Do You Remember?

Do You Remember?
Empat bulan.



Bagas membuka matanya, saat sinar mentari menyilaukan wajahnya. ia merasakan sesah dimananya, ia melihat kepala dengan rambut hitam sedang memeluknya. Bagas sejenak berpikir itu adalah Riana, Bagas mengeratkan pelukannya. tapi sedetik kemudian ia tersadar, sekarang dirinya sedang tidur di sebuah kamar berbeda. secara kebetulan wanita yang dianggapnya Riana menggerakkan tubuhnya, hingga terlihat kalau wanita itu bukan Riana. Bagas terkejut melihat Sonia yang ada dalam pelukannya, Bagas memindahkan Sonia secara perlahan dan mendudukan dirinya.


"huft... pakaianku lengkap!" ucap Bagas melihat kemeja dan celananya yang masih terpasang, Bagas menoleh kearah Sonia yang nyenyak tidur. Bagas ingat kalau Sonia merubah rambutnya, dan hujan membuatnya harus tidur di apartemen itu bersama Sonia. awalnya ia tidur disofa, tapi Bagas tidak mengerti kenapa bisa satu kasur dengan Sonia. saat Bagas ingin pergi tangan Sonia menggenggam tangannya, ia tertidur dengan tersenyum manis.


"apa yang kau mimpikan?" ucap Bagas, ia menusuk pipi Sonia dengan jari telunjuknya. Sonia mengeryitkan mata dan membuka mata secara perlahan.


"apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Sonia, Bagas menggelengkan kepala. Sonia mendudukan dirinya, dan merenggangkan ototnya. "aku dengar kau mengatakan sesuatu?" ucap Sonia lagi, Bagas tersenyum mengacak rambut Sonia.


"kenapa kau tidak mengatakan hal lain?".


"apa?"


"iya ribut dipagi hari, berteriak karena aku tidur disampingmu. dan juga kau akan memberikan seribu pertanyaan, semua wanita seperti itu!" ucap Bagas, Sonia malah tersenyum pada Bagas. "kenapa tersenyum?" ucap Bagas menaikkan satu alisnya, Sonia tertawa kecil lalu mendekat dan menyenderkan kepalanya dipundak Bagas.


"aku tidak akan lakukan itu!"


"kenapa?" tanya Bagas, Sonia tersenyum menatap Bagas.


"karena, kamu tidak akan melakukan apapun padaku. aku percaya itu!" ucap Sonia tersenyum, Bagas tersenyum sedikit.


"kenapa kau sangat percaya padaku, belum tentu aku tidak melakukan itu!" saut Bagas, Sonia menggelengkan kepala.


"tidak, aku tidak percaya kau bisa melakukannya. karena seorang pria yang mencintai wanitanya, tidak akan memembuat wanitanya kehilangan harga dirinya. kau mencintaiku kan, karena itu aku percaya padamu!" ucap Sonia tersenyum, Bagas tersenyum dan mengangguk. "lagi pula jika kamu melakukan itu, akan aku katakan pada orang tuamu. bereskan!" ucap Sonia lagi, Bagas tertawa dengan itu.


"setelah itu mereka akan menikahkan kita, aku melamarmu dan kau menerimanya!" ucap Bagas, Sonia mengangguk dan tertawa. pagi itu mereka bersama, mereka bahkan merencanakan seharian hanya berdua. pagi itu juga hubungan baru mereka telah dimulai, tidak ada rasa canggung lagi pada diri mereka.


*****


dipagi yang sama Naira bangun dipagi hari, Naira melihat Riana yang masih tidur disampingnya. Naira tersenyum dan menaikkan selimut yang dipakai Riana, ia melihat jam dinding menunjukan pukul enam pagi. Naira membersihkan diri dikamar mandi, setelah itu keluar dari kamarnya.


Naira menuruni anak tangga secara perlahan, Naira menatap seisi rumah itu yang sedang kosong tidak ada orang. Naira berjalan kearah ruang tamu, ia menatap semua foto yang ada disana. sampai matanya melihat sebuah foto dirinya, ia pun mengambil foto itu. dalam foto itu terdapat foto dirinya dan Adrian, foto itu terlihat bahagia disana.


"setiap kali melihat ini perasaan tidak enak muncul, apa maksudnya ini!" gumam Naira, sejenak Naira berpikir menatap foto itu. Adrian yang selesai dari lari paginya, melihat Naira berdiri dari jauh. Adrian melangkah mendekati Naira, Adrian mempercepat gerakannya saat melihat tubuh Naira terhuyung.


"Nara!!" ucap Adrian, dan benar tubuh Naira ambruk dipelukan Adrian. Adrian panik ketika Naira tidak sadarkan diri, ia menggendong Naira dan membawanya ke kamar. disaat bersamaan Amelia melihat itu, ia menghampiri Adrian.


