
Riana menatap Daniel yang sedang asik memakan masakannya, ia tidak menyangka Daniel akan menyukai makanan yang ia masak. bahkan Daniel tidak menawari pemiliknya untuk ikut makan, tapi melihat itu Riana tersenyum sendiri.
"kamu kenapa senyum senyum gitu, aku tau kok kalau aku ini ganteng!" ucap Daniel yang sadar saat Riana tersenyum sendiri, Riana yang mendengar itu menaikan kedua bahunya.
"sangat narsis, tidak pernah berubah dari dulu!" saut Riana, Daniel tertawa dengan perkataan Riana.
"Riana maafkan aku!" ucap Daniel, Riana terdiam mendengar itu. Riana merasa aneh, kenapa Daniel mengatakan maaf padanya.
"kenapa kamu minta maaf?"
"karena waktu itu aku ninggalin kamu, disaat kamu butuh teman aku malah pergi luar kota!" ucap Daniel, Riana terdiam dengan perkataan Daniel. "seharusnya aku nemenin kamu disaat sedih, sampai aku datang dan melihat kesedihan di wajahmu!"
"aku sudah baik baik saja kok, lagi pula kamu kan pergi untuk ambil hasil ujianmu. kalau kamu mentingin aku, kamu bakal ngelewatin kesempatan itu. kamu juga gak akan duduk dihadapanku sebagai dokter, apalagi aku bukan siapa siapa .. maksudku siapa aku ... yang harus dipentingkan!" saut Riana tersenyum, entah kenapa mengatakan semua itu membuat Riana tidak enak dan terdapat perasaan sedih.
"kamu orang penting untukku!" ucap Daniel, Riana menatap Daniel saat Daniel juga menatapnya.
kenapa Daniel mengatakan itu, apa maksud dari perkataan Daniel. bagaimana dirinya harus menjawab Daniel dan siapa yang akan menjawab setiap tanya dalam hatinya itu.
"Daniel leluconmu tidak lucu, aku pergi dulu. sudah bosan melihat wajahmu seharian ini, sini rantangnya!" ucap Riana, Daniel memegang tangan Riana yang ingin mengambil rantang miliknya.
"saat aku serius kau bilang lelucon, lalu jika aku bilang aku menyukaimu bagaimana?" ucap Daniel berhasil membuat Riana terdiam, tiba tiba tangannya terulur untuk menyentuh dahi Daniel.
"kamu demam ya, pfftt .... " ucap Riana tertawa, Daniel merasa kesal dengan itu. karena sifatnya yang suka bercanda, kini Riana tidak mempercayai perkataannya. Daniel menyesali sifat nya yang suka bercanda itu, "sudah ah lepas, ada ada aja!" ucap Riana , Daniel pun melepas tangan Riana. ia mengikuti langkah Riana yang keluar dari ruangannya, yang sebenarnya dirasakan Riana adalah perasaan gugup dan juga aneh. gugup ketika Daniel mengatakan menyukainya, dan aneh kenapa dirinya harus gugup dengan sebuah lelucon dari Daniel.
"Riana ... " panggil Daniel, Riana menoleh dan menatap Daniel.
"iya?" ucap Riana, Daniel malah terdiam tanpa mengatakan apapun. Daniel hanya menatap Riana dengan tersenyum, Daniel suka melihat wajah Riana yang sekarang. wajah tanpa make up dan juga polos membuat Riana cantik, Riana sendiri merasa bingung dengan tatapan Daniel dan ia hanya terdiam.
"Daniel?" suara seseorang membuyarkan diam mereka, Daniel maupun Riana menoleh keasal suara itu. "wah benar kamu Daniel!" ucapnya lagi, seorang pria berpakaian dokter menghampiri Daniel dan juga Riana.
"maaf, aku tidak mengenalmu?" ucap Daniel, pria itu malah tertawa kecil dan memukul lengan Daniel.
