
keesokan harinya mereka telah siap untuk kembali kekota, Naira dan Siska sudah menyiapkan semua barang miliknya dan barang atasan mereka. mereka keluar bersama dari dalam hotel, semua kebutuhan mereka pun sudah diletakkan didalam kapal, terlihat semua orang ada ditepi pantai itu, disana Adrian dan Johan berpamit kepada rekan rekan lainnya.
"aku bener benar menyesal, karena aku kalian harus kembali dengan cepat!" ucap Fandi, Johan tersenyum.
"tidak masalah, dengan menyadari kesalahanmu itu sudah cukup!" ucap Johan, Fandi melihat kearah Adrian yang tidak peduli padanya.
"nona Naira sekali lagi saya minta maaf!" ucap Fandi, Naira mengangguk dan tersenyum.
"sebenarnya akan ada seseorang yang datang lagi, setidaknya kalian harus temui mereka dulu!" ucap Fandi, Naira dan Siska tampak saling melihat.
"ada seseorang yang belum kami temui, tapi siapa?" tanya Johan, Fandi melihat jam ditangannya.
"mereka juga sangat ingin mendapatkan proyek besar itu, mereka sudah tahu tentang pembatalan proyek yang telah anda batalkan. karena itu mereka datang langsung kemari untuk membicarakannya, jadi tuan Adrian pertimbangkan tentang pembatalan proyek yang kalian batalkan. jika kalian benar benar membatalkannya, kami akan menyerahkan proyek itu pada mereka!" ucap sekretaris Fandi.
"pasti dia belum tahu, apa yang sudah dilakukan pemilik proyek pada seorang wanita lugu!" ketus Adrian, semua orang terdiam.
"benar, mungkin kami akan menceritakan pada mereka, tentang apa yang terjadi. sebelum kalian membatalkan proyek itu,"
"ya, aku tidak ingin proyek apapun. aku memiliki banyak proyek yang masih membutuhkan aku, jadi aku tidak butuh proyek seperti itu." saut Adrian dengan angkuh, sekretaris Fandi pun mengangguk.
setelah beberapa menit terlihat sebuah kapal datang, mereka yang ada disana melihat kearah kapal yang baru saja datang itu. terlihat beberapa orang berpakaian hitam berjas berdiri, mereka merasa itu adalah orang yang dimaksud dengan Fandi sebagai orang penting.
setelah kapal itu berhenti, seseorang turun dari kapal besar itu. seorang pria berjas hitam, sangat tinggi dan menawan menggunakan kacamata. semuanya tersenyum karena mereka tahu siapa pria itu, bahkan Johan dan Siska tersenyum. tidak dengan Naira, Naira sangat terkejut melihat siapa pria itu. pria itu melepas kacamatanya, dan tersenyum melihat Naira berdiri. pria yang tidak lain adalah Bagas sendiri, kakak kesayangan Naira.
Naira menunduk ketika Bagas berjalan kearahnya, semuanya merasa heran bahkan Adrian tidak senang dengan itu. Bagas memegang tangan Naira dan mencium tangan itu, Adrian yang kesal langsung menarik tubuh Bagas.
"siapa kau, beraninya kau menyentuh wanitaku!" ucap Adrian mendorong tubuh Bagas, Bagas hanya merapikan jasnya dan menatap Adrian.
"lalu siapa kau, sejak kapan Naira menjadi wanitamu!" ucap Bagas, Adrian sangat kesal dengan itu.
"berani sekali kau memanggil namanya, dia adalah kekasihku. jangan berani lagi kau menyebut namanya, jika tidak..."
"tidak apa?" ucap Bagas, Adrian menarik kerja kemeja Bagas. mereka saling menatap satu sama lain, dalam hati mereka berpikir telah bertemu sebelumnya tapi entah dimana pertemuan mereka.
"sudah, sudah pak. tahan emosimu, dia..."
"dia apa, kenapa kamu diam saja saat disentuh olehnya!" saut Adrian, Naira ingin mengatakan kalau Bagas itu adalah kakaknya. Naira memilih diam karena kemarahan Adrian itu adalah sebuah bencana, Johan menahan Adrian.
