Do You Remember?

Do You Remember?
Episode Delapan : Aku tunangannya



Jakarta, Agustus 2022


Shaqueena terlampau bahagia. Sudah beberapa minggu dan hubungannya dengan Gala berangsur membaik.


Kala laki-laki itu menyambangi rumahnya, meminta maaf dan mengajaknya pergi jalan-jalan, Gala membuat janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Juga, Gala menjelaskan kalau kini ia dan Ameera hanya sebatas teman.


Kini


Berarti sebelumnya mereka lebih dari teman. Berarti Gala datang padanya saat ia dan Ameera sudah memutuskan segalanya.


Shaqueena tidak tahu harus merasa bagaimana.


Ia senang, kini perhatian Gala berada penuh untuknya, bahkan lebih dari sebelumnya.


Tapi ia juga sedih, karena ia sadar, ia hanya pelarian. Tak pernah menjadi tujuan.


Bolehkah ia merasa tenang?


......................


Ameera berjalan mondar-mandir menata beberapa kue dan cookies yang baru matang. Harum semerbak vanilli memenuhi ruang. Tercium manis membuat siapapun yang lewat tergiur lapar.


Dengan terampil ia tata satu persatu memenuhi etalase. Peluh di dahi juga banyaknya bekas tepung yang berserakan di celemek merah muda yang ia kenakan cukup sebagai tanda bahwa ia telah bekerja keras.


Ameera menatap hasil kerjanya. Hari ini ia membuka tokonya sendiri, karena Adeeva harus kembali ke Bandung selama beberapa hari.


Tidak masalah sebenarnya, karena sedari awal—sebelum Deeva memutuskan untuk mengikuti dirinya tinggal di Jakarta—Ameera terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tapi sekarang, karena terbiasa dengan bantuan, ia menjadi sedikit kelelahan.


"Nah, sudah!" Ujarnya puas.


Ameera melepas celemek yang sudah sangat kotor itu, menaruhnya di belakang, sedikit menata dirinya, lalu membalik tanda 'open' di pintu masuk.


Ia siap.


Selama beberapa waktu, pelanggan silih berganti datang.


Memang, toko Ameera sudah banyak memiliki pelanggan tetap. Selain karena rasa kuenya yang tak perlu diragukan, Perilaku santun juga ramah Ameera makin membuat pelanggannya betah untuk terus datang.


"Terimakasih atas kunjungannya. Semoga suka ya sama kuenya! Silahkan datang kembali" Ucap Ameera dengan aksen lembut dan ramahnya. Senyumnya yang sedari tadi terus tersemat, menular kepada sang pelanggan.


"Terimakasih kembali, nak. Duh, kamu cantik sekali. Sudah menikah belum?"


Ameera terdiam mendapat pertanyaan tiba-tiba ini. Tidak tahu harus menjawab bagaimana.


Beruntung sepertinya pelanggan yang terlihat sebaya dengan Umi itu, mengerti akan keterdiaman Ameera. Ia menyela; "Udah jangan dijawab. Ibu cuma bercanda. hehe. nanti kalau kuenya pas di lidah ibu, ibu pastikan datang kesini lagi, oke?"


Ameera tersenyum mengiyakan.


Akhirnya ibu tadi sudah pergi. Membuat Ameera menghela napas kasar.


Duh, pertanyaan keramat!


Batin Ameera sebal.


Kring


Pintu masuk kembali dibuka. Ada beberapa wanita disana. Kalau Ameera lihat sekilas, terlihat sekali wanita-wanita itu berasal dari kalangan atas.


Pakaian juga barang ternama yang menempel ditubuh mereka sudah menjelaskan segalanya.


"Selamat datang!" Sapa Ameera dengan senyuman. Seperti biasa.


Namun kemudian, matanya sedikit membola kala orang terakhir masuk. Hanya sesaat, karena setelah itu raut ramah kembali bisa Ameera perlihatkan.


Ia ingat, wanita itu ia kenali sebagai Shaqueena, tunangan dari seorang Manggala. Wanita yang sama yang menjadi paling terakhir masuk ke tokonya menyusul gerombolan wanita tadi.


Senyum sinis wanita itu lemparkan, untuk Ameera. Shaqueena memandang tak suka ke arah Ameera.


Apa salahnya? batin Ameera heran.


Wanita itu lalu mengabaikan sapaan Ameera dan berlalu congkak menuju ke teman-temannya.


"Jadi ini toko roti yang yang kamu rekomendasiin ke kita? lumayan sih. cozy juga tempatnya" Tanya salah satu wanita berpakaian mini berwarna salem, yang sudah mendudukkan dirinya di kursi dekat dengan jendela.


Total ada lima orang dari mereka. Duduk di salah satu seating set dengan tambahan satu kursi yang mereka tarik dari set yang lain.


Shaqueena jadi yang terakhir duduk. "iya. Ini toko yang kemarin buat kue acara Anniv perusahaan Mas Gala. Kata kalian enak, kan?"


