Do You Remember?

Do You Remember?
Sikap acuh.



Naira dan Siska menunggu kedatangan Johan, Naira merasa bingung dengan apa yang terjadi. Naira berpikir tidak menyangka Adrian mengatakan hal kasar padanya, bahkan Adrian tidak melihatnya dengan tatapan cinta. Naira mengusap wajahnya, dan munundukkan kepala. beberapa menit kemudian terlihat Johan datang, Johan menghampiri Naira dan Siska disana.


"bagaimana?" tanya Siska, Johan menggelengkan kepala.


"aku tidak tahu" saut Johan, Naira berdiri dari duduknya. Naira tidak terima dengan keputusan Adrian, ia bahkan berniat menemui Adrian.


"kamu pasti tahu sesuatu, apa yang terjadi sebelumnya!" ucap Siska, Johan menatap kearah Siska.


"aku bilang, aku tidak tahu!" saut Johan, Siska kesal dengan itu. sebenarnya Johan mengetahui apa masalahnya, tapi Johan memilih untuk tetap diam dan tidak memberitahukan pada Siska terutama pada Naira.


Naira berniat untuk menemui Adrian sendiri, ia berdiri dari duduknya dan melangkah keluar pintu. belum sempat Naira pergi, Siska menarik tangan Naira.


"kamu mau kemana?" tanya Siska, Naira melepas pegangan tangan Siska.


"lepaskan, aku akan menemuinya."


"tidak perlu, aku sudah disini!" ucap Adrian tiba tiba, mereka pun menoleh. Adrian berdiri dengan tatapan angkuh disamping pintu, Adrian menatap Naira.


"kenapa aku harus dipecat sebelum bekerja, orang akan dipecat jika membuat kesalahan. tapi aku, aku bahkan belum memulai dan membuat kesalahan!" saut Naira lagi, Adrian masih mendengarkan semua perkataan yang ingin dikatakan Naira.


"aku..."


"maka buatlah kesalahan, agar aku bisa memecatmu!" saut Adrian sebelum Naira meneruskan perkataannya, Naira terdiam dengan itu.


" bicaralah dengan sopan, saat kau bicara dengan atasanmu. aku adalah bosmu, dan kau adalah sekertarisku lebih tepatnya kau adalah bawahan ku. aku tidak akan memecatmu sebelum kau melakukan kesalahan, dan lebih baik cepatlah membuat kesalahan!" ucap Adrian dengan angkuh, Naira terdiam dengan itu. Naira tidak percaya Adrian akan menunjukkan statusnya, bahkan sebelumnya Adrian tidak pernah berkata seperti itu saat pertama kali Naira bekerja untuknya.


"sekarang aku ada rapat, siapkan tempat rapatnya dalam waktu satu jam." ucap Adrian, Naira masih menatap Adrian yang bicara dengan nada angkuh.


"kenapa diam, apakah kamu ingin dipecat?" ucap Adrian lagi, Naira terkejut dengan itu. Naira melihat kearah lainnya, lalu tersenyum pada Adrian.


"baik pak, saya tidak akan membuat kesalahan yang bisa membuat saya dipecat. maaf jika saya berkata tidak sopan, dan saya akan ingat dengan posisi saya!" saut Naira menunduk, setelah mengatakan itu Naira melangkah melewati Adrian. Naira melewati Adrian tanpa melihat Adrian, begitu juga dengan Adrian berdiri dengan pandangan kedepan tanpa melihat Naira.


"saya juga permisi, saya akan bantu Naira!" ucap Siska, lalu mengikuti Naira pergi dari sana.


setelah kepergian Naira dan Siska, Johan berjalan mendekati Adrian yang masih berdiri dengan diamnya. saat Johan mencoba mendekatinya, Adrian membuang pandangannya kearah lain.


"aku memintamu untuk memecatnya, kenapa kau membawanya kemari lagi?" tanya Adrian, Johan masih terdiam. karena tidak ada jawaban dari Johan, Adrian menoleh kearah Johan.


"kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Johan, Adrian menatap Johan.


"kau tahu kenapa aku melakukan hal itu!" saut Adrian, Johan mengeram kesal dibuatnya.


"jika kau melakukan itu, dia akan salah paham lagi. dengan caramu seperti ini, kau malah menyakitinya. seharusnya katakan saja, katakan semua padanya." ucap Johan, Adrian terdiam tidak menjawab. Beberapa saat kemudian, terlihat Denis menghampiri Adrian dan Johan disana.


