Do You Remember?

Do You Remember?
mama



setelah kejadian waktu itu, waktu berjalan begitu cepat. Naira dan Adrian pun semakin baik menjalin hubungan. tapi Adrian masih belum bisa mengatakan siapa dia sebenarnya, Naira selalu mengatakan dia mencintai Adrian dan bukan Adnan. yang Adrian pikirkan sekarang, mencintai Naira dan tetap selalu bersamanya.


setelah kejadian itu karena daya tahan tubuh Naira yang menurun, Adrian tidak mengijinkan Naira untuk bekerja. Adrian menyuruh Naira untuk beristirahat 2 minggu, mereka hanya bisa bertemu lewat video call atau telfon saja.


hari ini hari minggu, karena bosan Naira pergi kerumah Vano. disana Vano dan Amelia sangat merindukan Naira, disiang hari Naira menemani Amelia dan Nanda pergi ke mall. setelah Vano mengantar mereka, ia pergi dengan urusannya. sedangkan disana mereka bertiga, sangat bersenang senang.


Adrian: kamu sedang apa?


Naira membaca pesan dari Adrian, Naira tersenyum sendiri.


Naira: merindukanmu!


Adrian: benarkah?


Naira: hm..<3


Adrian: besok kita bertemu:*, sekarang kamu dimana?


Naira: iya. aku sedang ada di mall, kenapa?


Adrian: mall mana, kan harus istirahat?


Naira: hm.. iya aku sangat bosan, jadi aku pergi deh.


Adrian: baiklah, jangan terlalu lelah. minum vitaminmu, besok mulai bekerja!


Naira: ya aku sangat senang, aku sudah baik baik saja.


Adrian: iya besok kita periksa keadaanmu lagi, setelah itu aku akan percaya kamu sudah stabil.


Naira: oke jangan khawatir, apa kamu ingin kemari?"


Adrian: untuk apa?


Naira: bertemu denganku:D


Adrian: tidak, aku sangat sibuk!


Naira: hm oke baiklah ):


Adrian: maaf ya, aku mencintaimu.


Naira: iya, aku juga mencintaimu.


Naira sedikit kesal karena Adrian sibuk, tapi Naira juga sangat senang dengan itu. Naira tersenyum sendiri, semakin hari rasanya ia semakin mencintai Adrian. Nanda melihat Naira yang tersenyum sendiri, Naira tersenyum tanpa henti melihat hpnya.


"kakak kamu kenapa?" tanya Nanda, Naira menggelengkan kepala dan tersenyum.


"apa kamu baik baik saja?" tanya Amelia, Naira mengangguk dan tersenyum.


"nggak papa kok tante, ayuk lanjut belanja!" saut Naira, mereka pun memutuskan untuk pergi memilih beberapa kebutuhan mereka. setelah beberapa menit, Naira dan Amelia kehilangan jejak Nanda. mereka mencari disetiap toko yang pernah dikunjungi, tapi entah kemana Nanda berada.


Ting~


Adrian: sayang kamu dimana?


Adrian sendiri baru sampai di mall itu, setelah memarkirkan mobilnya Adrian masuk ke dalam mall dan mulai mencari Naira. beberapa orang memperhatikannya, Adrian hanya acuh dan berjalan terus mencari Naira. Adrian datang karena ingin memberi kejutan pada Naira, tapi malah tidak menemukan Naira.


brugh!!


tanpa sengaja seseorang menbrak Adrian dari samping, Adrian melihat seorang gadis kecil menabraknya dan barang yang dibawa berserakan. Adrian membantu gadis kecil itu, terlihat gadis kecil itu tidak melihat Adrian.


"haduh parfumnya pecah!" ucap gadis itu, Adrian mendengarnya.


"apa ada masalah?" ucap Adrian, gadis itu menoleh kearah Adrian. secara bersamaan Adrian terkejut melihat gadis itu, gadis yang terlihat familiar baginya.


"maaf kakak, aku tidak melihatmu. tidak ada masalah apapun, hanya parfum milik mamaku pecah karena jatuh!" ucap gadis itu, Adrian melihat parfum itu ia sangat mengenali bau parfum itu. bau parfum yang selalu dipakai oleh Amelia, parfum kesukaan Amelia.


"tidak masalah, aku akan membelikannya yang baru." ucap Adrian, gadis itu tersenyum lebar. perasaan Adrian semakin kalut, ia tersenyum sendiri.


kenapa dia seperti mama, apakah mama punya seorang anak. jika memang dia anak mama, itu artinya dia adalah adikku.


"parfum ini mahal, apa kamu mau menggantikan nya?" ucap gadis itu, Adrian tersenyum dan mengambil parfum yang sudah pecah itu.


