
acara tujuh bulanan Naira dilaksanakan di pagi hari, dengan dihadiri teman, kerabat dan juga keluarga sudah membuat acara itu ramai. karena keluarga Kara yang memiliki keturunan jawa, maka acara tujuh bulanan itu mengikuti tradisi adat jawa. mulai dari acara pemandian sesuai tradisi dan acara tradisi lainnya, terlihat semua keluarga dan juga Naira sangat bahagia dengan berbagai tradisi adat tersebut.
"capek nya!!" ucap Naira mendudukan dirinya, Adrian yang melepas pakaiannya tersenyum dan mencium kening Kara sekilas. "apalagi temen papa dan mama itu banyak banget, jadinya harus mendengar doa dari mereka satu satu!"
"bagus dong sayang, jadinya kan banyak doa untuk kamu dan juga si kembar!"
"hihi iya ya, aku pernah melihat acara tradisi seperti itu ditv. tapi gak nyangka aku bakalan ngerasain ini juga!" ucap Naira mengelus perutnya, Adrian tersenyum dan berlutut dihadapan Naira.
"jadi masih takut?" tanya Adrian, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala.
"ada sedikit rasa takut itu, tapi rasa sayangku pada mereka lebih besar. jadi pengen cepat melihat mereka, dan juga bisa merawat sekaligus membesarkan mereka !" saut Naira menangkup pipi Adrian, tidak lupa Naira mencium kening Adrian.
"kamu harus sehat terus, aku ingin kita merawat mereka bersama sama. ada aku disini, maka tidak akan terjadi apapun pada kalian terutama padamu!" ucap Adrian dengan yakin, Naira tersenyum dan memeluk Adrian.
"iya aku percaya padamu, terima kasih!" saut Naira, Adzan tersenyum dan mencium kening Naira.
"tidurlah, kamu pasti capek!"
"ayo temani aku tidur, jangan bekerja terus!" saut Naira, Adrian mengangguk dan membawa Naira berbaring ditempat tidur. siang itu pun mereka istirahat dan tidur bersama, bahkan Adrian dengan pulas tidur dalam pelukan Naira.
****
siang yang sama Riana terus merintih kesakitan, sakit itu akibat kakinya yang dinyatakan patah dan harus dalam perawatan medis yang cukup lama. Riana terus membolak balikan tubuhnya yang susah bergerak, ia pun kesal sendiri dengan kakinya. bahkan gara gara kakinya, Riana tidak bisa menghadiri acara tujuh bulanan Naira.
"masih kesal?" tanya Daniel yang tiba tiba masuk, Riana hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya. "kamu marah sama aku?"
"nggak!" singkat Riana, Daniel mendekat dan memberikan makan siang untuk Riana.
"aku suapin?"
"untuk apa, yang sakit kan kakiku bukan tanganku!" ucap Riana cepat, Daniel tersenyum dan mengangguk. keduanya saling diam didalam ruangan itu, Riana sendiri tidak ingin bicara karena masih merasa tidak enak pada Daniel.
"butuh sesuatu?" tanya Daniel, Riana mengangguk pelan.
"minum!" ucap Riana pelan, Daniel tersenyum dan memberikan segelas air putih untuk Riana. "terima kasih!" ucap Riana, Daniel tersenyum dan mengangguk.
"sama sama, pelan saja ya minumnya!" ucap Daniel, Riana mengangguk dan mulai meminum airnya. saat Daniel kembali duduk di sofa, Riana menatap Daniel dengan perasaan bersalah. rasa bersalah itu karena sudah menganggu waktu Daniel dengan wanitanya, Riana bingung harus mengatakan apa.
"Daniel?"
"iya, ada lagi?" tanya Daniel lembut, Riana menggelengkan kepala. saat Riana ingin bicara, suara ketukan pintu terdengar. terlihat Ridwan membuka pintu dan tersenyum, Ridwan menghampiri Riana dengan membawa sebuket bunga.
"aku dengar kamu sakit, jadi aku kesini untuk menjenguk!" ucap Ridwan memberikan bunga yang ia bawa, Riana tersenyum dan menerima bunga itu.