"pak saya sudah cari anda dari tadi, ternyata ada disini!" ucap Denis, Adrian begitu juga dengan Johan sama menatap Denis.


"Ada apa?" tanya Adrian, Denis masih tersenyum.


"Pak klien anda sudah menunggu, dia datang lebih awal." ucap Denis, Adrian terkejut dengan itu.


"Kenapa, ruang rapat masih disiapkan!" ucap Adrian, Denis memaksakan senyumnya.


"Mereka bilang, mereka datang lebih awal karena harus pergi awal juga. Mereka ada urusan luar kota setelah dari sini pak, jadi mereka datang sekarang." jelas Denis, Adrian melihat jam ditangannya.


"Dimana mereka?" tanya Adrian dengan merapikan jas yang ia pakai, begitu juga dengan Johan.


"Mereka ada diruangan anda, saya sudah melayani mereka." ucap Denis, Adrian mengangguk.


"Baiklah, Johan ayo. dan kamu Denis, jangan biarkan siapapun mengganggu saya selama rapat ini. Atau gaji dan bonusmu dipotong 3 bulan!" ucap Adrian, Johan menahan tawa melihat ekspresi Denis yang terkejut.


"Baik pak, anda kejam sekali!" ucap Denis, Adrian dan Johan pun pergi dari sana. Denis melihat kedalam ruangan Naira dan Siska, tapi Denis tidak melihat siapapun disana. Denis pun tahu, dimana mereka berdua berada dan segera untuk menemuinya.


****


Diruang rapat Naira dengan cepat membersihkan semuanya, disana juga terdapat Siska yang membantunya. Siska yang merapikan meja, hanya menatap Naira. Naira tidak menghiraukan itu, ia terus merapikan semua dan mempersiapkan apa yang akan dibutuhkan untuk rapat.


Perasaan Naira sendiri sangat hancur, hancur dengan perubahan sikap Adrian. Bahkan Adrian mengingatkan tentang posisinya, setiap kali Naira meneteskan air mata ia akan segera mengelap itu. Untuk menutupi kesedihannya, Naira membelakangi Siska untuk membersihkan hal yang lain. Siska mengetahui apa yang dilakukan Naira, Siska mencoba mendekati Naira.


"Nai berhentilah!" ucap Siska memegang tangan Naira, Naira tidak menghiraukan Siska.


"Nai, itu sudah dibersihkan. Kita sudah selesai, ayo kita pergi." ucap Siska lagi, Naira menoleh kearah Siska.


"Kita harus bekerja dengan baik, ini lihat masih kotor. Aku tidak mau dipecat Sis, lebih baik kamu pergi sendiri!" saut Naira, Siska menarik tubuh Naira agar menghadap dirinya. Tapi karena tangan Naira sedang terluka, ia menjatuhkan sebuah vas bunga disana.


"Aukhh, Siska apa yang kamu lakukan. Akhh vasnya, aku harus cepat membersihkannya!" ucap Naira, Siska menarik tangan Naira yang tidak terluka.


"Kamu ingin menangis, menangis lah. menangislah Naira, aku siapenjadi pundakmu untuk menangis!" ucap Siska, Naira terdiam dengan itu. Sedetik kemudian Naira mulai terisak, Siska menghela nafas dan memeluk Naira


"Kenapa... dia melakukan itu padaku Siska, hiks... kenapa, aku ingat sebelumnya dia masih mencintaiku... aku memang salah, aku mengakui itu... tapi kenapa dia membenciku, kenapa hiks..." ucap Naira menangis dalam pelukan Siska, Siska mengelus punggung Naira.


"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi kamu tidak boleh sedih gini." saut Siska lagi, Naira tetap saja meneteskan air matanya.


"Eh Nai, inget nggak kenapa dia nyembunyiin tentang identitasnya waktu itu?" tanya Siska, Naira menegakkan tubuhnya dan mencoba menghapus air matanya.


"Karena dia ingin melindungiku dari neneknya, bukan hanya aku tapi juga keluarganya!" saut Naira, Siska mengangguk dan mendirikan tubuhnya.


"sekarang kenapa dia melakukan itu, pikirkan!" ucap Siska, Naira merasa seolah mengerti apa yang dimaksudkan Siska.


