
kehidupan Adrian dan Naira menjadi lengkap setelah kedatangan si kembar mereka, banyak orang mengagumi si kembar yang mirip dengan kecantikan dan juga ketampanan Adrian. Adrian yang tidak pernah membayangkan hal itu terjadi, merasa bahagia karena memiliki keluarga kecil sendiri. apalagi melibatkan orang yang paling ia cintai, dan kini ia memiliki si kembar untuk membagi cintanya pada Naira.
tidak lama setelah kebahagiaan lahirnya sikembar, kabar baik terjadi pada Riana. hari ke lulusan yang ditunggu Riana pun terjadi, setelah enam bulan lama menunggu hari bahagianya. dengan dihadiri semua keluarga kebahagiaan Riana bertambah di area kampusnya.
setelah lelah merayakan hari kelulusan, Riana pulang kerumah bersama semuanya. tapi sesaat dirinya ingin istirahat, terlihat Naira yang sedang berjalan kearahnya dengan mendorong kereta bayi kembar nya.
"Selamat hari kelulusan tante, ini bunga halum buat tante" ucap Naira datang membawa bunga ditangannya, dengan menerima bunga itu Riana tersenyum dan mebungkuk untuk melihat si kembar yang sedang bahagia dengan mainan yang dipegangnya.
"terima kasih keponakan tante, besok tante kasih kalian hadiah ya ..." ucap Riana mencubit pipi keduanya dengan gemas, sikembar pun tertawa lucu dengan kelakuan Riana, seakan mereka menyukai hal yang dilakukan Riana.
"eh dimana Adrian?" tanya Riana, Naira menunjuk kearah belakangnya yang menunjukkan Adrian sedang bicara dengan Kara dan juga Vano. lalu pandangan Riana yang melihat Daniel terkejut, karena tidak menyangka Daniel akan datang kerumahnya. "kenapa dia disini?" gumam Riana, Naira mendengar gumaman itu dan tersenyum.
"oh iya, maaf ya baru datang sekarang. tadi pagi itu ngurusin si kembar karena rewel, dan harus nungguin Adrian juga pulang!" ucap Naira, Riana tersenyum dan mengangguk.
"iya gak papa kok, kamu dateng sekarang aku senang. karena bisa liat si kembar juga, mereka tambah besar gemes ... " saut Riana yang gemas sendiri dengan bayi Adnan dan juga Nadira, Naira hanya mengangguk.
"hm ... gimana sama Daniel, udah ada kemajuan?" tanya Naira, Riana menaikkan satu alisnya dan menatap Naira.
"kemajuan?, kemunduran boleh enggak!" saut Riana tertawa, Naira menggelengkan kepala karena merasa kesal dengan ucapan Riana.
"halah, awas aja kalau sampai Daniel diambil orang!"
"siapa juga yang peduli, biarin aja toh. lagian Daniel udah punya orang, kalau sampai sama aku berarti aku orang ketiga dong!" saut Riana cepat, Naira terkejut dengan itu.
"kok gitu?" tanya Naira, Riana tersenyum. "oh Daniel udah punya pasangan, Siapa?" tanya Naira lagi, Riana menggelengkan kepala.
"itu loh cewek yang ngasih dia hadiah!" ucap Riana, Naira hanya mengangguk mengerti. "makanya sekarang aku malas kalau dekat Daniel, gak enak sama ceweknya itu!"
"heh yang ada orang itu yang orang ketiga, bukan kamu. kamu bilang kita kenal Daniel sejak dulu, jadi kan kamu udah mengenal Daniel sejak lama. lagian kayaknya Daniel suka kekamu, dan gak mungkin sama cewek itu." ucap Naira dengan melihat kearah Riana, ia kesal karena Riana tidak memperdulikannya sama sekali, dan malah bermain dengan si kembar. "hih ... kamu dengar gak sih?" ucap Naira kesal, Riana hanya menggelengkan kepalanya.
"gak dengar dan gak pengen dengar, sini ah aku mau gendong baby Adnan badannya gemoy banget!" ucap Riana dengan mengakat bayi Adnan, Riana menimang bayi Adnan dengan gemas dan juga hati hati. "Nai kasih aku satu ya, kamu yang itu aja baby Nadira!"
