Do You Remember?

Do You Remember?
marry me?



keesokan harinya Naira bangun pagi, Naira tersenyum menatap dirinya dicermin. Naira merenggangkan semua ototnya, setelah beberapa menit Naira masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. setelah beberapa menit Naira keluar dari kamar mandi, Naira duduk didepan cermin untuk merias dirinya.


'Ting~


notif masuk pada hpnya, Naira segera melihat hpnya itu. Naira tersenyum saat mendapat pesan manis dari Adrian, apalagi melihat nama Adrian yang ia namai Si menyebalkan.


Si Menyebalkan: pagi Naira, hari ini tunggu aku. aku akan menjemputmu, jangan lupa sarapan. aku mencintaimu, sangat mencintaimu.


setelah membaca pesan itu, Naira dengan cepat mengganti pakaiannya. setelah semua selesai, Naira turun kebawah untuk menemui keluarganya. terlihat disana keluarga Naira berkumpul, mereka siap untuk sarapan. secara bersamaan Bagas keluar dari kamarnya, Bagas mencubit pipi Naira dengan gemas membuat Naira kesal.


"pagi papa!!" ucap Naira, Kara pun menoleh dan tersenyum.


"pagii sayang, ayo sarapan!" saut Kara, Naira mengangguk dan duduk disampingnya.


"kemarin kalian dari mana?" tanya Nadia, Naira tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ibunya itu.


"maksud mama apa?" tanya Naira, Nadia menghampiri Naira dan memberikan sarapan untuk Naira.


"kamu sama Adrian?" ucap Nadia, Naira pun tersenyum dengan itu.


"kemarin Naira sama kak Anan jalan jalan, terus pas pulang kita makan!" saut Naira, Naira melihat kearah Kara. Kara mengangguk dengan itu.


"oh iya kemarin Bagas kan sama Kara berangkat rapat, kenapa pulangnya tidak sama?" pertanyaan Nadia berhasil membuat Bagas mengingat tentang Sonia, Naira yang mengerti langsung tersenyum kearah Bagas.


"kenapa kamu melihatku?" tanya Bagas saat melihat Naira menatapnya, Naira hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


"kemarin kak Bagas nganter cewek cantik!" ucap Naira, Bagas menyenggol lengan Naira. Riana yang duduk diam, melihat wajah Bagas yang merah.


"sepertinya pacarmu ya, katakan seperti apa dia?" ucap Riana, Bagas pun terjebak dengan kedua adiknya itu.


"bukan pacar, dia teman Adrian. hm.. kak. ceritakan padaku saat kamu mengantarnya, apa kalian berkenalan?" tanya Naira, Bagas mengingat dengan wajah Sonia yang tersenyum kearahnya. Bagas juga mengingat saat Sonia memperbaiki dirinya, dan mengulurkan tangan.


"oh tidak!" teriak Riana membuat semuanya terkejut, sontak semuanya melihat kearah Riana.


"ada apa?" tanya Bagas, Riana menoleh kearah semuanya.


"Naira lihat, diskon baju yang aku inginkan. aku dapet notif dari butiknya, oh tidak!!" ucapan Riana membuat Bagas kesal, bahkan para orang tua menggelengkan kepala.


"jangan diskon terus, ayo selesaikan makanmu. aku akan mengantar kekampus!" ucap Bagas, Riana mengangguk dan menyantap sarapannya.


"Naira juga bareng kakak, atau naik mobil?" tanya Bagas, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala.


"tidak keduanya, hari ini kak Anan jemput Naira!" saut Naira, Bagas mengangguk dengan itu.


"baiklah!" saut Bagas, Bagas melihat kearah Riana yang masih sibuk dengan hpnya.


"kakak!!, kembalikan hpku!" teriak Riana ketika Bagas mengambil hpnya, dengan cepat Bagas berlari.


"semuanya Bagas berangkat dulu, Riana cepat atau kubawa hpmu!" teriak Bagas, Riana dengan kesal berlari mengejar Bagas. semua orang disana tertawa melihat itu termasuk Naira, pada saat yang bersamaan Naira merasakan pusing dikepalanya. pandangan Naira kabur melihat sekelilingnya, dan saat berdiri Naira seperti sedang linglung.


"Naira kamu kenapa?" tanya Nadia, Kara dan Febriyan berdiri segera.


"hm.. Naira gak papa kok, cuman kepala Naira pusing sekali!" saut Naira, Nadia teringat dengan penyakit yang ada dikepala Naira. Nadia melihat kearah Kara, begitu dengan sebaliknya.


"kamu duduk di sofa dulu ya, sambil nunggu Adrian mama buatkan susu buat kamu!" ucap Nadia, Naira mengangguk dengan itu. dengan perlahan Naira berjalan kearah sofa, Naira memejamkan mata sebentar untuk menunggu Adrian. Nadia mendekat kearah Kara, terlihat wajah keduanya khawatir.