"mama telfon dokter!" ucap Adrian berjalan cepat menaiki anak tangga, Amelia mengangguk dan segera menelfon.


"Riana bangun!!" teriak Adrian, karena terkejut Riana langsung berdiri. Adrian menidurkan Naira dikasur, setelah itu berjalan keluar kamar. Riana mendekat ke arah Naira, ia mengambil telfonnya dan menghubungi Kara.


setelah beberapa menit David datang, Adrian duduk didekat Naira. David sempat terkejut melihat Adrian, dan ia berpikir karena itu lah Naira kembali tidak sadarkan diri.


"sepertinya Naira harus menjalani perawatan rumah sakit!" ucap David, Adrian mengeryitkan dahinya.


"kenapa, apa dia belum sehat?" ucap Adrian, David mengangguk.


"jadi kita harus menormalkan mentalnya, bawa dia kerumah sakit aku akan merawatnya secara perlahan!" ucap David lagi, Adrian mengusap rambut Naira.


"separah itukah ingatan tentang diriku, kenapa harus menimpa dirinya dokter!" ucap Adrian lirih, David menyentuh pundak Adrian.


"sabar, semua ini sudah jalan takdirnya. aku akan menemui ayahmu dulu, kamu temani Naira sementara!" ucap David dianggungi oleh Adrian, Adrian menatap Naira yang tertidur. setelah beberapa detik, Adrian mengikuti David keluar. terlihat David bicara dengan Kara dan Vano, Adrian menghampiri mereka.


"buat Naira kembali seperti dulu, aku tidak peduli dia mengingatku atau tidak. aku tidak ingin dia seperti ini!" ucap Adrian, Amelia menghampiri Adrian.


"apa maksudmu Adrian?"


"biarkan Naira menstabilkan dirinya, aku ingin dia mendapat perawatan yang lebih. dan selama itu, aku tidak akan muncul. aku tidak akan menemui, aku tidak akan muncul dihadapannya!" jelas Adrian, awalnya semua orang terkejut dengan keputusan itu. tapi mereka sendiri tidak bisa berbuat apapun, Adrian adalah suami Naira dan berhak memutuskan apapun untuk hidup Naira.


"apa kamu bisa menjalani semua itu?" tanya Vano, Adrian mengangguk.


"aku bisa, dengan dukungan kalian aku pasti bisa!" tegas Adrian, setelah itu ia masuk untuk menemui Naira lagi. semua orang disana menatap dengan rasa iba, Amelia sendiri sampai meneteskan air matanya.


"kenapa kesedihan ini terjadi pada anak anakku, apa semua ini karena kesalahanku!" ucap Amelia menangis, Nadia merangkul tubuh Amelia.


"tidak Amelia, ini bukan salahmu. ini sudah jalan mereka, jangan menyalahkan dirimu sendiri." ucap Nadia, Amelia menangis dalam rangkulan Nadia. Adrian menghampiri Naira, ia duduk disamping Naira. Adrian mengusap rambut Naira dengan lembut, ia bahkan mencium kening Naira dan menempelkan dahinya pada dahi Naira.


"jika dengan menjauh membuatmu sehat, aku janji akan menjauh darimu Nara. aku bisa melakukan apapun, apapun yang bisa membuatmu sehat. aku ingin melihatmu seperti dulu, meskipun nantinya kamu melupakan aku. dengarlah bisikanku ini, kita akan bertemu lagi nanti. dan disaat itu juga, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku." ucap Adrian tepat di telinga Naira, Adrian mencium pipi kanan dan juga kiri Naira secara bergantian.


siang harinya Naira dirawat kembali dirumah sakit, David menangani Naira diruang khususnya. David memeriksa semua kesehatan Naira, dan mempersiapkan yang akan dibutuhkan Naira. semua menunggu didepan ruangan itu, setelah beberapa menit David keluar dan menghampiri mereka.


"jadi kapan pastinya selesai?" tanya Kara, David tersenyum.


"empat bulan, tapi ada satu hal!"


"apa?" ucap semua orang disana secara bersamaan.


"jika ingin melihatnya jangan datang bergerombol, datanglah satu persatu. agar dia tidak membuat otaknya bekerja lebih cepat, apa kalian mengerti maksudku?"


"iya kami mengerti, terima kasih David!" ucap Kara, David mengangguk. ia melihat satu persatu dari mereka, David merasa ia belum melihat seseorang. orang itu adalah Adrian, matanya mencari keberadaan Adrian.


"Adrian tidak disini, dia sudah memutuskan untuk tidak datang. Adrian akan menemui Naira nanti, disaat waktu yang tepat untuk bertemu!" ucap Kara yang sadar David mencari Adrian, David mengangguk mengerti.


****


maaf ya, up nya sedikit aneh. karena authornya kurang sehat dan ingin sekali up. terima kasih yang sudah mendukung author, author tidak bisa membalas komentar kalian satu2 ya...


jangan lupa like, komen dan vote kalian😍