
pagi ini Adrian sedang berdebat dengan Naira, mereka berdebat dengan pekerjaan Naira. Adrian mengatakan Naira tidak boleh bekerja lagi, disisi lain Naira ingin bekerja untuk menemani Adrian. tidak ada yang mau mengalah diantara mereka, keributan terjadi dirumah Kara. keributan itu didengar oleh semua orang, mereka merasa heran kenapa masih pagi mereka sudah ribut.
"pokoknya aku mau bekerja!"
"Naira kita sudah membahasnya kemarin, dan keputusanku kamu tetap dirumah. aku janji tidak akan mencari sekretaris, lagi pula sudah banyak yang membantuku dikantor!" ucap Adrian lembut, Naira menggelengkan kepala.
"tidak, dirumah besarmu apa yang harus kulakukan jika sendirian!"
"kenapa kau keras kepala!" ucap Adrian dan berlalu pergi, Naira mengejar langkah Adrian yang cepat menuruni anak tangga. Bagas menarik tangan Naira untuk menghentikannya, Adrian terus berjalan dan duduk dimeja makan bersama yang lainnya.
"kakak lepaskan tanganku!" ucap Naira, Bagas menatap Naira dengan penuh perintah untuk tidak ada bantahan. Naira akhirnya terdiam dan menyerah.
"ada apa ini, kenapa kalian ribut dipagi hari!" ucap Bagas, Naira terdiam dan masih dengan kekesalannya.
"dia memaksa untuk bekerja lagi, sudah aku bilang aku tidak membutuhkannya lagi!" saut Adrian, Naira ingin menyahut tapi Bagas menahannya. "aku ingin dia tetap dirumah, dulu juga seperti itu sebelum kecelakaan. dia nurut untuk dirumah, tapi entah kenapa sekarang sangat keras kepala!" ucap Adrian lagi, Naira merasa kesal.
"aku tidak seperti itu, kamu memang menyebalkan!" ucap Naira, Bagas tetap menghadang Naira didepannya.
"kenapa kau tidak menurut, dia suamimu kan!" ucap Bagas, Naira terdiam dan menatap Bagas. "apa, kamu mau memarahiku!" ucap Bagas, Naira menggelengkan kepalanya.
"yasudah Naira mengalah, kalian sekutu Adrian!" ucap Naira kesal, dan membuat semua orang tertawa disana. Adrian sendiri tertawa melihat istrinya kesal, ia menatap Naira yang masuk kedalam kamarnya.
"biarkan dia disini dulu Adrian, Bagas akan mengantar Naira nanti malam kerumahmu!" ucap Nadia, Adrian mengangguk dengan itu.
setelah sarapan, Adrian siap ke kantor. Adrian ingin melihat Naira, tapi ia merasa Naira akan kesal melihatnya. Adrian mengurungkan niatnya, ia menuruni anak tangga dengan tersenyum sendiri. ia merasa senang melihat wajah kesal Naira, karena baginya itu hal sangat menyenangkan.
"hati hati kesambet loh, tersenyum sendiri begitu!" ucap Riana tiba tiba, Adrian menoleh dan tersenyum. "kenapa tersenyum sendiri, ayo bagi padaku biar aku tersenyum juga!" ucap Riana, Adrian menghentikan langkahnya danenatap Riana.
"kau tidak lihat perdebatanku dengan Naira tadi, itu sangat lucu. aku berhasil membuatnya kesal dipagi hari, dan sekarang aku merasa puas dan senang haha..." ucap Adrian tertawa, Riana hanya tersenyum dengan itu.
"jangan begitu dong, dia itu susah dirayunya!" ucap Riana, Adrian mengangguk.
"iya kau benar, aku akan berusaha untuk membujuknya!" ucap Adrian, Riana mengangguk dan tersenyum.
"oke semoga berhasil, aku duluan ya..." ucap Riana mendahului Adrian, karena ia tidak ingin mendengar cerita Adrian lagi. karena hanya membuat hatinya panas, tapi langkahnya terhenti ketika Adrian menghentikan nya.
"kamu mau kemana, ayo kuantar sekalian!" ucap Adrian, Riana menoleh ke arah Adrian.
"aku mau kekampus, gak usah aku naik mobil kok!" ucap Riana, Adrian mengangguk dengan itu. kemudian Riana berjalan cepat, dan berharap segera meninggalkan rumah itu. Adrian menatap kepergian mobil Riana, Adrian merasa ada yang aneh dengan Riana. Riana melajukan mobilnya dengan cepat, ia merasa gelisah didalam mobil.
"ini salah Riana, tolong hilangkan perasaan ini ya Allah. aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka, aku tidak mau menjadi orang jahat!" gumam Riana didalam mobil, Riana memukul setir mobil karena kesal dengan dirinya sendiri. sampai tanpa sadar mobilnya menabrak mobil seseorang, Riana terkejut dengan itu.
