Do You Remember?

Do You Remember?
dengan cinta.



seminggu telah berlalu, Naira telah melupakan kejadian saat Adrian mengatakan perasaannya. selama seminggu ini Adrian terus mencari kesempatan untuk mendekati Naira, meskipun Naira kesal Adrian tidak memperdulikan itu. dengan begitu Naira tidak memiliki kesempatan untuk menghindar dari Adrian, karena sejatinya seorang sekretaris tidak bisa menjauh dari atasannya. bahkan saat Adrian menawarinya tumpangan untuk pulang, Naira mengiyakan permintaan Adrian.


hari ini Adrian pulang kerumah Amelia setelah beberapa bulan tidak datang, Amelia menyambut kedatangan Adrian dengan segala rindunya. Amelia bahkan memasak makanan kesukaan Adrian, ia memanjakan putranya itu.


Adrian sangat menyukai masakan Amelia, karena hanya dua hal yang disukai Adrian. pertama masakan ibunya, dan kedua masakan Naira atau istrinya. Amelia menatap Adrian yang sedang makan dengan lahap, putranya begitu banyak menderita karenanya. perasaan bersalah selalu menghantuinya, jika bukan karenanya Naira tidak akan mengalami amnesia dan melupakan suaminya.


"mama jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka!" ucap Adrian disela makannya, Amelia tersenyum dan mengusap rambut putranya itu.


"apa kamu makan dengan baik, aku dengar kamu mendapat gangguan pencernaan karena susah makan?" ucap Amelia khawatir, Adrian mendongakkan kepala dan menggelengkan kepala. "jangan bohong dengan mama, kemarin Nikil memberitahu mama. kamu pingsan dikantor dan harus mendapat obat baru, bahkan kamu tidak mau makan!" ucap Amelia dengan kesal, Adrian tersenyum melihat ibunya kesal itu.


"mama aku sedang makan sekarang, karena menantumu aku jadi doyan makan lagi!" saut Adrian, Amelia menatap Adrian. ia tidak percaya dengan yang dikatakan Adrian, pasalnya Amelia tidak tahu kalau Naira bekerja ditempat Adrian seperti dulu.


"jangan becanda dengan mama, mama itu serius bicara sama kamu. seperti papamu, jika diajak bicara serius selalu bercanda!" saut Amelia, Adrian semakin tertawa dengan itu.


"mana pernah Adrian bercanda, memang benar istriku itu menjadi sekretaris dan memberiku makan banyak!"


"Naira?" tanya Amelia heran yang masih tidak percaya, Adrian minum dengan menganggukan kepala.


"Memangnya istriku ada berapa?" tanya Adrian, Amelia mencubit tangan Adrian dan membuat Adrian tertawa. Amelia sangat senang dengan perkataan Adrian, karena bisa mendekati Naira seperti dulu meskipun masih tersimpan rahasia.


" mama sangat merindukan Naira yang dulu, bahkan Naira tidak pernah datang kemari!" ucap Amelia, Adrian terkejut dengan itu. jadi selama ini Naira tidak pernah tahu Vano ataupun Amelia, Adrian menyudahi makannya dan mencuci tangannya.


"mau kemana?" tanya Amelia saat Adrian memakai jaketnya, Adrian tersenyum dan mencium pipi Amelia.


"mama bilang rindu pada menantumu kan, sekarang aku akan membawa menantumu kemari!" ucap Adrian, wajah Amelia langsung berbinar dan sumringah menatap Adrian.


"eh, apa bisa?" ucapnya, Adrian mengangguk.


"sekretaris tidak berhak menolak, mama tenang aja!" ucap Adrian yakin, Amelia tersenyum dan mencubit pipi Adrian.


"pergilah, mama akan masak makanan untuknya!" ucap Amelia berjalan kearah dapur, Adrian tertawa dengan itu. ia tidak menyangka mudah membuat mamanya itu tertawa, hanya bertemu dengan Naira sudah sangat bahagia seperti itu. Adrian berjanji akan membawa Adrian secepatnya, bukan hanya sekarang tapi juga selamanya seperti impian mereka dulu.


***


karena hari minggu, Naira menikmati hari liburnya. ia duduk disebuah ayunan di halaman rumahnya, dengan memainkan hpnya. Naira membuka akun sosmed miliknya, ia tersenyum sendiri melihat fotonya. tiba tiba saja layar hpnya itu menampilkan wajah Adrian, Naira terkejut dan melempar hp itu. untung saja hpnya jatuh pada rumput yang sedikit tebal, sehingga tidak membuat hpnya rusak ataupun pecah.