"eh enak aja, masak iya si kembar mau dipisahin!" sela Naira, Riana tertawa keras dengan itu. Riana membawa bayi Adnan pergi dari sana, dengan senang ia mengobrol sendiri dengan keponakan yang sudah menjadi kesayangannya itu. beberapa menit kemudian Adrian menghampiri Naira yang sedang bicara dengan bayi Nadira, Adrian tersenyum saat melihat bayi Nadira tersenyum senang kepadanya.
"boleh gak nih aku gendong?" ucap Daniel menghampiri mereka, Adrian menolah dan menatap Daniel.
"gak boleh, dia itu gadisku kamu gak boleh sentuh!" ketus Adrian, Naira sedikit menahan tawa mendengar itu.
"astaga, sebelumnya kau menjadi suami posesif dan sekarang menjadi ayah posesif!" saut Daniel, Naira tertawa dengan menutup mulutnya. Daniel pun mengambil bayi Nadira tanpa peduli pada Adrian, dan merasa senang ketika bayi Nadira tidak menangis dalam gendongannya. "wah dia menyukaiku, dia tahu kalau aku om ganteng!" ucap Daniel, ia tersenyum saat bayi Nadira memegang pipinya dengan tertawa.
"heleh narsis sekali!" sela Adrian, Daniel hanya tertawa dan menimang bayi Nadira yang sedang menggigit jempolnya dengan gemas.
"eh jangan ngemut jempol dong sayang!" ucap Naira dengan menarik jempol dari mulut bayi Nadira, tiba tiba saja bayi Nadira menangis dengan suara yang tiba tiba merengek.
"unchh sayang ... cup cup ... disini ada om ganteng, jangan menangis ..." ucap Daniel lembut dengan menimang bayi Nadira, tiba tiba saja suara tangisan itu terhenti dan mata bulat berbinar menatap Daniel. "loh kan langsung diam, ini om ganteng. gak boleh ngemut jari ya, nanti temennya setan. yuk liat empus disana, heh ayah posesif aku bawa baby Nadira dulu ya ... " ucap Daniel dengan lembut menarik jempol kecil itu, kemudian pergi dari sana membawa bayi Nadira tanpa mendengar persetujuan Adrian. Naira melihat itu tersenyum sendiri, ia melihat wajah Adrian yang kesal pada Daniel.
"heh .. kamu kenapa, dia tidak menculik berlianmu kok!" ucap Naira mengalungkan tangannya pada lengan Adrian, dengan menghela nafas Adrian menatap Naira.
"kenapa aku merasa cemburu, menyebalkan!" ucap Adrian, Naira tertawa dan memeluk Adrian dengan gemas. Adrian pun tidak menyia nyiakan kesempatan itu, ia membalas pelukan itu dengan erat dan menciumi pipi Naira yang cubby dan menggemaskan.
"Adrian geli, nanti ada yang lihat!" ucap Naira mendorong Adrian, tapi bukannya menjauh Adrian semakin mendekatkan Naira padanya.
"pipimu semakin bulat dan menggemaskan, bagaimana bisa aku menahan tidak menciumnya!" ucap Adrian kembali mencium pipi Naira, mendengar itu Naira hanya tertawa dan mencoba menolak ciuman dari Adrian.
****
Daniel menggendong bayi Nadira dengan senang, ia menunjukan seekor kucing yang sedang tidur dibawah pohon yang rindang. Daniel juga menunjukkan burung yang terbang, bayi Nadira terlihat nyaman saat bersama Daniel yang sedang menggendong nya.
tanpa disengaja langkahnya terhenti ketika melihat Riana dari jauh, ia menatap Riana yang sedang menggendong bayi Adnan dan bermain kucing disana. Daniel tersenyum melihat wajah bahagia Riana yang berbicara sendiri, sampai tangan bayi Nadira menyentuh pipinya. membuatnya sadar dari lamunan, dan mencium pipi bayi Nadira yang cubby dengan gemas.