"oh mati aku, mobil siapa itu!" ucap Riana, ia turun karena merasa panik. Riana melihat mobilnya yang menabrak itu, terlihat tabrakan itu sedikit parah. Riana melihat seseorang turun dari mobil itu, seorang pria berjas putih dan berkacamata.
"maafkan aku pak, aku tidak melihat mobilmu!" ucap Riana berkeringat, pria itu memasang senyum dibibirnya.
"heyooo Riana sibocah sombong!" ucap pria itu, seketika membuat Riana terkejut. Riana terkejut lagi ketika pria itu membuka kacamatanya.
"Daniel!!!" teriak Riana senang, Daniel mengangkat kedua bahunya. Riana memeluk Daniel karena senang, Daniel dengan senang membalas pelukan itu.
"hei kau harus mengganti mobil baruku, malah memelukku seperti ini!" ucap Daniel, Riana mendorong tubuh Daniel kebelakang.
"sejak kapan kau datang, dan sejak kapan kau suka memakai mobil?" ucap Riana, Daniel tersenyum dan merangkul pundak Riana.
"aku akan menjawab semua pertanyaanmu, sebelum itu mari kita kebengkel untuk memperbaiki mobil mu dan mobilku!" ucap Daniel pada Riana, Riana tertawa dan mengangguk.
setelah beberapa menit mereka sampai dibengkel, Riana dan Daniel duduk disebuah cafe menunggu mobil mereka. mereka saling berbincang dan mengobrol disana, mereka melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu satu sama lain.
"bagaimana, sudah ada istri?" ucap Riana, Daniel tersenyum dan meminum kopinya.
"aku baru lulus kuliah, dan tahun depan aku menunggu hasil gelarku sebagai dokter!" ucap Daniel, Riana mengangguk. "mungkin aku akan susah cari istri!"
"iya karena kau mencintai Naira, benar kan?" ucap Riana, Daniel terkejut dengan itu.
"haha... dasar, kenapa kau selalu benar!" ucap Daniel, Riana jadi tertawa olehnya. "dia sudah menikah, dan juga bahagia. Adrian orang yang tepat untuknya, aku juga tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaannya!" ucap Daniel, Riana terdiam dengan perkataan Daniel. benar kata Daniel, ia tidak berhak mengganggu kebahagiaan Naira dan juga Adrian.
"kamu kenapa?" tanya Daniel, Riana menoleh dan menggelengkan kepala. "kalau diliat dari ekpresimu, kamu sedang jatuh cinta ya?" ucap Daniel, Riana membalakkan matanya.
"sok tau kamu, minum tuh kopi!" ucap Riana meminum kopinya, Daniel menatap Riana yang merasa gugup saat ditanya tentang cinta.
"iya, kamu boleh boleh aja jatuh cinta. asalkan jatuh cinta pada orang yang tepat, jangan jatuh cinta pada orang yang salah!" ucap Daniel, Riana terdiam dan memikirkan perkataan Daniel yang menurutnya benar.
"hei mana foto pernikahan Naira, aku ingin melihat wajahnya!" Riana tersenyum dan membuka hpnya, Riana menunjukan foto Naira dan Adrian yang tersenyum bahagia. rasa sakit hati melihat foto itu, rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Daniel melihat Riana yang melamun menatap foto itu, Riana menggelengkan kepalanya dan bergumam sendiri.
"iya, ini sungguh tidak benar!" gumam Riana, Daniel mendengar itu meskipun suara Riana pelan. "oh tidak!!" Daniel terkejut dengan suara Riana, Ia juga merasa bingung Riana terburu buru pergi.
"aku lupa, hari ini ada mata kuliah papaku. mati aku, kalau papa mencariku bisa habis aku!"
"eh tunggu, kau mau meninggalkan aku!" ucap Daniel menarik tangan Riana, hal itu membuat Riana terkejut dan berwajah melas.
"Daniel lepaskan aku, kita akan bicara lain kali. aku harus pergi!" ucap Riana memohon, Daniel pun melepaskan tangan Riana dan membiarkan Riana berlalu pergi.
"siapa yang membuat gadis itu jatuh cinta?" tanya Daniel pada dirinya sendiri, ia menatap kepergian Riana yang menaiki taksi.
****
Naira yang masih kesal duduk bersama Bagas disebuah mobil, hari ini Bagas sendiri yang mengantar Naira untuk kembali kerumahnya. Bagas melihat wajah kesal Naira yang tidak mau bicara padanya, Bagas tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Naira kamu masih kesal ya?" ucap Bagas, Naira menoleh kearah Bagas.
"menurutku apa yang dilakukan Adrian itu benar..."
"kenapa begitu?" sela Naira saat Bagas berbicara, Bagas tersenyum.
