Do You Remember?

Do You Remember?
bermanja.



Riana membuka matanya, saat Riana merasakan mobil itu berhenti. Riana melihat mobilnya berhenti dijalan, ia menoleh kearah Daniel yang sedang tertidur. saat ingin membangunkan Daniel, Riana menatap wajah Daniel dan tangannya berhenti dipipi Daniel. tiba tiba Riana merasa gugup,


Plaakk!!!


Daniel terkejut karena merasa seseorang memukulnya, ia langsung mendudukan dirinya dan menatap Riana.


"kamu!"


"maaf Daniel, tadi ada nyamuk beneran. lihat ini!" ucap Riana gugup dan menunjukkan tangannya, dan benar ada nyamuk ditepalak tangannya.


"sakit Riana!!" ucap Daniel mengelus pipinya, Riana malah tertawa mendengar suara Daniel yang merengek. "kamu malah ketawa, dasar jahat!" ucap Daniel, Riana terus tertawa.


"maaf maaf, sungguh aku minta maaf. pasti tadi aku mengganggumu tidur, haha..." ucap Riana disela tertawanya, Riana tidak bisa menghentikan tawanya itu. Daniel yang melihat itu tersenyum sendiri, ia menatap Riana yang sedang asik tertawa. kemudian tatapan mereka bertemu dan saking terkunci, mereka saling menatap tanpa berkedip sama sekali.


"emm... Daniel berapa menit lagi kita sampai?" ucap Riana, Daniel berdehem dan melihat kearah jam ditangannya.


"sudah hampir sampai, kita tinggal mencari alamatnya." ucap Daniel, ia memulai menyalakan mobilnya kembali. Riana tersenyum sendiri karena masih mengingat wajah Daniel, dan beberapa menit mereka sampai dialamat rumah yang mereka tuju.


Riana turun dari mobil dan langsung berlari kerumah itu, terlihat seorang nenek sedang menyiram bunga dan seorang kakek duduk membaca koran. siapa lagi kalau bukan ibu Kumala dan juga pak Wijaya yang kini sudah menjadi lansia, Riana berjalan cepat menghampiri neneknya itu dan memeluknya dari belakang.


"eh siapa ini!" ucap ibu Kumala saat terkejut seseorang memeluknya, dan mencoba merasakan pelukan orang itu.


"nenek sudah melupakan aku, aku sangat sedih!" ucap Riana, ibu Kumala langsung mengerti dengan suara Riana.


"cucu nenek, sangat mengejutkan!" ucap ibu Kumala, Riana melepas pelukannya dan memeluk neneknya dari depan. mendengar suara bising itu, pak Wijaya berdiri dari duduknya.


"aku mendengar suara Riana, kenapa tidak memelukku?" ucap pak Wijaya, Riana langsung berlari kearah kakeknya dan memeluk dengan erat. "kamu kenapa ada disini?" tanya pak Wijaya, Riana tersenyum dengan itu.


"Riana sangat kangen dengan kalian, karena itu Riana kemari untuk membuat kejutan!" ucap Riana, pak Wijaya mengusap rambut Riana dengan sayang. ibu Kumala melihat kearah lain, kearah seorang pria berdiri dan menunduk sopan memberi salam.


"kamu denga siapa itu?" ucap ibu Kumala, Riana menoleh dan melihat kearah yang ditunjuk neneknya. ternyata pria itu Daniel, Riana tersenyum.


"dia Daniel nenek, apa nenek lupa?" ucap Riana, iby Kumala tampak berpikir dan kemudian mengangguk kuat.


"iya nenek ingat, dia anak dokter ganteng itu kan?" ucap nenek Kumala, Riana tertawa dan mengangguk. Daniel tersenyum dan menghampiri mereka, Daniel mencium punggung tangan ibu Kumala dan juga pak Wijaya bergantian.


"wahh Daniel ganteng ya, mirip papanya!" ucap ibu Kumala, Daniel hanya tersenyum dan mengangguk.


"terima kasih nenek, bagaimana kabar kalian?" ucap Daniel, pak Wijaya mengangguk.


"Alhamdulillah baik, kamu tambah besar ya sekarang!"


"kakek, Daniel sudah besar tentu saja tambah besar!" ucap Riana, ibu Kumala tertawa disana.


"kalian pasti lelah, ayo istirahat dulu didalam!" ucap ibu Kumala, Riana mengangguk dan mengikuti langkah neneknya. Daniel masih bersama pak Wijaya disana, mereka sedikit mengobrol.


"sekarang kamu kerja apa?" ucap pak Wijaya, Daniel tersenyum.


"saya masih menunggu hasil ujian kek, saya ingin seperti papa menjadi dokter!" ucap Daniel, pak Wijaya tersenyum dan mengangguk.


"terus udah ada calon belum untuk dipinang?" ucap pak Wijaya, Daniel tersenyum canggung dengan itu.


"em.. itu..."


"kakek, Daniel! nenek menyuruh kalian masuk, cepat kemari!" teriak Riana membuat Daniel senang, karena terselamatkan dari pertanyaan pak Wijaya.


"ayo kek, Daniel bantu masuk!"


Riana yang sejak awal ingin menanyakan masa lalu Risa, mengurungkan niatnya. karena Riana tidak ingin merusak suasana yang bahagia ini, ketika melihat Daniel dan pak Wijaya asik mengobrol dimeja makan. ditambah neneknya yang sangat perhatian memberinya makanan, Riana senang dan bahagia dengan itu. Riana berniat untuk menanyakan semua itu nanti, dan secepatnya agar rasa penasaran nya itu segera hilang.


