
tidak terasa kehamilan Naira sudah berjalan empat bulan, karena kehamilan sikembar perut Naira terlihat lebih besar dari kehamilan biasa. Naira sedang bercermin melihat dirinya sendiri, ia mengukur perutnya setiap hari. Adrian yang sedang duduk di tempat tidurnya, tersenyum sendiri melihat tingkah Naira. menurutnya hal itu sangat menggemaskan jika diperhatikan, Adrian pun menghampiri Naira dan memeluk Naira dari belakang.
"kenapa kau terus bercermin, kau itu sudah sangat cantik!" ucap Adrian, Naira mengelus rambut Adrian yang memeluknya dari belakang.
"aku semakin gendut, ya kan?" ucap Naira, Adrian mengangguk. "setelah melahirkan, pasti akan tambah besar!"
"biarkan saja, aku tetap mencintaimu!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mencium pipi Adrian.
"lalu kita akan seperti angka sepuluh, kau mau?" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mengangguk.
"aku mau, karena aku tetap mencintaimu sampai kapanpun!" saut Adrian mencium Naira, mereka pun berciuman dikamar mereka. Naira terkejut ketika tangan Adrian meraba tubuhnya, Naira mendorong tubuh Adrian perlahan.
"apa yang kau lakukan, aku sedang hamil!" ucap Naira, Adrian tersadar dan mengusap wajahnya.
"maafkan aku, aku lupa dokter sudah mengatakannya padaku!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan memeluk Adrian. "apa kau masih merasa mual?" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala dan tersenyum.
"aku hanya merasa takut Adrian..." ucap Naira lirih, Adrian menggendong Naira dan membaringkannya ditempat tidur.
"apa yang kamu takutkan?" ucap Adrian menyelimuti Naira, dengan manja Naira masih memeluk Adrian.
"aku takut tidak bisa merawat mereka, aku takut tidak bisa melahirkan mereka dengan ..."
"kenapa kau mengatakan hal itu?" ucap Adrian, Naira memeluk Adrian dan menyembunyikan wajahnya di dada Adrian. "kamu adalah istriku, dan aku adalah suamimu. apapun yang akan terjadi, aku akan melindungi kalian. jangan mengatakan hal yang tidak baik, karena setiap perkataan adalah sebuah doa!" ucap Adrian lembut dengan mengelus kepala Naira, dengan diam Naira hanya mengangguk. "kamu percaya padaku kan?" ucap Adrian menangkup kedua pipi Naira, dengan yakin Naira menganggukan kepala.
"aku percaya padamu, aku selalu percaya padamu sampai kapanpun!" ucap Naira, Adrian mencium kening Naira dan memeluk Naira. Adrian mengelus perut Naira dengan gemas, karena merasa perut itu bulat berbentuk telur besar. sejak keinginannya Naira hamil, setiap malam Adrian akan mengelus perut Naira dan berdoa agar cepat mendapat kepercayaan Tuhan diberikan seorang anak. dan sekarang Adrian tidak menyia nyiakan itu, hampir setiap hari Adrian akan mencium dan mengelus perut itu. kadang juga Adrian akan berbincang sendiri dengan perut Naira, satu hal yang ditunggu Adrian adalah saat sikembarnya menendang perut Naira, mungkin itu akan menjadi hal yang menyenangkan baginya.
beberapa saat kemudian Naira tidak merasakan tangan Adrian bergerak, ia mendongakkan kepala menatap Adrian. dan ternyata Adrian sudah tertidur pulas, terdengar suara dengkuran pelan disana. Naira tersenyum sendiri melihat Adrian, dalam hatinya sangat beruntung memiliki suami seperti Adrian.
"Adrian... anak kita laki laki atau perempuan?" bisik Naira yang sengaja ingin membangunkan Adrian, dan benar Adrian mengercapkan matanya dengan terukir senyuman dibibirnya.