"Adrian sudah, dia rekan bisnisku!" ucap Johan, Bagas melihat kearah Johan.
"oh halo pak Johan, siapa dia berani sekali dia menyentuh bajuku. apa dia tidak tahu siapa aku?" ucap Bagas, Adrian melepaskan Bagas. Adrian menatap Bagas dari bawah sampai keatas, begitu pun juga dengan Bagas.
"bahkan statusmu lebih besar dariku, jangan sombong!" ucap Adrian, Naira menepuk sifatnya sendiri.
"Naira bisa jelaskan siapa dia?" tanya Bagas menarik tangan Naira, Naira menggaruk rambutnya yang tidak gatal. tidak mau kalah Adrian menarik tangan Naira, dan menghempaskan tangan Bagas.
"Naira kamu kenal dia, siapa dia?" tanya Adrian, Naira benar benar sangat kesal dengan mereka berdua. Naira merasa ingin sekali menenggelamkan mereka dilaut, tapi ia berpikir tidak sekejam itu.
"em.. itu.." belum Naira menjawab, terlihat pintu kapal itu terbuka lagi. keluar seorang pria paruh baya, beberapa orang memberikan hormat pada pria itu. dengan pakaian jas rapi berwarna hitam sangat berkilau, Naira membuka mulut melihat siapa pria yang berdiri disana.
"papa!!!" teriak Naira, tanpa berpikir Naira berlari kearah Kara. Naira tidak peduli dengan beberapa orang disana, semua orang terkejut disana. bahkan Adrian sangat terkejut Naira berlari memanggil papa, itu artinya yang datang adalah Kara dan yang berdebat dengannya adalah Bagas. karena itu Adrian merasakan pernah bertemu dengan Bagas.
Naira berlari kearah Kara, Kara membuka kacamata nya. dan Kara membuka kedua tangannya, Naira langsung berlari untuk memeluk Kara.
"papa, papa disini?" tanya Naira, Kara tersenyum dan mencium kening Naira.
"tentu, papa dengar kabar kalau perusahaanmu membatalkan proyek kerja, karena itu papa kesini untuk mengetahui kenapa dibatalkan!" ucap Kara, Naira terkejut dengan itu. Kara berjalan kearah semua orang disana, beberapa orang menyambutnya. Naira masih berdiri ditempatnya, ia berpikir tidak mungkin jika harus menceritakan semuanya pada Kara bahkan juga Bagas. Naira tahu benar siapa Kara dan Bagas, menurut mereka semua Kara dan Bagas adalah orang yang sangat mereka segani dan di hormati.
"selamat datang tuan Kara dan tuan Bagas, kami sangat senang kalian datang!" ucap Fandi, Kara tersenyum dan mereka bersalaman.
"ada apa denganmu, kenapa seperti ini?" tanya Kara saat melihat tubuh Fandi penuh lebam dan luka bekas dari pukulan Adrian yang belum hilang.
"hanya kecelakaan, apakah Naira itu putri anda?" tanya Fandi, Kara tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Naira. Naira mengangguk dan memegang tangan Naira.
"dia putri kesayangan ku, dia putri kecilku yang tidak pernah besar!" ucap Kara, semua orang berbisik membicarakan apa yang terjadi pada Naira sebelumnya.
"ya dan dia adalah adikku, adik Bagas Riansyah!" saut Bagas menatap Adrian, Adrian hanya terdiam menatap Bagas.
"saya pernah dengar putri anda yang cantik, tapi saya tidak menyangka putri Kara Wijaya ada disekitar kita. kenapa dia menjadi sekretaris orang lain, bahkan dia tidak menunjukkan statusnya sebagai putrimu ?" tanya seorang pria bernama Noman, Kara tersenyum kembali.
"karena terlalu mandiri, dia tidak mau bekerja dengan ayahnya. dia ingin bekerja dengan tenaganya, bukan karena statusnya." saut Kara, Naira menatap Kara dan tersenyum. Naira berpamit untuk pergi, ia menghampiri Bagas yang berdiri bersama seorang wanita.
