
Daniel Abraham adalah seorang dokter diusianya 25 tahun, sejak kecil Daniel ingin menjadi dokter karena melihat kedua orang tuanya yang bekerja sebagai dokter. setelah melanjutkan studynya selama beberapa bulan, Daniel resmi menjadi dokter. menjadi dokter dalam beberapa bulan, membuat Daniel menjadi dokter muda tenar disalah satu rumah sakit. dokter dengan ketampanannya, keramahannya, kesopanannya yang membuat semua orang terpikat padanya hanya dengan sekali melihatnya. meskipun dengan kelebihan semua itu, Daniel masih memiliki kekurangan. kekurangannya adalah, selalu gagal dalam hal mencintai.
"dokter Daniel ada pasien anak kecil!" ucap seorang perawat, Daniel segera berdiri dan mengikuti perawat itu.
"hei dokter jangan suntik adikku!" ucap seorang anak perempuan, karena suara itu Daniel menoleh dan tersenyum melihat anak itu.
"kenapa emangnya, kalau adikmu sakit harus disuntik!" ucap Daniel, anak perempuan itu menggelengkan kepala.
"jangan, aku gak mau membuat adik sedih!" sautnya, Daniel tertawa karena merasa gemas. digendongnya anak perempuan itu dan di dudukannya dekat adik perempuan yang ia maksud.
"kalau adikmu tidak sakit parah, dokter tidak akan menyuntiknya. ini hanya demam tinggi, beberapa hari juga akan sembuh!" ucap Daniel lembut, ia memeriksa anak perempuan yang tertidur lemas.
"tidak disuntik?"
"tentu tidak!" saut Daniel, terlihat kedua anak itu merasa senang. melihat kesenangan itu, Daniel teringat pada Naira dan juga Riana.
*
*
*
Flashback pertemanan Daniel dengan Naira dan Riana.
beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya ketika usia Daniel masa remaja. Daniel duduk dengan sebuah hp ditangannya, Daniel duduk dibawah pohon dengan memainkan sebuah game online. dari kecil Daniel suka menyendiri dan lebih memilih sibuk dengan kesenangan nya sendiri, tanpa teman yang akan menganggunya.
"kakak jangan ganggu aku, aku tidak tau apapun!" suara seseorang membuat Daniel berhenti dari aktivitasnya, Daniel menoleh dan melihat beberapa anak laki laki yang menindas seorang anak perempuan.
"hei kamu sangat imut, berikan jajanmu ini!"
"jangan, ini untuk saudariku!"
"kamu ini adik kelas, kamu harus nurut sama kakak kelas!"
"hei jangan ganggu dia!" cela Daniel yang membuat mereka menoleh, Daniel hanya menghela nafas ketika tahu mereka adalah teman temannya. dengan wajah santai Daniel menghampiri mereka, tapi pandangan nya pada anak perempuan yang sedang melindungi barangnya.
"eh Daniel, gak sibuk?" Daniel mengacuhkan suara itu, Daniel menghampiri anak perempuan yang sudah teman temannya tindas itu.
"hei adik kelas jangan menangis!" ucap Daniel, anak perempuan itu mengangguk. "kalian jangan menindas anak ini dong, lihat dia sampai menangis!" ucap Daniel, anak laki laki itu langsung berlari begitu saja tanpa mengatakan apapun. Daniel dengan bangga telah membela anak perempuan itu, dengan mata berkaca kaca anak perempuan itu tersenyum pada Daniel.
"terima kasih kakak!"
"jangan panggil kakak, aku tidak suka. panggil saja namaku ya, namaku Daniel!" ucap Daniel, anak perempuan itu tersenyum dan mengangguk. "namamu siapa?" ucap Daniel lagi.
"namaku Naira, hihi ..." ucap anak perempuan itu yang tidak lain adalah Naira, Daniel terdiam menatap Naira kecil yang tersenyum manis kearahnya.
"heii kamu!!" teriak seseorang, terdengar suara melengking seorang anak perempuan. Naira dan Daniel terkejut, mereka menoleh kearah suara itu dan terlihat seorang anak perempuan berdiri dengan rok pendek dan permen ditangannya. Daniel merasa anak perempuan itu nakal, karena terlihat dari penampilannya yang seperti seorang anak laki laki.
"kamu, kamu menganggu adikku!" ucap anak perempuan itu, terkejutnya anak itu menendang Daniel hingga tersungkur disebuah semak semak. Naira terkejut dan menarik anak perempuan itu, "beraninya membuat adikku menangis, rasakan tendanganku!"