Naira berpikir itu keterlaluan, keterlaluan karena bayangan Adrian tidak bisa hilang dari pikirannya. perasaan aneh dan canggung pada diri Naira, sedikit demi sedikit telah menghilang. semua itu berganti dengan perasaan nyaman, hati Naira selalu merasa damai saat Adrian bersama nya. tapi Naira tidak tahu perasaan aneh itu hilang kemana, malah timbul perasaan yang lain perasaan yang tidak dimengerti oleh Naira.


"ada apa denganku, kenapa aku seperti melupakan sesuatu. apa yang aku lupakan, dan apa yang harus kuingat?" gumam Naira dengan dirinya sendiri, Naira mengayunkan ayunannya secara perlahan sambil mendengarkan isi hatimu yang terus bicara. "dengan mengenalnya, aku merasa kita sudah saling kenal lama. tapi apa aku pernah bertemu dengannya, apa karena kecelakaan itu aku melupakan sesuatu!" ucap Naira lagi, ia mengambil hpnya berniat untuk menghubungi Adrian.


"tidak mungkin kan baru dua hari bertemu dia menyukaiku, pasti kami saling mengenal dulu. bahkan dia menerimaku kerja tanpa syarat, semakin dipikir semakin penasaran jadinya. aku harus tanya pada nya!" ucap Naira, saat ingin menghubungi Adrian hpnya berdering. secara kebetulan Adrian mendahuluinya menelfon, Naira terkejut dan ragu untuk mengangkat telfon itu. sampai akhirnya telfon itu berhenti, Naira bernafas lega.


"kenapa aku takut, bukannya aku ingin menlfonnya tadi!" ucap Naira menggenggam hpnya, tapi semenit kemudian hp itu berdering lagi dan menampilkan foto Adrian disana. setelah menarik nafas Naira mengangkat telfon itu, meskipun ragu ia tetap melakukan itu.


"halo pak, selamat siang!" ucap Naira lirih, tidak ada jawaban dari seberang. Naira melihat telfonnya masih terhubung, tapi Adrian tidak bicara.


"Pak?"


"lama sekali mengangkat telfon!" suara Adrian mengejutkan Naira,


"maaf pak, saya baru bangun tidur!" belum selesai Naira bicara, Adrian meminta untuk melakukan video call. mau tidak mau Naira menerima itu, ia tersenyum saat melihat wajah Adrian.


"tidak seperti bangun tidur, apa kamu sudah mandi?"


"sudah, emangnya ada apa?" tanya Naira, Adrian tersenyum dengan itu.


"bersiaplah, aku akan datang kerumahmu dalam waktu lima belas menit!"


"eh kenapa, anda mau apa pak?"


"sudah, tidak ada penolakan!"


"pak, saya tidak ... (tut tut tut)" Adrian mematikan telfonnya, Naira tampak kesal dengan meremas hpnya. dengan perasaan kesal Naira masuk kedalam rumahnya, ia bergegas kekamarnya untuk mengganti pakaian.


ditempat lain Adrian sudah berada dihalaman rumah Kara, dengan senyuman Adrian memasuki rumah itu. sekali Adrian melangkah masuk, membuat semua orang yang disana terkejut. bagaimana tidak terkejut, Adrian muncul setelah empat bulan lamanya. Adrian mencium punggung tangan Kara dan Nadia secara bergantian, tidak lupa Risa dan juga Febriyan.


"apa kabar kalian?" tanya Adrian tersenyum dan duduk disamping Kara yang sedang membaca koran, Nadia tersenyum dan mengusap rambut Adrian.


"Alhamdulillah, kamu gimana?" saut Nadia tersenyum, Adrian mengangguk.


"Alhamdulillah baik, oh iya Naira mana?" tanya Adrian tanpa dosa, tidak memikirkan Nadia dan Kara yang sedang bertanya tanya. karena pada awalnya mereka tidak tahu, Naira menjadi sekretaris Adrian.


"kamu sehat?" tanya Nadia, Adrian mengangguk.


"karena itu aku ingin mendapatkan cintanya lagi!" suara Adrian itu membuat Naira terdiam, lagi apa maksudnya dengan lagi dan cinta siapa yang akan ia dapatkan.


