
Oeek ...
Oeek ...
Oeek ...
suara tangisan bayi terus menggema, tangisan yang merasa lapar itu terdengar sangat keras. kemudian sebuah tangan terulur mengangkat salah satu bayi itu, tangan seorang ibu yang lembut membuat bayi itu tenang dan berhenti menangis.
"sayang ... mama disini, kamu lapar ya ..." ucap Naira dengan lembut, ia memberikan asi pada bayi laki lakinya. dengan bahagia dan senyum terpancar diwajahnya, kemudian bergantian dengan bayi perempuannya. "wah .. kamu juga lapar ya, maafkan mama ya sayang ..." ucap Naira lalu meletakkan bayinya didalam inkubator, Naira tersenyum dan menepuk kedua bayinya itu. "kalian lucu sekali, cepat sehat ya sayang ... "
"tidak !!, buka matamu, kamu jangan meninggalkan aku!!"
suara teriakan membuat Naira terkejut, Naira merapikan pakaiannya. karena merasa sangat penasaran dengan suara itu, Naira melangkah keluar secara perlahan dari ruangan tersebut. Naira melihat beberapa orang yang diyakini adalah keluarganya, tapi anehnya Naira seperti tidak terlihat oleh mereka saat berjalan dihadapan mereka.
"mama ada apa?" ucap Naira pada Nadia yang menangis, tidak ada sahutan dari Nadia yang menangis. seakan Naira tidak terlihat disana, Naira menoleh yang lainnya dan terlihat sedih dan menangis.
"Naira bangun sayang ... jangan tinggalkan aku ... jangan ..." suara Adrian yang serak membuat Naira menoleh, Naira terkejut melihat tubuhnya yang tidur dan terlihat pucat pasih.
"aku disini ..." ucap Naira, ia mendekat kearah tubuhnya sendiri. ia tidak percaya tubuhnya terbaring disana, apa karena itu dirinya tidak terlihat siapapun. "tidak mungkin, tidak mungkin !!!"
"bangunkan dia Daniel ... bangunkan istriku, anak anakku membutuhkannya ... bagaimana aku bisa merawat mereka ... tanpa adanya Naira ... bangunkan dia ..." rintih Adrian yang serak karena menangis, Daniel mencoba menenangkan Adrian dengan tenaganya.
"hei bangun Naira ... bagaimana bisa kamu tidur, anak anakmu membutuhkanmu ... siapapun bangunkan aku ... aku mohon ... hiks ... hiks ... anak dan suamiku membutuhkan aku, aku tidak ... tidak bisa meninggalkan mereka ... Naira bangun .... bangun .... aku bahkan tidak bisa menyentuh Adrian ... " teriak Naira menggoyangkan tubuhnya yang terbaring, tapi tidak ada pergerakan dari tubuhnya. tiba tiba Naira melihat Adrian yang berdiri dengan tegak, Naira menatap wajah sendu Adrian yang menghapus air matanya dengan kasar.
"kalau kau pergi seperti ini , maka aku akan menemanimu ... kau pergi, aku juga pergi ..." pernyataan Adrian membuat Naira terkejut, Adrian mendorong tubuh Bagas dan Daniel untuk keluar ruangan itu. Adrian mengunci pintu ruangan itu tanpa perduli teriakan orang diluar, ia berjalan mengambil sebuah cairan yang diyakini itu sangat berbahaya jika Adrian meminumnya. "aku yakin keluarga kita bisa menjaga sikembar, aku menyayangi mereka Naira ..."
"jangan Adrian, pikirkan mereka jika tanpa orang tua !!!" langkah Naira terhenti ketika dirinya harus tersandung dan jatuh kebawah, ia mendonggakkan kepala menatap Adrian.
"aku akan menyusulmu !" setelah mengatakan itu Adrian meminum cairan yang ia pegang, kemudian tersenyum dan jatuh tidak sadarkan diri.
"Adrian !!!"
*
*
*
*
Naira yang terbaring membuka matanya, ia menatap langit langit rumah sakit disana. Naira melihat sekelilingnya dengan mata yang lemah, dan merasa lega ketika semuanya hanya mimpi. mimpi yang seakan akan seperti sebuah sinetron, hal itu membuat Naira tersenyum sendiri karena merasa lucu dengan mimpinya. Naira menggoyangkan tubuhnya karena merasa tidak nyaman, kemudian merasakan genggaman seseorang ditangannya. siapa lagi kalau bukan Adrian, terlihat damai Adrian tidur disampingnya dengan tangan menggenggam erat tangan Naira.