****


Naira telah memiliki kehidupannya bersama Adrian, mereka menghabiskan waktu bersama dalam beberapa hari ini. Adrian tidak segan menuruti Naira yang ingin berbelanja dan juga berjalan jalan, Naira teramat senang karena suaminya itu selalu menuruti keinginannya.


disaat Naira bahagia tidak memiliki kekurangan apapun dari Adrian, Adrian sendiri memiliki kekurangan dalam kebahagiaan itu. Adrian menginginkan seorang anak dari Naira, karena mereka belum pernah bercerita tentang memiliki bayi dan Naira tidak pernah membahas itu.


seperti sekarang ini, Adrian terduduk diruang kerjanya yang hampa. Adrian membayangkan beberapa anak mereka berlari dan bermain disana, akan sangat menyenangkan saat mendengar suara tawa dan tangis mereka secara bersamaan. Adrian membayangkan satu sedang duduk bersamanya, satu bermain dan berlari kesana kemari dan satu dalam gendongan Naira, maka akan sangat ramai dalam rumah besarnya itu.


"Adrian kenapa terus bekerja?" ucap Naira, Adrian tersadar dari lamunannya. Adrian menoleh kearah Naira dan tersenyum, Naira meletakkan kopi yang dibawanya untuk Adrian. "tidak kekantor, aku pikir libur santai dirumah. tapi tidak, malah mengerjakan begitu banyak pekerjaan." ucap Naira lagi, Adrian tersenyum dan mencubit pipi Naira.


"aku kan nurutin kamu, emangnya aku salah. kamu kan melarangku ke kantor, jadi aku bekerja dirumah!"


"alasan macam apa iti, memang pekerjaanmu itu istri keduamu!" ucap Naira kesal, Adrian tersenyum dengan itu.


"jangan marah marah loh, nanti kamu cepet tua!" ucap Adrian, Naira bertambah kesal dengan itu. Adrian tersenyum dan kembali fokus pada laptopnya, Naira memiliki ide jail untuk itu.


Naira berjongkok dan masuk kedalam sela tangan Adrian, kemudian muncul dihadapan Adrian. hal itu membuat Adrian terkejut, terkejut lagi saat Naira tiba tiba duduk dipangkuan Adrian. Naira memeluk Adrian dan bermanja disana, bukannya marah Adrian malah tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


"ada apa, kenapa hari ini sangat manja?" ucap Adrian, Naira menganggukan kepalanya.


"aku mau makan spageti!" bisik Naira, Adrian hanya mengangguk. "ayo makan spageti!" ucap Naira memegang pipi Adrian, Naira mengangguk saat Adrian menatapnya.


"tadi kan sudah makan, kenapa sekarang kamu mau spageti?" ucap Adrian, Naira dengan manja memeluk Adrian lagi.


"aku masih lapar, ayo kita makan Adrian!" ucap Naira manja, Adrian menegakkan Naira untuk menatapnya.


"lapar?, saat sarapan kamu makan roti habis berapa?"


"lima? eh bukan, enam lapis?" ucap Naira polos, Adrian terkejut dengan itu.


"lalu siang ini, kamu makan apa?" ucap Adrian lagi, Naira tampak berpikir.


"siang ini aku makan nasi goreng dan es buah, itu sangat menyegarkan. dan sekarang aku ingin spageti, ayo beli huhuhu..." ucap Naira terdengar manja memeluk Adrian, mendengar itu Adrian memijat tengah dahinya.


"kamu akan gendut nanti, katanya tidak mau gendut?"


"biarkan saja, asal kamu tetap cinta tidak masalah!" ucap Naira, Adrian tertawa dengan itu. "ayo makan spageti, ya?" ucap Naira lagi, Adrian mengangguk dengan iti.


"oke, aku akan minta pada pelayan!" ucap Adrian lembut, dengan cepat Naira menggelengkan kepalanya dan membuat Adrian bingung.


"nggak mau, maunya kita beli direstoran biasa kita beli!"


"kapan kita pernah beli spageti diluar, aku tidak mengizinkanmu makan spageti diluar. aku akan minta pada ..."


"nggak mau, sekali ini saja ya..." rengek Naira, Adrian tetap menggelengkan kepala. "dengar karena tidak pernah coba, makanya sekarang kita coba. aku ingin makan spageti buatan restoran itu, bukan buatan pelayan kita. dan juga ..."


"buatanku bagaimana?" mendengar itu Naira langsung mengangguk dengan cepat, Adrian tersenyum dan mencium pipi Naira. "baiklah, aku akan membuat kan nya untukmu!" ucap Adrian menurunkan Naira, dengan senang Naira tersenyum dan mengangguk.


"oke, aku akan membantumu!" ucap Naira senang, Adrian menyipitkan matanya.


"bantu apa?"


"bantu melihat, dan memakannya nanti!" ucap Naira tertawa, Adrian mencubit pipi Naira dengan gemas. Adrian tidak tahu kenapa Naira sangat manja pagi itu, meskipun setiap hari manja kali ini ada yang berbeda dari sifat manjanya. dan Adrian tidak ingin memikirkan itu, selama istrinya senang, dirinya juga akan senang.