
tw : toxic parent!!
...----------------...
Uap hangat terlihat mengebul keluar dari gelas keramik berwarna coklat dengan isian yang juga berwarna senada. Hangatnya sisi luar gelas menghantar penas, merambat ke kulit telanjang orang yang memegangnya.
Selepas adegan di luar tadi, Ameera tidak menanyainya apa-apa soal keadaannya. Hanya tersenyum teduh, dan menariknya masuk.
Seakan sudah hapal di luar kepala tabiat laki-laki itu, tanpa basa-basi Ameera menanyainya perihal makanan; Apa ia sudah makan, mau minum apa, mau dibuatkan makanan apa.
Perhatian kecil itu yang membuat hatinya menghangat. Setelah sekian lama, kini ia rasakan hatinya kembali menghangat oleh presensi manusia lain selain bundanya.
Gala tidak berbohong. Hatinya tidak pernah berdesir seperti ini selain kepada Ameera.
Bahkan, dengan Shaqueena pun, perasaan serupa perut tergelitik oleh puluhan kupu-kupu tak kasat mata itu tak pernah muncul. Hanya nyaman, seperti dengan teman.
Shaqueena itu, layaknya kawan lama. Semua topik obrolan Shaqueena selalu bisa ditanggapi Gala. Tak ada kata risih saat mereka pergi bersama. Mereka cocok saat bersama. Dan hal inilah yang menjadi alasan Gala menyetujui pertunangannya dengan Shaqueena.
Namun, perhatian khusus Shaqueena tak pernah bisa menembus hati Gala. Entah karena benteng Gala yang ia bangun terlalu kuat, atau memang sudah tidak lagi ada tempat tersisa dihatinya.
Bodohnya, Gala baru menyadari hal itu setelah Ameera kembali hadir di hidupnya. Gala baru menyadari kalau perasaannya pada Ameera belum menghilang. Dan dia yakin, sulit untuk tergantikan.
Bagai benang kusut, kini pikiran Gala menjadi semrawut. Ia acak kasar rambutnya, menyalurkan sesak frustasi yang kian bersarang memenuhi pikirannya. Membawa dirinya kembali masuk ke dalam gelembung lamunan guna bersembunyi sebentar dari kenyataan.
Ameera datang dalam diam. Ia lihat Gala yang kacau dengan pandangan kosong dan raut pias.
Jemarinya yang memegang piring penuh dengan cookies hangat, perlahan mengerat, melampiaskan kesedihannya pada benda mati tak bersalah. Menyalurkan emosi, berharap setelahnya ia dapat merasa lebih baik.
Langkahnya ia lanjut, perlahan ia duduk.
Piring tadi ia taruh, pelan tapi suaranya cukup untuk menarik Gala keluar dari lamunannya.
"Kamu jadi repot", menjadi kalimat pertama yang Ameera dengar dari Gala hari ini. Tadinya, ia hanya menggeleng pelan saat ditanyai perihal makanan. Membuat Ameera urung untuk bertanya lebih banyak.
Ameera memilih untuk memberi Gala ruang; untuk berpikir dan bernapas.
"Nggak sama sekali, A' " Ameera memperhatikan. Ia menimbang-nimbang. Haruskah ia bertanya? Jujur ia penasaran akan masalah apa yang sedang menggelayuti pundak Gala sampai laki-laki itu terlihat sebegini kacaunya.
Tapi, ia tahu diri. Mereka hanya teman kan, sekarang? Rasanya tak pantas kalau ia memaksa Gala untuk berbicara sekarang
Ameera tutup lagi rapat-rapat mulutnya. Menelan semua kata yang tadinya akan ia lontarkan.
Ameera kini jauh berbeda dengan Ameera yang dulu bisa memaksa. Keadaan yang membuatnya berbeda.
"Terimakasih" Kata ini lirih Gala ucapkan. Bahkan matanya hanya terpaku pada gelas berisi coklat hangat yang tadi Ameera buat. Tak sama sekali Gala menatap mata lawan bicaranya.
Gala benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
Ameera diam. Dia bingung harus bagaimana. Hatinya tidak tenang. Keputusannya maju-mundur.