"Adrian ... " suara lemah Naira menembus ke alam mimpi Adrian, dengan mengercapkan mata Adrian mendonggakan kepalanya. " Adrian ..." panggil Naira lagi, Adrian membalakkan mata melihat Naira yang tersenyum padanya.
"Naira ... kamu, kamu sudah bangun sayang ..." ucap Adrian senang, Naira mengangguk dan tersenyum lemah.
"jangan tinggalkan aku pergi ... aku tidak mau sendirian ..."
"tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sayang ... aku disini dan akan selalu menemanimu ..." ucap Adrian mengusap rambut Naira, ia mencium kening Naira dengan rasa bahagia. secara bersamaan Daniel masuk dan langsung memeriksa Naira, Daniel tersenyum menatap Naira yang tersenyum lemah kearahnya.
"apa kamu lelah?" tanya Daniel dengan menyuntik Naira, tubuh lemah Naira tidak merespon perkataan Daniel dan hanya menatap tanpa mengatakan apapun. "kamu tidur selama seminggu, kamu membuat kami semua takut!" ucap Daniel, Naira langsung terkejut dan menoleh kearah Adrian.
"seminggu?"
"iya sayang, tidak perlu dipikirkan. yang penting sekarang kamu sudah bangun, dan aku sangat bahagia!" ucap Adrian lembut, Naira mengangguk pelan kemudian teringat pada kedua bayi kecilnya.
"sikembar, mana sikembarku?" tanya Naira mencoba mendudukan dirinya, Adrian menahan tubuh Naira dengan sigap.
"kamu masih lemah Naira, mereka ada diruangan lain. mereka ada di inkubator sekarang ..."
"inkubator, kenapa ... ada apa dengan mereka ?" tanya Naira cemas, Adrian mengusap rambut Naira dengan lembut dan membaringkan Naira lagi.
"mereka baik baik saja, akan keluar dalam beberapa hari lagi!" ucap Adrian lembut, Naira mengangguk lemah dan membaringkan tubuhnya.
"lama sekali aku tidur, apa aku baik baik saja sekarang?" tanta Naira pelan, Daniel mengangguk dan menunjuk jempolnya.
"kamu sudah stabil, tapi harus istirahat dulu untuk mengembalikan tenaga dalam dirimu!" ucap Daniel tersenyum, Naira mengangguk dan tersenyum. karena perasaan bahagianya Adrian menidurkan kepalanya menatap Naira, dengan tersenyum Naira mengusap wajah dan rambut Adrian.
"maafkan aku, kamu pasti khawatir!" ucap Naira lemah, Adrian menggelengkan kepala dan mengusap bibir Naira.
"semuanya sudah berlalu, aku sudah tidak khawatir lagi!" saut Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk pelan.
"iya selamat untukmu, kamu menjadi seorang ayah sekarang!" ucap Naira lirih, Adrian mengangguk dan mencium tangan Naira.
"selamat untukmu juga, kamu menjadi seorang ibu sekarang!" ucap Adrian, Naira tersenyum senang. mereka melupakan sekitarnya, bahkan melupakan Daniel yang masih berada disana. rasa kesal Daniel melihat kemesraan mereka, sebenarnya ia bahagia karena melihat mereka bahagia lagi.
"ehem ... setidaknya biarkan aku keluar dulu, baru kalian bisa bermesraan!" ucap Daniel, Adrian dan Naira tidak menghiraukan perkataan Daniel dan membuat Daniel bertambah kesal. Daniel pun meninggalkan tempat itu dengan menghentakkan kaki, Adrian terus tersenyum bersama Naira disana.
****
keesokan harinya Naira terduduk dengan dirawat oleh Daniel, setelah mendapat kabar Naira terbangun semua keluarga langsung datang untuk menemui Naira. mereka merasa bahagia melihat Naira yang sudah tidak tidur lagi, bahkan terlihat wajah segar Naira meskipun masih merasa lemah.
"apa ada yang sakit?" tanya Daniel, Naira mengangguk pelan. "apa yang sakit, katakan padaku?" tanya Daniel lagi, tiba tiba saja wajah Naira memerah seperti menahan malu.
