bagas apa yang kamu lakukan?" ucap Sonia lirih, Bagas semakin mengeratkan pelukannya.


"jika kau tidak ingin pergi, maka jangan pergi. tetaplah disini Sonia, tetap bersamaku!" ucap Bagas pelan, Sonia masih berdiri mematung. Bagas membalikkan tubuh Sonia untuk menghadapnya, Sonia menurunkan tatapannya.


"aku datang kemari karena aku takut kau sudah pergi, dan aku sempat terkejut dengan pernyataan cintamu." ucap Bagas, Bagas berjalan menatap luar jendela. Sonia yang berada disamping Bagas, menatap Bagas dengan persaan cinta.


"sebenarnya aku tidak pernah merasakan cinta pada siapapun, untuk pertama kalinya aku merasa jatuh cinta. aku jatuh cinta padamu, kamu mencintaiku kan?" tanya Bagas, Sonia mengangguk kuat. "aku tidak bisa berkata romantis, yang aku bisa lakukan adalah mencintaimu. aku mencintaimu Sonia, bisakah kau tetap tinggal untukku?" ucap Bagas, Sonia tersenyum senang dengan pengakuan Bagas. Sonia langsung memeluk tubuh Bagas dengan erat, Bagas membalas pelukan itu.


"iya, aku tidak akan meninggalkanmu. aku akan tetap tinggal disini bersamamu, hanya bersamamu. aku mencintaimu Bagas!" ucap Sonia, Bagas mengangkat tubuh Sonia. Bagas menggendong Sonia memutar karena bahagia, mereka berdua bahagia malam itu. Bagas menempelkan dahi pada dahi Sonia, wajah Sonia memerah karena merasa malu.


"kamu mencintaiku, dan aku mencintaimu!" ucap mereka bersamaan, mereka juga tertawa kecil bersama. Sonia berharap Bagas melamarnya dengan cepat, agar ia tidak perlu kembali ke London. Bagas pun memiliki rencana untuk menikahi Sonia, ia merencanakan sesuatu untuk melamar Sonia secepatnya.