Pertanyaan Shaqueena mendapat anggukan kompak dari mereka, Shaqueena tersenyum kemudian melanjutkan, "Kebetulan Calon mertuaku suka banget sama kue disini. Jadi aku pernah beberapa kali datang kesini jadi yaa tau kalau kue-kue disini emang enak"


Shaqueena berbicara dengan nada lantang dengan sedikit penekanan di kata 'calon mertua'.


Ameera memautkan alisnya. Ada apa dengan wanita ini? sedari tadi tingkahnya aneh.


Lagi dan lagi Ameera mendengar penekanan dari tutur kata Shaqueena.


"Yakin cuma teman?" canda wanita lain, menggiring tawa renyah diantara mereka.


"Yakin dong!! Kan nanti NIKAHNYA sama aku" Shaqueena benar-benar menaikkan volume suaranya. Tingkahnya seakan ingin semua orang, Atau lebih seperti ingin Ameera mendengar dengan jelas apa yang ia ucapkan.


Mereka tertawa dengan renyah dan mengabaikan eksistensi Ameera disana. Sampai salah satu dari mereka bertemu pandang dengan Ameera, barulah satu persatu dari mereka memesan.


Banyak yang mereka obrolkan selama berada disana. Dan Ameera, mendengar semuanya.


Bukan, bukan Ameera gemar menguping atau mencuri dengar. Hanya saja suara lantang mereka sulit untuk ia abaikan.


Di mulai dari mode, gossip, sampai ajang pamer mereka lakukan dalam kurun waktu hampir satu jam.


Setelah makanan mereka habis, mereka meninggalkan toko tanpa mengucap terima kasih atau basa basi lain. Hanya melengos, bahkan meninggalkan banyak sampah, juga bangku yang sudah berantakan.


Tak punya etika.


Ameera harus sabar.


Tinggallah Shaqueena disana. Berdiri congkak lalu berjalan menuju ke Ameera.


Sosoknya yang tadi banyak tertawa diganti dengan wanita sombong penuh senyum sinis di dua bilah kembarnya.


Matanya menghunus tajam, matanya terkunci pada jelaga kelam milik Ameera.


Kedua mata itu bertemu, membuat jembatan kilat tak kasat mata.


"Kuenya enak" Puji Shaqueena datar.


"Terimakasih" Ameera membalas tak kalah datar. Kekesalannya akan seating set yang berantakan membuatnya jengah untuk bertindak sopan.


Shaqueena menyunggingkan senyum miring, "Kita belum kenalan, kan?"


"Memangnya harus? sepertinya tidak perlu" Ameera tak acuh. Ia melanjutkan jalannya menuju ke seating set yang berantakkan, melewati tubuh Shaqueena yang berdiri di depan meja kasir.


Shaqueena terkekeh, "Haha. Perlu dong," Shaqueena membalik tubuhnya. Sedikit berjalan lalu menghadang Ameera. Sebelah tangannya ia angkat sebatas dada, membuat ajakan untum berjabat tangan. "Kenalin, Aku Shaqueena. Tunangannya Mas Gala!"


Ameera memutar bola matanya.


Oh! Inikah tujuannya kemari? Untuk menegaskan statusnya di depan Ameera.


Ameera sedikit kaget mengetahui tabiat dari tunangan Gala ini. Ia jadi kasihan kepada Gala karena harus terjebak dengan wanita ini untuk sisa hidupnya.


Ameera tidak menyambut uluran tangan itu, ia melanjutkan langkahnya dan membereskan meja dan kursi yamg berantakan dalam diam.


"Tidak sopan ya, kamu. Berani sekali kamu mengabaikan orang lain seperti itu?" Shaqueena meradang.


"Tidak sopan ya? Lebih tidak sopan mana dengan orang yang membuat bising di tempat orang lain, berbicara seolah menjerit, membuat berantakan seperti ini, bahkan membiarkan sampah berserakan dimana-mana? Padahal aku sudah menyediakan tempat sampah, lho, dan itu terletak tidak begitu jauh dari tempat kalian duduk" Tuturnya halus, tapi menusuk.


Shaqueena geram. "YA KAN AKU PELANGGAN, YA TERSERAH AKU DONG!!"


Ameera mendengus. Betul kekanakan. Ameera yakin, wanita ini selama hidupnya terus mendapat apa yang ia inginkan, tanpa terkecuali. Menjadikannya sedikit egois.


"Mau aku beri sedikit rahasia?"


"...."


"Aku memang temannya A' Gala sekarang," Ameera menjeda kalimatnya, mengamati perubahan mimik dari sang lawan bicara, "Tapi aku pernah mengisi hatinya untuk waktu yang lama,


aku ... cinta pertamanya"


......................


DANG!!


"MAS!"


Suara pintu yang dibuka paksa juga pekikan nyaring Shaqueena mengagetkan Gala. Ia yang tadi fokus membaca berkasnya, terlonjak kaget.


"Shaqueena!" Ia menegur. Ia tatap tajam wanita yang berjalan terburu-buru masuk.


Wajah wanita itu tampak kesal, dengan napas yang tersenggal dan mata yang menyipit tajam.


"Kamu apa-apaan sih??" Tanya Gala tidak sabar.


"Mas aku mau pernikahan kita dipercepat!"


Dan Gala tercengang dibuatnya.


...****************...