"eh ternyata disini kakak Adnan, baby Nadira nyariin loh dari tadi!" ucap Daniel yang menghampiri Riana, dengan tersenyum Riana menoleh kearah Daniel.
"oh itu baby Nadira ya, sini main kucing sama kakak Adnan nya!" saut Riana, Daniel mendekat kearah Riana. Daniel menatap Riana yang asik sendiri dengan si kembar, enyah apa yang ingin dikatakan Daniel dengan ragu.
"hm ..., Riana ... " panggil Daniel, Riana menoleh dan hanya terdiam. "kamu bisu ya?" ucap Daniel, Riana memukul lengan Daniel dengan tangannya.
"enak aja, ada apa sih?" saut Riana kesal, Daniel tersenyum dengan itu.
"iya makasih, gpp kok . lagian udah banyak orang yang datang, gak terlalu sepi juga!" ucap Riana, Daniel hanya bingung dan terdiam tidak tahu harus mengatakan apa. lalu tangisan si kembar memecah keheningan diantara Daniel dan juga Riana. "eh kok nangis, haduh bareng lagi!" ucap Riana menimang bayi Adnan yang menangis, Daniel pun menimang bayi Nadira yang ada dalam gendongannya.
"cup cup cup , baby Nadira kenapa menangis. disini ada om ganteng, gak bileh nangis yaa..." ucap Daniel, tanpa disadari Riana tertawa mendengar ucapan Daniel.
"haha ... Daniel kamu narsis sekali, baby Nadira masih kecil masak sudah mendapat perkataan racun seperti itu ..." ucap Riana tertawa, Daniel ikut tertawa mendengar itu.
"oh tenang, ketampananku itu bukan racun!" ucap Daniel, Riana tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"udahlah, sepertinya mereka menangis karena haus. harus kasih ke Naira nih!" ucap Riana berjalan melewati Daniel, pada saat bersamaan kakinya yang baru saja sembuh merasa sakit dan nyeri. bahkan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, dan membuatnya tidak bisa berdiri dengan tegak. "Daniel ..." teriak Riana dengan memeluk bayi Adnan erat, Daniel yang melihat itu langsung menangkap Riana dengan cepat.
"hati hati .. " ucap Daniel, Riana menatap Daniel dari jarak yang sangat dekat. Daniel pun menatap wajah Riana yang berkeringat.
"hei kalian !!!" suara teriakan membuat Daniel dan Riana terkejut, mereka menoleh keasal suara dan melihat Adrian berjalan kearah mereka bersama Naira. mereka tersadar ditangan mereka masih ada si kembar, dengan cepat Daniel membantu Riana berdiri dan mencoba menimang bayi Nadira.
"haduh Riana udah aku bilang, kakimu itu sebaiknya pake alat bantu aja deh ..." ucap Naira mengambil bayi Adnan, Riana hanya tersenyum dan menggaruk rambutnya.
"sini berikan Nadira padaku, kalau tadi kau menjatuhkannya, aku patahkan tanganmu!" ucap Adrian dengan ketus, bukannya marah Daniel hanya tertawa.
"maafkan aku, Riana besok kerumah sakit!" ucap Daniel, Riana menoleh dan menaikkan satu alisnya.
"kenapa, ngapain juga aku kesana!" saut Riana, Daniel tersenyum .
"aku periksa kakimu lagi, karena sudah dua bulan belum aku periksa lagi!" ucap Daniel, saat Riana ingin maju menolak kakinya mulai terasa nyeri lagi dan harus diam ditempatnnya.
"oke, aku akan pergi!" ucap Riana, Daniel mengangguk dan tersenyum. Adrian melihat wajah Daniel yang terlihat puas, puas karena mempunyai kesempatan untuk bertemu Riana lagi besok.
"jomblo sejati!" ucap Adrian dengan santai menggendong bayi Nadira, dan tidak sadar bahwa Daniel menatapnya kesal. Naira yang sedang menimang bayi Adnan pun, menahan tawanya mendengar perkataan Adrian begitu juga dengan Riana disampingnya.