"laki laki, biarkan aku mendapat dua jagoan!" saut Adrian pelan, Naira menggelengkan kepala.
"perempuan saja, anak perempuan lebih lucu. aku akan ditemani oleh mereka berdua, bayangkan mereka berdua akan mirip denganku. dirumah ini akan ada tiga Naira sekaligus, bagus kan?" saut Naira, Adrian membuka matanya dan melihat Naira yang tersenyum membayangkan anak mereka. Adrian mengelus perut Naira yang sudah terlihat buncit, ia mencium perut itu dengan sayang.
"biarkan mereka ini laki laki, karena aku hanya ingin mencintai satu wanita saja. yaitu kamu, yang lebih beruntung juga kamu. kamu akan mendapatkan cinta dari kami bertiga!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengusap rambut Adrian. "bayangkan satu Naira sangat merepotkan, apalagi bertambah dua?"
"Adrian!!, jadi aku ini menyebalkan ya!" ucap Naira kesal, Adrian tertawa dan memeluk Naira yang kesal padanya.
"haha... aku hanya bercanda!"
"tapi siapa yang menemaniku dirumah?" ucap Naira, Adrian tersenyum dan men menciumi tangan Naira.
"ya kalau begitu setelah sikembar lahir, kita buat adik perempuan untuk mereka!" saut Adrian, Naira terkejut dan mencubit perut Adrian. "kenapa kau harus bertanya, yang menemanimu itu aku. jadi tenang saja, kami akan selalu ada untukmu. benarkan anak anak papa, jangan biarkan mama kalian sedih dan sendirian ya!" ucap Adrian pada perut Naira, dengan gemas Naira mencium pipi Adrian.
"iya papa, kami janji!" ucap Naira, mereka tertawa bersama karena merasa lucu. Adrian memeluk Naira untuk istirahat karena sudah larut, dengan senyuman mereka tertidur pulas setelah mematikan lampu kamar itu.
****
hari berikutnya setelah kepergian Adrian, Naira merasa tidak enak diperutnya. Naira berjalan kearah wastafel dan memuntahkan semua sarapan pagi nya. Naira mengelus perutnya setelah lega mengeluarkan semuanya, karena muntah itu perutnya terasa lapar.
"sayang baru saja kalian membuat mama muntah, tapi sekarang kalian membuat mama lapar. kenapa tidak tadi saja saat ada papa kalian, sekarang papa kalian sudah pergi bekerja sayang." ucap Naira duduk dengan mengelus perutnya, beberapa pelayan membuat makanan untuk Naira diatas meja. tapi tidak satupun Naira ingin memakannya, ia sampai bertanya tanya apa yang ingin dimakan oleh sikembarnya itu.
"sepertinya kalian ingin makan bersama papa kalian, dasar kalian sangat manja seperti mama!" ucap Naira tertawa sendiri, Naira mengambil sebuah rantang dan menyiapkan makan siang untuk Adrian. Naira berjalan menaiki anak tangga untuk berganti pakaian, setelah mengganti pakaiannya Naira berjalan keluar untuk datang ke kantor Adrian. dengan ditemani supir Naira duduk dan memegangi perutnya, ia membayangkan sikembarnya itu lahir. ia terus membayangkan sikembarnya itu laki laki atau perempuan, dan bisa saja keduanya.
setelah beberapa menit didalam mobil, Naira sampai dikantor Adrian. Naira berjalan perlahan didalam gedung iti, sekali melangkah pusat perhatian orang menatap nya. Naira merasa itu pernah terjadi, tapi jauh sebelum dirinya hamil seperti itu. dengan santai Naira berjalan dengan tersenyum, beberapa orang tersenyum ramah padanya.
"bukankah itu sekretaris Naira, dia beneran istri pak presdir ya?" ucap seseorang, suara itu didengar oleh Naira.
"iya dong semuanya tahu itu, lihat perutnya dia sedang hamil. irinya aku, dia pasti sangat bahagia bersama pak presdir!" saut seseorang lainnya, Naira yang mendengar itu hanya tersenyum dan memegang perutnya.