Diamnya Ameera menjadikan keheningan sesak mendekap keadaan. Ameera merasakannya. Rasanya ia akan mati termakan rasa penasaran jika ia tak bertanya.
Keadaan Gala jauh dari kata baik, ia tidak bisa berdiam diri.
Pikiran Ameera berkelana. Mencari cara pas untuk mengulik, tanpa perlu mengusik.
Ah!! Ameera ingat!
"A'!" Panggil Ameera berusaha meminta atensi dari yang lebih tua.
Setelah Gala menoleh, Ameera melanjutkan, "Main truth or dare, yuk?" Tanya Ameera kemudian.
Alis Gala terangkat satu, tiba-tiba sekali Ameera. "Tiba-tiba?"
Ameera menggeleng, "Aa' tegang banget. Yuk, main game dulu supaya rileks, oke?" Nada riang Ameera buat sebisa mungkin. Mencoba membujuk Gala untuk mengikuti inginnya.
Senyum kecil Gala lengkungkan setelah binar memohon ia lihat dari manik kembar Ameera.
Siapa Lah Gala untuk menolak? Sujurus kemudian, anggukan Gala berikan sebagai jawaban, membuat senyum secerah mentari terbit di bilah kembar sang pujaan hati.
"Ayuk!"
......................
Jakarta, April 2015
Gala muda mendekap laporan hasil try out -nya. Kertas berbalut amplop putih itu ia taruh di depan dadanya. Menutupi degup jantung yang bertalu-talu kencang. Hasilnya sudah lumayan, pikirnya—menurutnya.
Gala sudah memutuskan. Setelah beberapa kali mendebat dengan dirinya, ia putuskan untuk mengikuti kemauan sang Ayah.
Ia akan masuk ke fakultas bisnis. Menggeluti bidang yang sama sekali tidak ia minati. Menjadi penurut untuk orang taunya yang menuntut.
Toh, nantinya ia bisa mengikuti UKM fotografi. Seperti saran Ameera tempo hari, ia bisa menyenangkan hati orang tuanya tanpa harus melepas mimpinya.
Gala sudah mencari tahu tentang mana-mana saja universitas yang memiliki UKM tersebut. Dan untungnya, ia menemukan satu universitas yang sekiranya tepat.
Universitas itu bertempat di Bandung. Membuat Jantungnya berdegup. Memikirkan kalau ia bisa bertemu dan berbicara dengan Ameera setiap harinya, melambungkan antusiasme tersendiri bagi dirinya.
Duh! sejak kapan ia begini?
Gala bukannya bodoh untuk dapat menerka apa yang terjadi pada hatinya, setiap kali Ameera berada dalam radar pandangnya.
Gala menggelengkan kepalanya ribut. Bukan! ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan gadis itu.
Gala harus menghadap Ayahnya. Sesuai dengan titah beliau kemarin; Bahwa Gala harus menyerahkan laporan nilai try out terakhirnya kepada sang ayah.
Sebelumnya, Gala sudah menunjukkan hasilnya pada sang Bunda. Pujian yang ia terima, melambungkan harapannya akan reaksi serupa yang akan ayahnya berikan.
Gala muda melangkah dengan sedikit ragu. Ia pandang ayahnya yang sibuk dengan tumpukkan berkas, tanpa sama sekali menatap kehadiran putranya.
"Ayah!" barulah saat Gala memanggil, pria itu mengangkat wajahnya. Memandang heran ke arah putranya.
"Ada apa?"
Gala dekatkan dirinya, mengulurkan tangan berserta amplop putih berisi nilainya. "Ini, Ayah. Nilai try out Gala sudah keluar"
"try out sbm?" Gala mengangguk.
Wajah serius itu makin kaku saat netranya membaca rentetan angka disana.
Gala menjadi was-was. Sepertinya angannya terlalu tinggi. Harapannya untuk mendapat pujian harus ia kubur dalam-dalam.
Raut wajah sang Ayah menjawab segalanya. Sedetik kemudian Ayah menatap nyalang ke arah Gala.
"Ini yang kamu sebut nilai?"
Gala kaku di tempat. Tidak berani bicara.
