Do You Remember?

Do You Remember?
Marah.



satu minggu sudah Riana berada dirumah sakit, selama itu Daniel selalu menjaga Riana setiap harinya. mereka bercanda dan bergurau setiap saat, rasa nyaman dan juga bahagia menyelimuti Riana. seperti sekarang Riana duduk disebuah kursi roda, tepatnya berada disebuah halaman rumah sakit. Riana menunggu Daniel untuk datang menjemputnya, karena mereka yang sedang asik mengobrol tiba tiba saja Daniel mendapat panggilan daurat dan harus meninggalkan Riana sendiri. Riana pun tidak keberatan, ia memilih duduk menunggu dan membaca buku novel favoritnya.


"apa aku mengganggu?" suara itu mengejutkan Riana, terlihat Ridwan tersenyum dan memberikan makanan ringan untuk Riana. karena yang diyakini Ridwan adalah, Riana akan suka makanan ringan yang ia bawa. dan benar terlihat Riana sedang dan tersenyum riang, Riana mendongakkan kepala dan tersenyum lebar pada Ridwan.


"terima kasih!" saut Riana, Ridwan mengangguk dan tersenyum.


"kenapa kamu disini sendirian?"


"oh aku lagi nunggu Daniel nih, tadi dia ada panggilan darurat. jadi aku menunggunya, bentar lagi juga datang!" ucap Riana tersenyum, Ridwan pun mendudukan dirinya dan menatap Riana.


"jadi Daniel sudah tidak marah?" ucap Ridwan, Riana menggelengkan kepalanya. Ridwan bertanya dengan menatap Riana, karena sudah sering kali Ridwan melihat keduanya bersama.


"aku tidak tahu, kami sudah tidak membahas itu lagi!" saut Riana, Ridwan mengangguk dengan itu. tiba tiba saja rintik hujan turun dari langit, tanpa bicara Ridwan mengangkat tubuh Riana dan membawa Riana masuk kedalam rumah sakit.


"maaf, aku harus mengangkatmu!" ucap Ridwan, dengan cepat ia masuk membawa Riana dalam gendongannya. Riana tercengang dengan itu, rasanya aneh sekali dan sangat canggung baginya.


"haduh kok hujan sih, padahal langitnya cerah!" ucap Riana mengalihkan kegugupannya, Ridwan mendudukan Riana pada kursi tunggu didalam rumah sakit.


"namanya juga cuaca, cepat berubah. kamu tunggu sini, kursi rodamu masih diluar aku akan mengambilnya!" ucap Ridwan, Riana mengangguk dan tersenyum.


"terima kasih dokter Ridwan!" teriak Riana, dari jauh Ridwan hanya mengacungkan jempol kanannya. Riana menatap kepergian Ridwan, dan kemudian menoleh kekanan dan kirinta untuk mencari Daniel. "mana ya Daniel, dia tahu nggak ya kalau aku disini!" ucap Riana, semenit kemudian pandangannya melihat hal yang merubah mood nya. siapalagi kalau bukan melihat Daniel bersama Karin, hati Riana merasa sakit melihat itu. rasanya ada yang menampar hatinya, ia tidak terima dengan kejadian yang dilakukan Daniel padanya. jadi panggilan darurat itu adalah panggilan dari wanita itu, yang diyakini Riana mereka telah memiliki hubungan khusus.


Ridwan yang baru saja datang, melihat Riana yang menatap Daniel dari jarak agak jauh. Ridwan mengangkat tubuh Riana untuk duduk dikursi roda, Riana masih terdiam tanpa mengatakan apapun. dari jauh Daniel melihat semua itu, dan terkejut ketika melihat Ridwan mengangkat tubuh Riana.


"aku akan mengantarmu kekamarmu ya?" ucap Ridwan, Riana tersenyum dan mengangguk. Ridwan pun mendorong kursi roda Riana dengan pelan, tapi langkahnya terhenti ketika Daniel mencegahnya berjalan.


"berikan padaku, aku akan membawanya!" ucap Daniel, Ridwan menatap Daniel tanpa mengatakan apapun. "maaf Riana aku terlambat, aku baru tahu kalau diluar hujan!"