"apa kalian sudah cerita padanya?" tanya Febriyan, Nadia menggelengkan kepala.


"kami belum cerita mas, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan itu padanya." saut Nadia, Kara mengelus pundak Nadia.


"bagaimana dengan Adrian, apa kalian sudah bercerita padanya?" tanya Febriyan lagi, Kara terkejut dengan itu. karena pasalnya Kara belum memberitahu Adrian, dan melupakan itu. lalu Kara mengingat saat Adrian mengatakan hasil tes kesehatan Naira,


"belum, mungkin sebentar lagi Adrian juga tahu." saut Kara, Nadia dan Febriyan pun terdiam dengan itu.


****


Naira membuka mata setelah memejamkan mata, ketika membuka mata Naira melihat Adrian duduk di sofa lain. Naira terkejut dan langsung mendudukan dirinya, Naira melihat Adrian yang memejamkan mata. Naira melihat jamnya, dan waktu menunjukkan sudah hampir siang.


"haduh aku ketiduran, sejak kapan dia disini?" gumam Naira, ia berpikir dirinya hanya sebentar memejamkan mata. Naira menghampiri Adrian, dengan berjalan perlahan agar tidak mengganggu Adrian. ia melihat Adrian yang sedang tidur, Naira tersenyum dengan itu.


"apa sudah puas melihatku?" suara Adrian membuat Naira terkejut, saat ingin mundur kaki Naira tersandung. Naira pun duduk tepat dipangkuan Adrian, bukannya marah Adrian malah mengalungkan tangan nya pada perut Naira.


"nanti papa lihat!" ucap Naira, saat ingin berdiri Adrian menariknya dan menahannya dengan kuat.


"sejak kapan kamu datang?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan merasakan harum rambut Naira. Naira merasa geli dengan itu, tapi juga merasa nyaman dengan pelukan Adrian.


"sejak kamu tidur!" saut Adrian,


"kenapa tidak ada yang bangunin aku?" ucap Naira lagi, Adrian memutar kepala Naira untuk menghadapnya.


"kamu tidur sangat cantik, siapa yang tega membangunkanmu?" ucap Adrian, Naira tersenyum.


"kamu tidak ke kantor?" tanya Naira, Adrian menggelengkan kepala.


"aku sedang disini, dan lagi pula kamu sangat nyaman duduk disini. jadi kita tidak perlu ke kantor, kita disini saja berdua!" setelah mengatakan itu, Naira sadar kalau dia masih duduk dipangkuan Adrian. Naira pun segera berdiri, ia merapikan pakaiannya dan merasa canggung.


"hm.. maaf maaf, tadi aku tersandung!" ucap Naira, Adrian tertawa kecil lalu berdiri.


"hm.. iya, ayo kita ke kantor. aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" ucap Adrian menarik tangan Naira, Naira yang mengikuti langkah Adrian tidak mengerti dengan maksud Adrian.


"sesuatu apa?"


"kamu akan tahu saat sudah disana, cepat sedikit!" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan itu.


setelah pergi dari rumah itu, mereka sampai dikantor beberapa menit kemudian. disana Naira tidak melihat siapapun, Naira merasa heran dibuatnya. Adrian menggandeng tangan Naira untuk masuk ke dalam gedung itu, dan benar saja gedung itu sepi tidak seperti biasanya.


"hm.. kak Anan kenapa sepi?" tanya Naira, Adrian menoleh dan tersenyum.


"sebentar lagi juga ramai!" saut Adrian, Naira mengangguk dengan itu. saat sudah sampai didalam, tiba tiba Adrian menghentikan langkahnya tepat ditengah tengah ruang gedung itu. Naira masih terdiam dengan keheranannya, Adrian menoleh kearah Naira dan tersenyum.


"kemarin aku tidak bisa mengatakannya, tapi sekarang aku akan mengatakannya!" ucap Adrian, Naira tidak mengerti dengan itu. semenit kemudian, tiba tiba sebuah balon berbentuk love menghujani mereka berdua. Naira terkejut dengan itu, balon balon itu jatuh secara bersamaan dengan potongan bunga mawar. Naira sangat suka melihat itu, Naira tersenyum kearah Adrian.


"apa ini?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan memberikan balon berbentuk love.


"kamu menyukainya?" ucap Adrian, Naira mengangguk lalu memeluk Adrian.


"sangat suka, terima kasih!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan membalas pelukan itu.


"tapi bukan ini yang ingin aku beritahukan!" Naira melepas pelukannya, lalu menatap wajah Adrian yang masih dengan senyumnya.