"aku bahkan bisa memberikan seratus parfum seperti ini, berapa yang kau inginkan?" ucap Adrian, gadis itu tersenyum.


"aku ingin semuanya, aku akan memberikan nya pada mama. ini parfum favorit mama," ucap gadis itu, Adrian tertawa.


"baiklah akan kubelikan seratus, atau sekalian tokonya?" gadis itu tertawa dan menggelengkan kepala.


"tidak perlu belikan saja satu untuk mengganti ini, sepertinya kakak sangat kaya?" ucap gadis itu, gadis itu berjalan dengan menggandeng tangan Adrian.


"benarkah, apakah aku terlihat kaya?"tanya Adrian, gadis itu mengangguk.


"nama kakak siapa?" tanya gadis itu, Adrian tersenyum.


"namaku Adrian, dimana tokonya?" ucap Adrian, gadis itu menunjuk sebuah toko parfum. Adrian berjalan memasuki toko itu, Adrian sangat senang melihat gadis itu.


"kakak berikan parfum seperti ini, satu saja!" ucap gadis itu, Adrian tersenyum.


"berikan sepuluh parfum seperti itu, aku akan membayarnya!" ucap Adrian memberikan kartu emas, pegawai disana mengangguk senang.


"kakak itu terlalu banyak, satu saja tidak masalah aku hanya ingin mengganti ini!" ucap gadis itu, Adrian mengelus rambut gadis itu dengan lembut.


"aku menyukaimu, jadi biarkan itu hadiah dariku. boleh aku tau namamu?" ucap Adrian, gadis itu mengangguk.


"terima kasih kakak, namaku Nanda Valia." tiba tiba saja Adrian mengingat Amelia dan Vano, karena mendengar kata Valia.


***


ditempat Naira dan Amelia masih mencari Nanda, bahkan hp Nanda tidak bisa dihubungi. Amelia khawatir dengan itu, Nanda berusaha menenangkannya. Naira menghancurkan beberapa panggilan dari Adrian, dan bahkan tidak membalas pesannya.


"tenang tante, Nanda itu juga sudah gede kok. pasti lagi pilih pilih baju atau lainnya, sia pasti disekitar sini!" ucap Naira, Amelia mengangguk.


"anak itu benar benar nakal, tadi tante sudah bilang jangan terlalu jauh. tapi dia malah menghilang,!" ucap Amelia, mereka berjalan sambil mencari cari Nanda.


"nanti Naira akan telfon papa Vano, tante tenang aja!" ucap Naira, Amelia mengiyakan itu.


setelah beberapa menit Nanda belum juga terlihat, akhirnya Naira memutuskan untuk menelfon Vano atau pun Kara. saat ingin menelfon terlihat Nanda sedang berdiri menggandeng seseorang, Naira tidak melihat siapa yang ia gandeng. Naira berjalan cepat menghampiri Nanda, dan langsung menarik telinga Nanda.


"kamu ya, sudah dibilang jangan kemana mana. tapi malah menghilang, kami khawatir padamu!" ucap Naira menjewer telinga Nanda, Nanda memegangi telinganya.


"aduh kak sakit, Nanda tadi ditoko parfum sebelumnya. kakak lepasin ih!" teriak Nanda, Naira tidak peduli dengan itu.


"Naira?" panggil seseorang, Naira mengenali suara itu ia pun menoleh kearah suara yang memanggilnya, Naira terkejut melihat Adrian berdiri.


"kamu?" ucap Naira, ia melepas telinga Nanda dan berlari dibelakang Adrian.


"kakak tampan, dia itu kakak yang galak. dia menjewerku, jelaskan padanya!" ucap Nanda, Adrian tertawa dengan itu.


"iya meskipun dia galak, dia sangat sayang padaku. Memangnya kakak mengenal kak Naira?" ucap Nanda, Adrian melihat Naira dan tersenyum.


"tentu saja, dia itu bidadari kakak. meskipun galak seperti itu, dia tetap menjadi bidadari." ucap Adrian, Naira tersenyum sendiri. lalu melihat kearah Nanda, Nanda meringis.


"kak Naira apa dia pacarmu?" ucap Nanda, Naira mendelik dengan itu.


"anak kecil. tante mencarimu, ayo pergi temui tante. tante ada direstoran, kamu tau aku hampir menelfon papa!" ucap Naira, Nanda berlari cepat untuk menghindari kemarahan Naira. Adrian tersenyum karena mengira Nanda adalah adik Naira, mungkin karena itu Nanda terlihat familiar dimatanya.


"katanya sibuk?" ucap Naira, Adrian tersenyum dan membawa tas belanja yang dibawa Naira.


"tidak ada kata sibuk buat kamu, kamu suruh aku datang!" saut Adrian, Naira tertawa dengan itu.


"bagaimana kamu bisa bertemu dengan Nanda?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan menggandeng tangan Naira.