"kamu temannya dokter Daniel ya?" suara itu membuat Daniel menoleh, bahkan Riana pun menoleh dan melihat siapa yang sedang bicara itu. "hai aku Karin, salam kenal!" ucap Karin yang mengulurkan tangannya, Riana menerima uluran tangan itu.


"Riana, salam kenal!" saut Riana lirih, Karin tersenyum tanpa memiliki beban apapun.


"oh iya semoga kamu lekas sembuh ya, dokter Daniel bilang tadi sedang menemani temannya yang sedang sakit. jadi kamu yabg sakit, aku turut prihatin ya!" ucap Karin yang tanpa henti bicara, Riana memegang kepalanya yang terasa pusing. Daniel yang semula terdiam langsung berlutu dihadapan Riana, Daniel menyentuh kening Riana yang berkerut.


"jangan mengerutkan dahi, ayo kubawa kamu istirahat!" ucap Daniel lembut, membuat Riana membalakkan matanya.


"tidak, dokter Ridwan bisakah aku merepotkan mu?"


"katakan!" saut Ridwan, Riana mendongakkan kepala untuk melihat Ridwan.


"dokter Ridwan tolong bawa aku keruanganku, aku ingin istirahat!" ucap Riana dengan wajah datar, Daniel dan juga Ridwan terkejut dengan itu.


"Riana aku ..."


"maaf aku tidak ingin menganggu kalian, dokter Ridwan bisakah?"


"oh bisa kok, kalau begitu aku bawa dulu dia!" ucap Ridwan pada Daniel dan juga Karin, dengan terdiam Daniel menatap kepergian Ridwan dan juga Riana.


"Mereka sangat cocok!" ucap Karin tersenyum, Karin tidak menyadari bahwa Daniel sekarang sedang murung dan kesal. Daniel tidak memperdulikan Karin yang ada disebelahnya, ia berjalan cepat meninggalkan tempatnya berdiri.



Riana termenung duduk ditempat tidurnya, ia menatap langit yang mulai cerah setelah diguyur hujan beberapa saat melalui jendela ruangannya. rasa gelisahnya ketika melihat kebersamaan Daniel dengan Karinbuat dirinya sekali lagi merasa kesal, Riana kesal hingga meremas selimut yang mengelimuti kakinya.


teman Daniel, itu lah yang membuat Riana kesal sampai sekarang.


kenapa kesal, Riana selalu mengenal Daniel yang selalu didekati wanita. bahkan disaat sekolah banyak sekali yang mendekat kearah Daniel, dan itu membuatnya jijik dan muak. dan bukan seperti sekarang, saat Daniel didekati seseorang hati Riana tidak tenang. rasa ingin tahu dan juga penasaran menyelimuti dirinya, ia terus bertanya seperti apa wanita yang dipilih Daniel, apakah wanita itu baik atau hanya berpura pura, dan bagaimana Daniel bisa begitu dengan wanita yang baru dikenalnya. Riana terus bertanya dalam hatinya, tapi tidak satupun terjawab dari semua pertanyaan itu.


suara ketukan pintu terdengar membuat Riana tersadar dari lamunannya, dilihatnya Naira mengintip yang membuat Riana tersenyum. dengan perlahan Naira membuka pintu dan menghampiri Riana, dengan senyuman Riana mengulurkan tangan.


"maaf aku baru datang!" ucap Naira, Riana tersenyum dan mengangguk.


"tidak masalah, aku senang kamu datang!" saut Riana, Naira tersenyum senang dengan itu. "kamu pasti lagi check up ya, gimana keadaan mereka?" tanya Riana memegang perut Riana, Naira mengangguk dan masih tersenyum.


"iya tadi mau lihat jenis kelamin sikembar satunya, tapi mengecewakan lagi!" ucap Naira lesuh, Riana merasa bingung melihat itu.


"kenapa?"


"posisi mereka tetap berlawanan, dokter Ridwan tidak bisa melihat jenis kelamin yang satunya. karena dia membelakangi kamera, kesal kan!" ucap Naira yang terdengar jengkel, Riana malah tertawa dengan itu.


"haha ... sudahlah, biarkan dia lahir dengan mengejutkan kita semua. eh kamu sama siapa kesini?"


