Do You Remember?

Do You Remember?
Mengingat.



keyakinan David terjawab setelah melakukan rongsen pada Naira, David menyatakan Naira telah mengalami amnesia atau lupa ingatan. perasaan keluarga itu sedih bercampur bahagia, bahagia disaat Naira telah bangun dan sehat kembali dan juga sedih disaat David menyatakan Naira mengalami amnesia. karena kecelakaan dan benturan keras membuat ingatan Naira menghilang, dan disertai pembekuan darah yang diambil David. resiko yang mereka takutkan telah terjadi, ingatan Naira menghilang seluruhnya.


dengan lemah Kara berjalan untuk menemui Naira, Kara berharap Naira masih mengingat dirinya. Kara membuka perlahan pintu ruangan itu, dan langsung penampilkan Naira yang sedang tidur. Kara mendekat dan mengusap rambut Naira, secara bersamaan Naira membuka mata dan langsung menatap Naira.


"hai sayang, apa kabarmu nak?" ucap Kara, Naira menatap Kara dan mendudukan dirinya. Kara tersenyum mengusap pipi Naira, Naira menyentuh tangan itu.


"kenapa setiap orang yang datang, selalu berbeda. apa kamu juga mengenalku om?" ucap Naira, Kara terkejut karena putrinya memanggil om padanya. Kara tersenyum dan mengusap rambut Naira.


"kamu suka bermanja dengan ku, kamu juga sering mencium pipiku. dan kau tahu, kau suka sekali saat aku menggendongmu!" ucap Kara, Naira masih bingung dengan itu. "Naira sayang, ingatlah papa. ini papa sayang, papa gantengmu!" ucap Kara lagi, Naira terdiam dan menatap Kara.


"ashh!!!" ucap Naira menyentuh kepalanya, Naira berusaha mencerna perkataan Kara tapi membuat kepalanya terasa sakit. secara bersamaan David dan Nadia masuk, Nadia mencoba menenangkan Kara.


"aasshh... sakit, kenapa dokter!" ucap Naira, Nadia menoleh kearah Kara. dengan wajah sendu Nadia menggelengkan kepala pada Kara, Nadia membawa Kara keluar dari sana sedangkan David mencoba menenangkan Naira.


"Kara jangan terburu buru, David bilang kita harus memulainya dengan cara perlahan. jika kita memaksanya untuk mengingat, aku takut kita malah akan kehilangan Naira. aku tidak mau Kara, biarkan ingatan Naira hilang tapi jangan Naira kita yang hilang!" ucap Nadia, Kara memeluk istrinya yang sedang menangis.


"iya maafkan aku, aku hanya terluka ketika dia memanggilku om. aku terluka Nadia, sangat terluka melihat putriku seperti itu!" ucap Kara yang merasa sedih, mereka saling menenangkan diri mereka satu sama lain. sampai akhirnya David memanggil mereka dan menyuruh mereka masuk, Nadia dan Kara menatap Naira yang terdiam melihat mereka.


"dokter bilang kamu adalah mamaku, karena kamu sangat mirip denganku. apakah itu benar?" ucap Naira, Nadia tersenyum dan memeluk Naira.


"iya sayang, ini mama. dan itu papa, kami sangat senang kamu bangun!" ucap Nadia memeluk Naira, Naira membalas pelukan itu masih dengan wajah bingung. Naira menatap Kara yang berdiri agak jauh, Kara tersenyum saat Naira menatapnya.


"dan dia?" ucap Naira, Nadia tersenyum dan menarik tangan Kara untuk mendekat. dengan perlahan Kara mendekat, Kara terkejut saat Naira menyentuh pipinya.


"papa?" ucap Naira, Kara tersenyum dan mengangguk. Kara langsung memeluk Naira dengan lembut, Naira membalas pelukan itu dan tersenyum.


"kenapa aku tidak ingat kalau kamu adalah papaku?" ucap Naira, Kara tersenyum dan mencium kening Naira.


"tidak perlu diingat, yang penting sekarang. ketahuilah ini papa dan ini mamamu, oke?" ucap Kara, Naira mengangguk dan akhirnya senyum terukir dimulutnya. Kara tersenyum melihat itu, Nadia sendiri sampai menangis karena bahagia. secara bersamaan Bagas dan Riana datang, bukan hanya mereka Vano dan Amelia menghampiri mereka.


"hai Naira!!!" teriak Riana, Bagas yang berada disampingnya menutup telinga. suara Riana membuat telinga Bagas sakit, Bagas mencubit tangan Riana.