"he gadis ku, kemarilah peluk kakak!" ucap Bagas, Naira tersenyum dan memeluk Naira. Bagas melihat kearah Adrian, Adrian menahan kekesalannya.
"3hari kau meninggalkan aku hm.." ucap Bagas, Naira tersenyum saat Bagas mencubit hidungnya. Naira melihat kearah wanita yang tersenyum padanya, Naira pun tersenyum.
"kakak ini siapa, kekasihmu ya?" celetuk Naira, Bagas mencubit pipi Naira dengans sedikit keras.
"enak saja, dia itu sekretaris kakak. jangan sembarangan kamu, dan jangan seperti Riana!" saut Bagas, Naira tertawa dengan itu.
"kamu harus kuat, kakaku memang sedikit sombong dan juga keras tapi sebenarnya dia sangat bodoh!" ucap Naira, wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"kakak akan kuperkenalkan kamu pada seseorang, kemarilah!" ucap Naira, Bagas mengangguk. Naira membawa Bagas kearah Adrian dan juga Johan yang tidak jauh, Bagas tersenyum melihat Johan begitu pun sebaliknya.
"kita bertemu lagi!" ucap Johan, mereka bersalaman dan saling memeluk.
"ya!" ucap Bagas, Siska memberinya salam. Adrian acuh dengan itu, Naira tersenyum.
"pak Johan dia ini adalah Bagas, pasti anda sudah tau. dia ini adalah kakak tertua saya, dan kakak pak Johan ini atasan Naira. disana itu sekretarisnya, itu sahabat Naira. dan dia yang berdebat dengan kakak adalah pak Adrian, dia presdir Naira." jelas Naira, Bagas sempat terkejut bahwa Adrian adalah presdir. tapi dengan acuh Bagas tidak peduli.
"sebesar apapun statusmu, masih lebih besar statusku memiliki Naira!" ucap Bagas,
"jika aku menjadi suaminya, derajatku akan lebih besar darimu!" saut Adrian yang tidak kalah, Bagas sangat kesal dengan itu.
"hm.. kalian tidak perlu berdebat lagi, kalian seperti wanita yang lagi datang bulan!" ucap Naira, Bagas dan Adrian menatapnya.
"eh, kenapa melihatku seperti itu?" ucap Naira mundur, terlihat Kara menghampiri mereka.
"jadi ini presdir termuda yang pernah aku dengar, senangnya bisa bertemu denganmu langsung!" ucap Kara. Adrian tersenyum dan mereka saling memeluk.
aku benar benar merindukanmu om.
"saya juga tidak menyangka kalau anda adalah ayah dari Naira, senang bertemu denganmu!" ucap Adrian, Kara mengangguk.
rencana mereka untuk pulang telah batal, karena kehadiran Kara dan Bagas mereka mengurungkan niat untuk kembali. beberapa jam kemudian, mereka berkumpul disebuah ruang aula. Kara memimpin perkumpulan itu, suasana masih sangat santai dan tidak tegang.
"bisakah saya bertanya, kenapa pak Adrian membatalkan proyek besar ini?" tanya Kara, semua orang disana terdiam, termasuk Naira.
"saya harus tahu tentang itu, karena pak Fandi ini juga butuh seorang pengusaha untuk melakukan investasi. dan kalian pasti sudah tahu, dia ini investor yang sangat berpengaruh. tidak ada yang pernah menolak seorang investor seperti pak Fandi, tapi pak Adrian bisakah anda jelaskan kenapa anda membatalkan proyek itu?" tanya Kara lagi, semua orang masih terdiam.
"papa Naira akan jelaskan, tapi tidak disini!" ucap Naira, semua orang masih terdiam.
"kenapa sayang, ceritakan saja disini!" ucap Kara, Naira memegang lengan Kara.
"papa hanya berdua ya, Naira akan ceritakan satu hal pada papa!" ucap Naira lagi, Kara akhirnya mengangguk dan mendirikan dirinya.
"baiklah, katakan semua yang kamu inginkan pada papa!" ucap Kara, Naira mengangguk.
"kakak akan ikut, bagaimana pun kakak harus tau juga!" ucap Bagas, mengikuti mereka berdua.