"lalu apa, apa yang ingin kamu beritahu?" tanya Naira, ia terkejut saat tiba tiba gedung itu menjadi gelap. sebuah kain putih terpasang menutupi setiap dinding, pintu dan jendela gedung itu, membuat suasana gedung itu menjadi gelap.


"kenapa gelap?"


sedetik kemudian menampilkan foto foto kecil Naira diseluruh gedung itu, Naira terkejut dengan itu. Naira melihat sekelilingnya hanya ada foto masa kecilnya sampai diusianya yang sekarang, Naira menoleh kearah Adrian. Adrian menggenggam erat tangan Naira,


"kak Anan apa yang kamu lakukan, apa semua ini?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan melihat kearah Naira.


"aku tidak tahu, apa yang harus aku katakan padamu. tapi Naira aku sangat mencintaimu, dimasa kecil aku sudah mencintaimu. selama kita terpisah hanya satu yang kupikirkan, dapat segera bertemu denganmu. aku sangat bahagia ketika melihatmu tumbuh dewasa waktu itu, kamu sangat cantik dan juga baik hati. dan maaf jika pernah berbohong ataupun melukaimu, karena selama itu juga aku selalu menyesalinya." ucap Adrian, Naira tetap diam menatap Adrian dengan air mata menetes dipipinya. Adrian berlutut dihadapan Naira, Adrian juga mengeluarkan sebuah benda kecil dari kantung nya. Sebuah cincin berlian, Naira terkejut dengan itu.


"Naira, will you marry me?"


secara bersamaan semua orang muncul disana, mereka memegang sebuah papan bertuliskan Naira, Will You Marry Adrian?. Naira masih dengan keterkejutannya, kebahagian Naira melampaui batas. ia meneteskan air mata, Adrian segera menghapus air mata itu.


"apa kamu tidak suka, tolong jangan menangis!" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala dan tersenyum.


"aku suka, sangat suka. ini adalah air mata kebahagian, jangan khawatir!" ucap Naira tersenyum menyentuh tangan Adrian, Adrian mengusap air mata itu.


"Naira aku mencintaimu, dan juga aku menginginkan mu. ijinkan aku untuk melindungimu, ijinkan aku untuk menjagamu bukan hanya sekarang, tapi besok dan juga selamanya. aku ingin kamu menjadi milikku, milikku seutuhnya. Naira aku ingin bersamamu, hanya bersamamu. Nara, maukah kau menjadi istriku, maukah kamu hidup bersamaku dan menua bersamaku. mari habiskan waktu kita bersama selamanya, habiskan semua sisa waktu kita bersama. mau kah kamu menikah denganku?" jelas Adrian, Naira menangis terharu dengan itu. tidak ada yang bisa dikatakan oleh Naira, Naira memegang tangan Adrian dipipinya dan menangis.


"TERIMA NAIRA, KATAKAN IYA. CEPAT, NAIRA TERIMA PAK ADRIAN !!!" teriakan semua staf mulai terdengar, sontak Naira menoleh keatas dan melihat ke semua orang. Naira melihat satu persatu orang disana, bahkan disana terdapat Siska dan Johan tidak lupa Sonia disamping mereka.


"KATAKAN IYA!!!" teriak Sonia dan Siska, Naira tersenyum melihat itu. Naira menoleh kearah Adrian yang setia menunggu jawabannya, Naira menarik nafasnya dan tersenyum.


"aku mau kamu mencintaiku selamanya, aku... juga sangat mencintaimu, bukan hanya sekarang tapi juga besok dan selamanya. aku mau bersamamu kak, aku mau menua bersamamu... mari kita habiskan waktu bersama, semua sisa waktu kita bersama... aku mau menjadi istrimu kak, aku mau... aku mau menikah denganmu!" ucap Naira dengan menangis terharu, Adrian senang dengan itu. Adrian memasangkan cincin yang ia pegang, Naira bahagia dengan itu dan langsung memeluk Adrian. Adrian mengangkat tubuh kecil Naira, Adrian membawa Naira sedikit berputar.


"terima kasih Naira, terima kasih!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan masih dengan tangisnya. secara bersama semua orang digedung itu bersorak untuk Adrian dan juga Naira, mereka turun dari lantai dua untuk menghampiri Adrian dan Naira. mereka juga melempari potongan bunga mawar, mereka merasakan juga kebahagiaan yang dirasakan Adrian dan Naira.


Adrian dan Naira sendiri hanyut pada kebahagian mereka sendiri, Adrian dan Naira saling menatap satu sama lain. kebahagiaan yang Naira dan Adrian rasakan adalah, kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan dengan kata kata. disana Johan, Siska dan Johan pun melihat mereka sangat bahagia, mereka juga merasakan kebahagiaan yang sama.


****


TERIMA KASIH YANG SUDAH SELALU DUKUNG AUTHORā¤


jangan lupa like, komen dan vote kalianšŸ˜