"dengarlah sayang, karena papamu sangat tampan beberapa wanita mengaguminya. jadi kelak kalian harus menjaga papa kalian, jika tidak mereka akan membuat mama kalian ini cemburu!" ucap Naira mengelus perutnya, ia tersenyum sendiri didalam lift.
Adrian sendiri sedang bicara dengan seorang wanita cantik didalam ruangannya, Adrian tidak tahu kalau istrinya sedang berada dilantai bawah untuk menemuinya.
"kapan kau datang dari London?" ucap Adrian, wanita itu tersenyum manis pada Adrian.
"mendengar istrimu hamil aku begitu senang disana, jadi aku putuskan untuk datang sekalian menemui dia!" saut wanita itu, terdengar suara hp berdering. hp itu milik wanita itu yang berada sedikit jauh, saat ingin mengambil hp itu kakinya tersandung dan secara bersamaan Adrian menopang wanita itu.
"akhh sakit kakiku!"
"kau ini, cepat berdiri. ceroboh sekali!"
"Adrian!!!" suara Naira menggema diruangan Adrian, dengan terkejut Adrian mendorong tubuh wanita itu dan berdiri menatap Naira.
"Na.. Naira kamu disini?" ucap Adrian tergagap, terlihat wajah garang Naira disana. "ini tidak seperti yang kamu lihat kok, dia..."
"siapa dia, apa yang sedang kalian lakukan?" ucap Naira dengan rasa penasaran, Adrian terkejut mendengar suara Naira yang sedikit angkuh. Adrian tahu benar Naira sedang menahan kesal, tapi anehnya Naira bertanya siapa pada wanita itu. belum Adrian menjawab, wanita itu mengalungkan tangannya pada lengan Adrian.
"maaf Adrian aku rasa istrimu melihat semuanya, bagaimana kalau hubungan kita dikatakan pada nya sekarang!" ucap wanita itu, Naira terkejut dengan itu. bukan hanya Naira, Adrian pun terpenganga mendengarnya. "sepertinya kamu belum tahu, aku harus mengatakan ini ..." wanita itu berhenti ketika Naira berjalan kearah mereka, setelah meletakkan rantang yang ia bawa Naira menghampiri Adrian dan wanita itu.
"sejak kapan hubungan kalian?" ucap Naira, Adrian terkejut saat Naira menarik tangannya dan melepas tangan wanita itu dari lengan Adrian.
"sejak kau sakit, saat kau sembuh Adrian tidak lagi membutuhkanku. tentu saja aku marah, aku ingin bersamanya sekarang!" ucap wanita itu, Naira menatap wanita itu dengan kesal. Adrian sendiri merasa bingung, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Naira dia berbohong, aku ..."
"aku percaya padamu!" saut Naira menyela Adrian, wajah kesal Naira berubah menjadi senyuman manis. Adrian yang terkejut hanya menatap Naira, "aku mengenal Adrian dengan benar, meskipun aku pernah melupakannya tapi aku sangat tahu seperti apa suamiku ini. suamiku sangat mencintaiku, dia tidak mungkin berselingkuh dariku!" ucap Naira dengan sungguh sungguh, Adrian tidak percaya Naira mengatakan itu.
"tapi dia bosan, dia stres dan butuh perhatian saat kamu sakit. dan yang memberikan perhatian itu adalah aku, aku Naira!" ucap wanita itu tidak mau mengalah, Naira mengepalkan tangannya.
"kau pikir aku akan percaya denganmu, aku lebih percaya pada suamiku. dia sangat setia padaku sampai sekarang, dan akan seperti itu sampai kapanpun. jika suamiku memang butuh perhatianmu, dia akan meninggalkanku sejak aku sudah tidak mengenalnya!" jelas Naira tanpa bisa dicela, Adrian tidak percaya begitu besar rasa kepercayaan Naira terhadap dirinya. Naira menangkup kedua pipi Adrian yang sedari tadi melamun, ia menatap Adrian yang terus menatapnya.
