Do You Remember?

Do You Remember?
sekretaris lagi



Naira bingung dengan uang 500juta, Naira takut jika harus mengatakan pada Kara. karena Kara akan menanyai nya dengan beberapa pertanyaan. bahkan Naira tidak bisa bilang pada Vano, kini hanya tersisa uang tabungan Naira yang dipegang oleh Bagas. dengan terpaksa Naira mengambil seluruh tabungannya, Naira memiliki tabungan yang cukup untuk membayar semua itu.


setelah keluar dari bank, Naira pergi kekantor untuk menemui Adrian. Naira memberikan cek 500 juta untuk Adrian, Adrian terkejut dengan itu. pasalnya itu hanya sebuah permainan darinya, agar Naira tidak bisa mendapatkan uang itu dan tetap bekerja. Adrian tidak menyangka Naira akan mendapatkan uang itu, Adrian menatap Naira yang berdiri dihadapannya.


"itu cek 500 juta, saya sudah bayar denda!" ucap Naira, Adrian berdiri setelah menanda tangani surat itu. Adrian melangkah mendekat kearah Naira, Naira merasa heran saat Adrian menyodorkan cek yang ia beri.


"ambil cek mu ini, aku sudah menanda tanganni nya. kamu resmi keluar dari perusahaan, ambil sisa gajimu di bagian keuangan!" ucap Adrian, Naira terkejut dengan itu. Naira tidak menyangka Adrian akan mengatakan itu, Naira terdiam tidak mengambil ceknya.


"Naira ini yang kau inginkan, dan aku tidak menginginkan ini. jadi aku memberikanmu surat yang kau inginkan, dan mengembalikan cek mu.!" ucap Adrian lagi, Naira mengambil surat pengunduran dirinya.


"terima kasih, terima kasih sudah menemaniku beberapa bulan ini. aku tidak menyangka hubungan kita berakhir seperti ini, seharusnya aku tidak pernah membohongimu. Naira sekali lagi aku katakan, jangan membenciku. kamu boleh marah, tapi jangan pernah membenciku. aku mencintaimu, sangat mencintaimu dari dulu." jelas Adrian, Naira melepas kalung pemberian Adrian. Naira memberikannya pada Adrian, Adrian dengan terpaksa menerima kalung itu.


"aku kembalikan itu, sekarang aku akan pergi." ucap Naira lalu melangkah pergi, Adrian hanya bisa diam melihat kepergian Naira.


setelah menutup pintu, Naira meneteskan air mata. Naira meremas surat dan cek yang ia pegang, Naira menangis dalam diamnya.


"seharusnya aku senang, ini aku yang menginginkannya. kenapa aku merasa sedih, kenapa..." ucap Naira menangis, Naira mengambil beberapa barangnya. dengan sedih Naira keluar dari perusahaan itu, dari atas Adrian melihat kepergian Naira.


"aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi Naira, tidak akan pernah!" ucap Adrian penuh keyakinan.


****


dua minggu berlalu, Naira duduk disebuah cafe pinggir jalan. Naira menikmati kopi yang ia pegang, dengan merasakan cuaca pagi Naira juga merasakan sepinya jalan dihari sabtu. Naira juga sedang menunggu Daniel, karena mereka berjanji akan bertemu minggu pagi.


"Hai!!" ucap seseorang, Naira menoleh ke asal suara itu. terlihat Daniel berdiri tersenyum kearahnya, Naira pun tersenyum.


"hai!!" saut Naira, Daniel tersenyum dan duduk dihadapan Naira.


"udah lama nunggu?" tanya Daniel, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala.


"tidak, baru sepuluh menit!" ucap Naira, Daniel pun tersenyum.


"oh iya, ini kopi untukmu. kopi favorit kita!" ucap Naira, Daniel tertawa dengan itu.


"kamu masih ingat ternyata, aku sudah lama belum minum kopi ini!" ucap Daniel meminum kopi yang Naira beri, Naira tersenyum dan juga meminum kopinya.


"jadi sudah dapat pekerjaan?" tanya Daniel, Naira menyenderkan tubuhnya dikursi.


"sudah, bahkan mereka mengirim surat penerimaan tanpa interview. aku sangat beruntung bukan, senin baru mulai!" ucap Naira, Daniel mengangguk.


"hm.. begitu, perusahaan mana?" tanya Daniel, Naira tampak berpikir.


"perusahaan AN Grop!" saut Naira, Daniel menatap wajah Naira.


"bukankah perusahaan itu baru, dan juga baru direnovasi?" ucap Daniel, Naira mengangguk.