"Riana kamu ini kenapa, dia itu menolong aku ..." ucap Naira, anak perempuan yang tidak lain adalah Riana hanya menatap Daniel dengan perasaan tidak bersalah.
"aduhh sakit tauk, kamu pikir semak ini kasur yang empuk. main tendang tendang aja, kamu ini kan perempuan!" ucap Daniel yang kesal, Riana tertawa saat melihat wajah Daniel yang hitam oleh tanah. "tidak sopan, harusnya kamu minta maaf bukannya tertawa!"
"hei lihat itu, haha wajahmu hitam!" ucap Riana, Daniel terkejut dan mengusap wajahnya. Daniel langsung berlari karena merasa malu, Daniel membersihkan wajahnya yang kotor itu.
"wah wajahku jadi hitam, dasar anak nakal!" ucap Daniel kesal, Daniel melihat Riana yang masih tertawa menarik Naira pergi dari sana. "dasar hitam, jelek, kucel, hidup lagi. masih saja tertawa, aku gak mau ketemu dengannya lagi!" ucap Daniel kesal, ia segera masuk kedalam kelasnya.
tapi apa daya Daniel yang harus satu sekolah dengan Naira dan juga Riana, saat Daniel tidak ingin bertemu pun Riana akan muncul secara tiba tiba. disela sela itu, Daniel merasa bahagia saat melihat Naira. dimanapun ia bertemu Naira, Daniel akan mengikuti Naira secara diam diam dari belakang. sampai akhirnya Daniel dipergoki Riana yang terus mengikuti Naira, sejak Riana tahu Daniel selalu bernasib buruk akibat rencana yang Riana buat.
"aduh ..." ucap Daniel ketika merasa ada sesuatu dibalik sepatunya, dengan cepat Daniel melihat sepatunya. ternyata sebuah paku menancap disepatunya, untung saja tidak sampai melukai kaki nya yang mulus.
"aku berharap kakimu tertusuk paku itu!" Daniel terkejut dengan suara itu, suara siapa lagi kalau bukan suara Riana.
"hei kau ini hantu ya, membuatku terkejut saja!" teriak Daniel, dengan santai nya Riana menjitak kepala Daniel dengan sebuah batu yang ia sentil.
"jangan mengikuti Naira terus, atau kamu nanti aku kunciin dikamar mandi!" ucap Riana, Daniel merasa kesal dengan itu.
"kamu itu adik kelas, hormati dong aku ini kakak kelasmu loh!" ucap Daniel, Riana hanya menatap dengan tatapan acuh.
"ada ya kakak kelas sepertimu, jelek!"
"eh kamu itu jelek, kamu gak tahu aku sih cowok paling keren!" ucap Daniel dengan bangga, Riana yang melihat itu merasa jijik.
"eh Daniel yang terhormat, aku tidak peduli siapa kamu. kamu gak boleh ngikuti Naira terus, nanti aku laporin guru bk mauuu!" ucap Riana sedikit kencang, mereka hanya saling melotot tanpa ada yang mengalah.
"kalian disini?" suara Naira membuyarkan keributan mereka, dengan senyum manis Naira berjalan dengan keimutannya kearah Riana dan juga Daniel.
"hai Naira ... " ucap Daniel, Naira tersenyum dan melambaikan tangan.
"minggir, jangan liat liat Naira seperti itu!" ucap Riana menyenggol tubuh Daniel, dengan kesal Daniel masih tersenyum untuk melihat Naira.
"oh iya Daniel ngapain disini?" ucap Naira, Daniel masih memasang senyumnya.
"oh ini tadi habis sholat, terus ketemu kecoak jadinya ..."
"siapa maksudmu kecoak?" cela Riana yang tidak terima dengan perkataan Daniel, dengan menahan tawa Daniel menggoyangkan tangannya.
"habis ini Daniel ujian ya, semangat ujian nya!" ucap Naira, dengan senang berbunga bunga Daniel memegang lengan Naira.
"makasih Naira, aku sebenarnya takut karena ujian smp ini sangat susah!" ucap Daniel, Riana memukul tangan Daniel yang sembarang pegang itu.
"wahh, jangan takut. harus semangat belajar dan terus berdoa, tahun besok aku sama Riana loh yang ujian!" ucap Naira, Daniel tersenyum dengan itu.
"iya Naira semangat ya, kamu pasti bisa!"