"jahat sekali, kau melupakan aku begitu mudah!" ucapnya, setelah beberapa menit berpikir Daniel sadar dengan pria itu. dari caranya bicara dan juga menyapa, Daniel paham siapa teman yang suka seperti itu padanya.
"wah ... Ridwan, kau Ridwan kan?" ucap Daniel senang, pria yang ternyata dokter Ridwan itu mengangguk dan tersenyum. Ridwan adalah teman sma dan kuliah Daniel yang juga di bidang kedokteran, bedanya Ridwan sebagai dokter spog dan Daniel sebagai dokter ahli umum. karena setelah lama mereka bertemu, Daniel dan Ridwan saling memeluk satu sama lain. "apa kabarmu, kau jadi dokter juga ternyata!" ucap Daniel, Ridwan tersenyum senang.
"iya aku baru tugas kemarin, aku menggantikan dokter spog yang dulu!" Daniel mengangguk mendengar itu, pandangan Ridwan kearah Riana yang terdiam dibelakang Daniel. "wah dia pacarmu ya, kenalin dong!" ucap Ridwan, Daniel menoleh dan tersenyum canggung.
"bukan, cuman teman kok. kenalin ini Riana temenku, dan Riana ini Ridwan teman sma dan kuliahku, sekarang dia menjadi dokter spog!" ucap Daniel, Riana dan Ridwan saling bersalaman dan juga tersenyum.
"halo, Riana!"
"hai Ridwan, apa kita pernah bertemu?" ucap Ridwan, Riana menatap Ridwan seakan berpikir bertemu dimana dengannya.
"ketemu, mana mungkin itu terjadi ..." ucap Riana yang sambil berpikir, Ridwan tersenyum dan mengangguk.
"mana mungkin ketemu ya, lagi pula saya baru bertemu cewek cantik seperti kamu disini!" ucap Ridwan dengan kata jail, Riana tertawa kecil dan menutup mulutnya. mereka tidak tahu, disela mereka bicara Daniel sedang suram dan menahan kesal. Daniel kesal saat Riana bisa tertawa dengan Ridwan, tapi dengannya hanya tersenyum dan terkesan dingin. alhasil tidak bisa menahan kekesalannya, Daniel menarik tangan Riana untuk menjauh dari Ridwan.
"ada apa?" tanya Riana, Daniel menatap Riana dengan serius.
"jangan dekat dekat dengannya, dia itu mantan playboy!" bisik Daniel, Riana membalakkan matanya. "iya dia suka gonta ganti cewek, kamu jangan termakan rayuan mautnya!" bisik Daniel itu didengar oleh Ridwan, dengan kesal Ridwan menarik Daniel dengan cepat.
"eh enak aja, aku tuh gak gonta ganti cewek. emang ceweknya aja yang naksir, kamu gak pernah sih ngerasain gitu!" saut Ridwan, Daniel melepas tangan Ridwan yang menariknya.
"oh iya, berapa cewek yang kamu pacarin dulu?"
"bukan pacar, mereka yang naksir!"
"setiap hari nonton bioskop dengan cewek berbeda, sama aja kan playboy!"
"Daniel kau!"
melihat perdebatan itu Riana menjadi pusing, kedua teman itu seperti saling merindukan karena tidak bertemu. Riana terus menatap mereka yang berdebat, dengan tersenyum sendiri dirinya menatap Daniel. tapi semenit kemudian Riana membuyarkan senyumnya, dan merasa kesal sendiri.
"cukup!" suara itu membuat Daniel dan Ridwan terdiam, mereka menatap Riana yang memaksa senyumnya. "aku tidak peduli kalau kalian playboy atau tidak, sementara itu aku akan pergi dulu karena tidak mau mendengarkan kalian. sampai jumpa lagi dokter Ridwan, Daniel dadah!" ucap Riana, belum sempat dijawab Riana pergi dari sana begitu saja.