"iya kamu benar, kalau tidak salah baru direnovasi dua hari lalu. mereka butuh beberapa pekerja disana, jadi mungkin saat aku mengirim CV langsung diterima!" jelas Naira, Daniel pun mengangguk.


"kenapa sih harus keluar dari tempat sebelumnya, bukannya kamu sudah nyaman disana. dan aku dengar presdirmu jadi kekasihmu, karena masalah kamu mengundurkan diri!" ucap Daniel, Naira tiba tiba terpikir tentang Adrian.


"kamu pasti tau siapa presdir itu dan apa yang dilakukan presdir itu!" saut Naira, Daniel paham dengan masalah Naira. Daniel mengetahui siapa Adrian dan apa permasalahan nya.


"jadi jamu masih marah karena dia membohongimu?" tanya Daniel, Naira diam menatap Daniel. Naira memberikan isyarat agar Daniel tidak meneruskan pertanyaannya, Daniel sendiri paham dengan tatapan Naira.


"oh oke, aku tidak akan membahas lagi, jadi jangan tatap aku seperti itu. oke!" ucap Daniel, Naira mengangguk dan tersenyum.


"oh iya Nai ingat nggak kalau kita merasa marah, sedih, kecewa dengan orang tua kita, apa yang kita lakukan biasanya?" ucap Daniel lagi, Naira tampak berpikir.


"oh aku ingat, biasanya kita bermain ambil boneka dalam box. dan itu membuat kita makin kesal dan melampiaskan kemarahan kita pada box boneka itu!" ucap Naira tertawa, begitu juga dengan Daniel.


"tentu, kita akan semakin marah dan kesal. hahaha..." ucap Daniel tertawa, Naira mengangguk dan tertawa.


"haaiss... aku sudah lama tidak main itu, terakhir kita main itu waktu kamu marah minta motor. tapi tidak di berikan oleh om dokter, kamu marah lalu membawaku tidak jelas kemana dengan menangis hahaa..." ucap Naira tertawa, Daniel merasa malu dengan itu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"iya itu memalukan, waktu kita masih sma itu. aku pikir dulu sangat menyenangkan jika punya motor, dan tidak perlu diantar lagi oleh supir saat sekolah. dan malunya minta orang tua gak dikasih lagi, malah sekarang aku bisa membeli sendiri. dulu mamaku juga sering bilang, jika ingin sesuatu harus nabung dulu. jadi aku menabung, dan dapat motor besar itu!" jelas Daniel, Naira menunjuk jempolnya.


"hebat, seharusnya tidak perlu menangis!" ucap Naira tertawa, Daniel merasa malu ia pun tersenyum dan mengangguk.


"apa kau sedang marah karena sesuatu?" tanya Naira, Daniel tersenyum dan mengangguk.


"hanya masalah tentang kuliah, entah aku sangat pusing saat akan ujian terakhir!" ucap Daniel, Naira mengusap rambut Daniel. Daniel tertegun dengan itu, ada perasaan aneh dari hatinya.


"aku yakin nanti sukses, dan kamu bisa jadi seperti om dokter. dan nanti, kamu jemput aku ya!" ucap Naira setuju, Daniel mengangguk dan mengiyakan itu.


Daniel dan Naira pun mengobrol tentang masa kecil mereka, sesekali mereka saling tertawa dalam obrolan itu.


***


ditempat Adrian sedang melakukan rapat, suasana rapat tidak seperti biasanya. sejak pagi Adrian diam saat rapatpun Adrian terdiam, dan memeriksa setiap hasil laporan yang bawahannya buat. setiap Adrian melihat satu persatu berkas, maka berkas itu akan dilempar oleh Adrian. semua orang disana sangat takut, mereka menunggu Adrian untuk berucap tapi tidak ada satu kata pun yang dikatakan Adrian.


Brakk!!!


semua orang terkejut saat Adrian melempar semua berkas diatas meja, Adrian terlihat sangat marah dan kesal.


"apa yang kalian lakukan selama ini!!!" teriak Adrian, semua orang merasa ketakutan. bukan hanya itu, Siska yang ada disamping Johan merasa tidak pernah melihat Adrian seperti itu.


"saya sudah beri waktu 2 minggu untuk mengurus nya, tapi tidak ada yang beres mengurusnya!!" teriak Adrian lagi.


"maaf pak, itu sudah dilakukan seperti yang anda inginkan!" ucap Denis, Adrian menatapnya dengan tajam. Denis hanya bisa diam dan menunduk.