"iya Sis, pasti ada hubungannya!" ucap Naira berdiri, Siska mengangguk.


"jika sudah tenang, coba kamu tanya baik baik pada nya. aku yakin, dia hanya tidak berani jujur padamu seperti sebelumnya!" ucap Siska, Naira mengangguk dan tersenyum.


"terima kasih Siska," ucap Naira memeluk Siska, Siska tertawa dan mengelus pundak Naira.


"iya iya, sudah jangan sedih lagi." ucap Siska, Naira tersenyum dan mengangguk.


"hei ada apa ini?" tanya Denis, Siska dan Naira pun melepas pelukan mereka.


"Denis kamu ngapain disini?" tanya Siska, Denis duduk diatas meja dan mengayunkan kedua kakinya.


"aku mencari kalian, dan benar dugaanku kalian disini!" ucap Denis, sedetik kemudian Naira teringat rapatnya.


"oh tidak, sudah satu jam. kita harus panggil pak Adrian, cepat!!" ucap Naira, Naira berlari diikuti Siska.


"hei aku mau bilang sesuatu!" ucap Denis mengikuti mereka.


Naira berlari kearah lift, dan masuk kedalam lift diikuti Siska. setelah keluar dari lift, Naira langsung berlari tanpa melihat sekelilingnya.


BRUKK!!!


tanpa sengaja Naira menabrak seseorang, Naira terkejut dengan itu. Naira melihat seorang wanita membersihkan pakaian dihadapannya, Naira menunduk untuk mengucapkan maaf.


"maaf nyonya, saya tidak sengaja!" ucap Naira, bukannya menjawab wanita itu malah memandang Naira dari atas dan kebawah. begitu pula dengan Naira yang memandang wanita itu, mereka pun saling melihat.


dia sangat cantik, apa rahasia awet muda nya ya...


"saya sekretaris pak Adrian, saya minta maaf nyonya!" ucap Naira lagi, wanita itu hanya diam. saat Naira masih menunggu wanita itu bicara, ia melihat Adrian dan Johan keluar dari ruangan bersama beberapa orang. secara bersamaan Johan melihat Naira berdiri tidak jauh, Johan memberi kode pada Adrian tentang keberadaan Naira.


setelah selesai bicara dengan seseorang, Adrian menoleh kearah Naira dan ia melihat seorang wanita yang berdiri membelakanginya. Adrian tersadar, dan menyadari siapa wanita itu. Adrian segera menghampiri Naira, Naira yang melihat itu segera berdiri tegak dan tersenyum pada Adrian.


"ada apa ini?" tanya Adrian, secara bersamaan wanita itu menoleh kearah Adrian.


"ini pak, Naira tidak sengaja menabrak nyonya ini." ucap Siska, Adrian menatap Naira dan menyusuri tubuh Naira. dalam pikiran Adrian, ia sangat takut jika Naira terluka.


" pergi keruanganku, aku akan bicara pada kalian nanti!" ucap Adrian, Naira dan Siska pun mengangguk.


setelah kepergian Naira dan Siska, Adrian menatap wanita yang berdiri dihadapannya. wanita itu tersenyum kearah Adrian, tapi sebaliknya Adrian hanya acuh dengan senyuman itu.


"nyonya Rosa, apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Johan, ya wanita itu adalah Rosa nenek Adrian.


"oh Johan, aku hanya ingin melihat sebesar apa perusahaan cucuku disini. karena dia rela meninggalkan London demi perusahaan disini!" saut Rosa, Adrian malas menanggapinya.


"tentu saja besar, ada permata utama disini. karena itu Adrian bisa meninggalkan apapun, demi datang kesini!" ucap Johan, Adrian yang tidak senang menatap Johan dengan tatapan tajam.


"wah.. aku harus melihat permata itu!" saut Rosa, Johan tersenyum dengan itu.


"aku sedang sibuk, jika tidak ada lagi yang ingin anda katakan lebih baik anda pulang dan beristirahatlah!" ucap Adrian dengan melihat jam ditangannya, dan Rosa merasa kesal karena lagi lagi Adrian meninggalkannya begitu saja.


tanpa bicara Adrian meninggalkan Rosa dengan diikuti Johan, Adrian berjalan masuk kedalam ruangannya. saat kehadiran Adrian, Naira dan Siska terdiam melihat muka datar yang dipasang oleh Adrian.