"eh Riana tunggu!" ucap Daniel, Riana hanya melambaikan tangan dan berjalan jauh.
"yakin cuman teman?" tanya Ridwan, Daniel mengangguk pelan. "ah.. dari dulu kau selalu gitu, selalu telat dan akhirnya ditinggalkan!" ucap Ridwan lagi, Daniel memukul perut Ridwan dengan sikunya. bukannya kesakitan, Ridwan malah tertawa keras. dimasa sekolah Ridwan adalah teman sekelas Daniel, melihat Daniel yang jarang berteman dengan siapapun. Ridwan adalah teman pertamanya sampai kuliah pun mereka tetap berteman.
"oh ... Naira dan Riana, gadis di sma dulu!!!" ucap Ridwan yang mengejutkan, Daniel hanya menganggu. "karena itu aku merasa pernah bertemu dengannya, tapi masak dia itu Riana. bukankah Riana itu si kecap manis yang selalu kau olok dulu, tapi kenapa sekarang menjadi gula manis?"
"memangnya dia bakal jadi kecap terus, tentu saja bakal berubah kalau memang dia ingin jadi gula!" saut Daniel, Ridwan tertawa dan mengangguk.
"nahh kau kenak karma kan, dulu kau selalu mengejeknya dan mengoloknya. sekarang kau menyukainya, haha ..." ucap Ridwan, Daniel memijat tengah kepalanya dan menggelengkan kepala. "kok dia gak inget aku ya?"
"emangnya kamu pernah kenalan sama dia, nggak kan?"
"iya dulu kenalan sama adiknya aja, dia marah marah gitu. gimana jadinya kalau kenalan sama dia, bisa bisa jadi bubur dong aku." saut Ridwan, Daniel pun mengangguk dengan itu. "tapi ngomong ngomong, dia sekarang cantik loh. aku sampai pangling, aku jadi penasaran dengan Naira yang populer dikalangan kakak kelas itu. eh ... tunggu,"
"kenapa?" tanya Daniel saat melihat Ridwan berpikir.
"Naira ... sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya, dimana ya?"
"gak mungkin, kamu belum ketemu sama Naira. dijamin kau akan lebih pangling dengannya, tapi dia sudah berbadan tiga sekarang!" saut Daniel, seketika suara Ridwan tertawa membuat Daniel kesal dan juga bingung.
"haha ... itu artinya Naira sudah menikah ya, kamu jomblo gara gara ditinggal nikah Naira ya ..." ucap Ridwan disela tertawanya, Daniel semakin kesal dan ingin memukul wajah temannya itu. "padahal kamu dulu naksir dia sampai mati matian deketin dia, alhasil malah ditinggal nikah!"
"udah sana, kamu pasti banyak bumil bumil yang nungguin!" ucap Daniel yang sudah kesal, Ridwan tersenyum dan berpikir kembali.
"berbadan tiga, itu artinya dia hamil kembar ya?" Daniel hanya mengangguk, Ridwan semakin memikirkan Naira yang merasa pernah ia temui. "aku benar ngerasa bertemu dengannya, apa mungkin praktek diruanganku ya!"
"sudah jangan banyak mikirin Naira, nanti kau dihajar suaminya!" saut Daniel, Ridwan masih berpikir saat Daniel meninggalkannya sendiri.
"apa Naira yang tadi ya, kalau bener kelewat cantik dong!" gumam Ridwan, ia berjalan meninggalkan ruangan Daniel.
****
setelah dari rumah sakit, Adrian membawa Naira pergi kesuatu pusat perbelanjaan. dengan senang Adrian membawa Naira berkeliling, Naira bahkan senang dengan mendatangi setiap toko disana. itu adalah kesempatan untuk Naira, karena Adrian memiliki waktu luang untuk mengajaknya keluar rumah.
"kenapa kau lelah?" tanya Adrian saat melihat Naira memegang pinggangnya, Naira menggelengkan kepala dan tersenyum.