"saya tidak mau tau, ulangi semua itu sekarang!" ucap Adrian lagi, semua mengiyakan itu. Adrian berdiri dari duduknya, ia membenarkan kancing jasnya.


"dan lagi, saya ingin melihat semua itu besok!" ucap Adrian, semuanya saling melihat dan tidak percaya dengan pernyataan Adrian.


"ta..tapi pak.. besok itu hari minggu!" ucap Denis, Adrian menatapnya lagi.


"lalu adakah masalah jika besok hari minggu, kerjakan itu atau serahkan surat pengunduran diri kalian!" ucap Adrian setelah itu pergi dari ruang rapat diikuti Johan, semua orang disana meributkan itu.


"semenjak sekretaris Naira pergi, presdir jadi seorang yang pemarah. aku sangat takut, padahal laporan ini sudah kita buat sebaik mungkin!" ucap salah seorang disana.


"iya, mungkin presdir marah ketika sekretaris Naira memutuskan hubungan mereka secara sepihak!"


"iya aku juga mendengar kabar hubungan mereka, benar benar kasihan nasib kita!"


"sudah sudah, sekarang mari kita semua membuat laporan baru. ayo!" ucap Denis, semuanya mengiyakan itu dan pergi pada tugas masing masing. Denis dan Siska saling melihat, mereka tahu apa yang terjadi pada Adrian dan Naira. sampai membuat Adrian seperti itu, sisi kehangatan Adrian telah hilang bersama hilangnya Naira dari sampingnya.


Adrian berjalan masuk kedalam ruangannya, Adrian merasa ruangan itu kosong dan hampa. biasanya dia masuk akan langsung melihat Naira berdiri diantara rak buku dan tersenyum kearahnya, Adrian akan langsung memeluknya dari belakang. Adrian akan mengatakan cinta beberapa kali pada Naira, tapi sekarang ia hanya bisa membayangkan Naira berdiri disana. Adrian kesal dengan itu, Adrian melihat hp nya dan melihat foto Naira yang masih ia gunakan Walpaper pada hpnya.


terlihat Johan datang menghampiri Adrian, Adrian melihat itu langsung memasukkan hpnya. Johan dengan senyum menghampiri Adrian, Adrian menaikkan satu alisnya melihat Johan yang tersenyum.


"semua orang disana bahkan tidak berani tersenyum padaku, tapi kenapa kau masih berani tersenyum padaku!" ucap Adrian terdengar angkuh, Johan memang tidak pernah takut dengan Adrian. karena semarah apapun Adrian, tidak akan marah padanya.


"jika kau mendapat kabar ini, kau tidak akan marah lagi. lihat ini ada kabar gembira, ini sebuah CV dari Andi!" ucap Johan, Adrian tidak peduli dengan itu yang Adrian lakukan hanya menutup mata.


"siapa Andi?" tanta Adrian, Johan duduk dihadapannya.


"Andi, wakilku yang mengurus perusahaan AN Grop. kau pasti lupa tentang perusahaan itu, aku mengurus perusahaan itu 1 tahun lalu. dan AN Grop baru saja selesai di renovasi, dan sementara aku memerintahkan Andi mengurus perusahaan itu. Andi telah membuka lowongan pekerjaan, dan beberapa orang sudah diterima olehnya. setelah itu dia mengirimkan semua daftar beberapa orang itu, aku sudah mengeceknya dan menemukan itu. Adrian bacalah dulu, kau akan menyesal jika tidak mau membacanya." Adrian teringat membuat perusahaan lain dikota itu, bahkan nama AN diambil dari namanya dan Naira. Adrian pun membuka mata dan menatap Johan, Johan memainkan alisnya. dengan malas Adrian mengambil CV yang dimaksud Johan, Adrian terkejut setelah membaca itu.


"apa ini..." ucap Adrian, Johan tersenyum dan mengangguk.


"iya, sepertinya dia belum tahu itu adalah perusahaan milikmu!" ucap Johan, terpancar senyuman dari mulut Adrian.


"bagus, biarkan dia bekerja. buat dia menjadi sekretarisku lagi, kita akan ke perusahaan itu besok!" ucap Adrian, Johan mengangguk dan keluar untuk melakukan perintah Adrian.


"sudah kukatakan Nara, kamu tidak akan pernah pergi dariku. sekalipun kamu pergi, maka sekali lagi kita dipertemukan!" ucap Adrian tersenyum melihat foto Naira dimejanya, dan terdapat CV Naira disamping laptopnya.


****


sekali lagi terima kasih yang sudah setia menunggu😇


jangan lupa like, komen dan berikan vote semau kalian😍🤗