Do You Remember?

Do You Remember?
Episode satu : Ingatkah?



Jakarta, 24 Juni 2022


"Teh, udah dong!" Adeeva bersungut kesal. Pasalnya sudah berjam-jam Ameera hanya diam di dapur sambil sesekali mengutak-atik bahan masakan, tanpa sekalipun ada niat untuk mengolah bahan-bahan tersebut.


Kejadian semalam betul membekas diingatannya.


Membuatnya sesak, terdesak oleh harapan.


Banyak asa yang ia rajut saat kakinya melangkah ke pesta semalam.


Soal Gala yang akan tersenyum saat melihatnya.


Soal Gala yang akan mendekapnya erat seraya merapal kata rindu kepadanya.


Soal Gala yang akan mengingat semua janjinya.


Juga, soal Gala yang akan menjadi rumah terakhirnya.


Namun asa itu hancur lebur ketika ia lihat sosok cantik berdiri di samping wira gagah, dengan gaun hitam elegan juga make up yang sama elegannya. Cukup untuk menandakan tingginya kasta yang ia punya.


Apalah Ameera. Hanya pemilik sebuah bakery home yang 'tak terlalu besar. Apalah ia yang orang tuanya hanya sebagai penjaga villa keluarga Jaelandra.


Sekali lihat saja, Ameera tahu kalau sosok cantik yang semalam ia lihat sangat 'sepadan' untuk bersanding dengan Manggala.


"Teh... "


Ameera menoleh ke arah adiknya. Tampang nelangsa berbalut kasihan tercetak jelas di rautnya.


"Teteh gak papa" bohong tentu saja


"Bohong!" Nah kan


Adeeva menyentak. Matanya kini dipenuhi oleh kabut emosi. Gadis yang lebih tinggi sedikit dari Ameera itu menyilangkan kedua lengan di depan dada. Bibirnya menyebik, sementara alisnya menukik. Ia sudah siap meledak.


"Jujur! Semalem diapain sama A' Gala??"


Gak diapa-apain dek, dia lihat aku aja enggak.


"Gak diapa-apain, kok"


Mata Adeeva memicing, "Terus kenapa pulang dari itu pesta, Teteh jadi linglung begini?"


Harus jawab apa?


"Teteh cuma kecapean aja"


Adeeva menghela napasnya kasar. Percuma. Kakaknya itu terlalu keras kepala untuk ditanyai. Terlalu keras kepala untuk ditembus.


Jika diteruskan, akan sangat mungkin kalau mereka berdua akan berujung dengan adu argumen.


Tak akan ada habisnya. Adeeva memilih mengalah.


Ia mengangkat kedua tangan tinggi menyejajari telinga, menyerah. "Yaudahlah kalau gak mau bilang, aku mau keluar aja!"


Tak ada jawaban. Ameera hanya mengangguk singkat tanpa bersuara.


Setelah adiknya keluar, sunyi sangat kental menyelimuti suasana.


Ameera kembali terfokus dengan objek abstrak di depan mata.


Pikirannya melayang jauh, ke masa dimana semuanya masih terasa manis, menyenangkan.


"Kamu... sama sekali gak ingat aku kah, A'?"


Monolog itu terucap berbarengan dengan bulir yang perlahan turun. Satu persatu berdesakan untuk turun teratur membasahi pipi merona milik Ameera.


'Terimakasih ya dek. Kamu tuh kayak matahari. Mataharinya Aa' "


Ah! Rasanya baru kemarin. Rasanya baru kemarin kata-kata itu terucap dari sang adam.


'Kalung ini anggap aja sebagai tanda janji Aa'. Nanti kalau Aa' udah berhasil Aa' bolehkan datang lagi kesini buat minta kamu dari Umi?'


Kala itu, kata-kata manis yang Ameera anggap janji itu berhasil membuatnya berdesir. Membuahkan senyum yang kerkembang lebar, manyalurkan hangat ke hati Ameera.


Sesak.


Semakin ia ingat semakin sesak.


Semakin manis kenangannya bersama Gala, semakin pula hatinya tercekik tali tak kasat mata yang mengikat kencang, seakan tak memberi ruang untuknya bernapas.


Hiks..


Isak itu lolos tanpa bisa dicegah.


Sebelah lagi tangannya ia taruh dihadapan bibir. Meredam, mencegah isak lain yang sedang berlomba untuk keluar.


Matanya semakin terpejam erat. Menghang air mata yang semakin deras keluar.


Ia menahan semuanya.


Ameera menahan tangisnya, sesaknya.


Bukan ini yang ia harapkan kala ia mendorong Gala menjauh untuk meraih suksesnya.


Bukan ini yang ia harapkan kala ia melepas Gala untuk pergi jauh darinya.


Bukan ini yang ia harapkan kala semua janji Gala terpatri apik di pikiran dan hatinya.


Sekarang ia bertanya, salah siapa?


Apa salah dirinya sendiri yang membiarkan Gala lepas?


Atau salah Gala yang melupakan janjinya dan berakhir melabuhkan hatinya pada sosok lain?


......................


Kriing


Lonceng berbunyi tanda ada pelanggan masuk.


Setelah sedikit berdamai dengan dirinya sendiri tadi pagi, Ameera memutuskan tetap membuka tokonya.


Ia tolehkan kepalanya menuju pintu masuk. Mengucap sapaan selamat datang seperti biasa, sampai netranya berhasil menangkap siapa pelanggan yang datang.


"Selamat da—" tubuhnya mematung, lidahnya berubah kelu. Tangis yang tadi ia pikir sudah usai, nyatanya menyeruak ingin kembali keluar "—tang!"


Matanya bersirobok dengan netra gelap sang adam.


Pandangan yang sejujurnya ia rindukan. Jika saja ia tak ingat waktu semalam, sudah dipastikan ia akan menubruk tubuh adam itu dengan kencang, memeluknya erat.


Didepannya kini berdiri Manggala Jaelandra. Dengan kilat kaget yang sama seperti dirinya. Gala pun sama, tubuhnya membeku di ambang pintu.


"A—meera?"


Ah! Gala mengingatnya. syukurlah.


"Kita bertemu lagi, A' Gala"


...****************...