"Berani kamu bangga dengan hasil segini, Gala? Bagaimana bisa kamu masuk UI kalau poin kamu hanya segini?"
Gala membelalak. "Tapi Gala gak mau masuk UI, Ayah"
"SIAPA KAMU BERANI MEMILIH UNIV MANA YANG BISA KAMU TUJU. KAMU HARUS MASUK UI!" Suara Ayah meninggi. Menimbulkan gemetar pada tubuh sang putra.
Gala menatap nelangsa. Tidak habis pikir akan tuntutan tanpa akhir yang diajukan sang ayah pada dirinya.
"Tapi ayah? Gala sudah setuju mengikuti kemauan Ayah untuk kuliah bisnis. Gala bahkan lepas mimpi Gala buat jadi fotografer, Ayah!"
"Ini bukan Negosiasi, Gala. Ini keharusan!Nasib perusahaan ada ditangan kamu. Maka dari itu, Ayah mau kamu mendapat pendidikan terbaik di universitas terbaik"
"Tapi—"
"Tida ada tapi-tapian! perbaiki nilai mu—
—atau akan Ayah sita semua fasilitas yang Ayah berikan untukmu!"
......................
Seperti sudah menjadi kebiasaan, setiap kali Gala memiliki masalah, ia akan kabur ke sini.
Villa keluarganya.
Ia akan duduk termenung di dekat danau, sambil menahan tangisnya
Ia benci Ayahnya, tapi ia lebih benci pada dirinya sendiri.
Lemah. Ia lemah.
Ia pengecut, tak berani untuk sekedar mendebat lebih, Ia tak berani memperjuangkan masa depannya. Ia menyerahkan masa depannya total ke tangan sang Ayah.
Ia kini merasa dirinya tak lebih dari sebuah robot. Sudah terprogram sedari awal. Tidak memiliki kuasa apapun untuk menentukan jalan langkahnya.
Ia benci hidupnya.
"Aa'? Kok disini?" Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang punggungnya.
Tanpa menoleh pun, Gala tahu siapa pemilik suara suara itu.
"Kamu yang ngapain disini?"
Ameera tidak menjawab. Ia memilih mendudukkan dirinya di samping pemuda itu.
"Tadi Bunda kamu telpon tau, A', katanya 'Gala ada disana gak ya, Pak? Soalnya di rumah saya cari-cari gak ada' Gitu!" Ucap Ameera sambil meniru nada khawatir Bunda Gala saat menelpon Abah tadi.
Gala terkekeh. Menurutnya, mimik Ameera saat meniru Bundanya tadi sangat lucu. Membuat perutnya geli.
"Heh! Bunda khawatir tau! kamu malah ngikik!"
"haha.. maaf. Terus?" Gala segera menghentikan tawanya. Ia takut gadis di sebelahnya ini merajuk nantinya.
"Terus, Abah nyuruh aku buat ngeliat kamu ada disini atau enggak. Eh, bener. Kamu disini. Kabur lagi ya, A'?"
Gala terdiam. Kemudian mengangguk. "Iya"
Netra sebening air itu memicing. Mulutnya gatal untuk tak bertanya "Kenapa?"
Gala hanya diam. Ia enggan bicara. Terlebih topik jawaban yang diinginkan Ameera membawa kembali kesedihan yang baru saja singgah di hatinya.
Merasa tak digubris, Ameera kembali bertanya. "Ih Aa'! Kenapa sih?" Nadanya kesal. Tapi tetap Gala memilih untuk bungkam.
Ameera memutar otaknya. Ia diam sampai sebuah ide mampir di pikirannya.
"A'. Main truth or dare, yuk?" ajak Ameera yang segera berdiri dari duduknya. Tanpa menunggu persetujuan ia tarik badan Gala untuk mengikutinya.
"Kita main di rumah yaa.. sekalian ngabarin Bunda kalau kamu ada disini. Ayo cepet. keburu hujan"
Dan terjadi lagi. Adegan Ameera menarik-narik Gala seperti saat pertama mereka bertemu, kembali terulang.
Bedanya, kali ini tak ada kesal yang menyambangi hati Gala, Hanya hangat kala tangan mereka saling berpaut.
...****************...