"aukhh kak! sakit tauk, kenapa kamu mencubitku?" ucap Riana menyentuh tangannya, Naira menatap mereka dengan heran.


"papa siapa mereka?" tanya Naira pada Kara, Riana tersenyum dan mendekat kearah Naira.


"aku adalah saudarimu, saudarimu yang paling cantik!" ucap Riana menrangkul Naira, Naira hang mendengar itu menoleh kearah Kara.


"iya, dia adalah saudarimu namanya Riana. dan dia itu adalah kakakmu yang tampan, namanya Bagas." ucap Kara menunjuk Bagas, Naira menatap kearah Bagas yang menghampirinya. Bagas mencium kening Naira dan tersenyum.


"hai Naira, kakak senang kau sudah bangun. jangan tidur seperti kemarin ya, kami sangat sedih!" ucap Bagas, Naira mengangguk.


"iya.. ka..kakak..." saut Naira perlahan, Bagas tersenyum dan mengangguk. sebenarnya dihati Bagas sangat sedih, sedih melihat adiknya yang tidak mengenalinya. Naira menoleh kearah Vano dan Amelia yang berdiri sedikit jauh, Naira menoleh lagi kearah Kara.


"kalau mereka siapa?" ucap Naira, Kara tersenyum dan menyuruh Vano untuk mendekat.


"kau juga sering memanggilnya papa, dia adalah papa Vano mu!" ucap Kara, Vano tersenyum dan mencium kening Nadia.


"kau ingat dengan papa Vano mu ini?" ucap Vano, Naira menggelengkan kepala secara perlahan. Vano tersenyum dan mengusap rambut Naira. "tidak masalah, yang penting panggil aku papa Vano seperti biasanya!" ucap Vano lagi, Naira mengangguk dengan itu. Naira menoleh kearah Amelia, dengan perlahan Amelia berjalan kearah Naira.


"dan kau?".


"aku mama Amelia mu, karena menyelamatkan aku kamu ada disini sekarang. bisakah mama minta maaf padamu!" ucap Amelia, Naira menggelengkan kepala.


"kenapa minta maaf, aku tidak apa!" ucap Naira, Amelia memeluk Naira dengan menangis. tiba tiba saja Naira merasakan sesuatu yang aneh, entah apa yang di dalam otak Naira.


"apakah kau ingat dengan suamimu?" ucap Amelia, seketika kepala Naira seperti mengalami benda berat menimpanya. Naira memegang kepalanya untuk menahan rasa sakit, semua orang terkejut dibuatnya.


"sakit lagi, kenapa sakit lagi. akhh!!" ucap Naira, dengan hati hati David menyuntik Naira. David memberi obat penenang untuk Naira, hingga membuat Naira tertidur lelap.


"dia bahkan belum bertemu Adrian!" ucap Riana, David mencoba menenangkan mereka.


"Naira tidak bisa mengingat kita, terutama hal yang penting dalam hidupnya. contohnya Adrian, bertahun tahun Naira menganggap Adrian adalah hal yang penting dalam hidupnya. saat kalian menyebut Adrian sebagai suaminya, kepalanya akan merangsang ingatan terdalam itu. karena semua ingatan Naira berada di titik terdalam, ingatan ingatan itu tersimpan disana!" jelas David, kesedihan terus bertambah dalam diri mereka.


"lalu bagaimana caranya, Adrian bahkan tidak ada disini?" ucap Vano, David mengangguk.


"biarkan Naira mengenal Adrian dari awal, jadi kita ataupun Adrian tidak perlu memaksa Naira untuk mengingat tentang mereka!" ucap David, semua orang disana mengerti. mereka tidak tahu apa yang akan dirasakan Adrian, bahkan Adrian masih ada di London dan belum kembali.


****


tiga hari telah berlalu, kesehatan Naira semakin membaik. semua orang membantu Naira untuk mengenal mereka, Riana bahkan memperlihatkan foto foto kecil mereka. Riana menunjukkan album foto keluarga pada Naira, Riana menyebutkan setiap orang disana. Naira yang seperti orang asing, hanya mendengar dan mencoba mengerti semua itu.


saat Riana menunjukkan foto Adrian, Naira hanya terdiam dan memandang foto itu. Riana ingin sekali mengatakan pada Naira, kalau Adrian adalah suaminya. tapi semua orang sudah memperingatkan Riana, untuk tidak memberitahu Naira tentang hal itu.


hari ini Naira bangun dipagi hari, ia tidak melihat siapapun yang menjaganya. Naira melangkah kearah jendela, ia merasakan udah pagi yang menerpa dirinya. Naira tersenyum dengan itu, ia berpikir ingin turun dan berjalan jalan sebentar. dengan perlahan Naira meninggalkan ruangannya, sesekali Naira melihat sekeliling rumah sakit itu.