"kamu kenapa, apa sangat sakit sampai wajahmu merah?" ucap Adrian khawatir melihat wajah Naira, dengan lembut Adrian mengusap wajah Naira yang memerah.
"eh enggak kok, cuman sakit gitu aja!" saut Naira, Adrian menaikkan satu alisnya.
"iya Nai, mana nya yang sakit. aku akan menulis obat nyeri jika tahu letak sakitnya!" ucap Daniel lagi, Naira mengangguk pelan.
"itu wajar Daniel, karena wanita yang baru melahirkan akan sakit dibagian itu!" ucap Naira pelan, seketika Adrian dan Daniel mengerti maksud Naira bahkan hal itu yang membuat wajah Naira memerah.
"astaga, kenapa kau harus malu. aku ini seorang dokter, aku biasa mendapat hal sepeti itu!" ucap Daniel tersenyum kemudian menulis sesuatu dilembaran kertas, kemudian menyodorkan kertas itu pada Adrian. "pergilah tebus obat ini untuk sakit Naira!" ucap Daniel, Adrian menerima kertas itu dan mengangguk.
"Nai kita tuh kemarin bener bener takut, apalagi wajah kamu yang pucat tertidur. aku saja tidak bisa memastikan kapan kamu akan siuman dan nyangka akan seminggu lamanya, Adrian sampai stres gak mau ninggalin kamu sedetik pun!" jelas Adrian, Naira hanya mengangguk dan tersenyum.
"karena nya aku juga bisa bangun sekarang, dan mungkin cintanya yang membuatku terbangun!"
"iya iya, apalah aku yang seorang jomblo!" saut Daniel, lagi lagi membuat Naira tertawa. beberapa menit mereka mengobrol bersama, seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Naira menoleh kearah pintu, terlihat kepala Ridwan mengintip dan tersenyum melihat Naira.
"hai ... boleh aku masuk?" ucap Ridwan, Naira tersenyum dan mengangguk. Ridwan dengan tersenyum menghampiri Naira, ia memberikan sebuah obat pada Daniel.
"apa ini?" tanya Daniel menerima pemberian Ridwan, dengan tersenyum Ridwan menatap Naira.
"bagaimana keadaanmu?"
"aku baik, terima kasih!" saut Naira, Ridwan tersenyum lalu menatap Daniel.
"itu dari pak Adrian, katanya obat untuk Naira!" ucap Ridwan, Naira dan Daniel terkejut dengan itu.
"loh kok dikasih ke kamu, Adriannya mana?" tanya Naira, Ridwan tersenyum.
"dia itu sibuk, mau bawa sesuatu buat kamu dan tangannya penuh untuk membawa ini!" saut Ridwan, Naira hanya ber oh dan penasaran apa yang dibawa Adrian untuknya. Daniel dan Ridwan sedang mengobrol, obrolan nereka tidak dimengerti oleh Naira karena membahas tentang keahlian masing masing.
"sayang ..." suara Adrian memanggil Naira, membuat ketiga orang didalam itu menoleh kearah pintu. Naira terpenganga saat melihat Adrian, bukan dengan Adrian melainkan dengan sesuatu yang dibawa oleh Adrian.
"itu ..." ucap Naira terhenti dan tanganmu terulur menutup mulutnya, ia merasa senang sampai meneteskan air mata.
"iya kesibukan Adrian adalah, membawa bayi kembar kalian yang sudah sehat!" ucap Ridwan senang, tangan Naira terukur ketika Adrian mendekatinya.
"mereka akan tinggal disini sampai kamu sembuh, jadi kamu bisa melihat mereka selama kamu disini!" ucap Adrian lembut, ia memberikan kedua bayi itu pada gendong Naira. dengan gemas Naira mencium pipi gembul bayi kembarnya secara bergantian, kedua bayi itu tertidur sangat pulas dan merasa nyaman.
"oh iya kamu sudah bileh menyusui mereka!" ucap Ridwan, Naira mengangguk senang.
"Adrian ... lihat rambut yang cewek sama kayak kamu , dan yang cowok rambutnya kayak aku ! " seru Naira yang bahagia, Adrian mengusap kepala Naira dan mencium pucuk kepalanya.
"kamu harus sehat sayang, agar kamu bisa pulang dan menemani sikembar tidur nantinya. terutama, menemani suamimu tidur!" ucap Adrian, Naira tertawa pelan karena merasa lucu.