****
sesuai permintaan Daniel, Naira datang kerumah sakit untuk menemuinya. kaki yang lama tidak terasa nyeri, kini ia rasakan lagi. Riana berjalan dengan membawa makan siang, yang ia persiapkan untuk Daniel.
"Riana ..." panggil seseorang, Riana pun menoleh dan melihat Ridwan. dengan santai Ridwan berjalan ke arah Riana, dengan senyuman Riana menyapa nya.
"hai ..." ucap Riana, Ridwan tersenyum dan mengangguk.
"selamat ya, kemarin katanya hari kelulusanmu!" ucap Ridwan memberikan sebuket bunga, Riana tersenyum dengan itu.
"oh iya, makasih ya ..." ucap Riana menerima bunga Ridwan,
"mau keruangan Daniel ya?" tanya Ridwan, Riana pun hanya mengangguk dan tersenyum. "Daniel beruntung mempunyai wanita seperti kamu ..."
"ahh jangan seperti itu, kami hanya teman dari kecil aja kok. jadi ya biasa sih deket, karena memang dulu kemana mana bertiga dengan Naira juga." saut Riana, Ridwan mengangguk dan melihat rantang makan siang dari kaca yang dibawa oleh Riana.
"wah kayaknya enak tuh ..."
"oh ini, tadi mau periksa kakiku ke Daniel. terus aku liat udah siang sih, jadi aku buatin makan siang buat dia. lain kali kalau mau, aku buatkan untukmu!" ucap Riana senang, Ridwan pun mengangguk senang.
"Wah mau dong, aku tunggu ya makan siang buatan kamu!" ucap Ridwan senang, Riana pun tersenyum dan mengangguk.
"haha iya iya, oke aku kesana dulu ya ..." ucap Riana, Ridwan pun mengangguk dan menatap kepergian Riana dari jauh.
"semoga Daniel cepat bertindak, jika tidak, aku yang akan bertindak!" gumam Ridwan menatap Riana, sejak berteman dengan Riana perasaan suka tiba tiba saja muncul. Ridwan selalu ingin bertemu Riana dimana pun, jika sudah bertemu rasa hatinya menjadi lega. tapi Ridwan tahu benar, Daniel sangat menyukai dan mencintai Riana. meskipun Riana tidak tahu dengan perasaannya, Ridwan yakin kalau Riana juga menyukai Daniel meskipun Riana tidak sadar dengan perasaannya sendiri. Ridwan pun tidak ingin membuat keduanya pisah, ia berharap Daniel cepat mengatakannya pada Riana secepatnya.
Riana sampai diruangan Daniel, tanpa mengetuk Riana membuka ruangan Daniel. Riana berniat mengejutkan Daniel, tapi Riana sendiri yang merasa terkejut. terkejut karena melihat Daniel yanh sedang memangku seorang wanita, yang tidak lain adalah Karin. karena terkejut Riana menjatuhkan rantang kaca yang ia bawa, hingga membuat Daniel dan Karin terkejut.
"Riana ... " ucap Daniel, Riana terkejut dan segera membereskan pecahan kaca itu dengan terburu buru. "jangan dipungut, nanti kamu terluka !" ucap Daniel menunduk, Riana menggelengkan kepalanya.
"ma ... maafkan a ... aku, a ... aku aku ...menganggu kalian!" ucap Riana gemetar, ia memungut pecahan kaca itu dengan cepat. "akh !!" pekik Riana saat tangannya tergores pecahan kaca, mendengar itu Daniel menarik tubuh Riana.
"sudah kukatakan, jangan memungut itu karena kau akan terluka!" ucap Daniel dengan kasar, Riana mencoba melepaskan tangannya tapi Daniel mencekramnya dengan kuat. "kenapa kau tidak mendengarkan aku !"
"jangan berteriak kepadaku, lepaskan aku !" saut Riana dan mendorong Daniel, Riana mendirikan tubuhnya dan pergi dari sana. Daniel tidak bisa menahannya, karena Riana berlari dengan sangat cepat. hal yang diperhatikan Daniel adalah kaki Riana, dan darah yang ada ditangannya.