"dia sangat mencintaimu Naira, karena itu dia tidak ingin kamu kelelahan bekerja. bayangkan, kamu adalah seorang wanita. ibu rumah tangga didalam rumah kalian, lalu kau akan kerja bersama suamimu. sepulang kerja lelah dan letih, kau harus melayani suamimu secara bersamaan. Adrian berbuat hal benar, memintamu untuk tetap dirumah. karena apa, karena dia ingin pulang kerja dan menikmati layanan dari istrinya. seperti menyiapkan kopi saat pulang, membantunya untuk mandi, mempersiapkan makan malam setelah itu kalian bisa bicara sepanjang malam dengan kau memijat Adrian yang sudah lelah bekerja seharian!" jelas Bagas, Naira hanya terdiam dengan itu.
"itu adalah hal yang diinginkan semua suami, dilayani dengan baik oleh istrinya. jadi kamu melakukan hal yang salah jika menolaknya, Naira..."
"iya kak, kakak benar. aku salah padahal Adrian menginginkan semua itu padaku, tapi aku malah bersih keras untuk bekerja dengannya!" ucap Naira menyesal, Bagas tersenyum dengan itu.
"iya, dan sekarang lakukan yang harus kamu lakukan!" ucap Bagas, Naira tersenyum dan memeluk Bagas.
"terima kasih kakak, kamu kakak yang terbaik!" ucap Naira, Bagas tertawa karena merasa gemas.
malam hari nya Adrian kembali lebih awal, Adrian pulang kerumahnya karena sebelumnya Bagas telah memberitahunya bahwa Naira telah diantar pulang. Adrian masuk kedalam setelah memarkirkan mobilnya, ia merasa sakit pada lehernya karena terus bekerja.
saat masuk Adrian tidak melihat Naira disana, ia berpikir Naira sedang mengunci diri dikamar nya. bahkan Naira tidak menelfonnya karena keributan pagi hari, Adrian mengehela nafas dan membiarkan nya. Adrian terkejut saat beberapa makan malam dihidangkan di atas meja makan, lalu pandangannya tertuju kearah Naira yang sedang bermain dengan sebuah blender. terlihat Naira sedang asik membuat jus disana, karena suara blender membuatnya tidak sadar kehadiran Adrian.
Adrian tersenyum sendiri melihat itu, ia tidak pernah menyangka Naira sedang memasak untuknya. ini lah yang diharapkan Adrian, melihat pemandangan ini saat dirinya pulang dari kerjanya seharian.
"cepat selesaikan, suamiku yang tercinta itu akan pulang." ucap Naira dengan sibuk sendiri, Adrian mendekat dan memeluk Naira dari belakang. Naira terkejut dibuatnya, sehingga Naira menjatuhkan spatula yang ia pegang.
"aukh!!" ucap Naira ketika spatula itu terjatuh mengenai kakinya, Adrian terkejut dan mengangkat Naira. "panas!" ucap Naira, Adrian mendudukan Naira dimeja makan dan dirinya berlutut untuk melihat kaki Naira.
"maafkan aku, aku mengejutkanmu ya. mana yang panas?" tanya Adrian panik, Naira tertawa pelan dengan itu. Adrian mendongakkan kepala ketika mendengar tawa Naira, dan sadar Naira menipunya. "menipuku?" tanya Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk.
"spatulanya jatuh disamping kakiku, salah sendiri kamu mengagetkan aku!" ucap Naira, Adrian mendirikan tubuhnya dan menatap Naira yang masih tertawa. "peluk aku!" ucap Naira manja, Adrian menepis kedua tangan Naira karena merasa kesal. "suamiku, aku merindukan mu. maafkan aku ya, karena aku keras kepala membuat kita bertengkar!" ucap Naira memaksa Adrian untuk memeluknya, Adrian pun tersenyum dan membalas pelukan Naira.
"aku senang, itu pertengkaran pertama kita setelah menikah!" ucap Adrian, Naira melepas pelukan itu dan menatap Adrian.
"benarkah, apa kita tidak pernah bertengkar sebelumnya?" tanya Naira yang merasa tidak percaya, Adrian mengangguk kuat.
"tidak pernah sekalipun, paling kau yang marah karena aku menggodamu!" ucap Adrian, Naira tertawa dengan itu.
"maafkan aku Adrian, aku sadar kalau aku terlalu keras kepala. mulai sekarang aku tidak akan melakukan hal yang membuat kita ribut, dan mulai hari ini aku akan melayani mu dengan baik sebagai seorang istri!" ucap Naira yakin, Adrian tertawa kecil dengan itu.
"benarkah?" tanya Adrian, Naira mengangguk kuat dan tersenyum.
"iya benar, aku janji. aku akan membuatkan sarapan, makan siang, makan malam dan juga membuatkan kopi untukmu."