"udah udah, pergi sana. belajar yang pintar, jangan pacaran mulu!" ucap Riana, Daniel yang kesal menyenggol tubuh Riana. tidak mau kalah, Riana menyenggol tubuh Daniel hingga tersungkur. melihat itu Naira merasa kasian dan juga harus menahan tawa, karena bukan hal baru baginya melihat keributan mereka.
setelah beberapa minggu pertemuan mereka, Daniel jadi sering bertemu Naira dan juga Riana didalam perpustakaan. dengan alasan belajar, Daniel menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Naira. hal itu membuat Riana kesal, karena merasa Daniel mencoba mendekati Naira.
beberapa bulan telah berlalu, Daniel telah lulus ujian dan melanjutkan ketingkat sma. Daniel merasa tidak senang ketika harus pergi dari Naira, tapi tidak dengan Riana yang merasa puas atas kepergian Daniel.
"aku puas Naira, si Daniel itu sudah pergi!" ucap Riana pada Naira yang membaca buku, Naira hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"awas rindu loh kamu!" ucap Naira, Riana kesal dan melempar buku pada Naira yang tertawa.
beberapa bulan pun berlalu sampai hari kelulusan Riana dan Naira, mereka mendaftar disebuah sekolah sma favorit dikota itu. dengan nilai sama, mereka berhasil lolos untuk seleksi test di sma favorit itu. lagi lagi Naira menjadi pusat perhatian kakak kelas disma itu, mungkin kecantikan Naira dan keimutannya. sebenarnya Naira tidak pernah menanggapi siapa saja yang ingin berkenalan dengannya, disamping itu ada Riana yang akan mengusir mereka secara kasar.
"halo kamu Naira ya?" ucap seseorang, Naira mengangguk dan tersenyum. "oh halo namaku Dimas aku wakil ketua osis, oh iya ada yang nitip ini buat kamu!" Naira menerima sebuah kotak yang dibawa remaja bernama Dimas itu, Riana mengambil itu dengan cepat.
"apa ini?" ucap Riana, Dimas mengambil itu dan memberikan kotak itu pada Naira.
"ini untuk Naira, kamu ini siapa?" ucap Dimas, Riana yang memiliki sifat pemarah langsung merasa emosi.
"wah, kamu masih liar seperti dulu!" ucap seseorang, dengan cepat Naira dan Riana menoleh. karena mereka hafal suara siapa itu, yang tidak lain adalah Daniel.
"kamu?" ucap Riana, Daniel tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"wah Naira semakin cantik saat sma, sampai semua cowok ingin berkenalan!" ucap Daniel, Naira hanya tertawa kecil mendengar itu.
"wah dunia ini sangat sempit, sampai harus bertemu kamu lagi!" ucap Riana, Naira semakin tertawa mendengar itu. karena merasa terhibur, dua musuh itu bertemu lagi.
"wah kalian pasti ribut lagi, seperti di smp dulu!" ucap Naira, Daniel dan Riana hanya mendengus kesal satu sama lain. "oh iya kak Daniel ..."
"eitss.. siapa yang menyuruhmu memanggilku kak, panggil namaku Daniel!" ucap Daniel, Naira mengangguk dan tersenyum. "kamu hebat ya, bisa masuk sekolah ini!"
"kalau tahu kamu sekolah disini, kita gak bakal sekolah sini!" ucap Riana acuh, Daniel tersenyum kesal mendengarnya.
"Naira jangan suka senyum ya, banyak kakak kelas yang ngomongin kamu tuh dikantin. katanya kamu adik kelas tercantik, dan pengen kenalan!" ucap Daniel, Naira menutup wajahnya karena terus tertawa.
"biarin dong, ngapain kamu yang urus juga. pergi sana, masih pagi juga udah muncul." saut Riana, Daniel yang duduk seberangan dengan Riana merasa ingin menjambak rambut Riana dengan keras. setelah acara pagi mereka bertemu, jam makan siang pun membuat mereka bertemu lagi. hati Daniel sangat bahagia melihat Naira dan juga Riana, disaat ada Naira ia bisa melihat gadis yang ia sukai, disaat ada Riana ia bisa membuat keributan dan menggoda Riana secara terang terangan.
Daniel melihat Naira yang ada disampingnya, dengan polos Naira memakan makanan ringan dengan keasikannya sendiri. Daniel mempunyai keinginan untuk membeli motor, agar bisa membonceng Naira jika pulang sekolah. pasti sangat menyenangkan menurutnya, satu sekolah akan mengiranya sebagai pasangan.
"Daniel kamu tahu nggak ..." ucap Riana, Daniel menoleh dan menatap Riana.
"apa?" saut Daniel cepat, Riana menaikkan satu alisnya.