"siapa wanita itu?" ucap Naira, Adrian tersadar dari lamunannya. Adrian melihat wajah Naira, ia seakan mengerti bahwa Naira saat ini sedang kesal dan marah. Adrian tersenyum dan mengusap pipi Naira, agar tidak membuat Naira kesal dan berpengaruh pada sikembar mereka.
"apa kau benar benar tidak mengingatnya?" ucap seseorang membuat Naira dan Adrian menoleh, terlihat Bagas berdiri disamping pintu dan menatap mereka.
"kakak, ngapain kakak disini?" ucap Naira, Bagas tersenyum dan menghampiri Naira.
"kenapa kau menggodanya?" ucap Bagas, wanita itu tersenyum dan berjalan kearah Bagas.
"dia melupakan aku, jadi aku menggodanya sedikit!"
"tunggu tunggu, kakak mengenalnya?" ucap Naira, Bagas menoleh dan tersenyum pada Naira.
"Tuhkan Bagas, dia lupa padaku!" ucap wanita itu merengek, Bagas menggelengkan kepala dan melihat Naira.
"dia itu Sonia, ingat tidak dengan Sonia?" ucap Bagas, dan benar wanita itu adalah Sonia. sekian lama Sonia pergi ke London dan kini kembali untuk melihat Naira, tapi kenyataannya Naira malah melupakannya. karena itu Sonia memiliki ide nakal untuk menggoda Naira, Sonia berpikir Naira akan marah besar dan memukuli Adrian seperti di film. tapi duagaannya salah, ternyata rasa kepercayaan dan cinta mereka lebih kuat dari apapun.
Naira sendiri teringat dengan Sonia, Sonia yang telah merawatnya selama empat bulan diwaktu pemulihannya. Naira tersenyum kearah Sonia yang merasa malu telah melupakannya, saat Naira ingin menghampiri Sonia, ia merasakan perutnya bergejolak dan mual.
"Naira kamu kenapa?" tanya Adrian panik, Naira menggelengkan kepala mencoba menahan rasa mualnya.
"dari pagi tadi perutku sudah tidak enak, dokter kan sudah bilang ini akan terjadi sampai bulan ketiga atau ke empat!" ucap Naira, Sonia mendudukan Naira disofa dan memberikan air putih diatas meja Adrian. Sonia meminumkan air itu, Sonia merasa bersalah saat menggoda Naira.
"maafkan aku ya, aku hanya menggodamu tadi. jangan dipikirkan lagi, oke?" ucap Sonia, Naira tersenyum dan mengangguk. "oh iya berapa bulan perutmu ini?" ucap Sonia mengelus perut Naira, dengan senyum Naira mengelus perutnya.
"kenapa, ini masih empat bulan!"
"kenapa terlihat besar ya?" saut Sonia yang merasa heran, Naira sendiri tertawa dengan perlahan.
"apa tidak ada yang memberitahumu, ini ada dua loh isinya!" ucap Naira, Sonia terkejut dengan itu. karena memang Adrian ataupun Bagas belum mengatakan padanya, Naira menatap Sonia yang tersenyum dan terlihat senang. Adrian dan Bagas memilih untuk membahas pekerjaan mereka, dan membiarkan Naira dan Sonia berbincang pembicaraan mereka.
"apa aku harus memanggilmu kakak ipar Sonia?" ucap Naira, Sonia terdiam dan merasa malu atas perkataan Naira.
"ka..kamu kenapa mengatakan itu, dasar!" ucap Sonia, Naira tertawa pelan dengan itu. sebenarnya hati Sonia sangat senang mendengar itu, ia berharap Bagas menjadikannya sebagai kakak ipar Naira. tapi apa daya Sonia yang hanya bisa berharap, karena Bagas belum melamarnya sejauh itu.