"lalu jika malam?"
"tentu saja aku akan meminjatmu jika lelah, sambil kita mengobrol berdua hingga tertidur bersama!" ucap Naira senang, Adrian mendekat kearah telinga Naira dan berbisik disana.
"bukan itu yang kumaksud, yang kumaksud adalah..." bisik Adrian, Naira mendorong tubuh Adrian dengan kuat. Naira sadar apa yang dimaksud Adrian, seketika wajahnya merah karena malu. Adrian yang melihat itu sangat geli, dan membuatnya terbahak yang membuat Naira kesal.
"menyebalkan!" ucap Naira mengerucutkan mulutnya, Adrian tersenyum dan mencium pipi Naira.
"ayo turun dulu, kau seperti anak kecil!" ucap Adrian menurunkan Naira dari meja makan, Naira tersenyum dengan itu.
"mandilah, aku akan memasak untukmu!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan dengan cepat mengambil ciuman dari bibir Naira sekilas.
"Adrian!!" teriak Naira kesal, Adrian berlari menuju kamarnya untuk mandi. Naira tersenyum sendiri dengan itu, rasanya sangat bahagia Adrian mencintainya.
setelah selesai makan malam, Naira dan Adrian sedang berdua diruang tengah rumah itu. Naira memijat kepala Adrian yang tidur dipangkuannya, Adrian memejamkan mata merasakan pijatan itu. Adrian merasa senang ketika hal yang ia inginkan sejak dulu, sekarang terjadi.
"bagaimana, kau suka?" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mengangguk. Naira merasa senang dengan itu, ia terus memijat kepala Adrian dengan perlahan.
"sudah, kau pasti sudah lelah!" ucap Adrian mendudukan dirinya, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala.
"aku tidak lelah kok, sekarang pundak ya!" ucap Naira, saat bersamaan Adrian menarik Naira hingga tidur diatasnya. Naira merasa terkejut dengan itu, ia merasa gugup ketika Adrian membelai rambutnya.
"sudah cukup memijatnya, aku sudah puas!" ucap Adrian lembut, Naira mengangguk pelan. "apa kau belum mengantuk?" tanya Adrian, Naira menatap Adrian dan menggelengkan kepala.
"aku belum mengantuk, aku masih ingin mengobrol dengan mu!" ucap Naira memeluk Adrian, Adrian sendiri membalas pelukan itu dan tersenyum.
"baiklah, mari lakukan hal yang akan membuat kita terjaga semalaman!"
"bagaimana?" tanya Naira, tanpa bicara lagi Adrian berdiri dan membawa Naira dalam gendongannya. Naira yang terkejut hanya terdiam menatap Adrian, Naira merasa gugup saat menebak apa yang diinginkan Adrian sekarang.
Adrian menidurkan Naira dikasur mereka, Adrian tersenyum melihat Naira yang terdiam tanpa mengatakan apapun. Adrian mencium kening Naira dengan lembut, bahkan turun pada pipi Naira secara bergantian. Naira merasa panas karan itu, ia mendorong tubuh Adrian.
"kamu... kamu mau apa?" ucap Naira mendudukan dirinya, Adrian menarik Naira untuk berada dalam dekapannya. Naira merasa tubuh Adrian yang gemetar, ia mendorong tubuh Adrian untuk melihat apa yang terjadi pada Adrian. Naira terkejut saat tatapan Adrian sendu, tersenyum dan mencium tangannya.
"Naira kita ini suami istri, tapi aku tidak bisa menjadi suamimu empat bulan terakhir. jadi sekarang aku ingin, kita menjadi suami istri yang sebenarnya. Naira mari kita mulai semuanya hari ini, kita mulai dari awal. aku tidak peduli kau tidak ingat pada masa lalu kita, karena aku ingin membuat masa depan kita. Naira..." Adrian terdiam ketika Naira menciumnya, Naira tersenyum dan mengusap pipi Adrian.
"aku akan menjadi istrimu, dan... dan lakukan apa yang diinginkan.. su..suami pada istrinya..." ucap Naira terbata karena malu, Adrian tersenyum dengan itu.
malam itu Adrian dan Naira kembali bersatu, mereka menjadi suami dan istri seutuhnya. mereka berjanji akan memulai rumah tangga mereka mulai hari itu, dan berharap tidak ada masalah apapun yang bisa mengganggu rumah tangga mereka. sebesar apapun masalahnya, akan diselesaikan secara baik baik dan ditangani dengan kepala dingin.
****
Assalamualaikum semuanya, terima kasih yang selalu setia menunggu author up. maaf sebelumnya karena author jarang up, karena author sekarang tidak bisa up setiap hari karena ada kesibukan. tapi diusahakan sekali up 2 episode, jika tidak ya tetap 1 episode.
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍
Terimakasih semua... Semangat puasanya hari ini!!!