"kamu itu sudah bodoh, kalau senyum senyum gitu kamu semakin kayak orang idiot!" ucap Riana karena merasa jijik ketika Daniel tersenyum sendiri, Daniel yang mendengar itu memilih mengalah karena tidak ingin berdebat dengan Riana.
"udah ah, aku kembali kekelas dulu. bye" ucap Daniel, Naira melambaikan tangannya. melihat Riana yang terdiam sesudah mengoloknya, Daniel mempunyai keinginan untuk membalas menggoda Riana.
"bye item!" Riana terkejut dengan itu, dengan kesal Riana menoleh. saat ingin memaki, Daniel sudah berlari menjauh dan terdengar suara tawanya disana.
"Daniel kurang ajar!" teriak Riana kesal, Naira hanya tertawa hingga memegang perutnya karena tidak tahan.
alhasil orang yang selama ini membuat Riana kesal dan tidak ingin bertemu, harus bertemu lagi selama tiga tahun disekolah yang sama. pertemanan mereka semakin dekat, dan menjadi persahabatan yang dekat. apalagi semenjak tahu Daniel adalah anak dari dokter kenalan mereka, Naira sendiri terkejut Daniel anak dari dokter ganteng favoritnya. meskipun Riana yang terus ribut dengan Daniel, mereka tetap menjaga persahabatan itu tetap ada.
sampai Daniel yang harus kuliah luar kota untuk mengejar pendidikannya, persahabatan mereka terpisah sejak lulus sma. setelah kelulusan itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. setelah empat tahun Daniel kembali, ia dibuat terkejut ketika melihat Riana pertama kalinya. Riana yang selalu menjadi bahan olokannya, sekarang menjadi gadis cantik. kulit hitam yang selalu menjadi bahan olokan Daniel, kini menjadi kulit putih mulus dan sedikit berkilau. keanggunan dan kecantikannya, siapa saja tidak menyangka Riana adalah gadis kasar yang pernah Daniel temui saat sekolah dulu.
"apa kamu liat liat, gak pernah liat orang cantik ya!" sentak Riana, Daniel yang mendengar itu menarik perkataannya yang mengatakan Riana menjadi gadis yang anggun.
"kamu cantik Naira!" ucap Daniel, Naira tersenyum.
"aku memang sama seperti dulu, coba lihat dia yang banyak perubahan, cantik nggak?" ucap Naira, Daniel hanya mengibaskan tangannya.
"iya lumayan, gak item kayak dulu!" ucap Daniel, Naira tertawa renyah disana. "dulu kan item, dia minum apa kok sampai putih gitu?"
"Daniel kalau kamu ngomong lagi, aku sumpel mulutmu pake sandalku ini!" ucap Riana kesal, Daniel tertawa dan menutup mulutnya.
sampai suatu hari, Daniel benar benar terpesona dengan kecantikan Naira. Daniel tidak menyangka Naira akan semakin cantik saat tumbuh dewasa, dan pada saat itu juga Daniel sudah mengetahui kalau kekasih masa kecil Naira telah datang. tapi bukannya menyerah, Daniel malah merasa sedikit senang saat mengetahui kecekcokan Naira dan Adrian. setiap kebersamaan nya bersama Naira, Daniel tidak sadar kalau Naira hanya menganggapnya sebagai seorang teman.
hati Daniel dibuat hancur saat cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi Daniel tidak merasa sedih sama sekali karena sudah tahu apa yang akan dikatakan Naira. setelah pengakuan cintanya, Daniel merasa malu terhadap Naira. Daniel memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya yang tertunda, ia pergi keluar kota tanpa pamit pada Naira dan hanya mengatakan itu pada Riana.
"hahaha sekarang kamu tau kan, kenapa sejak dulu aku melarang anak laki laki mendekati Naira!" ucap Riana tertawa, Daniel hanya menatap kesal wajah bahagia Riana.
"huum... lagi pula aku hanya ingin mengatakan saja, saat mencintai juga tidak harus memiliki kan?"
"hm.. benar, tumben kamu pintar!" saut Riana tertawa, Daniel hanya melempar tisu yang ia pegang pada Riana.
"aku akan pergi, jangan rindu padaku ya!" ucap Daniel, Riana menyipitkan matanya.
"heh.. siapa juga yang akan merindukanmu, apa ada niatan kembali?" tanya Riana, Daniel tersenyum dan memainkan alisnya.
"kenapa, kamu berharap aku menemuimu lagi ya?"
"cuihhh ... najis, jangan kembali lagi deh. aku harap kamu kembali sudah berubah ya, jangan seperti orang bodoh!" ucap Riana, Daniel tertawa dengan itu.