"hm.. pak kami sudah menyiapkan ruang rapatnya, anda..."


"tidak perlu, rapatnya sudah dilaksanakan secara mendadak!" saut Adrian ketika Naira belum selesai bicara.


"tapi kenapa, bukan kah anda menyuruh kami untuk menyiapkan?" ucap Naira, Adrian menatap Naira.


"lalu?"


"tidak ada pak, maaf!" saut Naira, Adrian melihat pandangannya kearah lain.


"sudahlah, kembali bekerja. Siska, Johan membutuhkan diluar!"


"eh iya pak, saya permisi!" ucap Siska, lalu ia pergi keluar untuk menemui Johan. Naira dan Adrian terdiam, didalam ruangan itu tidak satupun mereka bicara. Adrian duduk dikursinya dan mulai membuka laptopnya, Naira sendiri berdiri tanpa diberi tugas oleh Adrian.


Naira menatap Adrian yang sedang fokus bekerja, ia mengingat dulu. saat Adrian sedang bekerja seperti itu ia akan duduk dihadapan Adrian, menemani Adrian bekerja hingga tertidur dan sampai Adrian membangunkannya. tapi sekarang berbeda, jangankan untuk duduk dihadapannya bahkan untuk membuka mulut saja Naira tidak berani.


"aassshhhh!!"


suara Adrian membuat Naira tersadar dari lamunannya, Naira segera menghampiri Adrian. terlihat Adrian memegangi tangannya, dan merasakan sakit. pergelangan tangan Adrian yang sempat terkilir, ia merasakan sakit lagi ketika ingin mengangkat laptopnya.


"apa anda baik baik saja?" tanya Naira, Adrian terus mengerang kesakitan. tiba tiba saja Adrian memutar kursinya, Naira melangkah mundur dengan itu.


"tidak apa, tanganku hanya pernah terluka. pergilah sekarang, kerjakan pekerjaanmu!" ucap Adrian, Naira menatap punggung kursi Adrian.


"bisakah saya tanya satu hal?" ucap Naira memberanikan diri, Naira sudah tidak sabar dengan sifat Adrian yang acuh padanya.


"tanya kan yang bisa aku jawab, jangan tanya kan apa yang tidak bisa aku jawab!" ucap Adrian dengan ketus, Naira berjalan sedikit dekat pada kursi Adrian.


"apa kah yang terjadi saat saya dan anda terjebak didalam lift waktu itu?" tanya Naira, Adrian terkejut dengan itu. pasalnya Adrian tidak menyangka Naira lupa dengan kejadian itu, Adrian terdiam tidak menjawab Naira.


"aku butuh jawabannya, aku ingin tahu apa yang terjadi waktu itu!" tanya Naira dengan suara lemah, Adrian memejamkan matanya dan menarik nafasnya.


"aku ingin tahu, kenapa sifatmu berubah padaku. seingatku kau sangat mencintaiku, tapi hari ini kenapa kau bersifat seperti ini."


"tidak ada yang terjadi disana, pergilah aku tidak ingin diganggu!" saut Adrian dengan cepat, dengan cepat Naira membalikkan kursi Adrian untuk menghadap dirinya. Adrian terkejut dengan itu, ia pun langsung mendirikan tubuhnya.


"kenapa, kenapa kamu berbohong padaku. kenapa kau hanya bisa berbohong, kenapa kau selalu berbohong padaku. kenapa?" ucap Naira menarik jas Adrian, Adrian menahan tangan Naira yang kuat menariknya.


"ya aku berbohong padamu, bukankah kau tidak pernah percaya padaku. lalu kenapa kau masih ingin tau dari pembohong ini, bukankah kau selalu bilang apa yang aku katakan adalah sebuah kebohongan!" saut Adrian, Naira terkejut dan terdiam tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Adrian.


"pergilah, aku sedang sibuk." ucap Adrian, ia mendudukan tubuhnya kembali. Naira yang terdiam perlahan memundurkan langkahnya, Naira mengelap air matanya yang sempat menetes.


"maaf atas ketidak sopanan saya pak, lain kali tidak akan terulang." ucap Naira, tidak ada jawaban dari Adrian.