"aku tidak tahu kapan..." ucap Adrian terhenti ketika melihat Riana, karena Riana sedang memberi isyarat bahwa Naira ada disamping tangga. Adrian merubah posisinya dan melirik Naira yang sedang sembunyi, Adrian pun memberitahu semua disana.


"disini saya ingin menjemput Naira, ada urusan penting yang harus diselesaikan!" suara Adrian membuat Naira terkejut, karena dalam beberapa detik nada bicaranya langsung berbeda.


"eh Naira sejak kapan berdiri disana?" ucap Nadia yang melihat Naira melamun, Naira tersenyum dan berjalan ketawa mereka.


"baru saja, oh iya apa kalian sudah kenal?" tanya Naira, Adrian mengangguk pelan.


"iya tuan Kara ini teman bisnis ku, dan kamu gak pernah bilang anaknya tuan Kara!" saut Adrian, Naira tersenyum dan memilih diam. "oh iya kalau begitu ayo kita berangkat, saya tidak mau terlambat!" ucap Adrian, Adrian berpamitan pada semua orang disana dan menarik tangan Naira. tidak ada penolakan dari Naira, ia berjalan mengikuti langkah Adrian.


"kenapa kamu diam?" tanya Adrian didalam mobil, Naira menggelengkan kepala.


"kita mau kemana pak?" tanya Naira, Adrian memasangkan sabuk pengaman pada Naira. lagi lagi tubuhnya sangat dekat dengan Naira, Naira bisa merasakan parfum Adrian dan merasakan bau Adrian itu membuatnya terasa familiar.


jadi apa benar aku mengenal dia sebelumnya, semua terasa familiar saat bersamanya.


Naira menatap wajah Adrian yang sedang menatapnya, tatapan mereka saling bertemu. entah kenapa Adrian memajukan wajahnya pada wajah Naira, sampai Naira bisa merasakan hembusan nafas Adrian yang panas. wajah Adrian terus mendekat pada pipi Naira, sampai Naira menutup matanya. tiba tiba saja suara bisikan terdengar ditelinganya,


"kamu akan jatuh cinta padaku!" bisik Adrian tepat ditelinga Naira, seketika Naira membuka mata dan menatap Adrian. Adrian mengedipkan satu matanya, Naira mendorong tubuh Adrian dan merapikan duduknya.


"diam pak, cepat jalan kemanapun yang anda inginkan!" ucap Naira dengan cepat, Naira memalingkan wajahnya keluar jendela mobil. Adrian tertawa dan menjalankan mobilnya, Adrian berniat mengajak Naira kerumah mereka setelah itu bertemu dengan Amelia.


dalam perjalanan Naira selalu memiliki perasaan ingin tahu, tapi Naira ragu untuk menanyakan semua itu pada Adrian. sampai suatu jalan membuatnya merasa familiar lagi, sepanjang jalan itu Naira memiliki bayangan hitam dimatanya.


"kamu kenapa?" tanya Adrian saat melihat Naira menyentuh kepalanya, Adrian dengan lembut mengusap rambut Naira. "hei ada apa?" tanya Adrian panik ketika melihat Naira berkeringat, Naira memegang kedua kepalanya seperti menahan sakit.


"sakit, kepalaku sakit pak!" ucap Naira, Adrian menghentikan mobilnya dan mencoba intuk menenangkan Naira.


"apa yang kamu pikirkan, tenangkan dirimu!"


"hiks... sangat sakit, bayangan hitam itu melintas dan membuat sakit dikepalaku!" ucap Naira terisak, Adrian memegang kedua bahu Naira untuk menenangkannya.


"buka matamu, lihat aku." ucap Adrian, Naira tetap menutup mata dan kesakitan. " Naira aku perintahkan buka matamu, dan lihat aku sekarang!" tegas Adrian, seketika Naira membuka mata dan langsung bertemu dengan tatapan Adrian yang lembut. Naira terdiam melihat wajah Adrian, ia merasakan hal baik saat menatap mata Adrian. kedamaian, kenyamanan dan juga penuh cinta disana. Adrian memberikan semua itu pada matanya, agar Naira bisa merasakan semua itu hanya lewat matanya saja.


"apa masih sakit?" tanya Adrian lembut, Naira menurunkan tangannya dan menyentuh dada Adrian. Naira merasakan degup jantung Adrian yang cepat, apakah mungkin karena panik itu terjadi padanya. Naira mendongakkan kepala dan mengangguk, seketika Adrian bernafas lega.