"iya aku harap juga kamu semakin cantik, siapa tahu hatiku nyantol kekamu!" ucap Daniel, Riana tersentak dengan perkataan Daniel. dengan kesal Riana mendorong tubuh Daniel, dengan tersenyum Daniel melambaikan tangannya dan mulai menaiki mobilnya.
"Daniel hati hati ya, aku doa kan semoga amal ibadah mu ..."
"woy ngawur!" cela Daniel, Riana tertawa sambil memegang perutnya. Daniel melambaikan tangannya pada Riana, dengan senyuman Riana mengantar kepergian Daniel dan berharap Daniel sukses kedepannya.
sampai enam bulan kemudian Daniel kembali dari studynya itu, selama enam bulan Daniel melupakan semuanya. ia berharap saat menemui Naira, keduanya akan melupakan hari dimana pernyataan perasaan itu. sebelum itu hal yang pertama Daniel lakukan adalah, mengejutkan Riana yang sedang berada di kampusnya. tapi belum sempat itu, mereka dipertemukan disebuah jalan raya.
tapi perasaan aneh muncul saat pertama kali melihat Riana, dengan menggunakan mini dress Riana duduk bersama Daniel disebuah cafe mini. Daniel menatap Riana yang kala itu benar benar cantik dimatanya, Daniel masih tidak percaya anak perempuan yang selalu menjadi bahan olokannya sekarang menjadi gadis dewasa yang cantik. Daniel menyukai Riana yang menjadi gadis dewasa, tapi Daniel juga berharap itu semua bukan rasa kagum semata saja.
sampai hati Daniel benar benar memutuskan mencintai Riana, mendengar setiap kesedihan dan tangisan Riana membuat hati Daniel terluka. rasa cinta yang ingin ia limpahkan hanya bisa tertahan, karena Riana yang mencintai Adrian. Daniel tahu Riana tidak akan membuat sesuatu hal yang membuat Naira terluka, bahkan semenjak sekolah Riana tidak akan membiarkan siapapun lolos saat membuat Naira terluka bahkan menangis.
rasa sakit Daniel semakin dalam, saat melihat Riana yang menjadi trauma dan pendiam sepanjang waktu. tapi kesedihan terus terasa, saat ingin menemani Riana yang terpuruk, Daniel harus pergi keluar kota untuk mendapat gelarnya. saat penerimaan gelar itu, Daniel selalu mengucapkan janji akan mengembalikan Riana seperti semula. berjanji akan membahagiakan Riana, apapun yang terjadi pada Riana dirinya akan selalu menemani sampai kapan pun.
*
*
*
"dokter Daniel?" panggil seseorang menyentak kesadaran Daniel dari lamunan masa lalunya, terlihat seorang wanita menghampiri Daniel dengan tersenyum.
"iya apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Daniel lembut, wanita itu menatap seakan bingung.
"dokter melupakan aku ya?"
"maaf?"
"saya Karin, yang waktu itu ..." ucap wanita itu yang ternyata Karin, Daniel akhirnya mengingat siapa Karin dan apa yang terjadi waktu itu.
"oh iya saya ingat, maaf maaf saya agak lupa!" ucap Daniel tersenyum, Karin hanya tertawa kecil dengan itu.
"dokter ini sudah siang, aku membawa makan siang lebih. apakah dokter Daniel mau?" ucap Karin, Daniel yang mendengar itu tersenyum dan berusaha menolak dengan ramah.
"terima kasih tapi saya sudah bawa sendiri, kamu makan sendiri saja!" tolak Daniel dengan senyum,
"dokter ini hanya sebuah makanan, tolong terima ya!" Daniel masih berusaha tersenyum, saat ingin menolak pandangannya menatap Riana yang sedang berjalan sedikit jauh dari tempatnya berdiri.
"Riana!!" panggil Daniel, sontak sang pemilik nama menoleh kearahnya. Riana berjalan menghampiri Daniel yang melambaikan tangannya, Riana berpikir Daniel ingin mengatakan sesuatu padanya.
"maaf nona Karin sepertinya makan siang saya sudah datang, terima kasih atas tawaranmu ya!" ucap Daniel, Karin hanya terdiam saat Daniel pergi dan merangkul Riana.
"Daniel ada apa, hei ..."
"ikut aku dulu, nanti aku ceritain!" ucap Daniel, Riana yang terua ditarik hanya berjalan mengikuti langkah Daniel. sesekali Riana melihat kearah Karin, Riana teringat dengan Karin yang memberi hadiah pada Daniel.