Naira berbalik untuk meninggalkan ruangan Adrian, tanpa menoleh Naira terus berjalan. air mata terus mengalir dimata Naira, dengan cepat Naira juga mengelap air mata itu. sebelum menutup pintu, Naira sejenak menoleh kearah Adrian. Adrian yang tetap membelakanginya, membuat Naira tersenyum menangis.


'jika kau tidak mengatakannya, maka aku akan cari tahu sendiri. ingat kak Anan, aku tidak akan menyerah. kau mencintaiku, dan aku tahu itu. jika memang kau menunggu waktu untuk mengatakannya, aku akan menunggunya. aku akan menunggu dengan sabar'.


setelah mendengar suara pintu tertutup, Adrian memutar kursinya nya. ia sangat kesal, karena lagi lagi berkata kasar pada Naira. Adrian melonggarkan dasinya, dan mengacak rambutnya sendiri.


'maafkan aku Nara, maafkan aku...'


* kejadian secara bersamaan.


Setelah keluar dari ruangan Adrian, Siska datang menemui Johan diruangannya. Johan yang sedang fokus, Siska mencoba mendekati Johan. Johan sendiri sadar kehadiran Siska, ia tersenyum manis pada Siska.


"kenapa kamu tersenyum?" tanya Siska sambil mendudukan dirinya, Johan tetap dengan senyumnya menggelengkan kepala.


"aku baik baik saja, sebenarnya aku memiliki dua tiket nonton film. apakah kamu ada waktu senggang setelah ini?" ucap Johan sambil menunjukkan dua tiket yang ia maksud, Siska melihat itu sangat senang dan menunjukkan mata yang berbinar.


"tapi aku sibuk, aku ada pertemuan hari ini!" ucap Siska, Johan mengeryitkan dahinya.


"dengan siapa?" tanya Johan, Siska menaikkan satu alisnya.


"kenapa kau ingin tahu, aku harus menemui seseorang!" seru Siska, sebenarnya Siska hanya ingin mempermainkan Johan. Siska ingin melihat bagaimana reaksi Johan, dan jarang sekali Siska bisa menggoda Johan.


Siska terkejut saat Johan tiba tiba berdiri dari duduknya, Johan berjalan kearah Siska dan mengangkat Siska untuk duduk diatas mejanya. Siska mendelik terkejut dengan itu, Siska semakin tidak enak saat Johan menatapnya.


"hmm... aku harus pergi, Najwa membutuhkan aku!" ucap Siska, Johan menahan tubuh Siska dengan kedua tangannya.


"Naira sedang bersama Adrian, jangan mengalihkan pembicaraan. katakan siapa yang akan bertemu denganmu malam ini?" ucap Johan, Siska tersenyum dengan itu. Siska mengalungkan kedua tangannya pada Johan, Johan sendiri mengangkat satu alisnya.


"jadi kamu ingin tahu saja atau ingin tahu banget!!" ucap Siska, Johan tersenyum ketika melihat Siska mencoba menggodanya.


"katakan, jangan mencoba menggodaku!" ucap Johan, Siska tertawa dengan itu.


"aku ingin pergi dengan Naira, aku merasa kasian pada Naira. mungkin dengan mengajaknya belanja, atau nonton film dia akan menghilangkan kesedihannya!" ucap Siska, Johan mengangguk dengan itu.


"baiklah, ambil tiket ini. buat kalian nonton berdua, tentang kita lain kali pasti akan pergi." ucap Johan, Siska merasa senang dengan itu. karena senang ia memeluk Johan, Johan tersenyum dengan pelukan itu.


"terima kasih Johan, kau yang terbaik. aku mencintaimu!!" ucap Siska senang, Johan tersenyum.


"iyaa, aku juga mencintaimu. buat dia senang, oke?" saut Johan, Siska mengangguk.


Siska merasa sangat bahagia karena memiliki Johan, Johan yang sangat pengertian dan dapat memahami dirinya. begitu juga dengan sebaliknya, Johan yang bahagia memiliki Siska. Siska tidak memikirkan dirinya sendiri, tapi juga mikirkan keadaan temannya. Siska tahu kapan temannya itu membutuhkannya, dan kapan harus ada untuk menghiburnya. perasaan Johan sendiri tidak ada wanita seperti Siska, begitu juga dengan sebaliknya.


****


jangan lupa like, komen dan beri vote kalian😍