"apa kita saling mengenal sebelumnya?" tanya Naira, Adrian menoleh dan menatap Naira tanpa menjawab. "karena ada hal yang berbeda saat bersamamu, aku merasa aku mengenalmu tapi melupakanmu!" ucap Naira, Adrian menyentuh tangan Naira.


"jika aku katakan kita saling mengenal dan sangat dekat, apa kau percaya?" ucap Adrian, Naira terdiam dengan itu. "bagaimana kalau aku bilang, aku adalah kekasihmu?" ucap Adrian lagi, Naira terkejut dibuatnya. karena tidak menyangka Adrian akan mengatakan itu, apalagi saat Adrian menyentuh pipinya dan mendekat kan tubuhnya.


"kamu adalah kekasihku Naira, kekasihku yang hilang!" ucap Adrian penuh lembut, Naira menggelengkan kepala.


"tidak, kau pasti berbohong. kau hanya ingin mendapatkan cintaku kan, karena itu kau mengatakan hal itu!" ucap Naira melepas tangan Adrian, "jangan lakukan hal itu, aku memang melupakan semua hal ketika kecelakaan. tapi jangan mengatakan kau adalah kekasihku, dan seolah olah kita pernah menjalin hubungan dulu!" ucap Naira lagi, Adrian kesal dengan itu. " aku tahu anda mencintaiku, tapi kumohon jangan berbohong seperti itu!"


"aku tidak berbohong, karena memang kita adalah suami istri!!" tegas Adrian tanpa sengaja, seketika membuat Naira terdiam. Adrian yang tidak sengaja menatap Naira yang terdiam, Naira mencoba mengingat tapi merasakan pusing kembali. tapi kali ini berbeda, pusing itu membuat Naira langsung pingsan.


"Naira buka matamu, Naira!" ucap Adrian menepuk pipi Naira, dengan cepat Adrian melajukan mobilnya dan berniat untuk membawa Naira kerumahnya yang hampir sampai. disepanjang jalan Adrian menyesali perbuatannya, tidak seharusnya ia mengatakan semua itu meskipun tanpa sengaja.


Adrian merasa cemas ketika David memeriksa tubuh Naira, Adrian terus menggenggam tangan Naira dengan erat. setelah mendapat telfon dari Adrian, David langsung datang dengan cepat.


"apa dia memaksa mengingat lagi?" tanya David, Adrian mengangguk pelan.


"aku yang ceroboh, terlalu memaksanya lagi dan lagi!" ucap Adrian lirih, David menyentuh pundak Adrian.


"biarkan dia tidur, kamu ikut aku keluar. ada yang ingin aku sampaikan, kamu harus tahu ini!" ucap David, Adrian mengangguk dan mendirikan tubuhnya. Adrian menyelimuti Naira dan kemudian meninggalkan Naira istirahat sampai bangun. Adrian mengikuti langkah David, mereka bicara dibalkon kamar itu.


"Naira mengalami amnesia selektif, karena emnesia ini, Naira lupa dengan ingatan yang sebelumnya. biasanya ingatan nya hanya hilang beberapa tahun saja, tapi yang dialami Naira sungguh memprihatinkan. Naira harus kehilangan seluruh ingatan atau memori lamanya, karena dulu terjadi pembekuan darah pada otaknya dan ditambah dengan kecelakaan itu. dan jarang terjadi seperti ini, sekarang hanya memori baru yang tersimpan pada otaknya." jelas David, Adrian menatap Naira yang sedang pulas tidur.


"jadi?"


"jadi, semakin Naira mengingat maka semakin dia melupakannya!" ucap David, Adrian terkejut dengan itu. "setelah menjalani empat bulan perawatan, aku baru mengerti apa yang sedang dialami Naira. karena itu aku meminta mereka semua untuk mengenal Naira secara perlahan, dan yang paling diingat adalah dirimu karena itu semakin dia mengingatmu dia akan memiliki reaksi ini!" jelas David lagi, Adrian mendudukan dirinya.


"maafkan aku Naira, maaf!"


"tindakanmu benar Adrian, benar untuk berusaha mendekatinya dan tidak memaksanya mengingat. kejadian hari ini, bisa ia lupakan tenang saja. saranku beri dia cinta baru, cintamu akan membuatnya ingat betapa kamu sangat mencintai dia dan dia sangat mencintai kamu." ucap David, Adrian mengangguk dan mengiyakan itu.


"iya, kali ini cintaku akan membuatnya ingat. hanya dengan cinta, bukan paksaan!"