"dia menabrakku lalu parfum yang ia beli jatuh, lalu aku menggantinya sebagai hadiah!" saut Adrian, mereka berjalan bersama untuk menghampiri Nanda yang sudah berlari.


"anak itu benar benar, dia yang salah orang yang suruh ganti!" ucap Naira, Adrian tersenyum.


"aku akan memperkenalkan kamu pada seseorang, dia sangat baik seperti mamaku!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan menurut apapun yang dilakukan Naira.


"aku tidak menyangka kamu punya adik, bukankah kamu anak tunggal Kara Wijaya?" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.


"dia anak papaku yang lain, dia kesayangan papaku juga. aku punya papa lagi, nanti akan kupertemukan kalian!" jelas Naira, Adrian terdiam dengan pikirannya.


papa yang lain, apa itu artinya papa Vano. jadi dia adalah anak papa Vano, dan benar dia adalah adikku. karena itu wajahnya mirip dengan mama, Nanda adalah kebalikan dari Adnan. tante yang dimaksud Naira adalah mama, Naira ingin memperkenal kan aku pada mama.


tanpa sadar mereka sudah sampai direstoran itu, Adrian tidak hmtahu harus berbuat apa. bahkan dirinya tidak bisa membuat alasan untuk pergi, Adrian tidak ingin membuat Naira sedih. Adrian semakin menegang saat melihat Nanda duduk dengan seorang wanita, wanita itu yang tidak lain adalah Amelia yang duduk membelakangi mereka. Naira tersenyum dan menarik tangan Adrian kearah Amelia, Adrian benar benar pasrah.


"tante Nanda ini keterlaluan, dia menabrak orang lalu meminta ganti rugi parfum tante yang dibeli sebelumnya." ucap Naira, Adrian berdiri dibelakang Amelia. Amelia menoleh kearah Naira, lalu mencoba menjewer Nanda.


"ganti rugi seperti apa, kan kamu yang salah!" ucap Amelia, Nanda memegangi telinganya.


"mama lepaskan, kakak itu kok yang mau ngasih hadiah. bahkan dia membelikan sepuluh parfum untuk mama, aku tidak menyuruhnya!" ucap Nanda, Amelia melepas jewerannya. Nanda berlari kearah Adrian, dan sembunyi dibelakang Adrian. Amelia pun menoleh kearab Adrian, dan tertegun melihat Adrian.


"kakak katakan pada mamaku, kalau kakak yang mau membelikannya bukan aku!" ucap Nanda, Adrian tersenyum dan mengusap rambut Nanda lembut. Amelia tidak mengucapkan apapun, Adrian mencoba untuk menenangkan dirinya.


"iya benar, aku yang memaksanya. tidak perlu memarahinya, dia tidak melakukan apapun!" ucap Adrian berusaha tenang, hatinya semakin menegang ketika Amelia menatapnya dan melangkah mendekat kearahnya.


"apa kita pernah bertemu?" ucap Amelia, Adrian terkejut dengan itu. belum Adrian menjawab, Naira memegang tangan Amelia.


"tante dia itu Adrian, atasan Naira ditempat Naira bekerja!" ucap Naira, Amelia tetap menatap Adrian.


"namaku Adrian, salam kenal!" ucap Adrian, tiba tiba saja Amelia menyeka air mata nya.


"haiss.. aku terharu melihatmu, kamu mirip dengan seseorang yang aku kenal!" ucap Amelia tersenyum, Adrian pun tersenyum.


"sudah ayo duduk kita makan bersama, nak Adrian apa makanan yang kamu sukai?" ucap Amelia, Adrian tersenyum.


"apa saja, saya akan makan!" ucap Adrian, Amelia mengangguk.


mereka berempat makan bersama disana, Adrian sesekali memperhatikan Nanda yang terlihat lucu. bahkan sesekali mereka menjaili Naira, Amelia melihat itu tersenyum sendiri. Amelia menatap Adrian, hatinya mengatakan bahwa Adrian adalah putranya hanya saja dengan nama berbeda.


seandainya kamu benar Adnan, mama akan memelukmu sayang. mama sangat merindukan kamu, apa kamu lupa dengan mama.


****


setelah memutar Amelia dan Nanda pulang, Adrian mengantar Naira pulang. didalam mobil mereka terdiam dengan pikiran mereka masing masing, sesekali Adrian hanya menatap Naira dan tersenyum.


"kamu mencintaiku?" ucap Adrian, Naira menoleh dan mengangguk.


"tentu saja, kenapa mengatakan itu?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan mencium tangan Naira.


"kalau aku berbohong padamu, dan aku jujur padamu akan kah kamu memaafkan aku?" ucap Adrian lagi, Naira tersenyum.