"aku akan sehat, pasti itu!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan mencium pucuk kepala Naira kembali.
"aku mencintaimu ..." ucap Adrian lembut, Naira tersenyum.
"aku juga mencintaimu ..." saut Naira senang, mereka tersenyum bahagia bersama. kebahagiaan mereka melupakan Daniel dan Ridwan yang ada disana, dengan kesal Daniel menatap mereka. lagi lagi mereka melakukan hal romantis dihadapan Daniel, dan semakin membuat Daniel kesal dan iri pada kemesraan itu.
"kami para jomblo akan keluar dari sini, kalian lanjutkan bermesraan!" ucap Daniel kesal, Ridwan hanya tertawa dengan itu dan diikuti tawa Naira dan Adrian.
"oh Iya aku mau bulang sesuatu pada kalian, kalian tidak boleh melakukan hubungan suami istri dulu!" ucap Ridwan, membuat Adrian menoleh dan menaikkan satu alisnya.
"kenapa?" tanya Adrian heran, Daniel merasa kesal dengan itu.
"ya kalau kamu mau istri kamu merasa sakit, lakukan saja. kalau kamu tidak mau istrimu sakit, maka jangan lakukan dalam jangka waktu lama!" saut Daniel ketus, Naira dan Ridwan menahan tawa mendengar itu.
"iya tidak masalah, yang penting tidurku masih dipeluk oleh seseorang!" saut Adrian mengejek, Daniel semakin jengkel dengan itu.
"kau sangat menyebalkan jika tidak sedih, lebih baik kau itu bersedih saja!" saut Daniel lagi, Adrian melotit kearah Daniel yang terus melihatnya.
"kau saja yang sedih, kenapa ...."
Oeek ...
Oeek ...
Oeek ...
suara tangisan yang memecah pertengkaran Adrian dan Daniel, membuat keduanya terdiam dan menatap kesatu arah. terlihat sikembar menangis secara bersamaan, hal itu membuat Adrian bingung dan menatap keduanya.
"baiklah kami pergi dulu, selamat menjadi orang tua!" ucap Daniel melangkah keluar, Ridwan tersenyum dan melambaikan tangannya mengikuti langkah Daniel.
Adrian mengambil satu bayi kembar nya, dengan hati hati Adrian menimang bayi laki lakinya dengan lembut. Naira sendiri tersenyum melihat Adrian menimang bayi nya, ia menyusui bayi perempuannya hingga tertidur dan bergantian dengan bayi laki lakinya.
"apa dia sudah tidur?" bisik Adrian, Naira mengangguk dan merapikan pakaiannya yang selesai menyusui. "wah lihatlah Nadira ku baru saja tidur ..." ucap Adrian yang tiba tiba menyebutkan sebuah nama, Naira menoleh dan menatap Adrian.
"Nadira?" ucap Naira, Adrian mengangguk dan tersenyum.
"Nadira Putri nama yang cantik untuk nya, secantik kamu!" ucap Adrian, Naira tertawa kecil dengan itu.
"Adnan ku juga sangat ganteng kayak kamu !" saut Naira, Adrian langsung tersenyum dengan itu.
"Oke, Adnan Putra memang ganteng sepertiku!" ucap Adrian tersenyum, Naira mengangguk dan mencium bayi Adnan yang tidur dalam gendongannya.
"kalian harus sehat terus, terima kasih sudah hadir dikehidupan papa dan mama sayang!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mendekat kearah Naira.
"kamu istri terbaik didunia, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang besar padaku!" ucap Adrian mencium kening Naira dan tersenyum, Naira mendongakkan kepala dan tersenyum pada Adrian.
"sama sama sayang, kamu juga suami terbaik didunia!" saut Naira dengan bahagia, Naira menggendong bayi Adnan dengan bahagia begitu juga dengan Adrian.
perjuangan cinta mereka tidak sia sia, bagaimana pun mereka terpisah juga banyak cara bagaimana bisa mereka kembali. kesabaran Adrian yang selalu mencintai Naira, membawa hasil yang terbaik untuknya. Naira menjadi wanita paling beruntung karena dicintai Adrian, karena tidak banyak seseorang yang akan mencintai pasangannya dengan sabar seperti Adrian.
*****
note : untuk gambar ini hanya imajinasi author ya, maaf jika gambar sama dengan cerita novel karya yang lainnya. karena author juga mendapat gambar dari pinteres, tolong dimaklumi.