"oh aku sama Adrian, dia ada diluar sedang bicara dengan Daniel!" saut Naira, mendengar nama Daniel Riana jadi teringat lagi pada kejadian beberapa saat lalu. Naira yang sadar dengan perubahan wajah Riana menjadi penasaran dan bingung "kamu apakabar dengan Daniel?" tanya Naira yang berhasil membuat Riana membalakkan mata, Naira menutup mulutnya dengan cepat.


"apanya yang apa kabar, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Daniel!" ucap Riana cepat, Naira mengangguk mengerti dengan itu. "lagi pula dia sudah punya kekasih!"


"gadis yang waktu itu, kamu ingat?" saut Riana dengan pertanyaan, Naira tampak berpikir kemudian teringat pada wajah Karin dalam benaknya.


"gadis pemberi hadiah itu ya, siapa namanya ..."


"Karin!" saut Riana, Naira mengangguk cepat.


"kamu cemburu ya?" ucap Naira berhasil membuat Riana terkejut, wajah Riana langsung berubah merah mendengar itu. Naira yang sadar itu semakin yakin, kalau Riana benar benar cemburu melihat Daniel bersama orang lain.


"o ... omong kosong ... ,ma ... mana mungkin aku ... aku cemburu!" ucap Riana terbata dan memalingkan wajahnya, ia juga tidak tahu ada apa dengan dirinya yang selalu kesal jika melihat kedekatan Daniel dan Karin. tidak mungkin itu cemburu kan. belum Naira menjawab, terlihat Adrian membuka pintu. Adrian masuk tidak sendiri melainkan bersama Daniel, dengan senyum Daniel menyapa Naira.


"apa kabar Naira?" tanya Daniel dengan senyuman, Naira mengangguk dan tersenyum.


"aku baik baik saja, bagaimana denganmu?" saut Naira, Daniel masih dengan senyumnya yang merekah melihat kearah Naira.


"aku baik baik saja!" saut Daniel kemudian menatap Riana, Daniel merasa tidak senang ketika Riana memalingkan wajahnya tanpa melihat dirinya. Adrian dan Naira sadar dengan keadaan itu, dua manusia itu sedang bertengkar dan mereka menyadari harus pergi dari sana. setelah kepergian Naira dan Adrian, Daniel mendekat kearah Riana.


"Riana ..."


"aku mau istirahat, aku tidak ingin bicara dengan siapapun!" saut Riana cepat kemudian berbaring membelakangi Daniel, Riana benar benar kesal pada Daniel.


"kenapa kamu marah padaku, aku ada keadaan darurat diruang ugd tadi. saat aku ..."


"aku tidak marah, aku hanya mengantuk Daniel. jangan berpikir yang tidak tidak, pergilah berikan aku waktu untuk tidur!" ucap Riana dengan datar, Daniel menghela nafasnya dan menarik selimut Riana sampai keatas.


"baiklah kita akan bertemu lagi nanti, selamat istirahat!" ucap Daniel kemudian berjalan keluar dari sana, Riana memejamkan matanya dan menghela nafas.


"teman, aku harus ingat semua kepedulianmu itu hanya karena kita adalah seorang teman!" gumam Riana sebelum alam mimpi merenggutnya, Riana menutup mata dan mulai hilang dalam kesadarannya untuk tidur siangnya.


****


siang yang sama Adrian mengajak Naira kesuatu tempat, sepanjang jalan Naira hanya terdiam dan bertanya tanya kemana Adrian akan membawanya. sampai pandangannya melihat sebuah rumah besar yang terlihat dari jauh, Naira merasa kagum melihat rumah itu. Naira berpikir rumah yang ditempatinya bersama Adrian, sudah cukup besar tapi rumah yang dilihat nya sekarang lebih besar. itu bukan rumah, melainkan sudah terhitung sebagai sebuah istana yang megah dan mewah.


"Adrian lihatlah istana itu!" ucap Naira, Adrian tersenyum tapi tetap fokus kedepan karena menyetir.


"itu rumah, bukan istana!" saut Adrian, Naira menoleh kearah Adrian.


"sebesar itu kamu bilang rumah, itu istana Adrian!" ucap Naira lagi, Adrian semakin terkekeh kecil mendengarnya.


"apa kamu menyukai yang kamu sebut istana itu?" ucap Adrian, Naira mengangguk kuat.