Adrian hanya menatap kepergian mereka, Adrian sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Adrian tahu benar apa yang akan dilakukan Bagas, bahkan yang akan Bagas lakukan adalah seperti apa yang dilakukan Adrian sebelumnya.
mereka bertiga bicara diluar ruang aula itu, disana terlihat Bagas sangat emosi. beberapa kali Naira menahan Bagas untuk tetap tenang, tapi berbeda dengan Kara ia hanya diam menatap putrinya. didalam aula semua orang berbisik, Fandi menyesali semua yang dilakukanmya. Fandi tidak pernah menyangka Naira adalah putri Kara, bahkan dia sudah mengatakan hal buruk waktu itu.
terlihat Bagas berjalan cepat, Naira yang awalnya menahan tidak bisa lagi. dengan cepat Bagas masuk dan mencari Fandi, Bagas menarik Fandi dan memukulnya hingga tersungkur.
"siapa yang menyuruhmu untuk menyentuh adikku!" teriak Bagas.
"aku tidak tahu kalau dia adalah adikku, aku minta maaf padamu!" ucap Fandi, Bagas memberikan satu pukulan padamya.
"jadi jika dia bukan adikku, kau bebas menyentuhnya! (bugh)" ucap Bagas, Fandi terdiam dengan itu.
"kakak sudah, itu sudah berlalu!" ucap Naira, Bagas menghempaskan tubuh Fandi. Bagas menoleh kearah Naira, ia tersenyum pada Bagas.
"keputusan Adrian benar, untuk membatalkan proyek itu. aku sudah menyadari akan sifatnya yang brengsek, tapi aku tidak menyangka saat wanita tidak datang padanya maka dia akan menjadi seorang ********!!" teriak Bagas, Naira menahan lengan Bagas.
"saya benar benar minta maaf padamu tuan Kara, sebelumnya saya tidak tau apa yang saya lakukan. saya menyesalinya!" ucap Fandi, Bagas sudah mulai tenang saat Naira terus mengusap lengannya.
"saat mendengar cerita itu, seharusnya aku yang disana. maka aku akan membunuhnya, karena telah berani menyentuh adikku!" ucap Bagas, Naira tersenyum.
"dan kau juga salah, salah telah membiarkannya hidup!" ucap Bagas lagi menunjuk Adrian yang duduk bersender santai, Adrian tersenyum dan menegakkan tubuhnya.
"tanyakan adikmu, kenapa dia membuatku lemah saat itu!" saut Adrian. Bagas menggelengkan kepala, Naira tersenyum sendiri.
"saya sebagai wakil dari tuan Kara Wijaya, menyatakan kami juga tidak ingin mengambil proyek tersebut. dan mulai sekrang perusahaan KR Group's tidak akan menjadi perusahaan yang akan bekerja sama dengannya. karena kesalahan yang ia buat, sudah sangat membuat kekecewaan!" jelas Bagas, Kara hanya terdiam.
"tuan Kara apakah tidak bisa dipertimbangkan lagi?" ucap orang lain dari kelompok Fandi. Kara menegakkan tubuhnya, dan berdiri.
"apa yang saya ingin lakukan, telah dilakukan oleh putra saya. saya benar benar menyesal, karena tidak memperkenalkan putri saya pada kalian. mungkin jika kalian tau siapa Naira sebelumnya, hal seperti ini tidak akan terjadi. pak Fandi dan yang lainnya, saya hanya ingin mengatakan kalau keputusan yang dibuat Bagas adalah keputusan saya juga. terima kasih!" ucap Kara berdiri, yang lainnya ikut berdiri. Kara keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apapun lagi, Naira mengejar Kara.
"kami akan kembali ke kota, dan saya harap kalian bijak dalam menanggapi keputusan yang dibuat saya!" ucap Bagas lagi, semua orang disana mengangguk dan saling berbisik. Bagas keluar dari sana diikuti sekretarisnya dan juga diikuti Adrian, Johan dan Siska.