"kamu tidak bertugas?" saut Daniel, ia sadar Ridwan memperhatikan Riana. Ridwan pun tersentak dan menatap Daniel,
"aku libur hari ini, jadi bisa mengunjunginya." saut Ridwan, Daniel hanya mengangguk. "bagaimana kamu bisa jatuh?" tanya Ridwan pada Riana, dengan senyuman Riana menggelengkan kepala.
"namanya juga musibah, tidak akan ada yang tahu kan kapan itu akan terjadi!" saut Riana, Ridwan tersenyum dan mengangguk. "dokter Ridwan, apakah dokter ini gak capek tersenyum terus?" ucap Riana, seketika Ridwan tertawa mendengar itu.
"dia memang suka tersenyum, karena itu banyak cewek kecantol!" ucap Daniel, Riana mengangguk mengerti.
"haha ... aku memang dikenal suka senyum, kamu merasa tidak nyaman ya dengan senyumku?"
"eh nggak kok, aku malah suka melihat seseorang tersenyum." saut Riana cepat, mereka pun asik mengobrol tanpa memperhatikan Daniel yang berdiri disamping mereka. wajah suram Daniel terlihat jelas, tapi tanpa disadari oleh Riana juga Ridwan.
"aku tinggal ya, Riana kamu harus istirahat!" ucap Daniel kemudian keluar dari sana, Riana dan Ridwan hanya menatap kepergian Daniel.
"kenapa dengannya?" tanya Ridwan, Riana hanya terdiam.
"dia marah padaku!"
"kenapa?" tanya Ridwan tidak mengerti, Riana menghela nafas.
"kemarin aku melihatnya bersama wanita itu lagi, mungkin mereka sedang bersama malam itu. tapi Daniel harus datang merawatku karena kecelakaan itu, karena itu mungkin dia marah aku mengganggu waktunya bersama wanitanya!" ucap Riana, Ridwan mengerti apa yang dimaksudkan Riana. tapi Ridwan mengira tidak mungkin Daniel marah karena hal itu, karena ia tahu benar Daniel tidak menyukai wanita bernama Karin itu.
"kamu istirahat saja sekarang, aku akan keluar!" ucap Ridwan, Riana membaringkan tubuhnya dan mulai menatap mata untuk tidur. Ridwan pun keluar dari ruangan itu setelah melihat Riana menutup mata, ia berdiri didepan pintu ruangan Riana.
"kamu bodoh Daniel!" ucap Ridwan, terlihat Daniel berdiri disamping pintu itu sejak tadi. "kau malah berdiri disini dan tidak mengatakan apapun padanya!"
"dia tidak menyukaiku, kau bisa melihatnya kan!" saut Daniel, Ridwan memijat tengah kepalanya. "aku tahu sifatnya, karena tidak setahun dua tahun aku mengenalnya. jarang sekali Riana menyukai seorang pria, dan itu terjadi satu kali dalam hidupnya!"
"apa maksudmu?"
"Riana tidak mudah membuka hati, bahkan saat membuka hati malah untuk orang yang salah. Riana menyukai Adrian, suami dari Naira saudarinya sendiri!" saut Daniel, Ridwan terwujud dengan itu.
"terus?"
"dia menutup hatinya sejak itu, dan aku tidak yakin untuk membuka hatinya lagi!" ucap Daniel melemah, Ridwan menepuk pundak Daniel.
"haiih ... sepertinya cinta kalian akan rumit kalau terus salah paham!" ucap Ridwan, Daniel menatap Ridwan yang tidak mengerti dengan itu. "kamu harus berusaha, aku yakin kamu bisa membuka hati Riana untukmu!" ucap Ridwan, Daniel mengangguk dan tersenyum. "yang penting sekarang tetaplah berada disampingnya, agar dia merasa kamu selalu ada untuknya!"
"tentu saja, aku pasti akan menjadi orang pertama saat dia membutuhkan bantuan!" saut Daniel dengan mantab.