"tentu saja, siapa yang tidak suka dengan rumah atau istana sebesar itu. bayangkan seberapa mewah didalam rumah itu, aku melihat kemewahan rumah kita dan rumah papa tapi aku tidak bisa membayangkan rumah itu seperti apa!" ucap Naira berkhayal, Adrian mengusap rambut Naira dan tersenyum.


"kalau pengen tahu, ya kita harus masuk!" ucap Adrian setelah itu memutar mobil, Naira tidak percaya Adrian mengarah kearah istana yang ia sebutkan itu. Naira benar benar tidak percaya mobil yang ditumpanginya masuk kedalam halaman rumah itu, bahkan beberapa penjaga memberikan hormat dengan kedatangan mobil mereka.


"ayo turun, katanya pengen lihat rumah bagaikan istana ini!" ucap Adrian tersenyum, Naira masih tercengang dengan perkataan Adrian. "ini rumah kita sayang, rumah Adrian dan Naira dimasa depan bersama sikembar kita!" perkataan Adrian berhasil membuat Naira semakin terkejut, rumah kita, rumah yang besar bagaikan istana itu adalah rumahnya. ekspresi Naira tidak tertebak oleh Adrian, dan mulai merasa cemas.


"kita pulang sekarang!" ucap Naira masih dengan ekspresi datar, Adrian yang mendengar itu merasa heran. "aku ingin pulanh sekarang, kita harus bicara dirumah!"


"tapi kenapa, kita bicara didalam saja bagaimana?"


"pulang sekarang, atau aku pulang sendiri!" saut Naira, Adrian pun menghela nafas dan memasang sabuk pengalaman, ia mulai menjalankan mobilnya untuk meninggalkan rumah besar itu.


setelah beberapa jam sampai dirumah mereka, Naira turun dari mobil dan berjalan cepat kedalam rumahnya. Adrian berlari mengikuti Naira, karena bingung Naira yang terus terdiam.


"Naira kenapa kamu diam terus, apa aku membuat kesalahan?" tanya Adrian menarik tangan Naira, Naira pun terpaksa menghentikan langkah.


"kamu tanya kenapa, lalu kenapa kamu membeli rumah sebesar itu untuk kita?" saut Naira, Adrian paham bahwa Naira sedang marah karena rumah itu. tapi kenapa, seharusnya Naira senang kan. dirinya memberikan rumah besar yang megah dan indah, tapi kenapa Naira malah marah seperti itu.


"aku memberikan rumah itu sebagai hadiah, untukmu dan juga sikembar kita!".


"Adrian kenapa kamu tidak memberitahuku sebelum membeli rumah itu, aku ini istrimu seharusnya kamu meminta pendapat aku mau atau tidak!"


"aku ingin memberikan kejutan, tentu saja agar membuatmu senang. kenapa kamu marah seperti ini ..." tanya Adrian yang masih tidak mengerti, Naira melepas tangan Adrian dengan kasar.


"apakah rumahmu ini tidak cukup besar, apakah rumahmu ini tidak bisa menampung sikembar kita, apakah rumahmu ini sangat sempit untuk ditinggali kita berempat nantinya. apakah rumah ini kurang mewah, kurang megah, sehingga kamu membeli rumah lagi seperti itu." jelas Naira tersenggal, ia tidak bisa menahan betapa marahnya dirinya sekrang pada Adrian. membeli rumah tanpa persetujuan dirinya, dengan seenaknya saja. Adrian sendiri terdiam membeku mendengar kemarahan Naira, ia tidak menyangka Naira akan semarah itu padanya. Adrian sendiri kesal pada dirinya sendiri, yang lupa kalau Naira tidak suka kemewahan atau keistimewaan tersendiri.


"maafkan aku, aku tidak tahu ..."


"aku kesal, aku kesal karena kamu membeli rumah seperti itu. aku tidak butuh rumah sebesar itu, aku ..." ucap Naira terhenti, ia pun berjalan meninggalkan Adrian dan masuk kedalam kamarnya. Adrian tetap berdiri membeku ditempatnya, hal yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali terjadi padanya hari itu. apakah itu karena kehamilannya, hingga membuat efek seperti itu, Adrian tidak tahu dan merasa lesuh memikirkannya.


**


Jangan lupa like, komen dam vote kalian😍