****
disiang harinya mereka benar benar meninggalkan pulau itu, sedari tadi Kara hanya terdiam. Naira berpikir ayahnya itu sedang memikirkan kejadian nya, Naira menghampiri Kara yang duduk disofa. Naira duduk disamping Kara dan memeluk lengan Kara.
"papa jangan dipikirkan, Naira baik baik saja kok!" ucap Naira, Kara tersenyum dan memeluknya.
"papa sering mendengar, hal seperti itu sering terjadi pada seorang wanita cantik . dan papa tidak menyangka, hal itu terjadi pada putri papa!" ucap Kara, Naira tersenyum.
"tapi Naira tidak seperti wanita cantik itu, Naira wanita cantik seperti mama. hanya milik papa,!" ucap Naira, Kara tertawa.
"tapi setelah itu Naira bukan milik papa, tapi Naira milik suami Naira sendiri!" ucap Kara, Naira tersenyum dan mengangguk.
pembicaraan mereka didengar oleh Bagas, Bagas tersenyum dengan itu. ia mengingat dulu Naira yang masih kecil, sekarang sudah sangat besar dan cantik seperti Nadia. Bagas teringat pada Adrian yang mengatakan kekasih Naira, Bagas mencoba mencari Adrian.
terlihat Adrian berdiri dipinggir kapal, ia menikmati angin yang berhembus saat kapal itu melaju. Bagas menghampiri Adrian, Adrian sadar kehadiran Bagas saat Bagas memberinya rokok.
"terima kasih, aku tidak merokok!" ucap Adrian, Bagas tersenyum lalu melempar rokok itu ke laut. Adrian terkejut dengan itu, ia menatap Bagas.
"kalau begitu sama, aku juga tidak merokok!" ucap Bagas, Adrian merasa bingung.
"lalu kenapa kau memberiku rokok?" tanya Adrian, Bagas menyenderkan tubuhnya pada pagar pinggiran kapal.
"karena aku ingin melihat, seperti apa kekasih Naira. Bukankah kau bilang, kalau kau kekasih Naira?" ucap Bagas, Adrian mengangguk.
"terima kasih sudah memberinya pelajaran, semua yang kau lakukan itu mewakiliku!" ucap Bagas lagi, Adrian tersenyum.
"aku melakukan semua itu, karena memang perasaanku sama sepertimu. kau saja marah ketika mendengar ceritanya, bayangkan seperti apa marahku saat melihat langsung didepan kedua mataku!" ucap Adrian, mereka saling menatap.
"kenapa aku merasa kau mirip dengan seseorang?" ucap Bagas, Adrian memalingkan wajahnya agar Bagas tidak memperhatikannya.
"mungkin kau hanya salah mengira, bagaimana mungkin pernah bertemu. aku di sini baru, dan aku tidak pernah datang sebelumnya!" saut Adrian, Bagas masih tetap berpikir.
"siapa namamu?" tanya Bagas, Adrian sudah berkeringat dia takut kalau Bagas akan mengenali namanya.
"namaku.. Adrian.. " belum Adrian berucap, terlihat Naira datang membawa nampan berisi teh dicangkir. Naira berjalan menghampiri mereka dan tersenyum, Naira meletakkan nampan itu diatas meja.
"ini teh hangat, agar menghangatkan tubuh kalian!" ucap Naira, Adrian dan Bagas pun mendudukan dirinya dikursi dan menerima secangkir teh dari Naira.
"seperti kalian sudah akrab, pertengkaran itu tidak baik!" ucap Naira, Bagas tersenyum.
"kakak dia ini.." ucap Naira, Bagas mengangguk.
"kakak sudah tau, kami sudah mengobrol tadi. katakan padaku jika dia menyakitimu, aku akan berikan pelajaran yang pantas dia terima nanti!" ucap Bagas, Naira tersenyum memeluk Bagas.
"terima kasih!" ucap Naira, Bagas tersenyum dan mengusap kepala Naira. Adrian hanya diam dan tersenyum, Bagas memperhatikan Adrian pikirnya masih mengatakan pernah bertemu dengan Adrian sebelumnya.
****
jangan lupa like, komen dan berikan vote kalian😍
jika diperlukan berikan saran/kritikan kalian