"aukhh, maaf nona!!" ucap seseorang menabrak Naira, Naira hanya mengangguk lalu meninggalkan orang itu. Naira keluar dari rumah sakit dan berjalan diarea taman rumah sakit. Naira merasakan udara sejuk dan panas sinar matahari pagi.


"bagaimana keadaanmu?" tanya Bagas, Naira tersenyum dan mengangguk.


"aku baik baik saja, aku hanya ingin jalan jalan sebentar kak!" saut Naira, Bagas menatap Naira dari arah sampingnya. saat sadar Bagas menatapnya, Naira menoleh kearah Bagas.


"ada apa kak, apa ada sesuatu?" tanya Naira, Bagas tersenyum dan menggelengkan kepala.


"tidak ada, aku hanya merindukanmu!" ucap Bagas mengusap rambut Naira, Naira tersenyum kearah Bagas.


"kak apa tidak ada lagi yang aku lupakan?" tanya Naira, Bagas menatap Naira. terlihat wajah Naira yang menanti jawaban dari Bagas, Bagas terdiam tidak tahu harus mengatakan apa. karena hanya satu yang belum diketahui Naira, yaitu Adrian suaminya sendiri.


"mungkin aku yang kau lupakan!"


perkataan seseorang membuat Naira dan Bagas menoleh, terlihat Sonia berdiri dengan membawa sepaket buah buahan. dengan senyum Sonia berjalan kearah mereka, Bagas sendiri terkejut melihat Sonia. pasalnya Sonia mengatakan akan kembali ke London pada hari yang lalu, tapi sekarang muncul dihadapannya. tanpa disadari Bagas, Sonia sudah berdiri dihadapannya.


"halo Naira?" ucap Sonia menyapa, Naira tersenyum dan melambaikan tangan.


"kamu benar benar melupakan aku, namaku Sonia. aku temanmu, mungkin kita menjadi sahabat waktu itu!" ucap Sonia memberikan paket yang ia bawa pada Bagas, Sonia memeluk Naira dengan erat. "Naira aku sangat senang melihatmu, aku sangat khawatir padamu!" ucap Sonia, Naira tersenyum dan mengangguk.


"jadi kita teman?" ucap Naira, Sonia mengangguk senang. Bagas berjalan kearah mereka, Bagas memberikan paket yang ia pegang pada Sonia lagi.


"Naira, namanya adalah Sonia. dia temanmu dan juga sahabatmu, dan mungkin dia juga temanku!" ucap Bagas menatap Sonia, Sonia sendiri tersenyum pada Bagas. Naira melihat keduanya bingung, karena keduanya saling menatap.


"oh, jadi kalian sepasang kekasih ya?" ucap Naira, Bagas dan Sonia menoleh kearahnya secara bersamaan. Naira tersenyum dan menggaruk rambutnya, Bagas menggelengkan kepala.


"Naira ayo masuk ke ruanganmu, jangan katakan hal yang menyeleneh!" ucap Bagas, Naira mengangguk dengan itu. saat Bagas memapah tubuh Naira, Naira menarik tangan Sonia dengan tersenyum. Sonia pun mengangguk dan berjalan menggandeng Naira, Bagas hanya terdiam dan memilih membawa paket buah yang dibawa Sonia.


saat sampai diruangannya, terlihat Nadia membersihkan tempat tidur itu. Nadia menoleh dan tersenyum kearah mereka, Sonia tersenyum menyapa Nadia.


"mama kira kamu kemana, ayo kemari sarapan terus minum obat!" ucap Nadia, Naira mengangguk dan duduk ditempat tidurnya. selagi Nadia menyuapi Naira sarapan, Bagas dan Sonia saling diam. mereka tidak bicara satu sama lain, dan mereka memiliki kecanggungan.


"Sonia kenal Bagas dari mana?" tanya Nadia memecah keheningan mereka, Sonia tersenyum dan menatap Bagas.


"sebenarnya saya kenal Bagas dari Adrian tante, waktu itu Bagas mengantar saya pulang ke apartemen Adrian!" saut Sonia, Nadia tersenyum dan mengangguk. "tante saga turut sedih dengan keadaan Naira ya, tapi saya lega karena Naira sudah bangun!" ucap Sonia lagi, Nadia tersenyum dan mengangguk pada Sonia.