"gak lelah kok, pinggangku sering sakit karena si kembar udah besar juga. apalagi kurang satu minggu sudah tujuh bulan, jadi tambah berat!" ucap Naira tersenyum, Adrian tersenyum karena melihat istrinya itu mengatakan tanpa ada rasa mengeluh.
"Yasudah kita pulang ya, kamu udah jajan banyak!" saut Adrian, Naira mengangguk dan menggandeng lengan Adrian. mereka pun lanjut berjalan dengan sedikit bercengkrama, "ceritakan selama aku tidak ada dirumah, apa saja yang terjadi padamu?"
"hm ... aku pernah merapikan tempat tidur kita, terus sikembar nendang keras banget. sampai rasanya mual, bukannya berhenti malah mereka nendang bersamaan. dan setiap siang ataupun malam juga begitu, saat aku enak tidur mereka akan menendang tanpa pamit." ucap Naira mengusap perutnya, Adrian tersenyum dan mengelus rambut Naira.
"sabar ya sayang, setelah dua bulan nanti kamu gak akan ngerasain gitu lagi. tapi ngerasain yang lebih sulit lagi, karena sekali lahir langsung dua!" ucap Adrian tertawa, Naira pun ikut tertawa dengan itu.
"oh lihat lah, itu toko bayi. terlihat imut sekali, kita kesana yuk!" ucap Naira, Adrian pun mengangguk dan membawa ketoko yang Naira maksud.
setelah datang ke toko itu, Naira merasa gemas dengan isi toko itu. banyak sekali pakaian bayi, sepatu dan segala perlengkapan bayi yang imut dan menggemaskan. Adrian sendiri berkeliling disetiap pakaian bayi yang menurutnya sangat menarik, dan rasa tidak sabar dengan kehadiran si kembarnya.
"Adrian!" panggil Naira, Adrian menoleh dan menatap Naira yang membawa pakaian bayi berwarna pink.
"kenapa pink?"
"terlihat imut, ini pasti cocok dengan putri kita!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan menghampiri Naira.
"beli apapun yang kamu inginkan, aku akan suka jika kamu menyukainya!" ucap Adrian, Naira tersenyum senang.
"baiklah, terima kasih!" saut Naira, Adrian mengangguk dan tersenyum. setelah selesai memilih dan Adrian membayar, Naira benar benar merasa kelelahan. dengan perintah tanpa bantahan, Adrian membawa Naira pulang mau tidak mau.
"aku sangat lelah!" ucap Naira mendudukan dirinya disofa, Adrian meletakan hasil belanja mereka dan duduk disamping Naira setelah itu. "Adrian aku makin gendut ya?" ucap Naira, Adrian tersenyum dan menxubit pipi Naira dengan gemas.
"kenapa, kamu tetap cantik kok meskipun gendut!" saut Adrian, ia menyandarkan tubuh Naira untuk menyandar pada tubuhnya. "semakin kamu gendut, semakin gemas aku melihatnya. bahkan aku akan semakin cinta, tidak ada lagi wanita yang gendut menggemaskan sepertimu!"
"dasar, oh iya kamu kesal ya karena bayi kita perempuan?"
"tidak sayang, aku sangat suka apapun jenis kelamin mereka. karena yang melahirkan mereka adalah kamu, istriku yang terbaik didunia!" ucap Adrian mencium pipi Naira, dengan geli Naira tertawa kecil. "mungkin aku akan pusing nanti, karena akan ada tiga Naira dirumahku!" ucap Adrian, mereka tertawa bersama diruang tamu itu. beberapa pelayan yang melihatnya merasa senang, senang dengan kebahagiaan Adrian dan juga Naira yang mendapat bayi kembar.
"kamu akan menjadi ibu terbaik untuk mereka, aku percaya dan yakinkan itu!"
"kamu juga Adrian, kamu akan menjadi ayah terbaik diseluruh dunia."