"katakan dulu apa kebohongannya, nanti akan kupertimbangkan bisa dimaafkan atau tidak!" saut Naira, Adrian jadi berpikir tentang kebohongan nya bisa dimaafkan atau tidak oleh Naira.


"boleh kubertanya lagi?" ucap Adrian lagi, Naira mengangguk. Adrian menghentikan mobilnya dipinggir jalan, ia menatap Naira.


"apa yang kamu katakan waktu itu, tentang jika aku bertemu ibuku. akankah ibuku memaafkan aku?" ucap Adrian, Naira memegang kedua pipi Adrian.


"tentu saja Adrian, ibumu memiliki pintu maaf yang selalu terbuka untukmu. dia akan memaafkanmu, bahkan dia akan memeluk dan menciummu!" ucap Naira, Adrian memegang kedua tangan Naira dan menciumnya.


"iya, jadi kamu mau menciumku?" ucap Adrian tiba tiba, wajah Naira langsung memerah.


"kau ini, apaan sih!" ucap Naira melihat kearah luar mobil, Adrian tersenyum dan menarik Naira untuk ia peluk.


"aku hanya bercanda, aku mencintaimu Naira." Naira memeluk Adrian dengan erat.


"aku juga mencintaimu Adrian!." ucap Naira, Adrian semakin memeluk Naira dengan erat.


masih kah kamu mencintaiku jika kamu tau aku berbohong, apakah kebohonganku bisa dimaafkan.


setelah beberapa menit Adrian telah membawa Naira pulang, setelah itu Adrian melajukan mobilnya untuk pergi dari sana. bukannya kembali kerumah, Adrian berhenti pada sebuah rumah besar. Adrian turun dari mobil dan melihat rumah besar itu, perlahan Adrian melangkah memasuki rumah itu. tertulis disana rumah besar itu milik Alatas Home's, rumah itu milik Vano tempat Amelia tinggal.


Adrian sudah memikirkan semuanya, Adrian akan menemui Amelia dan memohon maaf padanya. Adrian berharap Amelia akan memaafkannya dan tidak membencinya, saat melihat Amelia di mall Adrian sudah tidak bisa menahan kerinduan nya pada ibunya.


Ting tong ting ting~


Adrian memencet bell disana, sesaat kemudian terlihat seseorang membuka pintu.


"maaf cari siapa?" tanya seorang wanita, Adrian meyakini itu adalah seorang prt disana.


"bisakah saya bertemu nyonya Amelia?" ucap Adrian,


"bisa nyonya ada didalam, silahkan masuk tuan!" ucap prt, Adrian masuk kedalam rumah itu.


Adrian melihat sekeliling rumah itu, rumah yang masih sama seperti dulu. tidak ada yang berubah didalamnya, Adrian terkejut ketika melihat foto kecilnya bersama Amelia dan Vano terpajang disana. Adrian meneteskan air mata melihat itu, ia berpikir Amelia tidak pernah melupakannya. Adrian tidak sadar, Amelia sudah berdiri dibelakangnya.


"siapa ya, kenapa mencariku?" ucap Amelia, Adrian menangis mendengar suara itu. perlahan Amelia melangkah mendekat kearah Adrian, Adrian mengelap air matanya.


"oh Adrian, apakah ada sesuatu?" ucap Amelia lalu melihat foto yang Adrian pegang, Amelia tersenyum.


"dia putraku, putra kesayanganku!" ucap Amelia, Adrian masih terdiam.


"tadi pertama kali melihatmu, hatiku mengatakan kamu adalah putraku. tapi nama kalian berbeda, jadi aku berpikir aku hanya terlalu merindukan putraku." ucap Amelia lagi, Adrian tidak berani untuk menatap Amelia.


"apa yang akan kamu lakukan jika bertemu putramu?" ucap Adrian, Amelia meneteskan air matanya.


"aku akan memarahinya, aku akan memukulnya. dia berani membuat ibunya merindukannya terus, dia keterlaluan. setelah itu aku akan memeluknya, aku akan melepaskan semua kemarahanku dengan memeluknya!" ucap Amelia, Adrian terkejut dengan itu. karena jelas Amelia tidak membencinya, Amelia jelas menunggunya selama ini.


"haha.. kamu sedih ya, jangan dipikirkan. kamu pasti ingin bertemu dengan Nanda ya, Nanda tadi pergi dengan papanya, sekarang ayo duduk dulu, tante akan buatkan teh untukmu!" ucap Amelia, saat ingin pergi Amelia merasakan tubuhnya dipeluk seseorang. Amelia terkejut saat Adrian memeluknya, Amelia bisa merasakan kesedihan Adrian.


"hei ada apa, apa kamu baik baik saja?" ucap Amelia, Adrian menangis memeluk Amelia.


"mama..."