"iya, sekarang kamu gak perlu khawatir lagi." ucap Nadia, Sonia tersenyum dan menggenggam tangan Nadia. mereka berdua asik bicara tanpa menyadari kehadiran Bagas, Bagas hanya tersenyum dengan kedekatan mereka berdua.


"selamat pagi semuanya!!!" ucap David dengan senyuman, mereka pun tersenyum melihat David. David berjalan mendekat kearah Naira, ia mengecek kesehatan dan denyut nadi Naira.


"sudah minum obat?" ucap David, Naira tersenyum dan mengangguk. "bagus, besok Naira sudah boleh pulang!" ucap David, Naira tersenyum menoleh kearah Nadia.


"benarkah, aku sembuh!" ucap Naira, David mengangguk dengan senyuman. "terima kasih dokter, aku sudah bosan dirumah sakit!" ucap Naira lagi, semua tersenyum mendengar ucapan Naira.


"iya tapi ingat kamu harus hati hati ya, karena kakimu belum normal untuk berjalan." ucap David, Naira mengangguk dengan itu. Naira memeluk Nadia karena senang, Nadia mencium pipi Naira. Nadia merasakan kebahagiaan yang besar, meskipun Naira melupakan semuanya Nadia masih bersyukur karena Naira masih sehat.


"mama tadi kalian menyebut nama Adrian, siapa Adrian itu. apa aku mengenalnya juga seperti kalian?" perkataan Naira membuat Nadia terdiam. bahkan Sonia merasa bersalah menyebut nama Adrian, Bagas pun hanya terdiam.


"kamu akan tahu nanti, tidak perlu dipikirkan ya!" ucap Nadia, Naira pun mengangguk dengan perkataan Nadia. setelah beberapa saat Naira telah istrahat, Sonia berpamit pulang padanya dan juga Nadia. dengan senang hati Bagas mengantar Sonia keluar rumah sakit, karena sebelumnya Sonia menaiki taksi.


saat didepan rumah sakit, Sonia masih menunggu taksi yang ia pesan. Bagas dengan diam menemani Sonia, mereka berdiri tanpa berbicara apapun. sesekali Sonia melirik Bagas, Bagas sendiri terdiam tanpa menoleh Sonia.


Sonia tidak tahu harus berkata apa pada Bagas, karena melihat wajah Bagas saja ia tidak bisa mengatakan apapun. Sonia hanya mengumpat kekesalannya dalam hati, ia selalu mengatakan Bagas yang tidak peka terhadap dirinya.


"maaf tidak bisa mengantarmu!" ucap Bagas akhirnya terdengar, Sonia menoleh dan tersenyum.


"tidak masalah, Naira lebih membutuhkanmu!" saut Sonia tersenyum, Bagas menatap wajah Sonia yang tersenyum manis padanya.


"katanya kamu mau pulang?" ucap Bagas lagi, Sonia masih tersenyum dan mengangguk.


"iya ini aku mau pulang, aku sedang menunggu taksi!" saut Sonia, Bagas berdecak kesal.


"bukan itu yang kumaksud, kau bilang akan kembali ke London. lalu kenapa kau masih disini!" ucap Bagas dengan kesal, Sonia tertawa kecil saat Bagas kesal dan tidak mau melihatnya.


"kamu tidak mengantarku, bagaimana aku bisa pulang!" saut Sonia, Bagas menoleh kearah Sonia yang menatapnya.


"aku berharap, sebelum pergi aku dapat melihatmu. aku tidak mau pergi seperti dulu, pergi hanya meninggalkan hadiah untukmu. dan kamu bahkan tidak menghubungiku, untuk mengucapkan terima kasih. padahal aku hanya meminta hal sepele, tapi tidak kamu lakukan!" ucap Sonia lagi, Bagas terdiam mendengar semua itu. secara bersamaan taksi online Sonia datang, Sonia tersenyum dan berjalan perlahan menuju taksi itu. Bagas terdiam tanpa mengatakan apapun, sampai akhirnya Sonia menoleh kearahnya.


"andai saja kamu mencegahku, aku tidak akan pergi!." ucap Sonia tersenyum dan masuk kedalam taksi nya, Bagas masih terdiam melihat kepergian Sonia. sedetik kemudian senyum terukir dibibir Bagas, Bagas mengerti maksud perkataan Sonia.


"baiklah. aku akan mencegah mu pergi, agar kau tidak pernah pergi meninggalkan aku!" ucap Bagas tersenyum, ia melihat taksi Sonia sampai menghilang. didalam taksi Sonia tersenyum, Sonia berharap Bagas akan mencegah nya pergi.


****


jangan lupa like, komen dan vote kalian😍